MasukKonten 18+, berisi adegan kekerasan, dewasa, dan vulgar. Pulau jawa, salah satu pulau terpadat di jawa, kini berubah menjadi pulau yang mencekam, setelah sebuah wabah virus melanda hampir seluruh penjuru kota. Adalah Angga, pemuda 21 tahun, salah satu dari sekian banyak nya yang masih bertahan dari wabah ganas tersebut. Dia bersama teman-teman nya berencana untuk keluar dari pulau. Namun, ada fakta yang membuat mereka menyelidiki lebih lanjut, tentang apa yang sebenar nya terjadi..? Mungkinkah murni sebuah virus? Atau, kita telah di serang?
Lihat lebih banyakSimula
"He's known for being a headache to his family, but it differs when It comes to me..."I was already laying on the bed, and he's on top of me. We're both fully clothed, but we can sense a full-boosted desire in each other's eyes.Napalunok ako habang nilalakbay ng aking mga mata ang kanyang mata, pababa sa kanyang labi. He's also doing the same. After some seconds, his eyes and mine met.The desire is still there-it even heightened more. I saw his adam's apple moved because of a gulp.His hands moved upward-while it was placed inside my T-shirt. Unti-unti iyong tumaas, na labis na nagpa-pikit sakin. It wasn't because of the feeling. I closed my eyes to control myself, and finally do the right decision at the moment."Stop..." I murmured. Sa sobrang hina niyon ay mapaghahalataan na maski ako ay hindi sigurado sa isinatinig 'kong salita. Tila isa iyong bulong, isang pagpigil, na hindi nais ng taong nagsalita na marinig ng iba.Ngunit napatigil niyon ang binata.Naramdaman ko ang sunud-sunod na paghinga niya ng malalim, dahilan para sandali akong mapapikit bago tuluyang sinalubong ang tingin niya. His eyes-this is the pair of eyes that got me.Whenever those pair of eyes are on me, I cannot understand my next actions. I feel like I've been put under a spell whenever his eyes lands to mine."You really want to stop...at this moment?.." He asked, sounding so unsure and questionable.I gulped once more, before nodding. "Y-yeah." I said as I look away. "I think...this is too much for the night..." I added.Hindi ako nakarinig ng sagot mula sa kanya sa loob ng ilang segundo. Nanatili siyang nasa ibabaw ko.Next thing I've heard is a loud sigh coming from him. And that bothered me."D-do you want to...continue?" I asked. Of course I want to hear his side. I mean, we're now at the middle. I will understand if he's frustrated because of my sudden pull back.I actually expect him to be angry. To get annoyed. To feel irritated about me, because that is the reactions I've watched and read on some dramas and romance books."I won't continue if you don't want to continue," He suddenly said that caught my attention. Natagpuan ko siyang nakangiti sa akin. "I'm not the type who forces someone just to do my bidding. I will respect your decision..." Aniya, bago tuluyang umalis sa ibabaw ko. Naupo ito sa dulo ng kama, nakatalikod mula sa akin.Agad din akong bumangon upang mas tanawin ito.I can hear his short and silent breathing-probably trying his best to contain and control himself.Habang ako naman ay inayos ang strap ng suot 'kong bra, na kanina ay nasa bandang braso ko na.Nang maayos ang sarili ay ibinalik ko ang tingin ko sa kanya. Nanatili pa rin siyang nakatalikod.Is he angry?Iniisip nya ba na pinaasa ko sya or niloko ko sya?I looked down. I guess I need to say something for him to not misunderstand me.I take a deep breath."Markus... please don't think that I did this just to-""I did not, and I won't think that way. I'm sure you have your reasons. And, Its actually too fast. I understand you," He said, not letting me finish my words.I sighed once again. "Hindi ka talaga galit?""Why would I?" He asked back, before finally looking back at me. Our gaze once again met. "If I'll do this with you, I should have your full consent first. If you don't want, then I'll respect it." Aniya, bago ako nginitian.Somehow, his words made me feel at ease and the heaviness in my heart lightened a bit.But then, there's still remaining questions inside my head that I need to let out."Markus..." I called."Hmmm?" He hummed.I look on my hand. "If I...If I hadn't stop you, will you still go on?" tanong ko, na muling nakabalik ng atensyon nya sa akin.Kitang-kita ko ang gulat at pagtatanong sa kanyang mata.I need answer.And I hope he can answer me well.I don't want to hate him. Magaan ang loob ko sa kanya. I want him to be my friend. My only male friend.Isang minuto siguro ang lumipas ngunit nanatiling tikom ang bibig niya habang ang mata ay nasa akin pa rin.Sa pag-aalala na baka hindi nya malinaw na narinig ang tanong ko ay nagpasya akong ulitin iyon."If I hadn't stop you earlier, will you still continue?"And without a single heart beat passing, Markus answered me."Yes." Walang preno niyang sagot, na ikinagulat ko."W-what?" I asked, stammering.Markus stared at me deeply."I'm a man, Liz. I have needs. But that needs doesn't mean I'll let it win against my moral. If you didn't stop me earlier, I will continue thinking that we both want it too. But since you ordered me to stop, then I'll stop because I respect you." aniya, na hindi ko alam ngunit ikinapatak ng isang butil ng luha galing sa aking mata.He may be a headache to his family, but for me, he's a treasure I intend to keep beside me. In this lifetime.12 Juni 201410.18 Wib Pasar Tanah Merah, Bangkalan - Madura POV : Ardianto "Gimana tangan lu...?", ujar ku. "Agak nyeri ama perih di luka nya.. cuman masih bisa buat gerak...", ujar aldo. ".......kenapa gak sekalian lu bunuh gue...? Lu udah tau kan resiko nya...", tambah aldo. "..Lu pikir gampang.. ngebunuh orang, yang udah gue anggep saudara... lu tetap gue selametin, gimana pun cara nya... kita cari cara nya..", sahut ku. "Gue, nyesel soal rendi... gue bingung harus apa, gue bener-bener nyesel...", ujar aldo. "Gak usah nyesel... udah wajar... manusia bakal nekat kalau udah di kondisi terdesak kayak gitu... gue mungkin juga bakal ngelakuin hal yang sama... kita cuman harus belajar mengendalikan emosi...", ujar ku. "Yang
11 Juni 201412.30 WibPerbatasan sampang dan bangkalan, Madura.POV : ArdiantoKami berada di sebuah cafe kosong di kota sampang, sebelum mencapai bangkalan. Melepas lelah sembari mencari makanan sisa di cafe ini. Cukup besar cafe ini, bertuliskan NAWA di depan, terlihat dari bekas keramaian nya, dan juga bercak darah dimana-mana, seperti nya banyak pengunjung yang terinfeksi saat pandemi berlangsung."Gue pernah ke sini... kayak nya...", ujar aldo."Sihh..... sok gaul lu...", sahut rendi."Kasihan mereka yang di sini malam kemarin.... gak punya kesempatan kabur...", ujar ku."Lihat... banyak lubang di dinding, ada perlawanan juga...", ujar aldo."GUBRAAAKKKKK.....!!!
11 Juni 201423 : 40 WibStadion GBK, JakartaPOV : FikiJam hampir menunjukkan jam 12 malam, aku dan kiki berencana kabur di tengah malam, saat penjagaan mulai berkurang. Setelah kabur dari sini, kami akan segera menuju ke surabaya, ke laboratorium milik teman ku. Setelah aku melakukan uji coba antivirus, akan ku jadikan sampel darah ku sebagai salah satu bukti kuat. Mungkin bisa ku publikasikan lewat internet, tentang apa yang terjadi di sini.Kami berdua telah berada di sisi timur stadion, di salah satu pintu keluar yang di jaga hanya 2 polisi. Sudah sekitar 30 menit kami berada di sini, mengamati 2 polisi tersebut. Ketika mereka terlihat mengantuk, aku alihkan perhatian mereka, dengan langsung melempar sesuatu ke arah tumpukan tong yang ada di dekat mereka."KELONTANGG.....!!!!"
11 Juni 201418 : 30 WibStadion GBK, Jakarta POV : fiki "Mu...tasi?? Jadi, semua yang telah kusuntikkan ke para pengungsi....???", ujar kiki. "Ya.... itu serum untuk membuat sebuah monster,.. siapapun dia, di sini, telah merencanakan sesuatu yang sangat buruk... dia ingin merubah semua orang ini, menjadi senjata biologis....", sahut ku. "Ya allah.... gak mungkin...", ujar kiki mulai menangis. "Saat aku dan teman-teman di surabaya kemarin... kami sempat di serang semacam, monster... aku mengira kalau makhluk itu adalah hasil eksperimen, dan di gunakan untuk menjadi senjata biologis... mungkin, cairan syndrome ini, adalah senjata biologis itu, dan dapat merubah seseorang berbentuk seperti monster....", jelas ku. "Jahat sekali mereka... lihat orang-orang ini... bahkan ada anak kecil... mereka semua pupus harapan,
11 juni 201404 : 27 wibTerminal Joyoboyo, Surabaya POV : Penulis (Narator) Fiki, Arul, dan Mifta melanjutkan perjalanan, dan masuk ke dalam terminal Joyoboyo, untuk mencari bantuan agar bisa menolong teman mereka Angga yang tenggelam di sungai berantas.Mereka tercengang akan pemandangan di dala
11 juni 201403 : 15 wibTengah kota Sidoarjo, Jawa Timur POV : Angga Setelah 20 menit kami melewati jalanan yang kondisi nya bagaikan tempat jagal manusia, kami berdua pun akhirnya sampai di basecamp, berletak di sebuah perumahan yang cukup luas, di pinggiran Sidoarjo kota. Cukup sepi ternyata, h
11 juni 201401 : 20 wibSidoarjo, Jawa Timur POV : Angga Sudah lewat dini hari, kami semua masih bertahan di dalam rumah. Semua mata terlihat kosong, seperti tidak memiliki harapan. Ada yang cemas dan berdoa tak henti-henti, ada juga yang menelfon semua nomor di kontak hp, mencoba meminta bantuan
10 juni 201406 : 30 wibSidoarjo, Jawa Timur POV : Angga KRIINNGGG...!!!!!!! KRRIIIIIINNGGGGG.....!!!!!!!!!Bunyi alarm hp ku, memecah keheningan dan lelapnya tidurku. 'masih malam', pikirku saat aku masih mengantuk, setelah begadang cuman untuk menyelesaikan misi sebuah game online. Dan, aku Ang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan