Home / Romansa / Yang Tak Kunjung Padam / 80. Selangkah Lagi!

Share

80. Selangkah Lagi!

Author: Suzy Wiryanty
last update Last Updated: 2026-01-16 13:12:29

Nawang menahan napas. Oma Laras Pasti mengamuk saat mengetahui Kenes bersamanya.

"Jangan, Oma. Ngapain Oma ke sini? Iya... iya... Kenes pulang. Sama kok, Oma. Oma juga jantung hatinya Kenes. Sudah ya, Oma."

Ada luka tak berdarah yang mengoyak hati Nawang walau tak ingin ia akui. Kenes mendapatkan semua dukungan di kala sedang kesusahan. Sedangkan dirinya harus menelan semuanya sendirian

Sementara itu Pak Gatot menatap Nawang dengan sorot mata teduh. Ia memahami gejolak yang ada dalam diri Nawang.

"Kalau kamu membutuhkan sesuatu, Pakde selalu siap mendukungmu kapan pun itu. Jangan sungkan ya, Nawang?" Pak Gatot mengelus sekilas puncak kepala Nawang.

Nawang melengos dan menghindari sentuhan Pak Gatot secara halus. Terhadap tawaran Pak Gatot, ia hanya menjawab dengan gumaman samar.

"Iya, Naw. Aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga. Sungguh! Aku pulang dulu ya." Kenes melambaikan tangan mengikuti langkah sang pakde. Nawang membalas ala kadarnya.

Untungnya setelah itu beb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Tak Kunjung Padam   86. Tak Akan Kulepaskan.

    Nawang tidak bereaksi. Ia tidak mau membuat Devi makin tidak terkendali.Di tengah kepanikan itu, Hilal menangkap gerak di sudut matanya. Dua sosok muncul di batas taman belakang. Gerry dan Vonny. Keduanya memberi kode singkat-isyarat agar diam.Hilal mengerti.Ia kembali menatap Devi, suaranya lembut dan membujuk."Devi... lihat aku. Lihat mataku. Kita bicarakan semuanya seperti dulu ya? Kamu mau kan? Ayo, letakkan dulu pisaunya."Mendengar bujukan Hilal, perhatian Devi teralihkan. Saat itulah Gerry bergerak cepat. Dalam satu gerakan terukur, ia menerjang, meraih pergelangan tangan Devi. Pisau terlepas dan jatuh ke rerumputan. Vonny langsung merangkul Devi dari belakang, menahan tubuhnya yang menggigil."Cukup ya, Dev. Cukup!" Vonny, menahan tubuh Devi erat.Devi menjerit histeris. Meronta-ronta keras, berusaha melepaskan diri."Aku tidak mau hidup lagi! Tidak mau kalau tidak bersama Mas Hilal !"Tangisnya pecah, mengguncang tubuhnya yang ringkih.Suasana yang tadi tegang meluruh. Bu

  • Yang Tak Kunjung Padam   85. Drama Devi.

    "Ayo kita semua makan dulu baru mengobrol, Pak Rahmat, Bu Aminah, Devi. Kata orang, perut yang kenyang membuat segala urusan jadi lancar." Suara Bu Mira memecah ketegangan. Ia melangkah di antara Hilal dan Devi. Berusaha mencairkan suasana. Hilal mengedipkan mata dua kali. Kata-kata sang ibu membuatnya tersadar. Ia kemudian menoleh ke samping. Nawang berdiri dengan wajah pucat dan kedua tangan mengepal. "Mas Hilal jawab dulu, apakah Mas bersedia kembali menerimaku?" desak Devi dengan suara bergelombang. Ia galau saat melihat wanita cantik yang berdiri di samping Hilal. Mendengar desakan sang putri, Pak Rahmat segera maju ke depan."Ayo, Bu Mira. Sudah lama sekali kami tidak menikmati masakan Bu Mira yang terkenal enak-enak." Pak Rahmat menggeser dengan luwes pegangan tangan istrinya di kursi roda Devi. Kini ia menggantikan tugas sang istri mendorong kursi roda. "Silakan... silakan." Tangan Bu Mira terulur ke meja prasmanan, mempersilakan tamu-tamunya menikmati hidangan. "Jangan

  • Yang Tak Kunjung Padam   84. Nama Lain Dari Cinta.

    "Selamat ya, Nawang. Kamu sudah resmi menjadi member keluarga Hadiningrat. Kenalkan, saya Mira Hadiningrat, ibunya Hilal. Dan pria tua gagah perkasa nan sakti mandraguna ini adalah Haidar Hadiningrat—ayah Hilal." Bu Mira memperkenalkan diri beserta suami. Satu hal yang membuat Nawang tidak kuasa menahan cengiran adalah, Pak Haidar membuat gerakan ala binaraga yang sedang mengikuti kontes saat disebut sakti mandraguna oleh Bu Mira. "Dan lelaki paling gagah seantariksa ini adalah Safar Hadiningrat— adik Mas Hilal." Safar menundukkan sedikit tubuhnya dan memegang dada dengan gaya konservatif. "Saya Rianti—istri dari lelaki yang kerjanya pamer ketampanan di antara awan, petir dan burung-burung di angkasa." Wanita cantik yang air mukanya jenaka ikut memperkenalkan diri."Asal kamu tahu, dulu saya pendiam, anggun dan bersahaja. Sayangnya setelah masuk ke keluarga ini, jadi ya beginilah." Rianti mengangkat bahunya pasrah. "Zayn juga ganteng, walau masih kecil." Seorang anak lelaki berusi

  • Yang Tak Kunjung Padam   83. Hari Bahagia.

    Laju mobil melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang berwarna hitam dengan aksen tembaga keemasan. Di kejauhan, berdiri sebuah rumah megah bergaya kolonial modern—anggun, kokoh, namun terkesan hangat. Ada beberapa mobil mewah yang terparkir di sana. Nawang menelan ludah.Ia mengedarkan pandangan. Rumah itu terpisah cukup jauh dari bangunan lain, meski di sepanjang jalan yang sama terdapat rumah-rumah besar lain dengan desain tak kalah mewah. Jalan ini bukan sekadar kawasan elit. Ini kawasan orang-orang berada—mereka yang kekayaannya bukan lagi soal uang. Melainkan gengsi dan pengaruh.Nawang gelisah. Setelah Hilal membuka jati dirinya ia memang membayangkan kalau keluarga Hilal sebagai keluarga mapan. Tapi pemandangan di depannya ini jauh... jauh melampaui ekspektasinya. "Ini… rumah Abang?" tanya Nawang lirih. Hilal tersenyum menenangkan. Ia tahu isi kepala Nawang."Bukan, Nawang. Ini rumah orang tua saya,” jawabnya lembut. Nawang mengembuskan napas pelan."Abang

  • Yang Tak Kunjung Padam   82. Jangan Lepaskan Aku!

    Nawang melirik sekilas, tak menanggapi apa pun. Tak mungkin ia mengatakan kalau laki-laki itu adalah Hilal. Dikhawatirkan kalau Anisa akan mengadu pada Bi Laila.“Laki-laki itu pasti keren banget ya, Mbak. Makanya Bang Hilal Mbak tolak,” lanjut Anisa tanpa ampun. “Kayaknya ia deh. Makanya Mbak dandannya habis-habisan begini.” Anisa menjawab sendiri pertanyaannya.Nawang memutar bola mata.“Kamu kebanyakan nonton drama Korea, Nis,” sahutnya datar. “Ini cuma ulang tahun teman biasa kok.”"Oh teman biasa toh. Ya udah, pakai ini aja kalau memang teman biasa. Aku pilihin deh biar cepet." Anisa menyambar kemeja putih dan celana bahan berwarna coklat muda. "Ah, terlalu biasa, Nis." Nawang menggeleng. "Lah, kan memang ke acara ulang tahun biasa," sindir Anisa lucu. "Kalau ke ulang tahun luar biasa, baru pakai yang ini." Anisa meraih satu gaun biru tua dari tumpukan."Ini gayanya Mbak Nawang banget. Kalem, tapi kelihatan berkelas." Nawang menatap gaun yang diulurkan Anisa padanya. Tadinya

  • Yang Tak Kunjung Padam   81. Curiga.

    "Mau ke mana lagi kamu, Mbang? Kamu ini baru saja sadar lho. Mbok ya istirahat dulu?" "Aku sudah tidak apa-apa, Bu. Aku mau menemui pasienku dulu. Memalukan, aku pingsan di depan matanya tadi.""Tapi kamu baru sadar, Mbang. Istirahat saja dulu. Lagian Sri sudah memanggil Dokter Hafiz ke sini.""Tidak usah memanggil Dokter Hafiz lagi, Bu. Aku mau mengganti dokter syaraf lain. Dokter Hafiz bekerja tidak sesuai prosedur!" Nawang menajamkan pendengarannya. Saat ini ia sedang menguping pembicaraan di ruang rawat Pak Bambang. Setelah jatuh pingsan tadi, Pak Bambang langsung dibawa ke UGD. Setelah sadar, langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Tak lama Oma Laras dan Bu Sri menyusul masuk ke dalam ruangan. Karena pintu tidak tertutup sepenuhnya, Nawang bisa menguping pembicaraan dengan cukup jelas."Tidak sesuai prosedur bagaimana sih, Mas? Dokter Hafiz itu neurolog paling berpengalaman di Jakarta lho. Mas mau mencari dokter saraf sekompeten apalagi? Dia juga sudah menangani Mas dua puluh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status