Teilen

Sebuah Tugas Pagi

last update Veröffentlichungsdatum: 03.07.2026 21:10:19

Makan malam itu berakhir dengan permintaan Raja.

“Besok pagi, setelah sarapan, aku ingin kau menemaniku menghadiri sebuah pertemuan kecil,” ujarnya. “Itu akan mengalihkan sedikit kerisauanmu atas kastil dan suamimu. Karena aku benar-benar menjamin, kedua hal itu akan baik-baik saja.”

Alize menunduk sejenak. Sementara itu Raja meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja.

“Pertemuan, Yang Mulia?”

Raja mengangguk.

“Meninjau daftar donasi tahunan istana.”

Alize jelas tidak menyangka
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Duke Mungkin Akan Mencecarnya

    Alize baru saja melangkah menuju pintu utama kastil. Pintu itu tiba-tiba terbuka, dan ketika seorang wanita bergegas keluar dari dalam. “Duchess.” Lady Julia menyambutnya. Tatapannya memindai seluruh tubuh Alize seolah mencari sesuatu yang tampak tak biasa. “Syukurlah kau sudah kembali,” ujarnya kemudian. Alize tersenyum. “Senang bertemu dengan Anda lagi, Lady Julia.” Lady Julia masih belum melepaskan tatapannya kepada Alize, seolah ia belum puas untuk memastikannya semuanya baik-baik saja. “Perjalananmu tidak terlalu melelahkan? Kau tidak sakit?” “Saya baik-baik saja,” sahutnya tenang. “Biara Dunholm sangat nyaman.” “Baguslah.” Lady Julia mengembuskan napas lega. “Rasanya kastil ini baru benar-benar kembali menjadi rumah setelah kau pulang.” Alize sempat menoleh ke sekeliling. Ada sesuatu yang memang terasa berbeda. Lebih sepi. Beberapa wajah pelayan yang biasa menyambutnya tidak kelihatan sejak tadi. Lady Julia rupanya menyadari tatapannya. “Beberapa pe

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kembali ke Kastil de Mably

    Corentine tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Alize, tetapi kali ini tidak ada kehangatan seperti ketika mereka bertemu di halaman istana tadi. Wajahnya perlahan menjadi serius, seolah ia sedang berusaha memahami sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. “Aku tidak melihatnya.” Alize mengerutkan kening. “Tidak melihat apa?” “Kesamaan antara Fran dan Mirelle.” Corentine mengembuskan napas pendek. Ia memalingkan wajah sejenak, kemudian kembali menatap Alize dengan sorot mata yang sulit dibaca. “Bahkan jika kau memberitahuku bahwa dia adalah Mirelle, aku tidak akan langsung mempercayainya.” Alize sudah menduga jawaban itu. Namun tetap saja, mendengarnya membuat perasaannya sedikit kecewa. Corentine melanjutkan dengan suara tenang. “Jadi kau membawanya pulang karena mengira dia pelayanmu?” Alize diam. Ia tidak merasa perlu menyangkal. Corentine menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Alize, Mirelle mungkin masih hidup. Mungkin d

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Bagaimana Jika....

    Alize terdiam sesaat. Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Menarik? Kalau Yang Mulia Raja tahu apa saja yang terjadi di Biara Dunholm, mungkin kata menarik adalah cara yang terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Alize berjalan beberapa langkah mendekati meja kerja Raja. Ia merapikan ujung sarung tangannya sebelum menjawab dengan sikap tenang. “Pelayan saya sudah menyerahkan map laporan kepada sekretaris Yang Mulia. Saya mencatat semua yang saya temukan selama berada di Dunholm, termasuk persoalan-persoalan kecil dalam urusan logistik.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Saya berharap Yang Mulia berkenan membacanya.” Raja mengangguk. “Aku akan membacanya.” Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum puas. “Tapi aku ingin mendengar darimu sendiri. Apa inti persoalan di sana?” Alize menarik napas pelan. “Pada awalnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengkhawatirkan.” Ia melirik sekilas kepada Corentine. “Biara itu berjalan dengan baik. Para

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Melapor Kepada Raja

    “Siapa?” tanya Corentine. Tatapannya masih tertuju pada sosok wanita muda yang baru saja turun dari kereta. Greta membantu Fran menapakkan kakinya ke tanah. Wanita itu tampak sedikit canggung menghadapi halaman istana yang luas, tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menatap ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Alize memperhatikan suaminya. Ia sudah menduga reaksi seperti ini. Tidak mungkin Corentine langsung mengenali Mirelle hanya dari wajah yang telah berubah begitu banyak. Terlebih lagi, selama beberapa minggu, Alize sendiri bahkan membutuhkan begitu banyak petunjuk untuk berani mempercayai ingatannya. “Dia...” Alize menarik napas pelan. “Salah satu pasien di Biara Dunholm.” Alis Corentine terangkat. “Pasien?” Alize mengangguk. “Namanya Fran. Dia ditemukan di depan gerbang biara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun, dia tidak mengingat siapa dirinya.” Corentine memandang Fran sekali lagi. Lalu tatapan pria itu berpindah kepa

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kembali Ke Pelukan

    Alize belum juga masuk ke dalam kereta. Setelah memastikan semua orang telah berada di tempat masing-masing, ia berdiri beberapa langkah dari pintu kereta dan menoleh kepada Rahib Agung Gregor serta para saudari yang mengantarnya. Udara pagi di halaman Biara Dunholm terasa dingin. Angin menggerakkan ujung selendang yang melingkari bahunya, sementara lonceng biara terdengar samar dari menara di kejauhan. “Terima kasih,” ujar Alize akhirnya. Ia menundukkan kepala dengan hormat. “Selama berada di sini, saya dan rombongan saya telah menerima begitu banyak kebaikan dari kalian. Saya tidak akan melupakannya.” Gregor tersenyum tipis. “Biara Dunholm selalu terbuka bagi para pelindung kami.” Tatapan lelaki tua itu kemudian beralih kepada Alize. “Jika suatu hari Yang Mulia ingin kembali sebagai seorang peziarah, bukan sebagai wakil Raja, kami akan menyambut Anda dengan senang hati.” Alize tersenyum kecil. “Saya akan mengingat tawaran itu.” Saudari Deirdre yang berdiri di

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Di Hari Keberangkatan

    Alize menatap buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Buku ini... sebenarnya milik Anda?” Gregor menggeleng pelan. Jemarinya masih menyusuri sampul tua yang telah mulai kusam, seolah sedang memastikan benda itu benar-benar berada di tangannya lagi. “Bukan milik saya sejak awal.” Ia mengembuskan napas. “Buku ini milik Rahib Agung sebelum saya.” Alize mengernyit. “Namun bagaimana bisa sampai ke rumah keluarga Elroy?” “Itulah yang tidak kami ketahui.” Gregor membawa buku itu ke meja dan meletakkannya dengan hati-hati. “Seharusnya buku ini selalu berada di dalam laci meja kerja saya. Hanya Rahib Agung yang boleh mengaksesnya. Tetapi suatu hari ketika saya mencarinya...” Ia berhenti sejenak. “Buku itu sudah tidak ada.” Alize merasakan tengkuknya menegang. “Tidak ada yang tahu siapa yang mengambilnya?” “Kami menduga Jasper Elroy.” Nama itu membuat Alize terdiam. Gregor melanjutkan dengan suara tenang. “Jasper pernah menjadi staf administrasi tamb

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Yang Akhirnya Pergi

    Alize menghela napas pelan. Ia sudah mengira reaksi Lady Julia akan seperti ini. “Lady Gwen ingin lebih banyak berada di rumah untuk merawat ibunya,” jawab Alize, mengulang alasan yang disampaikan Gwen. Ekspresi Lady Julia langsung berubah. “Oh.”Nada suaranya melunak. “Lady Cleremont memang sed

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Izin Untuk Berhenti

    “Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Permintaan yang Tak Terduga

    Alize terdiam dan mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti,” ujar Alize. “Bukankah kita harus menelusuri semua yang terlihat masuk akal sebagai petunjuk?” Cedric menghela napas pelan. “Tidak. Itu tidak masuk akal.” Jawaban itu justru membuat Alize kesal. “Menurutmu seorang gadis muda yang

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Bukannya Tidak Penting

    Lord Hasting tampak berpikir cukup lama setelah mendengar pertanyaan Alize. “Victor Hale...” ulangnya perlahan. Raut wajahnya terlihat hati-hati. Kemudian ia menggeleng. “Maaf, Yang Mulia. Nama itu tidak terdengar familiar.” Alize menyembunyikan kekecewaannya dengan baik. Ia memang tidak

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status