Share

3.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-20 14:43:22

Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”

“Baik, Nyonya.”

Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.

Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.

Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.

Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.

Mia Bennett.

Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.

Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.

Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.

“Selena,” panggil Cedric hati-hati.

Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.

“Kau membawanya ke sini?”

Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicara dengan jernih dan tenang.”

Hampir saja Selena tertawa.

Setelah tiga tahun berbohong, pria itu masih berani berbicara tentang ketenangan.

Tanpa menanggapi, Selena berjalan menuju sofa utama dan duduk dengan anggun.

“Duduklah.”

Cedric menurut, menuntun Mia ke sofa di sampingnya.

“Aku membawa Mia untuk memperkenalkannya kepadamu,” jelasnya. “Dia putri saudara jauhku. Aku ingin meluruskan semuanya. Apa yang kau lihat kemarin hanyalah kesalahpahaman.”

“Cukup, Cedric.”

Selena tak tertarik mendengar kebohongan berikutnya.

“Billy.”

Billy segera meletakkan map cokelat berisi dokumen perceraian di atas meja marmer.

Cedric menoleh kepada Mia. “Perkenalkan dirimu kepada istriku.”

Mia tampak terkejut. Dengan mata berkaca-kaca, ia bangkit sebelum tiba-tiba berlutut di hadapan Selena.

“Mia!” Cedric setengah bangkit.

Namun, gadis itu sudah terisak.

“Maafkan saya. Saya yang salah. Saya yang mendekati Cedric lebih dulu.”

Selena hanya menatapnya tanpa ekspresi.

“Dulu saya tidak tahu kalau Tuan Cedric sudah memiliki istri,” lanjut Mia terbata-bata. “Tapi sekarang saya sadar perbuatan saya salah. Saya mohon maaf sebesar-besarnya.”

Wajah Cedric menegang. Ia segera menarik Mia berdiri dan mendekapnya.

“Mia, jangan begini. Jangan merendahkan dirimu di hadapannya.”

Gadis itu menangis dalam pelukannya, sementara Cedric mengusap bahunya dengan lembut.

Selena menyaksikan semuanya dalam diam.

Seandainya adegan itu terjadi tiga tahun lalu, mungkin ia masih akan merasa iba. Mungkin ia akan memaafkan Mia dan berusaha menyelamatkan pernikahannya.

Namun, sekarang semuanya sudah terlambat.

Tatapan Selena jatuh pada lengan Cedric yang melingkari tubuh Mia.

Dulu, pelukan itu adalah tempat teraman baginya. Suara lembut pria itu pernah membuatnya percaya bahwa tak ada badai yang mampu menggoyahkan mereka selama tetap bersama.

Kini, kehangatan yang sama diberikan kepada perempuan lain.

Selena menarik napas panjang, lalu mengetukkan ujung jarinya pada map di atas meja.

“Tandatangani surat itu, Cedric.”

Cedric mendongak. “Selena—”

“Jika ada klausul pembagian aset yang kau keberatan, sampaikan kepada Billy. Selama tidak merugikan hak milikku, kami bisa membicarakannya.”

“Apakah kita benar-benar harus sampai sejauh ini?”

Selena menatapnya lekat-lekat, mencari bayangan lelaki yang pernah ia cintai. Namun, tak ada lagi yang bisa ia kenali dari pria di hadapannya.

“Iya.” Ia bangkit dari sofa. “Kita sudah sampai sejauh ini.”

Tak ada amarah yang meledak atau air mata yang jatuh. Hanya keputusan yang tak lagi bisa digoyahkan.

Selena merapikan gaun tidurnya, lalu berbalik.

“Tenangkan kekasihmu. Setelah itu, pastikan kalian sudah meninggalkan rumah ini sebelum aku selesai bersiap.”

Ia melangkah pergi, tetapi kemudian berhenti sejenak.

“Billy, siapkan mobil. Kita berangkat dalam tiga puluh menit.”

“Baik, Nyonya.”

Selena meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, suara tangis Mia dan bujukan Cedric perlahan menjauh.

Untuk pertama kalinya setelah enam tahun terbelenggu dalam sangkar emas, Selena tak lagi merasa perlu mendengarkan mereka.

Ia sudah memilih.

Kali ini, Selena Gray memilih dirinya sendiri.

•••••

Brak!

Pintu ruang kerja Selena dibuka dengan kasar, menciptakan dentuman keras yang memecah keheningan. Selena, yang tengah duduk di balik meja kerjanya dan membicarakan laporan keuangan kuartal dengan beberapa bawahannya, sontak mendongak tajam.

“Kalian pergilah,” usirnya dingin kepada para staf di hadapannya.

Tanpa berani membantah atau menoleh, mereka serempak membungkuk hormat lalu bergegas mengundurkan diri dari ruangan.

Sosok pria tinggi berwajah rupawan dalam balutan setelan jas lengkap kini berdiri tepat di tengah ruangan—pelaku penggebrak pintu barusan. Napasnya sedikit memburu, menyiratkan amarah dan kepanikan yang tertahan.

“Kau tidak mengangkat teleponku, kau juga melarangku datang ke rumahmu, sebenarnya apa yang sedang terjadi, Selena?” cecar pria itu tanpa basa-basi.

Selena menghela napas panjang, lelah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, lalu menatap sang kakak dengan tatapan datar yang meneduhkan badai.

“Aku akan bercerai dengan Cedric.”

Brian Gray—kakak sulung sekaligus pengacara ternama yang mengepalai firma hukum elit—tertegun sesaat sebelum erangan frustrasi meluncur dari bibirnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

“SELURUH PENGHUNI FIRMA HUKUMKU JUGA TAHU ITU!” erangnya penuh frustrasi. “Tapi apa alasannya, Selena? Enam tahun lalu, kau sendiri yang mati-matian meyakinkan Ayah dan memohon agar diizinkan menikah dengan bajingan itu. Lalu sekarang tiba-tiba kau mengajukan gugatan cerai?!”

“Kak...” Selena bangkit perlahan dari kursinya. Ia melangkah keluar dari balik meja, berdiri tegak dan menatap sang kakak lurus-lurus tanpa gentar. “Dia berselingkuh.”

“BAJINGAN ITU!” sambar Brian seketika, urat-urat di lehernya menonjol karena amarah yang langsung tersulut.

“Aku akan menjelaskan semuanya pada Ayah nanti, jadi Kakak tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku juga akan menjamin, perceraian ini tidak akan mencoreng nama baik keluarga kita,” ucap Selena tenang, seolah sedang membahas strategi korporasi.

“Tentu saja tidak akan! Jika dia yang berselingkuh, maka dialah yang seharusnya hancur!” Brian mengepalkan kedua tangannya sangat kencang di sisi tubuhnya. “Kirimkan semua berkas dan buktinya kepadaku sekarang juga. Biar aku pelajari sendiri, dan aku pastikan brengsek itu tidak akan mendapatkan sepeser pun dari aset SC Group maupun harta milikmu!”

“Aku punya pengacara sendiri,” tukas Selena cepat, mempertahankan pendiriannya.

“Pengacaramu akan mengirimkan seluruh berkas perkaranya ke ruanganku sore ini, dan aku yang akan mengambil alih penanganannya,” tegas Brian tanpa memberi ruang kompromi.

Sifat keras kepala keluarga Gray mengalir deras di dalam darah mereka berdua.

Selena mendesah berat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. “Biarkan aku menyelesaikannya dengan caraku sendiri.”

Brian menatap adiknya itu dengan sorot mata yang menajam, penuh ketidaksetujuan. “Seperti pernikahan yang kau urus sendirian selama enam tahun ini?” sindirnya tajam, menusuk tepat di ulu hati.

“Kak—”

Tok... tok...

Suara ketukan pintu yang terlampau sopan tiba-tiba menginterupsi ketegangan di antara kakak beradik itu. Billy melangkah masuk dengan gestur kaku, memegang sebuah tablet di tangannya.

“Nyonya,” panggil Billy ragu-ragu, melirik sekilas ke arah Brian yang masih memancarkan aura membunuh. “Tuan Lawrence... sedang berada di rumah sakit.”

Alis Selena sedikit bertaut karena kebingungan. “Rumah sakit?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status