INICIAR SESIÓNBawahan tadi langsung mengirimkan pesanan milik Mayleen ke akademi, ia langsung menyerahkan langsung padanya.Saat ini Mayleen sedang berada di taman belakang. Suasana gelap dan banyaknya pohon rimbun membuatnya tidak terlihat.Pria itu datang dengan membawa barang yang diminta Mayleen, ia langsung memberikan uangnya. Setelah transaksi itu selesai Mayleen segera kembali kediamannya.Keesokan paginya, saat murid-murid sedang berlatih seperti biasanya. Terdengar suara tapak kaki kuda yang berlari kerah akademi.Suara kuda yang melengking menarik perhatian mereka. Suara kuda itu terdengar sangat banyak, sehingga mereka berkumpul untuk melihat keadaan. Beberapa murid juga langsung berlari untuk membuka gerbang akademi.“Ada apa ribut-ribut?” tanya Xie Nian.“Itu bukankah Tentara Xinxin?” Xue Yan. Tentara Xinxin berjajar rapi dengan kudanya di depan gerbang masuk akademi. Lalu tibalah seorang pria tampan dengan membawa pedang. Ia turun dari kudanya dan berjalan dengan gagahnya. “Wahhh ap
“Kakak ada apa?” tanya Mayleen.'Gawat apa Xiuhuan mengenali Lian Wei?’ batin Xu Kai cemas. “Tidak ada, kakak akan berada disini untuk sementara waktu,” ucapnya.“Kakak akan menginap disini?” Tanya Lien Hua yang diberi anggukan kepala oleh Xiuhuan. “Tuan Adipati, apakah anda tidak keberatan?” tanya Xiuhuan pada Adipati Xinxi. “Tentu saja tidak, Putra Mahkota,” ucapnya. “Siapkan kamar untuk Putra Mahkota,” ucap Adipati Xinxi pada pelayan di belakangnya. “Baik tuan.”“Kakak ayo aku ajak berkeliling,” ucap Mayleen dengan menggandeng lengannya Lien Hua juga menggandeng lengannya.Setelahnya mereka pergi dari sana, semua murid kembali pada aktivitas masing-masing.Sementara itu di tempat Lian Wei, Xie Nian mendudukannya dengan hati-hati.“Li Xinhua kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Xie Nian sambil mendudukannya di ranjangnya. “Iya sudah lebih baik, terimakasih.”“Ini minum dulu,” ucap Xie Nian menyodorkan gelas air minum. “Kau kenapa?” tanya Xie Nian bingung. “Aku tidak
Setelah selesai mandi ia keluar dengan hanfu biru muda. Xie Nian dan Mingmei menghampirinya.Mingmei membantu Lian Wei menyisir rambut, sementara Xie Nian membantu merias wajah pucatnya.“Sudah didandani tapi tetapi saja pucat, kau tidak boleh pergi jauh dari kami.”Lian Wei hanya tersenyum mendengarnya.“Kau jadi ikutkan, Li Xinhua?” tanya Xie Nian.“Tidak kau pergi saja lebih dulu. Aku akan menyusulmu nanti,” ucap Lian Wei tenang.“Ah tapi?”“Tenang saja aku sudah lebih baik. Aku akan berdiam diri sebentar disini.”“Baiklah, cepat menyusul jika sudah selesai ya. Aku pergi dulu, sampai nanti.”Klap!Suara pintu tertutup, hanya menyisakan Lian Wei dan Mingmei di dalam kamar itu.“Nona, apa anda mau pergi?”“Pergi, seluruh murid harus berada di sana. Jika tidak pergi, itu sudah bertindak tidak sopan pada putra negara ini.”‘Putri anda kenapa?’ batin Mingmei yang tidak sanggup ia katakan.Tok… Tok…Suara ketukan jendela terdengar, Mingmei segera memeriksanya. Terlihat Yelu yang berdiri
Jianying dan Xiuhuan semakin sering mengunjungi Resto Xinxin. Terkadang ia juga bertanya pada pelayan resto tentang pemilik resto ini. Namun jawabannya selalu sama, tuan mereka tidak ada di tempat. “Kak, kita tidak punya cara lain selain pergi ke goa itu.”“Tapi di sana berbahaya, kau hampir tidak bisa keluar dari sana.”“Tapi—”“Lebih baik kita menunggu disini.”“Ini salahmu karena ceroboh melewatkan waktu emas,” cibir Jianying.“Kau!”Jianying hanya menatap kesal pada kakaknya yang begitu bodoh.“Kita pikirkan cara agar kita bisa masuk kesana.”“Baiklah, lalu apa rencana mau kak?”“Belum terpikirkan olehku.”‘Hah… dasar payah,’ umpat Jianying dalam hati.“Oh ya, ayah menyuruhku untuk menemui Lien Hua dan Mayleen di akademi, apa kau ingin ikut?”“Tidak, mereka itu kan adik kesayanganmu. Adikku hanya Lian'er seorang, jika kau ingin pergi, pergi saja sendiri. Aku masih ada urusan lain,” ucapnya dingin. “Kau mau kemana?”“Perbatasan,” ucapnya lalu pergi dari hadapan Xiuhuan. Xiuhuan
“Mingmei, bagaimana kau tahu herbal itu di simpan di sana?”“Ah… itu…” Mingmei tampak berpikir sejenak.“Aku dan Li Xinhua adalah teman masa kecil. Aku sudah sering masuk ke kamarnya dan Li Xinhua juga selalu mengatur kamarnya sama persis seperti di kediaman,” bohong Mingmei yang dipercaya oleh Xie Nian.“Pantas kau terlihat tenang saat pertarungan terakhir Li Xinhua.”“Ya benar. Kau kembali saja, biar aku yang menjaganya.”“Kalau begitu aku kembali dulu,” ucap Xie Nian.Sementara itu Wang Xuemin yang sedang mengganti bajunya karena kotor terkena cipratan darah. Tianzhi masuk ke dalam dan mempersiapkan pakaian gantinya.“Pangeran, pakaian ganti anda.”Wang Xuemin mengulurkan tangannya, Tianzhi membantu memakaikan bajunya.“Apa dia sudah mengatakan dimana tuannya berada?”“Tidak, pangeran.”“Apa? Lalu untuk apa kau kemari Tianzhi? Jika tidak mendapatkan informasi? Bukankah aku sudah mengatakannya cari sampai dapat?”“Dia pingsan pangeran, tapi ada—”“Apa tidak ada hal yang bisa kau lak
Setelah kembali dari pertemuan para tetua, Luoyang berdiri di depan aula segera menemui Adipati Xinxi.“Guru, ada hal yang ingin kutanyakan.”“Katakan.”“Apa guru mengetahui identitas asli Tuan Xinxin? Kenapa aku merasa familiar dengan suaranya?”“Guru juga baru tahu, ada hal yang membuat guru yakin bahwa dia adalah orangnya.”“Siapa dia guru?”“Saat waktunya tiba, kau akan segera tahu.”Setelah mengatakan itu Adipati Xinxi pergi dari sana. Sementara itu, Lian Wei pergi ke kamarnya, ia bingung apakah harus datang untuk mengajari teman dan para seniornya atau tidak.“Apa yang harus ku lakukan?” ucapnya. Lian Wei bersandar pada rak buku, ia sedang memikirkan cara agar tidak ketahuan gurunya. Biar bagaimanapun ini menyangkut dengan harga diri tentaranya. Dia sudah berjanji, jika dia tidak datang akan membuat namanya hancur.Krieettt... “Woah!”Brukk!Lian Wei jatuh ke lantai dingin itu.“Aduh,” Lian Wei mengaduh kesakitan.Sebuah pintu terbuka dengan sendirinya. Tidak lebih tepat, jika
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen







