Share

7.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-22 20:00:00

Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan.

Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi.

"Ack!" Mia memekik kesakitan.

"Tendang kakinya!" titah Selena mutlak.

"Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget.

"Lakukan!"

Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang.

Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang.

"Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

Eleanor segera melepas cengkeraman rambut Mia. Gadis muda itu menelan ludahnya yang terasa pahit melihat situasi di depannya. "Maaf..."

"Nyonya Lawrence!" Gilbert sontak bangkit berdiri dari kursi kebesarannya dengan wajah memerah.

Selena menoleh menatap Gilbert datar, tanpa raut bersalah sedikit pun. "Untuk seluruh biaya pengobatan dan perawatannya, akan diurus oleh sekretarisku."

Chase menundukkan kepalanya sedikit, mengamati profil samping wajah Selena dengan seringai memikat yang makin dalam.

Aura matang, dingin, dan tidak tersentuh dari seorang Selena baru saja sepenuhnya mengunci hati pemuda Hardin itu.

*****

Di dalam ruang kerjanya, Chase duduk bersandar santai di kursi berlapis kulit, satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya.

Kaos santai yang dikenakannya masih rapi, sejak ia kembali dari kampus beberapa waktu lalu.

Di hadapannya, Steve berdiri sambil membolak-balik beberapa lembar dokumen yang baru saja dikumpulkannya.

Sejak pertemuan singkat di ruang rektor tadi, ada satu nama yang terus berputar di kepala Chase.

Selena Lawrence.

Perempuan itu hanya muncul tidak lebih dari satu jam, bahkan tidak memberinya perhatian lebih dari yang diperlukan.

Namun, entah mengapa, sikap dingin dan ketenangan Selena justru meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.

Ia terbiasa menjadi pusat perhatian, terbiasa melihat orang lain berusaha mencari cara untuk mendekatinya.

Akan tetapi, perempuan bernama Selena itu bahkan nyaris tidak meliriknya untuk kedua kalinya.

Dan Chase tidak menyukai rasa penasaran yang tidak terjawab.

“Selena Gray, adik kandung Brian Gray,” Steve mulai menjelaskan sambil membaca catatan di tangannya. “Setelah menikah enam tahun lalu, dia menggunakan nama belakang suaminya, Lawrence.”

Sebelah alis Chase terangkat. “Suami?”

Steve mengangkat pandangan sekilas. “Ya. Cedric Lawrence, Direktur Utama SC Group. Perusahaan itu dibangun oleh mereka berdua. Selena dan Cedric sudah menjalin hubungan sejak sekitar sepuluh tahun lalu, dan keduanya merupakan alumni Rosewood.”

Chase terdiam sejenak, kemudian mendengus pelan. “Jadi, maksudmu aku tertarik pada istri orang lain?”

“Saya hanya melaporkan informasi sesuai dengan yang Anda minta, Tuan Muda.”

“Cara penyampaianmu terdengar seperti sedang berusaha menyadarkanku bahwa aku baru saja melakukan kejahatan.” Chase meliriknya tajam, tetapi Steve tidak menunjukkan tanda-tanda gentar.

“Hubungan rumah tangga mereka sangat tertutup dari publik. Selama enam tahun pernikahan, hanya ada dua jenis pemberitaan yang secara khusus membahas kehidupan pribadi mereka. Yang pertama mengenai pernikahan mereka, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perkembangan SC Group.”

“Tidak ada foto bersama? Wawancara? Acara sosial?”

“Tidak ada yang cukup berarti untuk dijadikan kesimpulan mengenai hubungan mereka.”

Chase mengetukkan ujung jarinya ke lutut. Ketukan itu mula-mula lambat, kemudian semakin cepat seiring bertambahnya ketidaksabaran.

“Hanya itu?”

“Untuk informasi yang dapat diverifikasi, ya.”

Chase mengembuskan napas pendek. Ia tidak menyukai jawaban yang terlalu sedikit, terlebih ketika menyangkut seseorang yang baru saja menarik perhatiannya.

Steve membalik halaman berikutnya. “Usia Nyonya Selena tiga puluh tahun. Artinya, Anda terpaut sekitar tujuh tahun dengannya.”

“Umur hanyalah angka.”

“Angka juga menentukan, Tuan Muda.”

Chase memiringkan kepala, menatap asistennya dengan ekspresi tidak percaya. “Kau dibayar untuk menjadi asistenku atau penasihat percintaanku?”

“Kalau melihat keputusan-keputusan pribadi Anda belakangan ini, sepertinya kedua pekerjaan itu mulai sulit dipisahkan.”

Chase terkekeh pendek. “Kau benar. Kalau dia berusia dua puluh tahun seperti Eleanor, aku mungkin tidak akan tertarik kepadanya.”

Steve terdiam sesaat, kemudian menurunkan dokumen di tangannya. “Kalau Anda memang tidak menyukai Nona Eleanor, mengapa Anda membiarkannya mengganggu setiap gadis yang mendekati Anda?”

Chase mengangkat bahu, sama sekali tidak merasa bersalah. “Karena aku membutuhkannya. Eleanor cukup efektif membuat gadis-gadis itu menjauh dariku.”

Steve menatapnya tanpa berkedip. “Dan Anda tidak pernah berpikir bahwa sikap diam Anda membuat Nona Eleanor merasa memiliki kesempatan?”

“Aku tidak pernah menjanjikan apa pun kepadanya.”

“Anda juga tidak pernah mengatakan dengan jelas bahwa Anda tidak tertarik kepadanya.”

“Itu bukan tanggung jawabku untuk mengatur bagaimana dia menafsirkan sikapku.”

Steve menarik napas panjang, berusaha mempertahankan profesionalismenya. “Dengan segala hormat, Tuan Muda, membiarkan seseorang terus berharap demi keuntungan pribadi bukanlah tindakan yang bijaksana.”

“Itu kompensasi untuknya karena sudah bekerja untukku,” jawab Chase, dengan nada yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

Steve memejamkan mata sesaat. “Anda benar-benar mengerikan.”

Chase justru tersenyum puas. “Aku menganggap itu pujian.”

Steve sudah mengenal Chase cukup lama untuk mengetahui bahwa berdebat dengannya hanya akan menghabiskan waktu, terutama ketika pemuda itu sudah menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Dan saat ini, sesuatu itu bernama Selena Gray.

Chase kembali menyandarkan punggungnya. Senyum tipis yang sejak tadi menghiasi bibirnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi yang lebih serius.

“Cari tahu lebih banyak tentang hubungan Selena dengan suaminya. Aku ingin tahu apakah pernikahan mereka masih berjalan baik atau justru hanya terlihat sempurna dari luar. Dan juga seluruh jadwalnya.”

Tangan Steve berhenti bergerak. Ia mengangkat wajah perlahan. “Jadwal Nyonya Selena?”

Chase menatapnya seolah pertanyaan itu sama sekali tidak diperlukan. “Aku ingin tahu di mana dan kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.”

Steve memandang tuannya selama beberapa detik, mencoba memastikan bahwa pria itu benar-benar serius. “Apakah Anda berniat menguntitnya?”

Chase langsung mengangkat telunjuk, seolah baru saja mendengar kesalahan besar dalam pemilihan kata.

“Cari istilah lain yang lebih romantis.”

“Memantau pergerakan seseorang tanpa sepengetahuannya bukan tindakan romantis, Tuan Muda.”

“Bagaimana kalau aku menyebutnya upaya untuk memperbesar peluang pertemuan yang kebetulan?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status