เข้าสู่ระบบDeg... Perkataan Lian Wei sangat menusuk hatinya, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik. “Kau tahu kak, bertahun-tahun aku mengharapkan cinta dan kasih sayangmu padaku. Tapi hari ini aku sadar, jika kau tidak memiliki itu untukku. Bagimu aku hanya angin lalu saja, tapi satu yang perlu kau tahu kak, aku menyayangimu.” Xiuhuan berbalik saat mendengar perkataan Lian Wei, ia memandang mata Lian Wei yang sarat akan kerinduan kasih sayang seorang kakak. Ini pertama kalinya ia mendengar Lian Wei mengatakan isi hatinya. Tatapan tajam itu seakan sirna terganti dengan tatapan lembut yang dirindukannya. Jujur ia rindu tatapan lembut itu padanya, ia ingin selalu melihat tatapan itu sejak saat ia tahu Lian Wei sadar kembali. Namun yang di dapatinya adalah sikap dingin yang acuh dan tatapan mata yang tajam mengarah padanya. “Terima kasih telah memberiku harapan untuk terus hidup. Tapi kau tenang saja kak, mungkin selama ini aku selalu mengganggumu. Tapi sekarang a
Saat Lien Hua dan Mayleen sedang membersihkan taman istana, mulai muncul kapalan pada kulit mereka. Segera mereka berteriak karena tubuh mereka tampak sangat mengerikan. Segera pengawal membawa mereka ke paviliun masing-masing. Kabar ini segera menyebar dengan cepat, Kaisar Li segera menghampiri mereka satu per satu bersama Tabib Luo. Tabib Luo mengetahui penawarnya namun bahannya sangat langka. “Maaf Yang Mulia, hamba tidak bisa menyembuhkan kulit putri karena bahan yang digunakan sangat langka, hamba hanya bisa meredakannya dengan ramuan penyembuh saja. Itu pun membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali pulih,” ucap Tabib Luo. “Hamba dengar di Klinik Xinxin, ada penawarnya Yang Mulia. Mungkin anda bisa mendapatkan penawarnya dari sana,“ lanjutnya. “Klinik Xinxin? Bukankah itu toko milik Nona Xinxin?” “Benar Yang Mulia, dari kabar yang beredar mereka juga akan membuka toko baru, toko sepatu dan kedai teh,” ucap Kasim Chen. “Baru beberapa hari bertemu dia sudah membuka sekto
Kasim Chen melaporkan kejadian yang didengarnya dari pengawal yang lewat di depan Paviliun Sakura, pada Kaisar. Segera Kaisar Jiazhen menuju kesana, Xiuhuan dan Jianying juga bergegas setelah mendapat berita itu. Jianying khawatir jika Lian Wei terluka. Begitu mereka tiba pemandangan yang mereka lihat adalah kedua kakak adik ini saling menyerang satu sama lain. Sementara Lian Wei yang sedari tadi diam saja melihat mereka bertengkar, memulai dramanya. Ia memberikan kacangnya pada Wang Xuemin, lalu bergegas menghampiri dua orang adik bodohnya. “May'er! Lien'er! Hentikan! Kalian ini saudari! Kalian tidak bisa saling menyerang seperti ini!” teriaknya mencoba menghentikan pertarungan mereka. Wang Xuemin menutup mulutnya tidak percaya dengan tangan yang dikepalkan. Ia tertawa pelan sambil menoleh kesamping. Keadaan mereka kacau balau, rambut acak-acakan dengan baju yang kotor dan sobek di beberapa tempat. Luka lebam juga terlihat di sekujur tubuh mereka. “May'er! Lien'er! Hentikan
Mingmei meninggalkan Tianzhi begitu saja. Sementara itu Lian Wei bangun dari tidurnya, ia melihat Wang Xuemin yang sudah bangun lebih dulu. “Pagi istriku, enak ya tidur sambil memelukku?” goda Wang Xuemin. Lian Wei segera bangun ia berlari ke kamar mandi. “Mingmei! Siapkan air mandi!” Wang Xuemin terkekeh geli melihat tingkah laku Lian Wei yang malu-malu. Tidak lama Mingmei masuk dengan membawa air mandi. “Pangeran air mandi anda sudah siap di kamar samping.” Wang Xuemin hanya mengangguk paham dan segera keluar untuk mandi. Mingmei masuk ke dalam dan membantu Lian Wei mandi. Tidak lama Lian Wei keluar, ia melihat Wang Xuemin yang duduk tenang dengan membaca laporan yang diberikan Tianzhi pagi ini. Melihat Lian Wei yang sedang bersiap-siap ia menghampirinya. Wang Xuemin mengusir Mingmei dengan satu gerakan tangan. Lian Wei menatapnya bingung, kemudian Wang Xuemin mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Lian Wei lembut. Lalu ia juga menata rambutnya dan memasangkan tusuk r
“Aku ini tunanganmu, jika aku tidak baik padamu, bagaimana caranya agar kau terpikat denganku?” “Kau ini.” Tidak lama Tianzhi datang dengan membawa makanan. “Hotpot?” “Ya, aku memintanya untuk membelikan ini dari Resto Xinxin. Makanan ini selalu habis setiap harinya, kau cobalah.” ‘Kebetulan aku sudah lama tidak memakannya.’ Lian Wei mengambil dan memakannya perlahan. “Hmm…” Lian Wei mengangguk kepalanya. ‘Bao Yu semakin pandai saja.’ “Kau juga makanlah.” Wang Xuemin diam menatap Lian Wei. Lian Wei menyuapi Wang Xuemin dengan sumpit yang di pakainya. Tianzhi segera mundur kebelakang ia tahu tuannya sangat suka kebersihan. ‘Mungkin sebentar lagi pangeran akan mengamuk.’ Namun siapa sangka, Wang Xuemin si maniak kebersihan mau satu alat makan dengan orang lain. “Enak.” Wang Xuemin tersenyum. Tianzhi menggosok matanya berkali-kali, memastikan apa dia salah lihat atau tidak. Bukan hanya tidak marah, tapi Wang Xuemin bahkan tersenyum? Lian Wei tersenyum cerah, ia terus mem
Lian Wei berpura-pura pingsan sampai ia ketiduran. Xiuhuan masih tetap menunggunya bangun. Mingmei datang membawakan makanan. Lian Wei yang mencium aromanya segera terbangun dari tidurnya. Ia melihat Xiuhuan yang masih setia menunggunya bangun. Ia bangun dengan perlahan, pergerakan itu membuat Xiuhuan menoleh. Segera ia meletakkan dokumen yang dibacanya lalu membantu Lian Wei untuk duduk. “Kau sudah lebih baik?” Lian Wei hanya mengangguk pelan. “Ayo makan dulu,” ajak Xiuhuan. Mereka duduk di meja makan, Xiuhuan mengambilkan lauk untuk Lian Wei. “Terimakasih kak, ini pertama kalinya kakak menemaniku makan.” Lian Wei tersenyum kecil dan Xiuhuan melihatnya. “Makanlah yang banyak.” Baru satu suapan, Zhang Junda langsung masuk menemui Xiuhuan. “Pangeran, Putri Ketiga jatuh di kolam ikan.” “Mayleen jatuh?” “Benar pangeran, dia meminta anda untuk menemuinya.” “Baiklah.” Setelah mengatakan itu Xiuhuan langsung berdiri. Lian Wei menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di arti







