Share

4.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-20 16:16:41

“Begitulah laporan yang saya terima.”

“Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy.

“Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan.

“Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya.

“Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah.

Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.”

“Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray.

Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik membuat kombinasi keduanya terasa sangat menyeramkan.

Tanpa membuang waktu, Billy membungkuk singkat ke arah mereka dan bergegas kabur keluar dari ruang kerja.

“Kalau begitu—”

Drrthh… drrthh..

Getaran keras dari ponsel di saku celana Brian menginterupsi. Pria itu segera merogohnya, lalu menggeser ikon hijau tanpa ragu begitu melihat nama putri sematawayangnya terpampang di layar.

“Halo—”

“Daddy!” Suara terisak yang sarat akan kepanikan dan amarah menyambar di seberang sana.

Manik mata Brian seketika membelalak murka. “Oh? BAJINGAN MANA YANG BERANI MEMBUAT PUTRIKU MENANGIS?!”

“Kau harus memperbaiki perangaimu itu, Kak,” sindir Selena tajam namun tenang. Wanita itu menarik kursinya dan kembali duduk dengan gerakan yang sangat anggun.

Brian mengabaikan sindiran adiknya dan berfokus penuh pada rintihan sang putri.

“Daddy! Daddy harus datang sekarang!”

“Jawab dulu pertanyaan Daddy—”

“Dia mau mengamhil Chase dariku!” aduh Eleanor Gray di antara isakannya yang makin menjadi-jadi.

Brian terdiam seketika. Lidahnya mendadak kaku, lalu sebuah helaan napas berat dan sarat rasa lelah merembes keluar dari dadanya.

Nama Chase jelas sudah tidak asing lagi di telinganya—sosok mahasiswa yang secara tidak sengaja telah menyita seluruh perhatian dan obsesi putrinya sejak Eleanor resmi menapakkan kaki di bangku kuliah.

“Kau menampar orang lain lagi, Ele?”

“Daddy harus ke sini sekarang!”

Bip!

Panggilan itu diputus sepihak dari seberang sana.

Brian mendesah berat sekali lagi, mengurut pangkal hidungnya yang mendadak pening. Ia melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya sekilas, sebelum akhirnya beralih menatap Selena dengan tatapan memohon yang dibalut aura ketegasan.

“Ele membuat masalah lagi?” tebak Selena tepat sasaran, memiringkan kepalanya sedikit.

“Sepertinya begitu. Dan aku tidak bisa menjemputnya sekarang karena masih ada janji temu penting dengan salah satu klien utama,” ucap Brian.

“Kalau Kakak sesibuk itu, kenapa Kakak sampai repot-repot datang ke sini?”

“Karena kami berjanji akan bertemu di gedung seberang setelah urusannya selesai.” Brian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap Selena sangat serius. “Tolong jemput Ele.”

“Aku?!” Alis Selena terangkat, menunjuk dirinya sendiri.

“Ya. Dia lebih takut padamu daripada padaku.”

“Itu karena Kakak terlalu memanjakannya sejak kecil.”

“Aku hanya... merasa bersalah karena tidak bisa memberinya seluruh waktuku. Bahkan tidak bisa memberinya sosok seorang ibu,” gumam Brian, suaranya merendah dengan nada penyesalan yang samar.

Selena menghela napas panjang, tatapannya melembut.

Ia tahu betul luka itu.

Ibu kandung Eleanor, Elmira, meninggal dunia beberapa jam setelah berjuang melahirkan Eleanor ke dunia.

Sejak tragedi itu, Brian sempat hancur dan melarikan diri dengan menenggelamkan diri di kantornya, menyerahkan Eleanor kecil sepenuhnya pada pengasuh.

Untungnya, masa-masa kelam itu tidak berlangsung lama.

Hanya sampai Eleanor berusia sekitar enam bulan dan tak sengaja menyerukan kata pertamanya, ‘Papa’.

Sejak detik itu, Brian terbangun. Pria itu mulai membagi waktunya dengan ketat dan rasa bersalah karena sempat menelantarkan putrinya selama beberapa bulan direspons dengan cara memanjakan Eleanor tanpa batas—memberikan apa pun yang diinginkan gadis itu.

“Kali ini apalagi yang dilakukannya?” tanya Selena akhirnya, mengalah.

“Kau akan tahu sendiri setelah tiba di sana,” jawab Brian seraya mengusap bahu adiknya singkat sebelum berbalik pergi.

*****

Sudah lama sekali Selena tidak menginjakkan kakinya di area kampus ternama berarsitektur klasik ini. Terakhir kali ia melangkah di bawah naungan pepohonan rindangnya adalah sepuluh tahun yang lalu—ketika ia masih menjadi mahasiswi muda dengan sejuta impian, sebelum kehidupan pernikahan dan dunia bisnis mengubahnya secara drastis.

“Nyonya Selena…!”

Seorang pria tambun dengan setelan jas sedikit ketat berlari tergesa menghampirinya. Napasnya tersengal-sengal saat ia mencoba menyamai langkah kaki Selena yang terayun anggun di sepanjang koridor utama.

Panggilan sopan dengan nada penuh penghormatan yang keluar dari mulut wakil dekan itu sontak menarik perhatian hampir seluruh mahasiswa yang sedang berlalu-lalang di koridor.

Pasang mata berkerumun, menatap takjub pada sosok wanita berusia 30 tahun yang melangkah dengan aura aristokratik nan memikat—begitu matang, berkelas, dan kontras dari mahasiswi mana pun di tempat itu.

“Aku hanya datang untuk menjemput keponakanku, tidak perlu sampai membuat keributan begini,” ucap Selena tenang, tanpa memperlambat ritme langkahnya yang mantap.

Pria tambun itu menyeka peluh tipis di dahinya, berjalan di sampingnya dengan posisi sedikit membungkuk hormat. “Maafkan saya, Nyonya Selena. Saya hanya terkejut... tidak menyangka Anda sendiri yang berkenan menjemput Eleanor kali ini.”

Selena tidak menyahut lagi. Wajahnya yang tenang bagai permukaan pualam tidak menunjukkan emosi apa pun sampai langkah mereka berhenti tepat di depan pintu ganda berukir menuju ruangan Rektor.

Pria tambun itu dengan sigap membukakan pintu.

Selena sempat berdiri diam sejenak di ambang pintu. Manik mata emerald-nya menyapu tenang interior ruangan luas itu, menilai beberapa wajah yang berkumpul di sana dalam satu tatapan tajam.

“A-Aunty…!”

Salah satu dari mereka—Eleanor Gray—sontak tersentak. Gadis berusia dua puluh tahun yang tadinya berdiri gusar dengan sisa air mata di pipi itu tampak sangat terkejut melihat kehadiran sang bibi, bukan ayahnya.

“Aunty?” gumam suara bariton yang berat, dalam, dan terkesan dingin dari sisi lain ruangan.

Di sana, bersandar dengan santai di tepi meja kayu jati, berdiri seorang pemuda berpostur tinggi tegap dengan garis wajah maskulin yang sangat tegas dan percaya diri.

Chase Hardin.

Manik mata gelap pemuda berusia 23 tahun itu langsung terkunci rapat pada Selena—meneliti setiap detail wanita bergaun potongan rapih elegan yang baru saja melangkah masuk, memancarkan pesona matang dan aura kebangsawan yang seketika menyedot seluruh perhatiannya di dalam ruangan itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status