Share

6.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-21 20:22:09

“Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?”

Wajah Mia seketika memucat.

“Saya tidak—”

“Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.”

Suasana ruangan mendadak hening.

Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia.

“Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.”

Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela.

“Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sendiri setelah dia melepaskan rambutmu.” Selena memiringkan kepalanya sedikit. “Jadi, sekarang jelaskan kepadaku, Mia Bennett. Bagian mana dari kejadian itu yang memberimu hak untuk mengubah urutan fakta demi menjadikan dirimu korban sepenuhnya?”

“Saya tidak mengubah apa pun!” Mia menyahut dengan suara bergetar. “Dia yang menyerang saya lebih dulu! Saya hanya berusaha melepaskan diri!”

“Benarkah?” Selena mengangkat alis. “Kalau begitu, kita sederhanakan persoalannya. Ketika Eleanor melepaskan rambutmu, apakah dia masih menjambakmu?”

Mia terdiam.

“Jawab pertanyaanku.”

“Ti-tidak, tetapi—”

“Apakah kau kemudian melangkah mendekatinya lagi sebelum menjatuhkan dirimu ke lantai?”

Mia menggigit bibirnya.

“Jawab, Mia.”

“Ya, tetapi saya—”

“Terima kasih.” Selena mengangguk pelan. “Setidaknya, untuk dua pertanyaan sederhana, kau masih bersedia mengakui apa yang ditunjukkan oleh rekaman.”

Gilbert menahan napas. Sementara itu, sudut bibir Chase yang sejak tadi terangkat samar mulai kembali lurus. Perhatiannya kini tertuju sepenuhnya pada perempuan berambut hitam yang berdiri anggun di hadapan mereka.

Selena tidak meninggikan suaranya sedikit pun. Namun, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seolah mempersempit ruang bagi Mia untuk melarikan diri.

“Nyonya, Anda memutarbalikkan ucapan saya!” seru Mia, matanya mulai berkaca-kaca.

“Tidak, Sayang. Aku hanya mengulangnya dengan urutan yang lebih mudah dipahami.”

Senyum Selena semakin tipis.

“Dan ada satu hal lagi yang sepertinya kau lupakan. Aku tidak pernah mengatakan bahwa Eleanor tidak bersalah. Aku hanya menolak membiarkanmu menggunakan kesalahannya untuk menutupi kesalahanmu sendiri.”

Tatapan Selena mengeras.

“Kau boleh menuntut pertanggungjawaban atas rambutmu yang dijambak. Kau boleh melaporkan rasa sakit yang kau alami. Bahkan, kau berhak meminta pihak kampus menjatuhkan sanksi kepada Eleanor sesuai aturan yang berlaku. Namun, kau tidak berhak merekayasa kejadian, membiarkan orang lain mengambil keputusan berdasarkan keterangan yang tidak utuh, lalu berlindung di balik kata memaafkan seolah-olah tindakan itu otomatis menghapus semua kebohonganmu.”

Mia menggeleng berkali-kali. “Saya tidak merekayasa apa pun!”

“Lalu, apa sebutanmu untuk tindakan menjatuhkan diri sendiri setelah tidak ada lagi orang yang menyentuhmu?”

“Saya terjatuh!”

“Rekaman menunjukkan kau melangkah mendekati Eleanor, kemudian menjatuhkan tubuhmu sendiri. Tidak ada dorongan yang membuatmu kehilangan keseimbangan.” Selena menunjuk layar iPad dengan ujung jarinya. “Jika kau tetap bersikeras bahwa kau terjatuh secara tidak sengaja, silakan jelaskan mengapa gerakan tubuhmu justru memperlihatkan sebaliknya.”

Mia membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Dan sebelum kau kembali menggunakan luka di kakimu sebagai bukti bahwa Eleanor menyerangmu,” lanjut Selena, “aku ingin mengingatkanmu bahwa luka membuktikan seseorang mengalami cedera. Luka itu sendiri tidak membuktikan siapa penyebabnya, bagaimana cedera tersebut terjadi, ataupun apakah seseorang sengaja menyebabkannya.”

Gilbert perlahan menurunkan iPad. Wajahnya tampak semakin suram. Ia menyadari bahwa sejak awal, pihak rektorat telah terburu-buru menerima satu versi cerita tanpa memeriksa bukti secara menyeluruh.

Selena menoleh kepadanya.

“Tuan Rektor, Anda tadi mengatakan bahwa Mia telah memaafkan Eleanor, sehingga masalah ini dianggap selesai. Saya ingin bertanya, apakah pihak kampus memang memiliki kebijakan yang menyatakan bahwa suatu perkara otomatis selesai hanya karena salah satu pihak mengaku telah memaafkan pihak lainnya?”

Gilbert terbatuk kecil. “Tentu saja tidak, Nyonya Lawrence.”

“Bagus. Kalau begitu, saya harap Anda memahami perbedaannya.” Selena kembali menatap Mia. “Memaafkan adalah hak pribadi seseorang. Menentukan fakta dan memberikan sanksi berdasarkan aturan kampus adalah tanggung jawab pihak rektorat. Keduanya bukan hal yang sama.”

Selena menatap Mia dengan sorot mata yang begitu tajam dan menusuk, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruangan tersebut.

Chase memiringkan kepalanya sedikit, sebuah seringaian tipis terbit di sudut bibirnya—menyorotkan ketertarikan yang tak lagi berusaha ia sembunyikan. Manik matanya yang setajam elang tak lepas sedetik pun dari setiap gerak-gerik Selena yang begitu anggun dan dominan.

“Mia Bennett, apa kita dekat?” tanya Chase tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara baritonnya yang santai.

Mia tersentak kaget, bulu matanya bergetar hebat tatkala atensi ruangan kini beralih padanya. “Chase…”

“Kau gadis kedelapan yang dijambak oleh Eleanor,” Chase berjalan mendekat secara perlahan dengan kedua tangan terselip santai di dalam saku celana, “tapi kau satu-satunya gadis yang bahkan tidak aku kenal.”

Ia berhenti tepat beberapa langkah di samping Selena, melirik tajam ke arah Mia. “Jadi, kenapa Eleanor bisa sampai mengira kita dekat?”

“Dia bilang kau mengundangnya ke pesta Gala lusa malam!” sela Eleanor cepat, menunjuk wajah Mia.

“Aku… tidak! Aku bilang aku pergi ke pesta itu bersama kekasihku!” tukas Mia, berusaha membalikkan keadaan.

“Kau bilang kekasihmu adalah pria paling tampan dan mahasiswa terbaik di Rosewood!” teriak Eleanor, amarahnya kembali tersulut.

“Kau pikir Chase satu-satunya mahasiswa terbaik di kampus ini?!” balas Mia tidak mau kalah.

“Tampan dan pintar... memangnya ada pria seperti itu selain Chase?!” sahut Eleanor sengit.

“Tunggu… apakah itu artinya semua ini hanya sebuah kesalahpahaman?” sela Rektor Gilbert cepat, mencoba mengambil celah untuk menengahi sebelum masalah makin membesar.

“Ini baru bisa disebut kesalahpahaman jika Mia benar-benar tidak tahu alasan apa yang membuat Eleanor sampai menjambak rambutnya,” ucap Selena, suaranya menginterupsi dengan dingin dan tenang. “Mia tahu bahwa Eleanor sangat menyukai Chase, jadi dia sengaja tidak mengoreksi ucapannya dan membiarkan Eleanor terjebak dalam salah paham.”

“Apa?! Sa-saya tidak—“

“Jika tidak, kenapa kau sengaja membiarkan Eleanor menarik rambutmu tanpa meluruskan ucapanmu sejak awal?” sela Selena lagi, tatapannya menghujam lurus ke manik mata Mia.

“Saya benar-benar tidak tahu kalau Eleanor tergila-gila pada Chase!” Mia meremat ujung pakaiannya sendiri hingga kusut, air mata buayanya mulai menetes. “Hiks… kenapa Anda terus memojokkan saya seperti ini? Eleanor bahkan tidak terluka sedikit pun, dan saya juga sudah bermurah hati memaafkannya…”

Sambil menatap dingin wajah penuh kepalsuan itu, Selena berucap tanpa keraguan, “Ele, lakukan lagi.”

“Ya?” Eleanor terkejut bingung, mengerjap kaget.

“Jambak dia seperti tadi.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status