ログイン“Sekarang kau mulai berpikir seperti seorang petarung,” ucap Wang Xuemin sinis pada Xiuhuan.Lian Wei meliriknya malas, ia mulai berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.“Dan kau?”“Aku?” Wang Xuemin tersenyum.Namun belum sempat Wang Xuemin menjawab, Lian Wei sudah kembali berbicara.“Aku akan mencari tahu siapa pria tadi.”“Apa?” Ucap Wang Xuemin dan Xiuhuan kaget.Tatapannya mengarah kembali ke hutan.“Karena orang yang mampu mengetahui keberadaan pedang kembar ini tidak mungkin datang tanpa alasan.”Lian Wei selesai berbicara, iaa masih menatap ke arah hutan. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.“Pria itu sengaja menyebut pedang kembar,” ucapnya perlahan. “Berarti mereka sudah mengetahui hubungan antara kedua pedang ini.”“Dan mereka tahu kelemahannya,” Xiuhuan mengangguk.“Tidak,” sela Wang Xuemin.Keduanya menoleh.Wang Xuemin mengambil ranting kecil lalu menggambar pola sederhana di tanah.“Yang mereka tahu baru permukaannya.”Ia membuat dua titik yang saling berhadapan.“Me
“Benarkah?”Deg…Tetapi kesenangan itu hanya sementara—suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakangnya.Pria itu membeku.Perlahan ia menoleh.Seorang pria berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pakaian putihnya sedikit berkibar diterpa angin.Tatapannya tenang, namun tajam.“Kau… Wang Xuemin.”Wang Xuemin melirik ke arah bawah tebing. Kemudian ia melihat pola pertempuran yang sedang berlangsung.“Menarik.”Pria itu langsung mencabut pedangnya.“Bagaimana kau bisa—” ucapan pria itu terpotong.“Mengetahui rencanamu?” ucap Wang Xuemin dan tersenyum tipis.“Karena sejak awal aku sudah melihat ada yang tidak beres.”Wang Xuemin menunjuk ke arah jalan.“Jejak kereta yang terlalu dangkal.”Kemudian jarinya berpindah ke pepohonan.“Perangkap yang sengaja dibuat terlalu mudah ditemukan.”Tatapannya kembali kepada pria itu.“Dan serangan yang tidak pernah benar-benar mengarah pada titik vital.”Wang Xuemin menggeleng.“Kalian tidak berniat membunuh mereka. Kalian hanya ingin memisahkan me
“Serang!”Puluhan anak panah melesat dari balik pepohonan.“Lindungi Yang Mulia!”Para pengawal segera mengangkat perisai.Trang! Trang! Trang!Anak-anak panah menghantam perisai bertubi-tubi. Namun, serangan tidak berhenti. Dari balik pepohonan, puluhan pria berpakaian hitam melompat turun sambil membawa pedang dan tombak.Lian Wei langsung turun dari kudanya.“Xiuhuan.”“Aku tahu.”Keduanya mencabut pedang secara bersamaan.Sring!Dua bilah pedang kembar memantulkan cahaya matahari yang menembus celah pepohonan.Seorang pria menyerang Lian Wei dari depan.Lian Wei menangkis.Trang!Namun, sebelum ia sempat melakukan serangan balik, dua orang lainnya menyerangnya dari samping.Xiuhuan bergerak lebih cepat.Sret!Pedangnya menahan salah satu serangan.“Fokus pada lawanmu!”Lian Wei meliriknya.“Aku tidak meminta bantuan.”“Aku juga tidak berniat membantumu,” ucap Xiuhuan mendorong lawannya mundur.“Aku hanya tidak ingin kau mengacaukan formasi,” lanjut Xiuhuan.Lian Wei mendengus.“Ka
“Bawa aku ke tempat kalian menemukan jejak itu,” perintah Wang Xuemin kepada pengawal.“Baik, Yang Mulia.”Beberapa pengawal langsung menaiki kuda. Lian Wei dan Xiuhuan pun mengikuti dari belakang.Tidak sampai seperempat jam, mereka tiba di sebuah jalan kecil yang mengarah ke hutan.Xiuhuan turun dari kudanya.“Di mana?”Pengawal menunjuk ke tanah.“Disini.”Lian Wei ikut turun. Ia berjongkok dan mengamati tanah yang masih lembab.Benar saja, ada bekas roda kereta. Namun, setelah diperhatikan lebih teliti, alis Lian Wei berkerut.“Ini bukan jejak kereta.”Xiuhuan menoleh.“Apa maksudmu?”“Lihat,” ucap Lian Wei menunjuk bekas roda tersebut.“Bekasnya terlalu dangkal. Kereta yang membawa beban berat seharusnya meninggalkan jejak lebih dalam.”Xiuhuan berjongkok di sampingnya.“Jadi seseorang sengaja membuatnya?”“Benar,” ucap Lian Wei, lalu menyentuh tanah di sekitar jejak tersebut.“Dan jejak ini masih baru.”Tiba-tiba—Sret!Tak!Sebuah anak panah melesat dari balik pepohonan.“Lindu
“Kalau begitu… kali ini aku akan melihatnya sendiri.”Setelahnya Xiuhuan pergi untuk bersiap ke Kediaman Wang di barat kota, tidak jauh dari Istana Shang.Sementara itu di tempat lain, Lian Wei baru saja selesai membaca laporan dari salah satu pengawalnya, tak lama pintu kamarnya diketuk.Tok… tok… tok…“Masuk.”Mingmei membuka pintu dan berjalan masuk.“Nona, ada pesan dari kediaman Putra Mahkota.”Lian Wei mengangkat alis.“Xiuhuan?”Mingmei mengangguk dan menyerahkan sebuah surat.“Putra Mahkota mengatakan bahwa beliau akan datang ke Kediaman Wang besok pagi.”Lian Wei membuka surat itu.Hanya ada beberapa baris kalimat di dalamnya. Namun, satu kalimat membuat sudut bibirnya terangkat.“Persiapkan pedang kembarmu.”Lian Wei terkekeh pelan.“Sepertinya dia akhirnya ingat.”Mingmei menatapnya bingung.“Mengingat apa, Nona?”“Latihan.”“Latihan?” ucap Mingmei bingung, ia tidak tahu jika Lian Wei dan Xiuhuan diberikan pedang kembar.“Pedang kembar.”Mata Mingmei menyipit, lalu ia melih
“Yang Mulia, Putri Agung sudah tiada. Putri yang mana, yang anda bicarakan?”“Kau tahu apa? Sudah kembalilah.”Kaisar Li mengusir Kasim Chen pergi.“Baik Yang Mulia.”Lalu Kasim Chen pergi dari sana, sementara itu Xiuhuan dan Jianying masih berjalan-jalan di taman.“Apa menurutmu kita beritahu ayah soal Li Xinhua ternyata adalah Lian Wei?”“Kak, kurasa ayah sudah tahu.”“Apa maksudmu?”“Ayah sangat berhati-hati, tapi sikapnya tadi saat adik memegangnya, ayah begitu yakin dan percaya. Bahkan ayah tidak membantah adik sedikitpun.”“Kau benar, mungkin saja ayah sudah tahu.”“Ibu juga sudah tahu, firasat seorang ibu tidak pernah salah.”“Ibu Selir tahu?”“Ya.”Lama mereka terdiam hingga akhirnya Xiuhuan memecah keheningan.“Jianying, apakah menurutmu adik masih mau memaafkan aku?”Jianying terhenti.Tak lama ia menoleh pada kakaknya yang sedang memandang lurus pada pohon persik yang berguguran.“Pohon itu tadinya banyak buahnya, Lian’er suka memanjat di pohon itu. Sekarang setelah dia per
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu







