Share

5.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-20 17:02:40

“Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara.

Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor.

Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut.

Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?”

“Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya.

Mia Bennett.

Selena sempat berharap telinganya salah mendengar, namun nama itu terucap terlalu jelas dan gamblang.

Gadis yang sama dengan simpanan suaminya.

Selena memutar tubuhnya perlahan, menatap Eleanor tajam. “Kau memukulnya?”

Eleanor tersentak kaget. “A-aku memang menjambak rambutnya, tapi aku tidak memukulnya sama sekali! Dia jatuh sendiri!”

“Kau yakin?” tanya Selena lagi, nadanya menuntut kebenaran mutlak.

Eleanor mengangguk cepat. “Aku berani bersumpah, Aunty! Aku tidak bermaksud melukainya. Aku hanya ingin memperingatkannya agar dia tidak berani dekat-dekat lagi dengan Chase!” akunya jujur.

Selena menghela napas pendek, merasa miris dengan alasan emosional keponakannya. Ia lalu menoleh, menatap pemuda yang menjadi dalang di balik aksi heroik nan konyol keponakannya itu.

“Apa kau melihat kejadiannya?”

Chase terdiam sejenak. Bukannya takut, sebuah senyuman miring yang begitu menawan justru terbit di bibirnya. Tanpa ragu, dengan langkah mantap dan berani, pemuda itu beranjak mendekat dan berdiri tepat di hadapan Selena.

“Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku terseret ke dalam ruangan ini,” ujar Chase, suaranya yang berat memancarkan rasa percaya diri yang tinggi.

Selena mengerutkan keningnya tipis. Tanpa terintimidasi sedikit pun oleh postur tegap pemuda itu, ia mengulurkan tangannya dan mendorong pelan dada Chase agar bergeser dari jalur pandangnya.

Lalu, ia kembali menatap Rektor Gilbert dengan sorot mata sekeras baja.

“Anda bilang Mia Bennett telah memaafkan Eleanor... atas dasar apa?”

Gilbert mengerjap gagap. “A-akibat tindakan impulsif Eleanor, Mia Bennett mengalami luka di bagian kakinya.”

“Ele baru saja berkata dia hanya menjambak rambut gadis itu. Kenapa mendadak kakinya yang terluka?”

“Itu... itu karena Mia Bennett terjatuh akibat dorongan dan tarikan dari Eleanor, dan—”

“Apa benar begitu, Ele?” sela Selena tegas seraya melirik Eleanor.

“Tidak!” Eleanor langsung menarik lengan bajunya ke atas, memamerkan bekas cengkeraman kemerahan di pergelangan tangannya. “Dia yang tiba-tiba menarik tanganku kencang! Aku cuma melepaskan jambakanku, lalu sudah! Dia terjatuh sendiri secara tiba-tiba!”

“Anda mendengarnya?” Selena melangkah maju mendekati meja Rektor. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan meja jati itu, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan aura dominan yang menekan. “Itu adalah kesaksian resmi Eleanor.”

“Tapi Mia Bennett menyampaikan bahwa Eleanor-lah yang sengaja membuatnya tersungkur!” Gilbert menelan ludahnya yang terasa pahit. “Nyonya... lagipula masalah ini sudah dianggap selesai karena Mia telah memaafkan Eleanor. Kami dari pihak rektorat juga tidak menjatuhkan hukuman. Jadi, sebaiknya Anda segera membawa Eleanor pulang.”

“Panggil Mia Bennett ke sini sekarang,” titah Selena, tak terbantahkan.

“Nyonya—”

“Anda mengabaikan kesaksian Eleanor begitu saja hanya karena Anda lebih dulu mendengar kesaksian Mia Bennett. Bukankah itu tindakan yang sangat tidak adil, Tuan Rektor?!” Selena kembali melirik Eleanor. “Keponakan saya juga mengalami luka.”

“Itu... itu adalah tindakan pembelaan diri dari Mia,” alibi Gilbert.

Selena menghela napas berat, lalu menoleh ke arah asistennya. “Billy, bawa Mia Bennett ke sini.”

“Baik, Nyonya!” jawab Billy sigap, langsung memutar tubuh dan bergegas keluar.

“Nyonya Lawrence.. kenapa Anda harus memperpanjang masalah sederhana yang sudah selesai ini?” tanya Gilbert, menyapu peluh di pelipisnya.

“Masalah ini belum selesai,” tegas Selena, berdiri tegak kembali. “Eleanor akan menerima hukuman dan meminta maaf atas kekacauan yang disebabkannya di lingkungan kampus. Tapi bukan berarti dia harus menanggung dan mengakui fitnah atas sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.”

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka lebar. Billy kembali seraya menuntun seorang gadis dengan balutan perban putih di bagian kakinya.

Mia Bennett. Gadis itu seketika menegang kaku begitu sepasang matanya menangkap sosok Selena yang berdiri anggun di sana.

“Nyonya, saya juga sudah mendapatkan rekaman CCTV resmi dari lokasi kejadian,” ucap Billy seraya menyerahkan sebuah iPad ke jemari Selena.

Selena menerimanya. Matanya memicing tajam meneliti detik demi detik adegan di layar.

Di dalam video terlihat jelas: Mia-lah yang menghampiri Eleanor terlebih dahulu. Entah bisikan beracun apa yang dilontarkannya hingga memancing amarah Eleanor untuk menjambak rambutnya. Lalu, Mia mencengkeram tangan Eleanor dengan sangat kencang hingga Eleanor melepaskan cengkeramannya. Setelah itu, alih-alih menjauh, Mia justru melangkah semakin mendekat ke arah Eleanor, lalu secara dramatis sengaja menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai koridor.

Selena menyerahkan iPad itu ke tangan sang Rektor. Lalu, pandangan dinginnya tertuju sepenuhnya pada Mia.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Selena datar.

Mia membeku, wajahnya pucat pasi. “Sa-saya tidak mengerti apa maksud Anda, Nyonya—”

“Kau mengerti dengan sangat baik apa maksud ucapanku, Mia Bennett.”

Mia melirik Rektor Gilbert dengan mata berkaca-kaca yang dipaksakan. “Tuan Rektor... bukankah saya sudah mengatakan bahwa saya sudah memaafkan Eleanor? Hiks... saya tidak berniat memperpanjang masalah ini...”

“Mia, kenapa kakimu bisa terluka?” tanya Gilbert dengan rahang mengeras. Pria tua itu telah menyaksikan sendiri rekayasa di rekaman CCTV tersebut.

“I-ini… karena…” Mia melirik takut-takut pada iPad di tangan Gilbert, lalu menyapu pandangan ke arah Chase yang berdiri acuh tak acuh di sudut ruangan. “Saya… saya… terluka karena—”

“Lantai di koridor kampus ini memang keras, tapi tidak tajam sampai bisa membuat kakimu tergores dan terluka separah itu,” tembak Gilbert tajam.

Selena menarik pelan tangan Eleanor, membawanya berdiri tepat berhadapan dengan Mia.

“Sekarang, ulangi ucapanmu, Mia,” titah Selena dingin.

“Nyonya, saya benar-benar tidak mengerti—”

“Ulangi kalimat yang kau katakan pada Ele di koridor tadi. Kalimat yang menjadi alasan kenapa Ele sampai menjambak rambutmu,” tegas Selena tanpa memberi celah untuk menghindar.

Mia mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba membela diri. “Nyonya, apa alasan itu penting? Apa pun yang saya ucapkan, bukan berarti saya berhak diperlakukan kasar seperti itu! Ele tetap sudah menindas saya!”

“Menindas?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status