LOGINMalam itu, Hong Tiong Wai meninggalkan penginapan secara diam-diam dan menempuh perjalanan kembali ke ibu kota.Ia berniat menceritakan semuanya kepada ayahnya Hong Li Song, termasuk percakapan yang didengarnya dan pengkhianatan yang telah disaksikannya sendiri.Sebab, jika dugaannya benar, ancaman terbesar bagi Kekaisaran Song mungkin bukan pasukan dari kekaisaran lain.Melainkan seseorang yang selama ini dipercaya berada di pihak mereka.Namun saat kembali ke istana, ia tidak menemukan ayahnya di manapun. Ia sudah mencari di seluruh istana.Hingga tiba-tiba terdengar suara yang paling dikenalnya.“Kakak!”Hong Tiong Wai menoleh, ia mendapati Lian Wei yang berlari ke arahnya.“Xinxin?” ucapnya bingung.“Kakak, kau dari mana?” tanya Lian Wei saat tiba di depan Hong Tiong Wai.“Bukankah semalam aku sudah bilang padamu?”“Bilang apa?” tanya Lian Wei melupakan sesuatu.“Apa kau sangat mengantuk semalam? Sehingga tidak mendengarkan aku hum?” ucap Hong Tiong Wai sambil mencubit kedua pipi
“Mengapa Kakak harus pergi ke perbatasan?” Lian Wei menghentikan gerakan sumpitnya dan menatap Hong Tiong Wai dengan heran.Hong Tiong Wai tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja.“Ada beberapa hal yang harus kupastikan sendiri disana,” jawabnya singkat.Lian Wei mengernyit. “Apakah ada masalah dengan pasukan kita?”“Belum tentu.” Hong Tiong Wai tersenyum tipis, berusaha menghilangkan kekhawatiran adiknya. “Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Habiskan makananmu dan beristirahatlah dengan baik.”Lian Wei menatapnya beberapa saat. Ia merasa kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi tidak mendesaknya lebih jauh.“Kalau begitu, Kakak harus berhati-hati. Perbatasan sedang tidak aman.”“Aku tahu.”Hong Tiong Wai mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala Lian Wei, persis seperti yang biasa dilakukannya ketika mereka masih kecil.“Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi.”Lian Wei mengangguk kecil.Setelah m
Di tempat lain, Hong Li Hao masih berdiri di depan peta.Ia tidak tahu bahwa sebagian kecil dari rahasia yang selama ini ia lindungi telah berpindah tangan.Ia juga tidak tahu bahwa orang-orang yang ia kira sebagai bagian dari pasukannya kini telah menjadi mata dan telinga Lian Wei.Hong Li Hao menghela nafas lega.“Sepertinya mereka hanya ingin menguji pertahanan kita.”Seorang bawahannya mengangguk.“Benar, tuan. Setelah serangan semalam, mereka bahkan tidak kembali menyerang.”Orang itu adalah Qiu yang menyamar.Hong Li Hao tersenyum.“Kalau begitu, jangan terlalu khawatir,” ucapnya lalu menutup peta.“Biarkan mereka berpikir bahwa kita tidak menyadari rencana mereka.”Tanpa ia sadari, justru dialah yang sedang terjebak dalam permainan Lian Wei.Di luar tenda, seorang prajurit yang sebenarnya adalah orang Lian Wei menundukkan kepala ketika Hong Li Hao melewatinya.Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang berbeda. Semuanya tampak seperti pagi biasa dan itulah yang diinginkan Lian
“Pada orang yang membuatmu terluka.”Lian Wei terdiam.Di kejauhan, suara pasukan kembali terdengar. Namun kali ini, senyum kecil muncul di wajahnya.Rencananya masih berjalan dan tanpa diketahui musuh, orang-orang Lian Wei sudah mulai mengambil alih bagian dalam kemah.Malam itu, pengepungan yang ia rancang bukan sekadar serangan. Itu adalah langkah pertama untuk menghancurkan rencana Hong Li Hao dari dalam.“Ayo kembali dulu.”Wang Xuemin mengajak Lian Wei pergi dari sana. Ia menggendong Lian Wei dan melompat ke atas tembok.Kemudian Wang Xuemin bersiul, tak lama seekor kuda jantan datang menghampirinya.Wang Xuemin turun lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Lian Wei yang masih di atas tembok.“Melompatlah, aku akan menangkapmu.”Wang Xuemin masih menjulurkan tangannya di udara, tak lama Lian Wei melompat. Dengan sigap Wang Xuemin langsung menangkapnya. Bunga sakura putih berguguran mengikuti arah lompatan Lian Wei.Lian Wei berada dalam pelukan Wang Xuemin, ia juga membaw
Malam semakin larut.Di luar perkemahan, angin berhembus melewati hamparan padang yang gelap. Api obor dari kemah musuh terlihat samar dari kejauhan.Lian Wei berdiri di balik sebuah bukit kecil bersama Yelu, Mingmei, dan beberapa orang kepercayaannya.Tatapannya tertuju pada kemah musuh.“Pasukan utama mereka masih berada di bagian tengah,” ucap Lian Wei pelan. “Mereka tidak menyadari bahwa sebagian pasukan kita sudah mengepung sisi timur dan barat.”Yelu mengangguk.“Kalau begitu, kapan kita menyerang, Tuan?”“Sekarang.”Lian Wei mengangkat tangannya.Sesaat kemudian—Whoosh!Anak panah melesat ke udara.“Serang!”Teriakan para prajurit mengguncang malam.Pasukan yang telah bersembunyi di sekitar kemah musuh langsung bergerak. Dari sisi timur, barisan prajurit menyerbu masuk. Dari sisi barat, pasukan lainnya memutus jalur pelarian.Musuh yang sedang beristirahat langsung kacau.“Ada serangan!”“Musuh mengepung kita!”“Lindungi kemah komandan!”Lian Wei menarik pedangnya dan maju pal
“Aku tiba-tiba ingin melihat halaman belakang.”Hong Tiong Wai tertawa kecil.“Baiklah. Kalau itu keinginanmu.”Mereka berjalan mengikuti arah Hong Li Hao. Namun, Lian Wei tidak berjalan terlalu dekat.Ia menjaga jarak, sesekali berhenti untuk melihat bunga atau memperhatikan bangunan di sekelilingnya.Hong Tiong Wai tidak menyadari bahwa setiap langkah adiknya telah diperhitungkan.Hong Li Hao berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Dua pengawal membuka pintu lalu ia masuk.Lian Wei yang berada cukup jauh segera berhenti di balik pilar.“Adik?” tanya Hong Tiong Wai sambil menatapnya.“Diam sebentar,” Lian Wei mengangkat satu jari di depan bibir.Hong Tiong Wai mengerutkan kening. Namun, ia mengikuti permintaan adiknya. Lian Wei mendekat perlahan, dari balik dinding, terdengar suara Hong Li Hao.“Semua pasukan harus tetap berada di tempat masing-masing.”Lian Wei berhenti.‘Pasukan?’Ia memberi isyarat kepada Hong Tiong Wai agar tetap diam.“Bagaimana jika pasukan dari Shang dan Xu m
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan






