Compartilhar

Bab 5

Autor: Maharsa
Suasana di ruang rawat langsung membeku.

Perawat memeluk berkas medis dengan canggung, lalu buru-buru pergi, hanya menyisakan Emma dan Brody yang berdiri di pintu saling berhadapan.

"Masih marah soal donor darah tadi?" Brody seolah memahami sesuatu, lalu melangkah mendekat dan mengulurkan tangan ingin menyentuh wajahnya. "Ini menyangkut nyawa, Emma, aku nggak punya pilihan."

Emma memalingkan wajah untuk menghindar. Tangan Brody berhenti di udara dan kaku sejenak.

"Setelah urusan ini selesai." Brody menarik tangannya, lalu nada bicaranya melunak saat berkata, "aku akan menemanimu liburan ke pegunungan salju, ya?"

Emma menutup mata dengan lelah, tidak menjawabnya.

Brody menunggu sebentar. Melihat Emma tetap diam, dia lalu bertanya lagi, "Kapan kamu bisa keluar dari rumah sakit?"

Emma samar-samar merasa ada yang tidak beres. Dia membuka mata dan menatap Brody. "Ada apa?"

Brody ragu sejenak sebelum berkata, "Frida ingin minum sup iga dengan ubi ... yang kamu masak paling enak, aku nggak tenang kalau orang lain yang membuatnya."

Emma terdiam di tempat. Dalam sekejap, semua emosi membanjir.

Marah, sakit, tidak masuk akal, getir .... Emma ingin bertanya, sebenarnya dia ini dianggap apa oleh Brody? Istri, atau koki pribadi untuk Frida?

Namun pada akhirnya, dia hanya berkata pelan, "Aku mengerti. Setelah keluar nanti, aku akan memasaknya dan menyuruh orang mengantarkannya."

Matanya langsung berbinar, dia membungkuk mencium kening Emma, "Emma, memang kamu yang paling pengertian."

Emma menerima ciuman itu dengan mati rasa. Dalam hatinya berpikir, 'Benar, aku memang paling pengertian.'

Sampai-sampai setelah diperlakukan seperti ini dan tulang rusuknya patah karena ulah wanita itu, dia masih harus bangkit dan memasak sup untuk Frida.

"Aku hanya berharap anaknya bisa lahir dengan selamat," katanya pelan.

Brody akhirnya menyadari ada yang berbeda. Dia mengernyit menatap Emma, "Dulu ... kamu nggak suka anak itu, bukan?"

Emma tersenyum. "Sekarang nggak lagi."

Karena dia juga berharap mereka bertiga, tidak kurang satu orang pun.

Brody menatapnya cukup lama, seolah ingin menemukan sesuatu di wajahnya, tapi akhirnya dia hanya melirik jam tangannya dan berdiri. "Frida harus minum obat, nanti aku datang lagi."

Saat pintu tertutup, Emma perlahan berbaring kembali di ranjang sambil menatap langit-langit, lalu tiba-tiba tersenyum.

Brody pergi dan kepergiannya itu berlangsung selama lima hari penuh.

Emma keluar dari rumah sakit dan pulang. Sesuai janji, dia memasak sup, lalu menyuruh sopir mengantarkannya ke rumah sakit. Lalu, dia mulai membereskan barang bawaannya, paspor, dokumen, beberapa pakaian yang sering dipakai.

Di samping tempat tidur masih ada foto mereka berdua. Dia menatapnya sebentar, lalu membalikkannya menghadap ke bawah di atas meja.

Malam hari keenam, Brody tiba-tiba pulang, tapi tidak terlihat Frida bersamanya.

"Frida nggak ikut pulang?" Emma tanpa sadar bertanya.

Brody menatapnya dalam. "Masih di rumah sakit untuk pemulihan."

"Sudah selama ini belum keluar juga?" Emma mengernyit.

Brody hanya mengangguk pelan, lalu berjalan ke depannya. "Kebetulan dia nggak ada, Emma. Dulu aku sudah janji akan mengajakmu liburan ke pegunungan salju, semuanya sudah aku atur. Sekarang kita berangkat."

Belum sempat Emma menjawab, Brody sudah menarik pergelangan tangannya dan membawanya keluar. Cengkeramannya kuat, Emma sampai terhuyung sedikit dan perasaan tidak nyaman samar-samar muncul.

Ekspresi Brody terlalu aneh, sorot matanya seperti membeku.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa mencekam. Brody menggenggam setir dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Emma menatap pemandangan yang melesat mundur di luar jendela, detak jantungnya semakin cepat.

Saat tiba di resor pegunungan salju, hari sudah menjelang senja.

Ketika hendak melanjutkan ke puncak, Brody tiba-tiba berkata, "Emma, aku lupa bawa sesuatu, aku ambil di mobil dulu. Kamu tunggu di sini."

Emma mengangguk.

Namun, angin dingin menderu. Emma mengeratkan mantelnya, menunggu selama tiga jam. Saat langit benar-benar gelap, dia akhirnya menelepon Brody.

"Kamu kapan kembali?" Suaranya gemetar di tengah angin dan salju.

Namun, di seberang hanya ada keheningan. Setelah lama sekali, suara Brody terdengar lebih dingin dari salju, "Nggak akan kembali. Mobil juga sudah pergi. Kalau kamu ingin pulang, cari cara sendiri."

"Apa maksudmu?"

"Ini hukuman untukmu." Suaranya terdengar dingin saat melanjutkan, "Aku sudah bilang kamu cukup bertahan sampai anaknya lahir, tapi kamu malah menaruh obat aborsi di dalam sup Frida dan hampir membuatnya keguguran. Emma, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?"

Mendengar kekecewaan yang begitu dingin dalam suaranya, darah di seluruh tubuh Emma seakan membeku seketika.

Obat aborsi? Hampir keguguran?

"Aku nggak melakukannya!"

"Kamu masih mau membantah?" Brody akhirnya meledak, "Sup itu kamu yang masak sendiri. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Masa Frida sendiri yang ingin menggugurkan kandungannya? Dia menganggap anak itu lebih penting dari nyawanya!"

Angin dan salju semakin deras. Bulu mata Emma mulai membeku oleh es. "Jadi kamu nggak percaya sama aku ...."

"Bagaimana aku harus percaya?" Suaranya berat saat melanjutkan, "Jalan sendiri kembali, renungkan baik-baik."

Saat telepon terputus, Emma berdiri di tengah salju. Ujung jarinya yang memegang ponsel sudah membiru karena beku. Suara Brody masih terngiang di telinganya, membuat seluruh tubuhnya terasa sakit.

Emma tiba-tiba teringat hari mereka mendaftarkan pernikahan, saat Brody menahannya di dinding kantor catatan sipil dan berkata, "Emma, kalau kamu berani lari, aku akan mengurungmu di sisiku seumur hidup."

Sekarang, malah Brody sendiri yang membuangnya di gunung bersalju.

Badai salju semakin hebat. Dia mengeratkan mantelnya dan bersiap turun gunung, tiba-tiba terdengar suara gemuruh berat dari kejauhan.

Nada sambung telepon yang terputus bercampur dengan suara angin dan salju.

Longsoran salju.

Emma berbalik ingin lari, tapi gelombang salju yang datang menelannya. Tubuhnya terhempas dan terkubur saat kaki kanannya merasakan sakit yang menusuk. Dengan gemetar dia mengeluarkan ponsel, menelepon Brody berkali-kali.

Panggilan ke tujuh akhirnya tersambung.

"Brody! Ada longsoran salju, aku ...."

"Halo?" Suara manja Frida terdengar dari telepon, "Kamu bilang apa? Aku nggak dengar."

Di tengah suara angin dan salju, Emma mendengar suara Brody di latar bertanya dengan lembut, "Telepon siapa?"

"Salah sambung." Frida tertawa pelan, "Pak Brody, bubur yang kamu masak enak sekali. Sejak kejadian ada orang yang menaruh obat, aku jadi jauh lebih tenang kalau kamu masak sendiri."

Bongkahan salju menghantam punggungnya. Emma tidak sanggup lagi bertahan. Dia perlahan jatuh di atas salju.

Di detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, Emma samar-samar melihat hari pernikahan mereka, saat Brody berlutut dengan satu kaki di depannya dan berkata, "Emma, kalau dalam hidup ini aku mengkhianatimu, biarlah aku ...."

Salju turun.

Menutupi semua janji yang belum sempat selesai diucapkan.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 22

    Brody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 21

    Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 20

    "Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 19

    Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 18

    "Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 17

    "Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 8

    Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 7

    Emma tidak sanggup mendengarkan lagi. Dia berbalik dan berjalan menuju kolam renang di halaman belakang.Angin malam terasa dingin. Baru saja dia duduk di tepi kolam, Frida sudah menyusul."Bu Emma." Dia mengelus perutnya yang membesar sambil tersenyum manis, "Pak Brody bilang setelah anak ini lahir

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 6

    Emma kembali terbangun dan melihat Brody menjaga di samping tempat tidurnya, matanya memerah sampai terlihat menakutkan.Dia menggenggam tangan Emma, lalu berkata dengan suara yang gemetar tak karuan. "Emma, aku benar-benar nggak tahu akan terjadi longsoran salju .... Maaf, benar-benar maaf ...."Uj

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 4

    Emma terbangun di tengah rasa sakit yang tajam. Dia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Saat menoleh sedikit, dia melihat Brody duduk di samping tempat tidur. Ada bayangan gelap tipis di bawah matanya."Emma, kamu sudah bangun, ya." Dia langsung mendekat sambil membungkuk

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status