Share

Sang Pemimpin Rombongan

Author: Anna Frey
last update publish date: 2026-07-16 22:34:05

Alize mengangguk pelan.

Ia membiarkan tirai jendela kembali tertutup.

Suara roda kereta yang bergesekan dengan jalan berbatu perlahan menjadi irama yang mengisi keheningan di dalam kereta.

Sesekali kereta berguncang ketika melewati jalan yang tidak rata.

Di luar, ibu kota Montveraine perlahan tertinggal.

Lampu-lampu rumah penduduk semakin jarang terlihat, berganti dengan jalan pedesaan yang hanya diterangi cahaya bulan dan lentera-lentera yang dibawa rombongan.

Tidak ada yang banyak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kembali ke Kastil de Mably

    Corentine tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Alize, tetapi kali ini tidak ada kehangatan seperti ketika mereka bertemu di halaman istana tadi. Wajahnya perlahan menjadi serius, seolah ia sedang berusaha memahami sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. “Aku tidak melihatnya.” Alize mengerutkan kening. “Tidak melihat apa?” “Kesamaan antara Fran dan Mirelle.” Corentine mengembuskan napas pendek. Ia memalingkan wajah sejenak, kemudian kembali menatap Alize dengan sorot mata yang sulit dibaca. “Bahkan jika kau memberitahuku bahwa dia adalah Mirelle, aku tidak akan langsung mempercayainya.” Alize sudah menduga jawaban itu. Namun tetap saja, mendengarnya membuat perasaannya sedikit kecewa. Corentine melanjutkan dengan suara tenang. “Jadi kau membawanya pulang karena mengira dia pelayanmu?” Alize diam. Ia tidak merasa perlu menyangkal. Corentine menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Alize, Mirelle mungkin masih hidup. Mungkin d

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Bagaimana Jika....

    Alize terdiam sesaat. Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Menarik? Kalau Yang Mulia Raja tahu apa saja yang terjadi di Biara Dunholm, mungkin kata menarik adalah cara yang terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Alize berjalan beberapa langkah mendekati meja kerja Raja. Ia merapikan ujung sarung tangannya sebelum menjawab dengan sikap tenang. “Pelayan saya sudah menyerahkan map laporan kepada sekretaris Yang Mulia. Saya mencatat semua yang saya temukan selama berada di Dunholm, termasuk persoalan-persoalan kecil dalam urusan logistik.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Saya berharap Yang Mulia berkenan membacanya.” Raja mengangguk. “Aku akan membacanya.” Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum puas. “Tapi aku ingin mendengar darimu sendiri. Apa inti persoalan di sana?” Alize menarik napas pelan. “Pada awalnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengkhawatirkan.” Ia melirik sekilas kepada Corentine. “Biara itu berjalan dengan baik. Para

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Melapor Kepada Raja

    “Siapa?” tanya Corentine. Tatapannya masih tertuju pada sosok wanita muda yang baru saja turun dari kereta. Greta membantu Fran menapakkan kakinya ke tanah. Wanita itu tampak sedikit canggung menghadapi halaman istana yang luas, tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menatap ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Alize memperhatikan suaminya. Ia sudah menduga reaksi seperti ini. Tidak mungkin Corentine langsung mengenali Mirelle hanya dari wajah yang telah berubah begitu banyak. Terlebih lagi, selama beberapa minggu, Alize sendiri bahkan membutuhkan begitu banyak petunjuk untuk berani mempercayai ingatannya. “Dia...” Alize menarik napas pelan. “Salah satu pasien di Biara Dunholm.” Alis Corentine terangkat. “Pasien?” Alize mengangguk. “Namanya Fran. Dia ditemukan di depan gerbang biara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun, dia tidak mengingat siapa dirinya.” Corentine memandang Fran sekali lagi. Lalu tatapan pria itu berpindah kepa

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kembali Ke Pelukan

    Alize belum juga masuk ke dalam kereta. Setelah memastikan semua orang telah berada di tempat masing-masing, ia berdiri beberapa langkah dari pintu kereta dan menoleh kepada Rahib Agung Gregor serta para saudari yang mengantarnya. Udara pagi di halaman Biara Dunholm terasa dingin. Angin menggerakkan ujung selendang yang melingkari bahunya, sementara lonceng biara terdengar samar dari menara di kejauhan. “Terima kasih,” ujar Alize akhirnya. Ia menundukkan kepala dengan hormat. “Selama berada di sini, saya dan rombongan saya telah menerima begitu banyak kebaikan dari kalian. Saya tidak akan melupakannya.” Gregor tersenyum tipis. “Biara Dunholm selalu terbuka bagi para pelindung kami.” Tatapan lelaki tua itu kemudian beralih kepada Alize. “Jika suatu hari Yang Mulia ingin kembali sebagai seorang peziarah, bukan sebagai wakil Raja, kami akan menyambut Anda dengan senang hati.” Alize tersenyum kecil. “Saya akan mengingat tawaran itu.” Saudari Deirdre yang berdiri di

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Di Hari Keberangkatan

    Alize menatap buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Buku ini... sebenarnya milik Anda?” Gregor menggeleng pelan. Jemarinya masih menyusuri sampul tua yang telah mulai kusam, seolah sedang memastikan benda itu benar-benar berada di tangannya lagi. “Bukan milik saya sejak awal.” Ia mengembuskan napas. “Buku ini milik Rahib Agung sebelum saya.” Alize mengernyit. “Namun bagaimana bisa sampai ke rumah keluarga Elroy?” “Itulah yang tidak kami ketahui.” Gregor membawa buku itu ke meja dan meletakkannya dengan hati-hati. “Seharusnya buku ini selalu berada di dalam laci meja kerja saya. Hanya Rahib Agung yang boleh mengaksesnya. Tetapi suatu hari ketika saya mencarinya...” Ia berhenti sejenak. “Buku itu sudah tidak ada.” Alize merasakan tengkuknya menegang. “Tidak ada yang tahu siapa yang mengambilnya?” “Kami menduga Jasper Elroy.” Nama itu membuat Alize terdiam. Gregor melanjutkan dengan suara tenang. “Jasper pernah menjadi staf administrasi tamb

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kita Bisa Pulang

    Alize menggeleng. “Tidak.” Ia tersenyum di balik air matanya. “Tidak, Fran.” Tangannya perlahan terulur ke atas meja, tetapi berhenti beberapa inci dari tangan wanita itu. Ia masih belum berani menyentuhnya. Belum. “Justru...”.Suaranya pecah. “...kau baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting.” Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Fran di Biara Dunholm, Alize tidak lagi sekadar berharap. Di dalam hatinya, ia sudah tahu. Wanita yang duduk di hadapannya itu adalah Mirelle. Setelah makan siang selesai, Fran kembali ke Klinik Perawatan bersama Saudari Deirdre. Alize berdiri di depan pintu kamar dan memperhatikan wanita itu berjalan menjauh di sepanjang lorong. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Biara Dunholm, langkah Fran tidak lagi terlihat seperti langkah seseorang yang sepenuhnya asing baginya. Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada wajahnya. Bukan pula pada cara berjalannya. Melainkan pada keyakinan Alize sendiri. Ia sudah tidak lagi bertanya-tanya apaka

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Apakah Dia Juga Diculik?

    "Dua hari lagi?" Alize mulai menghitung dalam kepalanya. Pakaian, dokumen, barang-barang dari kamar. "Baiklah. Aku setuju." Corentine mengangguk. "Aku akan memberitahu Tyron untuk memeriksa kereta kuda, memastikan kesiapannya untuk perjalanan jauh." “Corentine, tolong jangan lupakan kudaku,” uj

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Dokumen Edmund

    Kilau itu berasal dari sudut peti. Alize menaruh lenteranya di tumpukan peti yang lebih tinggi. Ia menunduk, tangannya mengusap permukaan peti itu dengan hati-hati. Lapisan debu tebal melapisi hampir seluruh permukaannya, menandakan tak ada yang menyentuh peti itu dalam waktu yang sangat lama.

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Izin yang Tak Terucap

    Hanya namanya. Diucapkan Corentine dengan segenap perasaan. Lalu bibir mereka bertemu. Perlahan. Tidak terburu-buru. Sentuhan bibir Corentine pada bibirnya tidak menuntut, tidak juga mendominasi. Sentuhan itu lembut dan menahan diri. Ada jeda sesaat. Ia seharusnya mundur. Namun alih-alih ber

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Hari yang Luar Biasa

    Yang muncul dari gerumbul semak itu bukan monster.Bukan pula pria bersenjata yang siap menyerang.Melainkan seorang remaja—tinggi tapi kurus, dengan rambut coklat yang penuh ranting kecil dan daun kering menempel di sana-sini. Matanya nyalang. Kedua tangannya terangkat tinggi-tinggi, dengan jari-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status