MasukLady Gwen tiba di Castle de Mably sehari setelah menerima undangan dari Alize. Ia datang menjelang sore, mengenakan gaun berwarna ungu anggur yang elegan. Riasan wajahnya tampak sempurna, membuat kecantikannya semakin menonjol.Alize menyambutnya di ruang tamu dengan ramah.“Sudah cukup lama kita tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini,” ujar Gwen setelah mereka duduk. “Saya hampir lupa betapa menyenangkannya minum teh di kastil de Mably.”Alize tersenyum. “Banyak hal terjadi sejak terakhir kali kita duduk bersama.”“Benar. Saya juga mendengar kabar tentang beberapa kejadian di kastil ini.” Gwen mengangkat cangkir tehnya. “Namun, saya tidak ingin merusak suasana dengan membicarakan hal-hal yang tidak menyenangkan.”Alize mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Mereka berbincang tentang beberapa kenalan lama dan kabar dari lingkungan bangsawan ibu kota. Sampai akhirnya, Alize teringat sesuatu.“Bagaimana dengan pertunangan Anda? Apakah semuanya berjalan lancar?”Seny
Kali ini Cedric benar-benar bungkam.Raut wajahnya menegang. Ia sempat melirik Alize, tetapi segera mengalihkan pandangan ketika mendapati perempuan itu menatapnya dengan penuh kekecewaan.Ia tidak membantah tuduhan tersebut.Bagi Corentine, sikap itu sudah cukup menjadi jawaban.“Menarik,” gumamnya. “Kau membantu kelompok pemberontak menjatuhkan keluarga de Mably, sementara pada saat yang sama berharap bisa mengambil istriku setelah aku disingkirkan.”“Aku tidak pernah berniat mencelakai Alize,” ujar Cedric akhirnya.“Namun, kau bersedia membuatnya kehilangan perlindungan yang dimilikinya sekarang.”Cedric mengatupkan rahang.Alize yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.“Jadi, selama ini kau memang tidak pernah berniat mendapatkanku kembali karena masih mencintaiku?”Cedric menoleh kepadanya. “Alize—”“Jawab saja.”Pria itu tampak kesulitan mencari kata-kata.“Aku hanya ingin kita kembali seperti dahulu.”“Jangan berbohong lagi kepadaku.” Suara Alize terdengar dingin. “Kau tahu
Alize menahan senyum tipis. Kini ia memahami alasan suaminya begitu tenang sejak awal. Ancaman hukuman badan tadi hanyalah bagian dari rencananya. Corentine sudah memperkirakan Cedric tidak akan mengaku hanya karena ditakut-takuti. Karena itulah, ia mencari cara lain untuk memastikan pria itu tidak bisa berlindung di balik statusnya sebagai bangsawan asing. Sekarang ia bisa memperkirakan apa yang telah dilakukan suaminya. Tampaknya Corentine meminta bantuan Putra Mahkota Louis, yang juga menjabat sebagai panglima ibu kota. Putra Mahkota mengirimkan surat resmi kepada Raja Adalran. Surat itu menjelaskan bahwa pasukan Duke de Mably telah menangkap seorang bangsawan Adalran yang diduga terlibat dalam teror di ibu kota Montveraine. Yang sudah pernah terjadi sebelumnya, taktik Putra Mahkota biasanya hanya memberi dua pilihan kepada kerajaan tetangga. Pertama, menyerahkan hak untuk menghukum Viscount Courcy kepada Duke de Mably. Kedua, menerima kembali Cedric sebagai tahanan y
Alize hampir memprotes, tetapi mengurungkan niatnya. Ia tahu Corentine tidak akan menjelaskan rencananya sebelum yakin rencana itu bisa berhasil.Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, seorang pengawal mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin.“Yang Mulia, Lord Cedric meminta bertemu dengan Anda.”Corentine menoleh.“Apa dia menyebutkan maksudnya?”“Dia mengatakan ingin memberikan keterangan mengenai beberapa kejadian di kastel. Namun, dia hanya bersedia berbicara langsung kepada Anda.”Alize segera menatap suaminya. Apakah ancaman hukuman tadi akhirnya membuat Cedric berubah pikiran?Corentine tidak menunjukkan keterkejutan. Ia justru mengangguk perlahan, seolah telah memperkirakan kemungkinan itu.“Baik. Bawa dia ke ruang interogasi.”Penjaga itu membungkuk dan segera pergi.Alize menatap Corentine dengan rasa ingin tahu. “Kau pikir dia akan mengaku?”“Siapa tahu.” Corentine meraih sarung tangannya dari meja. “Tetapi jika dia benar-benar ingin berbicara, aku aka
Greta yang berdiri di belakangnya sampai terkejut. Dua penjaga di dekat pintu saling melirik, tetapi tak seorang pun berani menyela. Alize menarik napas untuk meredakan emosinya, tetapi kemarahan yang telah menumpuk membuat suaranya tetap bergetar ketika ia kembali berbicara. “Kau boleh menyangkal semuanya, tetapi jangan berharap aku akan mempercayaimu lagi. Aku sudah cukup lama mengenalmu untuk mengetahui bahwa kau selalu punya alasan ketika perbuatanmu terbongkar!” “Aku tidak peduli apakah kau mempercayaiku atau tidak,” balas Cedric ketus. “Kau datang ke sini hanya untuk menghakimiku tanpa bukti!” “Tanpa bukti?” Alize tertawa pendek, sama sekali tanpa kegembiraan. “Kau pikir aku akan datang kemari hanya untuk mendengarkan kebohonganmu?” “Kalau kau tidak punya bukti, sebaiknya kau—” “Cukup, Cedric.” Sebuah suara berat menyela dari ujung lorong. Alize menoleh. Corentine sedang berjalan mendekati mereka dengan wajah serius. Di belakangnya, seorang pengawas sel tampak menunggu d
Alize mendadak menegakkan tubuh.“Dia mengenali wajah penyusup itu?”“Ya, Yang Mulia.”Mirelle mengangguk, lalu terdiam ketika menyadari betapa pentingnya informasi tersebut. Jika June benar-benar mengenali orang yang menyusup ke kandang kuda, mungkin itulah alasan seseorang ingin membungkamnya.Namun, ia tidak tahu siapa orang tersebut. Ingatannya tentang percakapan itu berhenti sampai di sana.Alize terkejut. Selama ini, ia mengira June hanya melihat penyusup itu sekilas ketika memergokinya di kandang kuda. Ia tidak pernah menyangka gadis itu sempat melihat wajahnya dengan jelas.“Apakah June menyebutkan jenis kelamin orang itu? Pria atau wanita?” tanyanya.Mirelle menggeleng.“Tidak, Yang Mulia. Dia tidak berani mengungkapkan lebih jauh. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya mengenali wajah orang itu.”Alize mengerutkan kening. “Jadi, menurutmu June dibunuh karena melihat langsung wajah si penyusup?”Mirelle mengangguk tanpa ragu.“Saya tidak tahu siapa orang itu, tetapi June tampak s
Tubuh Hector segera dipindahkan dari barak pengawal. Dua orang pengawal membawa tandu sederhana yang ditutupi kain gelap, sementara dokter kastil dipanggil tergesa dari tempat tinggalnya di sayap belakang. Udara malam terasa semakin dingin. Dan suasana di sekitar barak berubah begitu sunyi hi
Suara benturan keras kembali menghantam sisi kereta. Kali ini disusul suara siulan tajam di udara. “Panah!” teriak salah satu pengawal. BRAKKK! Sebuah anak panah menembus jendela samping dan menghantam dinding bagian dalam kereta hanya beberapa inci dari tempat Alize duduk tadi. Alize membe
Suasana hati Alize memburuk sore itu. Padahal ia sudah membersihkan diri dan memakai gaun makan malamnya yang paling bagus. Benaknya masih dipenuhi mantel abu-abu kebiruan yang tidak ditemukannya di lemari. Kalau saja bisa, ia ingin langsung berangkat ke Manor Deschanel dan mencari mantel itu d
Kereta kuda bersimbol beruang perak dan mahkota melintasi pasar diiringi sepuluh pengawal berkuda yang berpencar rapi di sekelilingnya. Hal itu cukup menarik perhatian orang-orang, tetapi Alize tidak peduli. Benaknya penuh dengan isi percakapan dengan Larry dan Edith Hicks. Sebelum ia masuk keret







