Share

Bab 7

Author: Maharsa
Emma tidak sanggup mendengarkan lagi. Dia berbalik dan berjalan menuju kolam renang di halaman belakang.

Angin malam terasa dingin. Baru saja dia duduk di tepi kolam, Frida sudah menyusul.

"Bu Emma." Dia mengelus perutnya yang membesar sambil tersenyum manis, "Pak Brody bilang setelah anak ini lahir, dia akan membelikanku vila di Southville."

"Oh ya, kamu tahu kenapa malam itu waktu Pak Brody terkena obat, dia kehilangan kendali dan menginginkanku?" Dia mendekat ke telinga Emma dan melanjutkan, "Karena malam itu, aku mengenakan gaun putih yang biasa kamu pakai di pesta, modelnya sama. Dia salah orang. Jadi aku harus berterima kasih padamu, karena berkat kamu aku bisa sampai di posisi sekarang ...."

Emma perlahan menoleh, baru saja dia hendak berbicara ....

Byur!

Frida tiba-tiba menjatuhkan diri ke kolam, memercikkan air ke mana-mana.

"Tolong! Anakku ...." Dia meronta di dalam air dengan suara melengking.

Saat semua orang berlari mendekat, yang mereka lihat adalah pemandangan itu.

Frida berjuang di dalam air, sementara Emma berdiri di tepi kolam dengan wajah tanpa ekspresi.

Seluruh Keluarga Sukarsa langsung kacau.

Saat Brody melompat ke air untuk menyelamatkan, tamparan neneknya sudah lebih dulu mendarat di wajah Emma. "Kurang ajar! Minta maaf sekarang!"

Wajah Emma terpaling, sudut bibirnya berdarah. Dia perlahan menoleh kembali, tiba-tiba tersenyum, "Baik, aku minta maaf."

Setelah berkata demikian, dia tiba-tiba menarik Frida yang baru saja diselamatkan, lalu mendorongnya kembali ke dalam air.

"Ah ...!"

Nenek Brody menjerit.

Emma melepas gelang giok warisan Keluarga Sukarsa di pergelangan tangannya, yang dulu dipakaikan langsung oleh nenek saat dia menikah, lalu membantingnya ke lantai dengan keras.

Prang!

Gelang giok itu pecah menjadi beberapa bagian, berkilau dingin di bawah cahaya bulan.

Saat berbalik pergi, dia mendengar Brody memanggil namanya dengan tak percaya dari belakang. Namun kali ini, Emma tidak menoleh.

Tidak lama setelah Emma sampai di rumah, pintu langsung didorong terbuka dengan keras. Brody menerobos masuk dengan tubuh penuh hujan. Jasnya setengah basah, ujung rambutnya masih meneteskan air, jelas dia mengejar Emma dengan tergesa-gesa.

Napasnya terengah-engah. Matanya dipenuhi emosi yang bergejolak, seperti marah, tapi juga seperti takut.

"Aku nggak salah." Emma menatapnya dingin, "Kalau kamu tetap ingin aku minta maaf, kita cerai saja."

Begitu kata "cerai" keluar, wajah Brody langsung pucat seketika.

"Jangan pernah bilang itu!" Brody benar-benar panik. Dia melangkah cepat dan langsung menarik Emma ke dalam pelukan. "Kamu tahu jelas, perceraian itu sama saja membunuhku!"

Emma menatap matanya yang memerah, tiba-tiba merasa lucu.

"Lalu bagaimana dengan hidupku?" tanyanya pelan, "Brody, pernah nggak kamu mikir?"

Brody mematung.

"Aku tahu kamu sangat terganggu dengan keberadaan Frida dan anak itu, tapi Nenek mengancam dengan nyawanya dan Frida juga penyelamat hidupku. Mana mungkin aku menyeretnya untuk menggugurkan kandungan?" Suaranya serak saat melanjutkan, "Emma, aku mohon kamu mengerti aku, ya?"

"Jadi kamu sudah memikirkan Nenek, memikirkan Frida ...." Emma tersenyum seraya melanjutkan, "Tapi nggak pernah memikirkan aku, benar?"

Brody membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya memeluknya lebih erat.

"Sudahlah," bujuknya pelan. Tangan Brody menepuk punggungnya dengan lembut seperti menenangkan anak kecil. "Anggap saja ini sudah lewat. Soal Nenek, biar aku yang jelaskan. Setelah anaknya lahir, semuanya akan kembali seperti dulu ...."

Emma bersandar di dalam pelukannya, mencium aroma khas tubuh Brody yang familier, tetapi malah merasa sangat lelah.

Pelukan Brody masih hangat, detak jantungnya masih stabil, tapi hati Emma perlahan-lahan membeku.

Tidak bisa kembali. Tidak akan pernah bisa kembali.

'Brody, aku akan memulai hidup baru. Dan di dalam hidupku itu, nggak akan ada kamu lagi.'

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 22

    Brody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 21

    Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 20

    "Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 19

    Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 18

    "Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 17

    "Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 8

    Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 6

    Emma kembali terbangun dan melihat Brody menjaga di samping tempat tidurnya, matanya memerah sampai terlihat menakutkan.Dia menggenggam tangan Emma, lalu berkata dengan suara yang gemetar tak karuan. "Emma, aku benar-benar nggak tahu akan terjadi longsoran salju .... Maaf, benar-benar maaf ...."Uj

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 5

    Suasana di ruang rawat langsung membeku.Perawat memeluk berkas medis dengan canggung, lalu buru-buru pergi, hanya menyisakan Emma dan Brody yang berdiri di pintu saling berhadapan."Masih marah soal donor darah tadi?" Brody seolah memahami sesuatu, lalu melangkah mendekat dan mengulurkan tangan ing

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 4

    Emma terbangun di tengah rasa sakit yang tajam. Dia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Saat menoleh sedikit, dia melihat Brody duduk di samping tempat tidur. Ada bayangan gelap tipis di bawah matanya."Emma, kamu sudah bangun, ya." Dia langsung mendekat sambil membungkuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status