INICIAR SESIÓNPara pejabat langsung saling berpandangan. Mereka mengangguk setuju, ini adalah cara cerdas dan dengan begitu, istana bisa ikut memantau pergerakan mereka, namun tidak langsung merebut bisnis Xinxin dan kedua pihak tetap saling membutuhkan.Qiu terdiam berpikir, sementara Bao Yu perlahan berkata, “Yang Mulia ingin menempatkan orang istana di jalur kami?”“Bukan. Aku ingin menjadikan jalur itu bagian dari kepentingan kekaisaran,” Kaisar tersenyum tipis.Lian Wei langsung memahami maksud sebenarnya.‘Jika jalur perdagangan sudah terhubung dengan keuntungan istana, maka para bangsawan tidak akan mudah menyerangku lagi. Karena jika mereka menyerang bisnis, itu sama saja dengan merugikan kerajaan,’ analisis Lian Wei.‘Aku tidak tahu kau begitu licik ayah, tapi cara ini juga efektif. Kau dan aku mendapatkan keuntungan yang sama.’ Lian Wei tersenyum penuh arti.Lian Wei akhirnya membuka suara pelan, “Ayah ingin menjadikan mereka tameng sekaligus sekutu?” tanyanya berpura-pura tidak mengerti.
“Bukankah lebih baik Yang Mulia berhati-hati saat mengancamnya?”Deg…Xiuhuan langsung menegang, beberapa pejabat bahkan pucat.Xiuhuan menoleh pada Lian Wei dan memberi tanda untuk tidak melanjutkan perkataannya.“Orang yang bisa membangun jaringan sebesar itu tanpa bantuan istana, jelas bukan orang biasa ayah.”Terdengar sangat kurang ajar sekali ucapannya, namun Lian Wei melanjutkan dengan tenang,“Kaisar yang bijak, seharusnya memilih bekerja sama dibanding memaksakan permusuhan.”Disini Lian Wei ingin mengatakan daripada bermusuhan dengan cara mengancam yang kita tidak tahu kekuatan di luar itu apakah lebih kuat dari istana, jadi lebih baik menjadikan kekuatan itu sebagai kerjasama yang saling menguntungkan.Kaisar mengetuk jarinya di kursi.Tatapan mata Kaisar perlahan berubah dalam, karena untuk pertama kalinya setelah Mendiang Permaisuri meninggal, ada seseorang di aula ini yang memahami situasi yang sebenarnya.Mereka sedang berhadapan bukan dengan pedagang, melainkan kekuata
Sunyi. Tidak ada yang bisa membantah kalimat itu. Seluruh orang juga tahu bahwa setiap orang yang berkuasa tanpa memiliki kekuatan akan sangat mudah dipecah belah. Kaisar perlahan menyipitkan mata. “Jadi kalian takut pada istana?” Qiu tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaan Kaisar langsung. “Tidak. Kami hanya takut pada manusia yang rakus.” Kalimat itu jelas sindiran halus untuk para bangsawan. Beberapa pejabat langsung berubah wajahnya. Beberapa dari mereka marah, malu dan kesal, namun tidak berani bicara karena masih ada Kaisar di hadapan mereka. Kaisar justru tertawa kecil, sudah lama ia tidak bertemu orang yang berani bicara sejujur ini di hadapannya. Mungkin pernah ada seseorang yang begitu berani, putrinya. Kaisar menatap Lian Wei yang sedang memainkan kakinya dengan menendang angin asal. ‘Mungkin ia bosan.’ Kaisar menyuruh orang untuk membawakan kursi pada Lian Wei, ia tahu Lian Wei masih belum sepenuhnya sembuh. Wajar jika Lian Wei bosan, tidak seharusnya wanita
“Kemana perginya putri barbar itu?” bisik salah satu pejabat.“Aku lebih suka dia yang sekarang.”“Aku lebih suka dia yang dulu.”Bisikan para pejabat memenuhi ruangan itu. Di sisi kanan adalah kubu yang mendukung Putra Mahkota dan sisi kiri adalah kubu yang mendukung Pangeran Kedua.“Salam ayahanda,” Lian Wei memberikan salam.“Salam Yang Mulia Kaisar,” ucap Bao Yu dan Qiu.“Ayah mereka adalah utusan Pemilik Xinxin.”“Aku pernah melihatmu nona,” ucap kaisar familiar.“Benar Yang Mulia, saya pernah mengantarkan surat pada anda.”“Tidak ku sangka dia menolak perintahku tapi dengan putriku dia bisa memenuhi undangannya.”“Apakah tuanmu ada hubungan sesuatu dengan putriku?”“Tidak ada Yang Mulia,” ucap Lian Wei dan Bao Yu bersamaan.Kaisar hanya mengangguk mengerti.“Apa kau tahu kenapa aku memanggil tuanmu kesini?”“Hamba tidak tahu Yang Mulia. Mungkinkah karena bisnis?”Kaisar tertawa keras begitu, “Tidak ku sangka Tuan Xinxin memiliki orang pintar di sampingnya.”“Terimakasih Yang Mul
Keesokan paginya Lian Wei bangun di ruangan asing.“Ini bukan kamar ku.”“Putri anda sudah bangun?” Mingmei langsung menghampirinya.“Ini—”“Kediaman Pangeran Kedua.”“Kakak?”“Apa yang terjadi?” beo Lian Wei pelan sambil mencoba mengingat kejadian semalam.Lian Wei menarik selimut hingga menutupi wajahnya, setelah mengingat semua kejadian semalam.‘Malu!’“Apa kakak melihatnya,” tanyanya hati-hati.“Tentu saja, bahkan Pangeran Kedua menemanimu sampai anda tertidur.”“Apakah tidak ada hal yang lebih memalukan lagi?”“Hmm contohnya mengintip Putra Mahkota dan Putri Kedua di taman?” ucap Mingmei sedikit ragu.“Bahkan ada hal begitu?”“Putri saya akan menyiapkan air mandinya.”Lian membalikkan badannya hingga posisinya menjadi tengkurap karena malu.‘Memalukan, seumur hidupku ini adalah hal yang paling memalukan!’Deg…Lian Wei terbangun karena tersadar sesuatu.“Aku menangis?” ucapnya pelan.“Aku sudah dua puluh tahun tidak menangis, sejak ibu meninggal pada saat usiaku lima tahun.”“Ke
Lian Wei terdiam, tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Tubuhnya tidak bisa dikendalikan, perasaan asing yang bukan miliknya membuatnya sesak.Untuk sesaat ia benar-benar merasa sakit hati. Bukan rasa sakit miliknya, tapi rasa sakit yang terlalu lama tertinggal di tubuh ini.Xiuhuan sudah berdiri di depannya hendak membantu, namun sebelum tangannya menyentuh Lian Wei, ia refleks menghindar.Tak…Semua orang terdiam.Bahkan ia sendiri membeku, karena gerakan yang terjadi begitu alami.Seperti sinyal bahwa tubuh ini sudah terlalu sering belajar untuk jangan berharap pada siapapun.Tatapan Xiuhuan sedikit goyah.Sementara Lien Hua hanya bersandar santai sambil menyilangkan tangan.“Apa sekarang kau bahkan ingin mencari perhatian dengan bersikap aneh?” ucap Xiuhuan dingin.Kalimat itu membuat kepala Xinxin kembali berdenyut.Tiba-tiba suara kecil menggema di benaknya.‘Kenapa… tidak ada yang pernah percaya padaku?’Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.Lian Wei membeku tanpa bisa b







