Share

DI DAPUR

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-06-18 19:13:44

​Naren membopong tubuh Renjana dengan kedua tangan kekarnya, membawa langkah mereka menuju area dapur yang sunyi.

Di sana, ruangan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu sudut.

​Begitu tautan bibir mereka terlepas sejenak, Renjana langsung terengah-engah. Dadanya naik-turun dengan cepat, berusaha meraup oksigen yang mendadak terasa menipis.

Dalam keremangan itu, tatapan mata Naren berubah menjadi sangat gelap dan dalam, mengunci manik mata Renjana yang tampak begitu sayu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   MANDI BARENG?

    ​"Astaga..." desahnya lirih sambil meremas rambut. Ia benar-benar lupa dengan apa yang terjadi tadi malam. ​Renjana masih terengah-engah. Rasa kagetnya benar-benar spontan pagi ini. ​Di hadapannya, Naren menatap perempuan itu dengan sorot mata yang sama, lengkap dengan senyum manis yang kini tersungging di bibirnya. ​Drtt... drtt... ​Ponsel yang kembali berdering sukses mengalihkan fokus Renjana. Ia menoleh ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul enam pagi. Dahinya mengerut . Siapa yang menelepon sepagi ini? pikirnya. ​Dengan helaan napas panjang, ia bangkit dengan susah payah karena harus melilit tubuhnya menggunakan selimut tebal dulu. Namun, saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, Renjana mendesah panjang. Ia tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini. ​Dengan tangan gemetar dan napas tertahan, ia mengangkat panggilan tersebut lalu mendekatkannya ke telinga. ​"Renjana! Kamu ini bener-bener ya, enggak becus jadi istri! Suami saya benar-benar salah besar men

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TERIAKAN NYARING DI PAGI HARI

    Setelah beberapa menit terus bermain, tubuh Naren tiba-tiba terhentak dan bergetar. Ia menumpahkan lahar itu jauh ke dalam rahim Renjana, sengaja mendorongnya lebih dalam hingga membuat Renjana memekik pelan, berusaha menahan suaranya. ​ ​Seketika, tubuh keduanya langsung lemas lunglai. ​Mereka terengah-engah, saling berhadapan sembari melempar tatapan dalam yang sarat akan kelelahan dan gairah yang baru saja usai. ​Naren langsung bergerak menarik selimut, lalu menyerahkannya pada Renjana. ​"Sudah malam, Nyonya. Tutup tubuhmu, nanti masuk angin," bisik Naren, membuat perempuan itu tersipu malu dengan senyuman kecil di bibirnya. ​"Makasih," jawabnya lirih sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tanpa ada niat untuk memakai bajunya kembali terlebih dahulu. ​Malam ini terasa begitu sunyi, dan tentu saja, tidak pernah ada Andra di antara mereka. ​Renjana menghela napas panjang. Ia merentangkan tubuhnya, menatap lurus ke langit-langit kamar dengan tangan yang meremas kuat u

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   BELUM SELESAI

    ​Naren mulai mengambil alih kendali sepenuhnya, tidak membiarkan ritme permainan mereka mengendur sedikit pun. Bahkan belum sempat Renjana menghela napas untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila, pria itu sudah memosisikan diri di belakang tubuhnya. Tanpa menunggu lama, Naren kembali memasukkan miliknya dalam satu hentakan dalam, membuat Renjana seketika memekik kaget sekaligus terbuai. ​Di dalam kamar yang menjadi saksi bisu itu, Renjana benar-benar dibuat memekik berulang kali. ​Namun di balik keganasan itu, Naren tak henti-hentinya mendaratkan ciuman di setiap inci kulit tubuh Renjana. Pria itu memperlakukan sang majikan dengan kombinasi kelembutan yang luar biasa dan pemujaan yang dalam. Cara Naren menyentuhnya begitu berbeda, seolah-olah saat ini sang nyonya adalah mutlak miliknya seorang, seolah perempuan di hadapannya itu hanya diciptakan khusus untuk dirinya. Di tengah pergulatan panas itu, tangan kokoh Naren bergerak naik, terus saja mengelus lembut wajah Renj

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   DI DAPUR

    ​ ​Naren membopong tubuh Renjana dengan kedua tangan kekarnya, membawa langkah mereka menuju area dapur yang sunyi. Di sana, ruangan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu sudut. ​Begitu tautan bibir mereka terlepas sejenak, Renjana langsung terengah-engah. Dadanya naik-turun dengan cepat, berusaha meraup oksigen yang mendadak terasa menipis. Dalam keremangan itu, tatapan mata Naren berubah menjadi sangat gelap dan dalam, mengunci manik mata Renjana yang tampak begitu sayu, basah, dan sembab akibat sisa tangisnya tadi. Ada badai gairah yang tertahan di sana. ​Seolah tidak ingin memberi jarak, tanpa aba-aba sedikit pun, Renjana langsung menarik kerah baju Naren dengan sentakan kuat. dan langsung menyambar kembali bibir Naren dengan sangat ganas. ​Pria itu sempat terkejut selama beberapa detik menerima serangan yang begitu mendadak. Namun, kegusaran Naren segera runtuh; ia mulai mengimbangi dan mengikuti cara main sang nyonya yang sedang berapi-api. Dengan gerak

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   DEKAPAN HANGAT

    ​ ​Tubuhnya langsung terjerembab ke dada bidang Naren. Pria itulah yang baru saja menarik tangan Renjana dari belakang. ​Renjana melotot sempurna. ​Dengan gerakan cepat, ia mendorong tubuh Naren sekuat tenaga. "Kenapa kamu menarik tanganku, Naren?! Lancang sekali kamu!" desisnya kesal. ​Setelah mengatakan itu, ia langsung mematung saat mendengar suara deru mesin mobil yang kian menjauh dari halaman mansionnya. Andra sudah pergi. ​Namun, Naren tidak membiarkan Renjana menjauh. Ia menahan tubuh wanita itu, membiarkan Renjana mengerahkan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungannya. ​"Naren, lepas!" ucap Renjana lagi sambil memukul-mukul dada bidang di hadapannya. ​"Apa Nyonya tidak lelah mengejarnya?" ​Perkataan Naren spontan membuat gerakan Renjana terhenti. Tatapannya langsung tertuju lurus pada manik mata Naren. ​"Apa maksudmu?" ​"Saya sebelumnya sudah mengorbankan permintaan pertama saya untuk tidak menyakiti Nyonya, bukan?" Ucap Naren menjeda kalimat

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TERLALU MENYAKITKAN

    ​"Tutup omong kosongmu itu! Kenapa kamu jadi seberani ini?!!!" bentak Andra dengan kasar, membuat Renjana terhenyak dan seketika bungkam. ​"Mas, aku kurang apa sama kamu? Hargai aku, Mas... Aku cuma minta itu," rintih Renjana parau. ​"Jangan banyak omong, Renjana! Aku gak suka perempuan seperti itu! Bahkan, jika Kakek tidak menjodohkan kita, aku gak akan sudi menikahimu!" ​Setelah mengatakan kalimat kejam itu, Andra berbalik arah dan menyambar handuknya. Namun, sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi, ia menoleh sekilas. "Jika saja kamu berani melangkahkan kaki keluar dari kamar ini, aku tidak main-main akan melakukan hal yang lebih kasar lagi!" desisnya tajam. ​Ancaman itu membuat Renjana kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa menatap kosong ke arah suaminya yang kini melangkah pergi. ​Dengan bantingan pintu yang keras, Andra masuk ke dalam kamar mandi. ​Renjana termenung. Ia merasakan dadanya berdenyut nyeri yang bukan main. Perkataan Andra seolah berubah menjadi kaset rusa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status