Share

Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!
Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!
Penulis: Naomiliana

1

Penulis: Naomiliana
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 09:31:32

Plak!

Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.

Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.

“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”

Suara dingin penuh ejekan terdengar.

Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedua Kekaisaran Wei, yang selama ini tak pernah melewatkan kesempatan untuk merendahkannya.

Di sudut ruangan, seorang pelayan muda langsung berlutut panik.

“Pu-putri Kedua, mohon ampun…” suaranya gemetar.

Dia adalah Mingmei, satu-satunya pelayan setia yang selalu berada di sisi Li Lian Wei.

“Diam! Minggir!” bentak Lien Hua sambil mendorong Mingmei hingga terjatuh.

“Berisik…” gumam Xinxin pelan.

Xinxin sang Komandan Militer dari abad 21 yang mati tertembak saat menjalankan sebuah misi. Saat membuka mata ia sudah berada di tubuh seorang putri kerajaan lemah, Li Lian Wei.

Kelopak mata Li Lian Wei bergerak, ia membuka matanya perlahan. Langit-langit kayu tua menyambut pandangannya.

Bukan markas militer. Bukan rumah sakit dan jelas… bukan tempat yang ia kenal. Ia memegangi alisnya yang berkerut, kesadarannya belum sepenuhnya pulih, namun rasa sakit itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Ia menunduk dan melihat pakaiannya berbeda. Ini jelas bukan pakaian terakhir yang di pakainya. Jelas saat itu ia memakai dress biru sebagai penyamaran dalam misi terakhirnya.

Sejenak ia memandangi tangannya yang lebih halus juga kurus. Dengan cepat ia menyadari bahwa tubuh ini bukan miliknya.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

'Bukankah aku sudah mati?' batinnya.

"Pu-putri…?" suara Mingmei terdengar ragu, masih berlutut di sampingnya.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—

"Ahk—!"

Nyeri tajam tiba-tiba menghantam kepalanya. Tangannya refleks memegang pelipis.

Dalam sekejap potongan ingatan asing yang bukan miliknya membanjiri pikirannya.

Air danau yang dingin, tubuh yang semakin lama tenggelam ke dasar danau. Juga suara tawa menghina dari permukaan danau yang terekam dengan jelas.

Rasa kesepian yang menyesakkan dada, refleks ia memegangi dadanya yang sakit. Kehidupan yang dipenuhi penindasan, seorang putri yang dibenci keluarganya sendiri. Dianggap sebagai pembawa sial dan diasingkan dari istana utama.

Napasnya memburu. Perlahan rasa sakit itu mereda. Matanya yang semula kabur berubah menjadi tajam, dingin dan waspada.

Kini ia mengerti tubuh ini milik seorang putri yang lemah, terbuang, dan diperlakukan seperti sampah di dalam istana, sangat berbeda dengannya. Pemilik tubuh ini sudah lama kehilangan jiwanya sampai pada saat jiwa Xinxin dari abad 21 merasuki tubuh ini.

Senyum tipis terukir di bibirnya, 'Menarik…'

"Pu-putri?" Mingmei menatapnya dengan cemas.

Li Lian Wei mengangkat pandangannya. Tatapannya berubah, bukan lagi Lian Wei yang lemah lembut dan menerima perlakuan buruk dari orang sekitarnya.

Ia menatap lurus ke arah Lien Hua tanpa rasa takut dan ragu.

"Mulai sekarang…" suaranya pelan, namun tegas.

"Hidupku tidak akan sama lagi."

Ia mengepalkan tangannya perlahan, seolah sedang menggenggam takdir baru.

Untuk sesaat ruangan itu sunyi. Bahkan Lien Hua pun terdiam, meski hanya sepersekian detik. Tanpa mereka sadari putri yang mereka kenal... telah menghilang, digantikan oleh seseorang yang tidak seharusnya mereka usik.

Tatapan Xinxin masih tertuju pada Li Lien Hua. Tanpa rasa takut sedikitpun. Lien Hua mengernyit, jelas ia tidak menyukai tatapan itu.

"Berani sekali kau menatapku seperti itu," ucapnya sinis. "Sepertinya jatuh ke danau tidak membuatmu sadar diri."

Xinxin tidak menjawab ia hanya menatapnya lebih lama. Seolah sedang menilai dan mengukur, apakah wanita di depannya layak dianggap ancaman.

"Kau yang menamparku tadi?"

Pertanyaan itu sederhana, namun nadanya datar dan berbahaya. Lien Hua tersenyum mengejek.

"Lalu kenapa? Kau mau membalas?" Ia melangkah mendekati Lian Wei, "Jangan lupa, kau hanya—"

Plak!

Suara tamparan menggema lagi, namun kali ini Lien Hua yang terhuyung. Semua orang membeku, Mingmei bahkan menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Xinxin menarik tangannya perlahan. Ekspresinya tetap tenang seolah itu hal biasa. Sementara Mingmei segera keluar dan mencari tabib istana.

"Sekarang impas," ucapnya dingin.

Lien Hua memegangi pipinya yang merah karena ditampar, matanya membelalak penuh amarah tidak percaya.

"Kau—! Berani sekali kau menyentuhku?!"

Xinxin menatapnya tanpa ekspresi.

"Kenapa tidak?" jawabnya singkat.

Langkah kaki tergesa terdengar dari luar. Mingmei berlutut di samping Xinxin.

"Pu-putri, hamba sudah memanggil tabib. Mohon tenangkan diri, tubuh putri masih lemah…" ucapnya.

Xinxin meliriknya sekilas, tatapannya sedikit melunak namun hanya sesaat. Sampai saat pintu terbuka dan seorang tabib tua masuk, diikuti beberapa pelayan.

"Salam untuk Putri—"

"Periksa dia," potong Lien Hua dengan suara tajam, menunjuk Xinxin. "Sepertinya otaknya rusak setelah jatuh."

"Kalau begitu," katanya pelan, "Pastikan kau memeriksanya dengan teliti." Tatapannya berubah menusuk.

"Karena mulai hari ini… aku tidak akan bertindak seperti sebelumnya," ucapan itu sederhana, namun cukup untuk membuat suasana semakin mencekam. Bahkan tabib itu sempat ragu melangkah.

Suasana ruangan masih tegang setelah tamparan itu. Mata Lien Hua penuh amarah, namun belum sempat ia meledak, langkah kaki berat terdengar dari luar. Seorang Kasim mengumumkan kedatangan kaisar.

“Kaisar datang!”

Pintu terbuka, Kaisar masuk kedalam diikuti dua Pangeran dan seorang Selir. Aura wibawa Kaisar langsung memenuhi ruangan.

"Bagaimana keadaan Putri Pertama?" suara berat itu menggema. Tabib, Lien Hua dan Mingmei segera berlutut.

"Salam Kaisar, semoga Anda hidup seratus tahun lagi."

Berbeda dengan mereka Xinxin tetap duduk. Tatapannya tenang dan acuh. Seolah pria di hadapannya bukanlah penguasa tertinggi di tempat ini.

Alis Kaisar, langsung berkerut.

"Dimana rasa hormatmu, Putri Pertama?" tegur Kaisar Li Jiazhen, ayah kandung Lian Wei.

Xinxin tidak menjawab. Ia justru mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Seperti sedang mengamati dan menilai, kebiasaan yang sama ia lakukan saat sedang membaca medan perang.

"Sepertinya jatuh ke danau membuatmu melupakan sopan santunmu," ucap Kaisar dingin.

"Diam!" Satu kata itu keluar begitu saja, semua orang membeku. Bahkan Lien Hua pun terkejut.

Namun detik berikutnya—

"Ahk…!

Lagi, kembali Xinxin memegangi kepalanya. Rasa sakit menyerang lebih kuat dari sebelumnya. Seolah sesuatu dipaksa masuk ke dalam pikirannya.

"Adikku! Kau tidak apa-apa?" Li Jianying Pangeran Kedua langsung berlari dan memeluknya.

"Tabib! Apa yang terjadi dengan adikku?!" cemas Jianying.

Tabib gemetar ketakutan, "Me-menurut pemeriksaan hamba… kepala Putri terbentur, sehingga menyebabkan beberapa memori hilang…"

"Mohon ampun, Yang Mulia…" ucapnya berlutut pada kaisar.

Namun Xinxin tidak lagi mendengar mereka. Dalam kepalanya ingatan asing yang dimulai pada saat ia berusia lima tahun. Seorang gadis kecil yang diabaikan. Tatapan hina para pelayan dan pengawal. Hingga ingatan terakhir saat tercebur ke danau yang dingin.

Napas Xinxin memburu, tangannya mengepal kuat. Ia menatap lurus ke satu arah, tatapan itu penuh kepastian. Penuh amarah yang terkendali.

"Kau!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   158

    Setelahnya Lian Wei keluar dengan membawa beberapa kantong. Tianzhi yang duduk di pojok dekat jendela segera menghampirinya dan mengambil barang bawaannya. Kemudian mereka berjalan-jalan di pasar, Lian Wei juga membeli beberapa makanan ringan. Mingmei dan Anming juga membantu membawakan barang belanjaan Lian Wei. Setelah puas berbelanja mereka segera kembali ke istana. Matahari mulai tenggelam ketika kereta yang ditumpangi Lian Wei meninggalkan pasar. Jalan menuju Kekaisaran Xu cukup ramai pada siang hari, tetapi menjelang senja hanya sedikit pedagang yang masih melintas. Kekaisaran Xu termasuk kedalam kerajaan yang jarang muncul kejahatan. Sehingga rakyat merasa aman saat keluar malam. Penjagaan di malam hari juga tidak terlalu banyak namun sangat ketat di luar gerbang kota dan perbatasan. Di dalam kereta, Lian Wei sedang memeriksa buku catatan penjualan dari usaha di Kekaisaran Shang. “Sepertinya perjalanan kali ini cukup menguntungkan, putri,” ujar Mingmei yang duduk di hada

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   157

    “Oh? Lalu siapa targetnya?” tanyanya. Untuk sesaat, Lien Hua terdiam. Wajah Lian Wei muncul dalam benaknya. Wajah yang selalu mendapatkan perhatian. Wajah yang selalu membuat orang-orang memujinya dan yang paling ia benci, wajah yang kini semakin dekat dengan Wang Xuemin. Jari-jari tangan Lien Hua perlahan mengepal sampai kukunya menancap di telapak tangannya. “Lian Wei.” Ruangan menjadi sunyi. Pria bertopeng mengangkat alis. “Gadis itu? Kudengar dia cukup terkenal akhir-akhir ini.” “Terkenal karena mengundang bos Xinxin itu kan bos?” ucap gadis berbaju hitam di belakangnya. “Aku tidak peduli,” ucapnya lalu Lien Hua meletakkan sebuah kantong emas di atas meja. Tak… Suara logam di dalamnya membuat beberapa pembunuh menoleh. “Separuh sekarang. Separuhnya lagi setelah dia mati.” Pria bertopeng membuka kantong itu dan memeriksa isinya. Senyumnya melebar, “Murah hati sekali.” “Aku tidak ingin kegagalan.” “Kami tidak pernah menjanjikan kesempurnaan,” ucapnya menyandarkan tub

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   156

    ”Ah tuan Liu, senang bertemu anda disini, tapi apa yang anda lakukan di tengah hutan ini? Disini adalah daerah rawan perampok,” ucap Yuting seorang pelayan perempuan di Toko Perhiasan Xinxin. “Harusnya aku yang bertanya nona.”“Ah kalau aku sedang dalam perjalanan pulang tuan,” ucapnya seraya melihat kearah lain. “Ah! Maafkan saya Yang Mulia, saya terlambat menyapa anda,” ucapnya pada Xiuhuan dengan sedikit membungkuk. “Hah… apa semua pelayan dari toko Xinxin seperti ini? Sikap mereka mengingatkanku pada Lian'er,” ucapnya asal. ‘Nona?’ batin Yuting bingung.“Sekarang saya akan pergi, tuan-tuan dan Putra Mahkota apakah hendak mampir sejenak? Ku lihat kudanya sangat letih.”“Ah iya kami menempuh perjalanan panjang untuk menjemput Pangeran Liu dan segera kesini,” ucap Jianying.“Kalau begitu mari ikuti saya,” ajak Yuting.Yuting tidak membawa mereka ke markasnya tapi dia membawanya ke sebuah rumah yang berada di tengah hutan.‘Seharusnya, tidak apa-apa bukan? Ini kan markas lama kita

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   155

    “Maksudmu?” “Tidak sesederhana itu, kurasa ada hubungannya dengan masa lalu mereka?” Wang Xuemin masih setia mendengarkan. “Aku baru tahu Kekaisaran Xu yang netral ini pernah hampir membuat peperangan dengan Kekaisaran Shang. Lalu Kekaisaran Song begitu sangat bermusuhan dengan Kekaisaran Shang. Menurutmu bagaimana, bukankah terlalu aneh?” “Jadi apa penyebab yang memungkinkan?” “Mungkin ibuku?” ucapnya tidak terlalu yakin. “Mendiang Permaisuri Li? Apa hubungannya dengan ibumu?” “Iya, ibuku sangat cantik. Mungkin saja mereka saling berebutan.” Wang Xuemin menaikan satu alisnya. “Tiga kaisar agung berebut memetik bunga yang paling indah di bawah langit, sementara dunia menjadi saksi pertarungan cinta yang mengguncang sembilan negeri,” ucap Lian Wei terlihat hiperbola dengan menyatukan kedua telapak tangannya dan di bawa ke samping tubuhnya. Wang Xuemin menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. “Kau terlalu sakit hingga kepalamu rusak.” Wang Xuemin menjentikkan jarinya

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   154

    “Apa kau tahu tentang Kekaisaran Song?” Wang Xuemin hanya diam tidak berkutik, ia memandangi Lian Wei yang juga menatapnya dengan penuh tanya dan harap. “Tentu.” “Bisa kau ceritakan padaku?” “Tentu tapi tidak disini.” “Ah kalau begitu ayo kita kembali saja, agar kau bisa memberitahuku,” seakan mengerti keadaannya, Lian Wei hendak mengajak Wang Xuemin kembali agar dia tahu tentang kekaisaran musuh ini. “Baiklah kita kembali siang nanti. Aku pergi dulu, aku belum menyapa kaisar,” ucap Wang Xuemin dengan mengelus puncak kepala Lian Wei. Wang Xuemin berjalan meninggalkan Lian Wei yang diam membeku, hingga suara pintu tertutup menyadarkan Lian Wei. Blam… “Bagaimana mungkin dia belum menyapa kaisar dan memilih mencariku lebih dulu?” gumam Lian Wei. Wang Xuemin memasuki singgasana Kaisar Xu, ia memberi salam dan berbincang sedikit tak lupa juga ia meminta izin untuk membawa Lian Wei kembali. “Sebaiknya anda pikirkan kembali keponakan Wang, kondisi Lian Wei masih jauh dari ka

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   153

    “Memangnya aku ini siapa bagimu, Lian Wei?” Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ditunjukkan Wang Xuemin kepada orang lain. Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan. Melainkan kekhawatiran. Wang Xuemin menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Aku mengirim barang ke kediamanmu dan mendapat kabar kau sudah pergi.” “Saat itu aku berpikir mungkin kau hanya keluar sebentar. Namun satu hari berlalu, lalu dua hari.” Lian Wei terdiam. Suara pria itu semakin rendah. “Aku mengirim orang mencarimu ke berbagai tempat. Setiap laporan yang datang bukan membuatku tenang, justru membuatku semakin gelisah.” Jemarinya menggenggam tangan Lian Wei erat. Wang Xuemin menatapnya lekat, begitupun dengan Lian Wei yang menatap mata Wang Xuemin. “Kau tahu apa yang paling kutakutkan?” Lian Wei menggeleng pelan. “Aku takut sesuatu terjadi padamu saat aku tidak ada di sisimu.” Mata Lian Wei sedikit membesar. “Aku takut kau terluka. Takut kau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status