Se connecterLady Julia membeku sesaat. Matanya menatap Alize seolah melihat sesuatu yang asing. “Aku berharap telingaku salah dengar, Duchess,” ujarnya. “Kau tidak mungkin sedang mengajakku pergi ke Biara Dunholm.” Alize mengangguk tenang. “Aku memang sedang mengajak Anda , Lady Julia.” “Tapi untuk apa?” Lady Julia sekarang menaruh rajutannya di meja kecil di sebelah kursinya. “Hanya karena kertas kecil itu...” Alize menghela napas. “Saya punya firasat bahwa itu bukan sekedar kertas kecil,” ujarnya. “Untuk apa Lord Courcy membakarnya kalau itu tidak berarti?” “Aku tidak punya jawaban untuk itu,” sahut Lady Julia datar. “Bukan aku yang suka mengejar petunjuk kesana kemari.” Dengan muram ia menggeleng. “Begitu banyak petunjuk ditemukan, tetapi semuanya tidak mengarah kemana-mana. Pelayanmu tetap hilang, kastil ini masih penuh keributan.” Alize bergerak. Rajutannya juga disisihkan. “Karena kita tidak akan tahu yang mana yang akan membawa kita pada kebenaran, Lady Julia. Kita
Lady Julia menatapnya dengan heran. “Biara Dunholm? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan biara tua itu, Duchess?” Biara Dunholm berdiri jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, tersembunyi di antara perbukitan batu di pesisir utara. Tempat itu sudah ada jauh sebelum sebagian besar bangsawan yang hidup sekarang lahir. Orang-orang mengenalnya sebagai tempat suci. Tempat yang tenang dan aman, sehingga orang-orang berdatangan untuk berdoa. Hanya itu yang pernah Alize dengar. Karena itulah Alize tidak bisa memahami mengapa alamatnya ditemukan di kamar Cedric. Ia kembali menatap secarik kertas yang sudah hangus di tepinya, lalu menyerahkannya pada Lady Julia. “Aku menemukan ini di kamar itu.” Lady Julia menerima kertas tersebut. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika membaca tulisan di sana. “Di mana kau menemukannya?” “Di perapian. Sepertinya Lord Courcy membakar sesuatu, dan ini adalah sisa yang tidak terbakar.” Wanita tua itu mengangkat kepala. Beberapa saat ia hanya menatap Ali
Alize tahu Corentine tidak bermaksud mengecamnya. Ia hanya mengungkapkan fakta, karena seperti itulah adanya. Raja Caergyl dari Adalran adalah orang yang sangat keras dan kebijaksanaannya konon terlalu kaku. Itu sebabnya perselisihan antar perbatasan dengan Montveraine seringkali tidak bisa sepenuhnya diakhiri, karena di meja perundingan Raja Caergyl selalu punya persyaratan baru. Dengan sikapnya yang seperti itu, akan menjadi sulit jika meminta bantuan istananya untuk menangkap Cedric begitu saja. Dalam hati Alize mengakui kecerdikan Cedric. Pria itu pasti sudah memikirkan hal semacam ini jauh sebelumnya. “Tetapi masih ada kemungkinan dia masih di Montveraine,” ujar Louis. “Benar, Yang Mulia,” ujar Tyron. “Tidak semudah itu pergi dengan sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda. Rute ke perbatasan juga tidak selalu berupa jalan yang bagus.” “Kalau begitu, teruskan pencarian di seantero ibu kota,” ujar Corentine. “Cari tahu di bengkel mana dia biasa memperbaiki keretanya.
Setelah makan siang di kamarnya, Alize sudah merasa cukup pulih dan mulai merasa bosan. Ia juga sangat penasaran ingin mengetahui kemajuan penyelidikan dan pengejaran Cedric oleh para pengawal de Mably. Ia membujuk Lady Julia agak menemaninya di ruang duduk dan untungnya wanita tua itu bersedia. Greta membawakannya keranjang rajutnya dan ia mulai merajut, demikian pula Lady Julia. Tak ada suara apa pun di kamar itu selain suara detik jarum rajut saling beradu. Sampai tiba-tiba Dom datang dengan mengendap-endap sopan. “Yang Mulia Duchess,” ujarnya. “Saya membawa pesan dari Yang Mulia Duke untuk Anda.” Alize mengangkat wajahnya. Jantungnya berdebar penuh antisipasi. Sejak tadi ia menunggu kabar seperti ini karena tahu Tyron ada di luar sana untuk menyelidiki soal kepemilikan senjata-senjata selundupan itu. Ia membayangkan jika Tyron kembali, sang kapten pasti sangat terkejut ketika diberitahu apa yang terjadi semalam. “Apakah ini berkaitan dengan berita yang dibawa Tyron, Dom?
“Apa kau baik-baik saja?” Suara Corentine terdengar pelan, namun berat, tepat di atas kepalanya. Tangannya masih melingkari tubuh Alize, erat—terlalu erat untuk seseorang yang biasanya selalu menjaga jarak dari emosi apa pun. “Maafkan aku, Alize.” Suaranya berat dan rendah. “Seandainya aku tahu kalau Lord Courcy akan…” “Tidak.” Alize memotong lembut. “Semua ini bukan salahmu.” Untuk beberapa detik, Corentine tidak bergerak. Lalu perlahan, ia mengurai pelukannya. Ada sesuatu yang nyaris tak terlihat di wajahnya, ketidaknyamanan kecil, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak sesuai kebiasaannya sendiri. Alize memperhatikannya. “Bagaimana kau tahu soal kejadian ini?” tanyanya kemudian. “Apakah baru saja?” Corentine mengangguk singkat. “Aku dan Putra Mahkota seharusnya memeriksa gerbang barat ibu kota pagi ini dan baru akan kembali nanti siang.” Ia berhenti sebentar. “Tapi rupanya beberapa pengawal utusan Lace semalaman mencari kami dan akhirnya menem
Pintu lemari terbuka. Cahaya lentera langsung menyerbu masuk dan membuat mata Alize perih. Sesaat ia hanya bisa memicingkan mata. Kemudian sebuah seruan terdengar. “Yang Mulia Duchess!” Seruan itu lagi. Dan Alize langsung mengenali suara Lace. Wakil kapten pengawal de Mably itu tampak terbelalak. Pria itu membeku beberapa saat ketika melihat Alize terduduk di dalam lemari sempit dalam keadaan tangan terikat dan mulut tersumpal kain. “Demi para leluhur...” Ia langsung berjongkok. “Tolong beri ruang!” Tangannya bergerak cepat melepaskan simpul pada pergelangan tangan Alize. Beberapa pengawal lain ikut membantu. Sementara itu di belakang mereka, Alize melihat Greta. Wajah pelayan tua itu pucat pasi. Tangannya tampak gemetar. Seandainya Greta bukan pelayan senior yang sudah puluhan tahun bekerja di kastil, mungkin ia sudah menangis saat itu juga seperti pelayan-pelayan lain di belakangnya. Begitu ikatan terakhir dilepas, Greta langsung maju. “Oh, Yang Mulia...” Wanita
Tubuh Alize langsung menegang mendengar ucapan terakhir Corentine. “…orang ini mungkin tidak terlalu jauh dari kita.” Orang dalam ketiga. Yang mungkin bekerja sama dengan orang yang mempengaruhi Mirelle. Dan orang itu mungkin bukan orang asing bagi mereka. Kesadaran itu merasuki benakny
Alize tidak langsung menjawab ucapan Lady Julia. Karena menolak terlalu cepat justru akan terlihat aneh. Dan sekarang— Ia mulai belajar bahwa di kastil de Mably, terlalu banyak penolakan bisa memancing pertanyaan. “Aku rasa…” Alize meletakkan sendoknya perlahan, “…itu bukan ide buruk.”
Tubuh Hector segera dipindahkan dari barak pengawal. Dua orang pengawal membawa tandu sederhana yang ditutupi kain gelap, sementara dokter kastil dipanggil tergesa dari tempat tinggalnya di sayap belakang. Udara malam terasa semakin dingin. Dan suasana di sekitar barak berubah begitu sunyi hi
“Siapa?” tanya Corentine. Lace menghela napas sebentar. “Hector Lambert. Malam itu dia memaksa salah satu penjaga agar mau digantikan olehnya. Alasannya dia gelisah dan ingin menghirup udara segar.” “Di mana dia sekarang?” tanya Tyron dengan nada geram. Rahangnya tampak menegang keras. Tampak







