LOGINAlize terdiam sesaat. Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Menarik? Kalau Yang Mulia Raja tahu apa saja yang terjadi di Biara Dunholm, mungkin kata menarik adalah cara yang terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Alize berjalan beberapa langkah mendekati meja kerja Raja. Ia merapikan ujung sarung tangannya sebelum menjawab dengan sikap tenang. “Pelayan saya sudah menyerahkan map laporan kepada sekretaris Yang Mulia. Saya mencatat semua yang saya temukan selama berada di Dunholm, termasuk persoalan-persoalan kecil dalam urusan logistik.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Saya berharap Yang Mulia berkenan membacanya.” Aku mengangguk. “Aku akan membacanya.” Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum puasm. “Tapi aku ingin mendengar darimu sendiri. Apa inti persoalan di sana?” Alize menarik napas pelan. “Pada awalnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengkhawatirkan.” Ia melirik sekilas kepada Corentine. “Biara itu berjalan dengan baik. Para rahib menjag
“Siapa?” tanya Corentine. Tatapannya masih tertuju pada sosok wanita muda yang baru saja turun dari kereta. Greta membantu Fran menapakkan kakinya ke tanah. Wanita itu tampak sedikit canggung menghadapi halaman istana yang luas, tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menatap ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Alize memperhatikan suaminya. Ia sudah menduga reaksi seperti ini. Tidak mungkin Corentine langsung mengenali Mirelle hanya dari wajah yang telah berubah begitu banyak. Terlebih lagi, selama beberapa minggu, Alize sendiri bahkan membutuhkan begitu banyak petunjuk untuk berani mempercayai ingatannya. “Dia...” Alize menarik napas pelan. “Salah satu pasien di Biara Dunholm.” Alis Corentine terangkat. “Pasien?” Alize mengangguk. “Namanya Fran. Dia ditemukan di depan gerbang biara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun, dia tidak mengingat siapa dirinya.” Corentine memandang Fran sekali lagi. Lalu tatapan pria itu berpindah kepa
Alize belum juga masuk ke dalam kereta. Setelah memastikan semua orang telah berada di tempat masing-masing, ia berdiri beberapa langkah dari pintu kereta dan menoleh kepada Rahib Agung Gregor serta para saudari yang mengantarnya. Udara pagi di halaman Biara Dunholm terasa dingin. Angin menggerakkan ujung selendang yang melingkari bahunya, sementara lonceng biara terdengar samar dari menara di kejauhan. “Terima kasih,” ujar Alize akhirnya. Ia menundukkan kepala dengan hormat. “Selama berada di sini, saya dan rombongan saya telah menerima begitu banyak kebaikan dari kalian. Saya tidak akan melupakannya.” Gregor tersenyum tipis. “Biara Dunholm selalu terbuka bagi para pelindung kami.” Tatapan lelaki tua itu kemudian beralih kepada Alize. “Jika suatu hari Yang Mulia ingin kembali sebagai seorang peziarah, bukan sebagai wakil Raja, kami akan menyambut Anda dengan senang hati.” Alize tersenyum kecil. “Saya akan mengingat tawaran itu.” Saudari Deirdre yang berdiri di
Alize menatap buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Buku ini... sebenarnya milik Anda?” Gregor menggeleng pelan. Jemarinya masih menyusuri sampul tua yang telah mulai kusam, seolah sedang memastikan benda itu benar-benar berada di tangannya lagi. “Bukan milik saya sejak awal.” Ia mengembuskan napas. “Buku ini milik Rahib Agung sebelum saya.” Alize mengernyit. “Namun bagaimana bisa sampai ke rumah keluarga Elroy?” “Itulah yang tidak kami ketahui.” Gregor membawa buku itu ke meja dan meletakkannya dengan hati-hati. “Seharusnya buku ini selalu berada di dalam laci meja kerja saya. Hanya Rahib Agung yang boleh mengaksesnya. Tetapi suatu hari ketika saya mencarinya...” Ia berhenti sejenak. “Buku itu sudah tidak ada.” Alize merasakan tengkuknya menegang. “Tidak ada yang tahu siapa yang mengambilnya?” “Kami menduga Jasper Elroy.” Nama itu membuat Alize terdiam. Gregor melanjutkan dengan suara tenang. “Jasper pernah menjadi staf administrasi tamb
Alize menggeleng. “Tidak.” Ia tersenyum di balik air matanya. “Tidak, Fran.” Tangannya perlahan terulur ke atas meja, tetapi berhenti beberapa inci dari tangan wanita itu. Ia masih belum berani menyentuhnya. Belum. “Justru...”.Suaranya pecah. “...kau baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting.” Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Fran di Biara Dunholm, Alize tidak lagi sekadar berharap. Di dalam hatinya, ia sudah tahu. Wanita yang duduk di hadapannya itu adalah Mirelle. Setelah makan siang selesai, Fran kembali ke Klinik Perawatan bersama Saudari Deirdre. Alize berdiri di depan pintu kamar dan memperhatikan wanita itu berjalan menjauh di sepanjang lorong. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Biara Dunholm, langkah Fran tidak lagi terlihat seperti langkah seseorang yang sepenuhnya asing baginya. Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada wajahnya. Bukan pula pada cara berjalannya. Melainkan pada keyakinan Alize sendiri. Ia sudah tidak lagi bertanya-tanya apaka
“Aku menemukannya di lorong bawah tanah.” Jawaban Alize terdengar lebih tenang daripada perasaannya sendiri. Ia menatap jepit rambut yang masih berada di tangan Fran. “Lorong yang pernah kita masuki beberapa hari lalu.” Fran mengangkat wajah. “Lorong di bawah tanah?” Alize mengangguk. “Ya. Aku kembali ke sana bersama Sir Welton kemarin. Kami menyusuri lorong itu lebih jauh daripada sebelumnya.” Ia berhenti sejenak. “Kami menemukan sebuah ruangan.” Jari Fran perlahan mengusap permukaan jepit rambut tersebut. “Di sana aku menemukan benda itu.” Alize menelan ludah. Ia sekarang menatap Fran, lalu dengan hati-hati bertanya, “Fran... apakah kau mengenali jepit rambut itu?” Wanita itu terdiam. Matanya mengamati benda di tangannya tanpa emosi sedikit pun. “Apakah jepit rambut itu milikmu?” tanya Alize. Fran menunduk lagi. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Yang Mulia.” Harapan yang sempat membunca
“Ada beberapa kemungkinan,” ujar Corentine datar. “Saya sudah mulai menyusun daftar siapa saja yang bisa dicurigai.” “Dan Anda percaya begitu saja pada seorang pemberontak?” tukas Cedric. “Reagan adalah seorang kriminal, Duke. Jangan lupa bahwa dia pernah menculik Duchess dan tanpa ragu membakar
Apa yang dikatakan Troy benar. Selang dua hari kemudian, kereta keluarga Deschanel tiba menjelang siang. Suara roda kereta yang berhenti di halaman depan langsung menarik perhatian para pelayan. Beberapa pengawal bergerak sigap membuka jalur, sementara kepala pelayan buru-buru turun menyambut tam
Suara benturan keras kembali menghantam sisi kereta. Kali ini disusul suara siulan tajam di udara. “Panah!” teriak salah satu pengawal. BRAKKK! Sebuah anak panah menembus jendela samping dan menghantam dinding bagian dalam kereta hanya beberapa inci dari tempat Alize duduk tadi. Alize membe
Suasana hati Alize memburuk sore itu. Padahal ia sudah membersihkan diri dan memakai gaun makan malamnya yang paling bagus. Benaknya masih dipenuhi mantel abu-abu kebiruan yang tidak ditemukannya di lemari. Kalau saja bisa, ia ingin langsung berangkat ke Manor Deschanel dan mencari mantel itu d







