LOGINSementara itu Xiuhuan dan Jianying tanpa perlawanan sedikitpun, keduanya membiarkan diri mereka dituntun. Para pengawal saling berpandangan sebelum membawa mereka menuju sebuah kereta kerajaan yang berada di gerbang istana.Kereta itu dihiasi ukiran bunga teratai putih dan tirai sutra berwarna gading. Kereta itu sebelumnya dipersiapkan untuk membawa Lian Wei pulang. Namun kini, pemiliknya tak pernah lagi akan menaikinya.Saat memasuki kereta, Xiuhuan mengusap perlahan kursi yang berada tepat di hadapannya. Di sanalah seharusnya adik perempuan mereka duduk, tersenyum sambil mengeluh bosan sepanjang perjalanan pulang.Tak ada siapa pun.Hanya ruang kosong yang terasa begitu menyakitkan.Jianying menundukkan kepala, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah kembali.Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Kekaisaran Wu.Tak seorang pun di dalamnya mengucapkan sepatah kata. Yang terdengar hanyalah derit roda kayu dan sesekali suara tangi
“Sudah kuduga! Kalian Keluarga Li memang tidak bisa ku ampuni! Temukan dia! Jika tidak, akulah yang akan menghancurkan kalian!”Suara Liu Changhai mengguncang makam istana. Urat-urat di lehernya menegang, sementara tatapannya dipenuhi amarah yang nyaris tak lagi bisa dikendalikan. Para pengawal menundukkan kepala, tak seorang pun berani menyela.Keluarga Li mengepalkan tangan. Wajahnya pucat, tetapi ia tetap berdiri tegak.“Kami juga kehilangan adik kami. Jangan kira hanya kau yang merasakan kehilangan.”“Diam!” bentak Liu Changhai. “Kalian telah menyembunyikan begitu banyak hal dariku. Jika Lian Wei masih hidup, aku akan menyembunyikan dari kalian.”Pedangnya tercabut dari sarungnya.“Keluarga Li mulai hari ini kita bermusuhan dan akan ku pastikan, kalian lenyap dari muka bumi!”Beberapa pengawal Li refleks maju selangkah. Suasana berubah mencekam.“Yang Mulia,” panik mereka yang langsung memasan badan di depan para Pangeran Li.“Liu Changhai, tenanglah,” suara tenang Xu Kai memotong
“Baik pangeran,” sahutnya. Segera Wang Xuemin pergi dari sana. Tepat ketika dia datang, para pangeran juga datang tanpa prajurit. Saat Wang Xuemin melihat ke sekelilingnya ia terkejut melihat banyaknya pasukan di bawa. Mereka saling memberi salam satu sama lain.“Selamat datang di Istana Wang, tapi… apa kalian kesini mau mengajak ku berperang?” tanyanya sambil menatap prajurit yang berdiri di luar.“Pangeran Wang, anda bercanda ya?” Xiuhuan sedikit tertawa palsu.Segera ia bersitatap dengan Xu Kai. Untuk mengetahui jawabannya. Sementara yang di tatap hanya mengedikkan bahunya acuh. Wang Xuemin melayangkan tatapan permusuhan padanya. “Ah sahabat baikku, lama tidak berjumpa,” ucapnya segera memeluk Xu Kai erat sampai ia tidak bisa bernafas. Xu Kai menepuk punggung Wang Xuemin kencang.“Untuk apa mereka disini?” ucapnya tertahan karena sambil tersenyum dan sedikit tertawa.“Mereka datang mencari putri,” bisiknya pelan. “Darimana mereka tahu, kau sudah berjanji padanya,” ucapnya gera
Belum sempat suasana istana tenang, seekor elang pembawa pesan mendarat di halaman utama. Pesan itu berasal dari perbatasan, Jingmi yang sedang berpatroli menerima pesan itu. “Ini dari perbatasan,” ucapnya lalu membaca nama pengirimnya. Segera ia berlari mencari Kaisar Li. “Yang Mulia,” suara Jingmi yang masuk dengan panik. Ia sedikit menundukkan kepalanya, keringat membasahi pelipisnya. “Ada apa Jenderal?” “Ada surat dari pangeran.” Kaisar Li mengangkat alisnya dan menyuruhnya membacakan isi pesannya. Segera Jingmi membuka pesan dan membacakannya. “Disini tertulis para pangeran telah menerima kabar meninggalnya Putri Lian Wei." Wajah Kaisar semakin pucat. “Namun mereka menolak mempercayai kabar tersebut. Saat ini seluruh pasukan keluarga kerajaan telah menyebar ke seluruh wilayah tempat sang putri terakhir terlihat. Selain itu mereka juga sedang dalam perjalanan menuju Kekaisaran Wu. Mereka akan mencari jasad sang putri. Selama jasad itu belum ditemukan… mereka tidak akan m
“Ada perlu apa mencari Nona Xinxin? Siapa kalian? Apa kalian orang suruhan musuh?”“Kau?” ucap panglima itu terhenti setelah melihat tanda orang di hadapannya. Tanda yang hanya dimiliki oleh pasukan Xinxin. “Salam tuan, kami datang mencari nona anda karena ingin menyampaikan pesan ini?”Yi tan menyerahkan gulungan kertas itu dan memberikannya pada pengawal bayangan di sana.Segera diambilnya gulungan kertas tersebut dan dibaca dengan hati-hati. Setelah membacanya, ia melihat sekumpulan orang yang ada di hadapannya. “Apa kalian benar-benar dikirim untuk nona kami?”“Benar tuan, kami sudah lama menantikan hari ini tiba. Panglima besar kami ikut dengan rombongan para pangeran.”“Baiklah, pertama kalian semua harus saya selidiki latar belakangnya sampai terlihat kebenarannya, lalu setelah itu akan saya beri tanda kesetiaan.”“Baiklah tuan.”“Ini makan, sebagai tanda perjanjian sementara,” ucap pengawal itu memberikan pil pada mereka dalam jumlah yang banyak.Yi Tan mengambilnya tanpa ra
“Jadi pergilah ke sana, untuk membantu mewujudkan mimpinya.” Itu seperti perintah mutlak dari Xuanzong pada Zei Xen. Kaisar Xu berdiri, jubah emasnya bergoyang tertiup angin malam. “Jadilah bagian dari Tentara Xinxin. Mulai hari ini, kalian bukan lagi bayangan masa lalu. Kalian adalah pedang bagi Lian Wei.” Zei Xen menundukkan kepala dalam-dalam. Mata pria itu telah dipenuhi air mata. Tidak tahu harus bersikap seperti apa, ia senang bisa bergabung dengan Tentara Xinxin yang hebat. Namun juga merasa sedih karena belum sempat melayani Lian Wei. “Bawahan menerima perintah. Meski harus mengorbankan nyawa, kami akan berusaha untuk mewujudkan mimpi sang putri.” Kaisar Xu memandang hujan yang semakin deras. Dalam hati, ia teringat wajah Liu Fang Yin. ‘Fang Yin… entah mengapa aku merasa Lian’er masih hidup. Dan aku telah menemukan orang-orang yang akan menjaganya. Mulai sekarang, ia tidak akan berjalan sendirian lagi.’ Di bawah hujan malam itu, sebuah kesetiaan yang telah tertidur sel
“Kau—”“Nona anda mengenal pemuda ini?” tanya Tao Mo. Lian Wei berjalan dengan lemas kearah pemuda itu dengan pandangan mata mereka yang saling bertaut. Bruk... Lian Wei jatuh terduduk di hadapan pria itu. Lama mereka saling pandang hingga satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Lian Wei. Se
“Wah… rupanya gadis ini orang penting ya hahaha,” ucap ketua bandit seraya membalikan badannya menghadap anak buahnya. Sringg... Pedang panjang terulur di samping leher pria itu, sekali saja menoleh maka dapat dipastikan kepala dan tubuhnya akan terpisah. “Menjauh dari nona kami,” ucap dingin sa
“Ada apa?” tanya Kaisar.“Perguruan Deng ini sedikit sulit dilacak Yang Mulia. Bahkan Tentara Xiao Xinxin kesulitan melacak jejaknya.”“Apakah Tentara Xiao Xinxin sudah lama mencari mereka?”“Menurut kabar yang beredar setiap kali mereka menjalankan misi, selalu terlambat satu langkah.”Kaisar terd
“Li Mayleen, adik kecil yang juga ganas. Kau salah membangunkan singa tidur,” ucap Lian Wei pelan.“Tabib Luo, katakan pada Kaisar bahwa aku mengonsumsi ini dan tunjukkan bukti ini pada Kaisar. Ingat hanya kalian berdua saja yang ada dalam obrolan itu.”“Kau harus menyampaikan ini langsung, katakan







