เข้าสู่ระบบ“โอ๊ย! แทงเบาๆ สิวะ” ฉันหยุดขาไว้เพื่อที่จะเงี่ยหูฟังบทสนทนา “ไอ้ห่า! แทงทีละนิดมันจะไปเสร็จอะไร เนี่ยแบบนี้แหละดีแล้ว แทงครั้งเดียวมิดเลย เจ็บ แสบดีมั้ยล่ะ ฮ่าๆ” ทั้งสองเสียงที่คุยกันดันเป็นเสียง... ผู้ชาย ทั้งสถานการณ์และสถานที่เกิดเหตุมันชวนให้ฉันเข้าใจผิดคิดว่าทั้งคู่เป็นมนุษย์สายเหลืองที่กินกันเอง จนมาวันนี้ ผู้ชายคนนั้นกลับมาปรากฏตัวต่อหน้าฉันในอีกครั้งในอีกสถานะ “ขอโทษครับ ช้าไปหน่อยพอดีคนรอคิวเยอะ” เสียงทุ้มฟังแล้วคุ้นหูดังขึ้น ทำให้พวกเราห้าคนที่นั่งอยู่ที่โต๊ะหันกลับไปมอง เฮ้ย! นั่นมัน... ตาฉันเบิกกว้างอัตโนมัติ เมื่อเห็นหน้าเจ้าของเสียงเมื่อกี้เต็มๆ สองตา “นี่มัน... ไอ้สายเหลืองนี่” ฉันเรียกคู่กรณีครั้งก่อนเสียงลั่น “เมื่อกี้หนูเพลย์เรียกพี่เขาว่าอะไร...” เสียงผู้หญิงที่มากับลุงพงษ์ถามฉันขึ้น แต่ยังไม่ทันที่ท่านจะพูดจบใครบางคนที่ไร้มารยาทก็พูดแทรกขึ้นมาซะก่อน “อย่าบอกนะ... จะให้ผมแต่งกับยัยขี้มโนนี่” เรื่องราววุ่นวายจึงได้เริ่มต้นขึ้น ณ ตอนนั้น จากคู่ปรับ กลายเป็นว่าที่คู่หมั้น ฉันจะสามารถเปลี่ยนเกย์ให้แมนได้หรือไม่
ดูเพิ่มเติม"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar.
"Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan Calon Arang mau lewat, sebentar lagi!" "Hah?! Duh, kami pergi saja deh kalau begitu," balas salah satu wanita sambil menarik lengan temannya agar segera menghindar. "Memangnya kenapa, sih? Pasar ini kan bukan milik dia!" Sungut wanita yang lain. "Sst! Jangan cari masalah. Eh! Itu dia! Ayo, kita pergi saja." Ridhika menyaksikan melalui sudut matanya bagaimana gerombolan pengunjung di pasar segera menghindar begitu dia datang. Disusul oleh suasana riuh yang seketika berubah hening, serta anak-anak yang ikut orangtuanya berbelanja dengan takut-takut mengintip dari balik tiang toko. Aktivitas jual beli seolah terhenti dalam sekejap, meninggalkan atmosfer yang terasa berat. Dulu, perlakuan seperti itu selalu berhasil membuatnya terganggu. Dia pikir, orang bodoh macam apa yang menilai karakter seseorang hanya berdasarkan karakter nenek moyangnya yang bahkan sudah meninggal ratusan tahun lalu? Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Sampai suatu hari, salah satu anak memukulnya dengan sebuah bata, tanpa sebab apapun. Lalu, lari bersama teman-temannya sambil cekikikan, seolah telah berhasil mencapai sesuatu yang sangat mengesankan. Orang-orang dewasa yang menyaksikan peristiwa tersebut tidak menegur, tidak pula mencoba membantu. Satu persatu dari mereka hanya berlalu melewatinya dengan lirikan tidak peduli. Seorang nenek tua bahkan mencibir mengatakan bahwa itu adalah akibatnya kalau dia mengganggu anak-anak lain. "Tapi, aku kan tidak mengganggu mereka," ujarnya dengan suara pelan, menunduk menatap tubuh kecilnya yang kotor karena didorong hingga jatuh. "Aku ... cuma mau ikut main." Ridhika ingat mendengar si nenek mendengkus sewot, sebelum ikut pergi menjauh. Meninggalkannya dengan banyak pertanyaan tentang mengapa justru dia yang disalahkan? Mengapa bukan anak-anak nakal itu saja yang dicap sebagai penjahat? Di rumah, Ibu mengobati keningnya yang terluka dengan raut datar. Namun, dia bisa melihat bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipi wanita itu. "Mulai sekarang, Ridhi main di rumah saja, ya. Sama Ibu," ujar wanita itu, sambil mengelus kepala Ridhika lembut dengan seulas senyum yang terlihat sendu. Pada saat itulah Ridhika memutuskan, bahwa dia tidak akan membiarkan masa kecilnya habis dilahap rasa sedih dan tertekan hanya karena manusia-manusia dengan pemikiran sempit itu. Mengingat peristiwa tersebut membuat keningnya berdenyut. Luka dari pukulan bata bertahun-tahun lalu itu sudah lama hilang tanpa bekas, namun rasa nyerinya masih suka datang sewaktu-waktu. Seolah hendak memperparah keadaannya, tepat setelah kakinya melangkah keluar dari area pasar, tempat itu langsung ramai kembali hanya dalam hitungan detik. Ridhika menoleh ke belakang sambil mengernyit. Perasaannya campur aduk antara tidak habis pikir dan kesal. Andai saja dia mewarisi kekuatan Calon Arang, di momen itu dia ingin sekali melemparkan sebuah bola api ke sana. Sayangnya, dia tidak memiliki kekuatan semacam itu, jadi yang bisa dilakukannya hanya memutar bola mata, lantas lanjut berjalan. Menuntun sepedanya yang ban-nya bocor menuju rumah. === "Ada surat untukmu." Demikianlah yang Ibu katakan begitu melihat Ridhika tiba di ambang pintu. "Surat apa?" Tanya Ridhika, sambil menghempaskan diri di atas sofa. Tangannya dengan gesit mencomot sepotong kue kering dari salah satu toples yang sedang dikemas Ibu. Melahapnya tanpa peduli dengan delikan wanita setengah baya itu. "Undangan dari Akademi Natyadharma." "Uhuk! Uhuk!" Ridhika tersedak hebat sampai tubuhnya nyaris terjengkal. Dengan gelagapan dia berlari menuju dapur. Mencari-cari gelas dan menuangkan air dengan tergesa hingga sempat tumpah-tumpah ke lantai. "Apa?!" Serunya keras begitu berhasil menghentikan batuknya. "Ibu bilang, rekrutmennya hanya terjadi setiap 100 tahun sekali. Ini baru menjelang 10 tahun sejak rekrutmen terakhir." "Mungkin Adhyaksa sedang menciptakan cerita baru." "Persetan Adhyaksa! Aku tidak mau masuk sekolah itu!" "Ridhika, ini bukan tempat dimana kamu bisa memilih," balas Ibu, dengan mata tertunduk. Namun, jemarinya terlihat gemetar. "Setidaknya dengan bergabung di sana. Kehidupanmu akan jadi lebih nyaman daripada di sini." "Tapi, kan- ... aarrghhh!" Ridhika mondar-mandir di depan Ibu, secara spontan mulai menggigiti kukunya, "Ibu kan tahu apa artinya kalau aku diundang masuk ke sana. Artinya aku mewarisi peran leluhur dan harus menjadi calon arang entah di dunia cerita mana!" Ridhika menatap Ibu memelas. Meskipun Akademi Natyadharma menjamin bahwa semua alumninya akan ditempa untuk menjadi pemeran cerita yang melegenda, seperti halnya Bawang Putih, Candra Kirana atau Timun Mas, dia tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari mereka. Para alumni seperti tokoh-tokoh itu beruntung, karena mereka protagonis. Semua akan berakhir bahagia. Akan tetapi keturunan antagonis seperti dirinya tidak punya kesempatan secemerlang itu. Pada titik tertentu, dia akan mati mengenaskan. Lalu, 100 tahun kemudian, keturunannya yang lain harus melanjutkan takdir yang sama. Hanya sebatas itulah nilai yang diberikan Akademi terkutuk itu pada kehidupan mereka. Selama ini, dia merasa cukup aman, karena berdasarkan perhitungan rekrutmen Akademi, seharusnya dia bukanlah keturunan yang mendapat giliran untuk memiliki cerita sendiri. Tapi, apa ini sekarang?! "Bu," Ridhika berlutut di depan Ibu. Mengiba. Berharap ada cara baginya untuk menolak undangan tersebut. Namun, tidak ada riak sama sekali pada raut wajah Ibu. Hanya kosong. Iris mata wanita itu menatap hampa wajah Ridhika, seolah tidak memiliki semangat untuk dibagi pada anak perempuannya tersebut. Malah, Ridhika cuma bisa menyaksikan dengan pandangan nanar, bagaimana Ibu mengambil sepucuk amplop dari dalam laci meja kopi, lalu mengangsurkannya pada dirinya. "Kalau saja ada tempat di dunia ini yang bebas dari pengawasan mereka, sejauh apa pun itu, Ibu akan bawa kamu ke sana. Bahkan, kalau harus mengorbankan diri Ibu sendiri," ungkap Ibu dengan suara serak. "Tapi, tempat itu tidak ada, Ridhi." Ada lapisan kabut tipis terbentuk di permukaan mata Ridhika setelah mendengarkan perkataan Ibu. Dia paham betul mengapa Ibu menyikapi undangan tersebut dengan datar. Setelah semua, wanita itu dibesarkan oleh orangtua yang menuntut agar peraturan harus selalu ditaati. Ditambah lagi, memang betul, mata Akademi Natyadharma melekat pada semua orang. Tidak ada yang bisa menghindar. Tiba-tiba dadanya dipenuhi rasa marah. Dengan kasar dibukanya amplop itu. Kalau memang tidak ada cara untuk menghindar, maka sekalian saja dia porak-porandakan isinya. Namun, semakin banyak kalimat yang Ridhika baca, semakin tidak mengerti pula dia dengan apa yang tertera di dalam surat undangan. Secara perlahan, kemarahannya berganti menjadi bingung, tidak percaya, lalu kosong sama sekali. Dia secara spontan menengadah, menatap Ibu dengan mata bergetar. Namun, tidak sepatah kata pun bisa terucap dari bibirnya. Bolak-balik dia mengalihkan pandangan ke arah lain, lantas kembali lagi ke surat itu. Diterpa keinginan yang tidak terkendali untuk menertawakan apa yang sedang terjadi padanya. "Nak." Ibu ikut berlutut di depan Ridhika, menatap khawatir pada anaknya yang menunjukkan ekspresi tidak wajar. "Ada apa?" "Bu, ini." mulut Ridhika sekali lagi terkunci. Dijatuhkannya si surat ke lantai, lantas dengan gemetar bangkit dengan berpegangan pada lengan Ibu. Tanpa tenaga beranjak menuju kamar. Mengunci diri. Membiarkan Ibu dan segudang pertanyaan tertinggal di belakang, bersama sepucuk surat yang di atasnya tertera sebuah kalimat tidak terduga. "Kami menyambut Ridhika Maya sebagai siswi terbaru kelas Protagonis Akademi Natyadharma."“แต่งเลย / แต่งเลย”ฉันยังไม่ทันได้ตอบอะไร เสียงตะโกนจากด้านล่างก็ดังขึ้น ทุกคนยืนขึ้นพร้อมกับตะโกนให้ฉันตอบรับซาดีนส์ ไม่เว้นแม้แต่พ่อแม่ของพวกเรา“ฉะ ฉัน” มันตื้นตันจนตอบออกมาเป็นคำพูดไม่ได้“ว่าไงครับ เพลย์น้อยของซีนส์ วันนี้จะยอมเป็นเจ้าสาวของเจ้าชายคนนี้หรือเปล่า” รอยยิ้มที่มาพร้อมกับประโยคร้องขอทำให้ฉันฝืนน้ำตาเอาไว้ไม่อยู่อีกต่อไป“ฮึก อึก”“เด็กขี้แย ถ้าไม่ตอบ...” ซาดีนส์เงียบเสียงลง ก่อนจะเอ่ยต่อด้วยคำพูดที่ไม่มีเสียง ‘ฉันจะจับเธอกินทั้งคืน’ ฉันถึงกับกัดปากแน่น แบบนี้เรียกมัดมือชกไหมนะ“อื้อ” ฉันพยักหน้า อยากตอบเขาเป็นคำพูดแต่ตอนนี้มันดีใจสุดๆ มันตื้นตันจนไม่มีเสียงที่จะเปล่งออกมาแล้ว“ไม่เอาสิ อยากได้ยินคำพูดหวานๆ พูดให้ซีนส์ดีใจสักคำสิครับ” เสียงออดอ้อนพร้อมกับแววตาเว้าวอนและโหยหาของซาดีนส์ทำเอาฉันกลืนน้ำลายลงคออึกๆ“ก็บอกว่าอื้อไง” ฉันกัดปากอีกครั้ง เบือนหน้าไปทางอื่นตอนนี้มันทั้งอายและก็ดีใจไปในเวลาเดียวกัน อายเพื่อนๆ และพ่อแม่ดีใจ ที่คำสัญญาในวัยเด็กเป็นจริงสักที“ดื้ออีกแล้ว คนเขาอุตส่าห์บอกความในใจหมดแล้วนะ”ทำเป็นน้อยใจ ชิ! ‘ฝากไว้ก่อนเถอะ’ฉันพูดแบบไม่มีเสียงให้เขา
“สวัสดีค่ะ / ครับ” ทั้งตาหวาน ตาโตรวมถึงยีนส์ยกมือไหว้ป๊ากับแม่เล็กหลังจากได้ยินท่านถามประโยคนั้น “ตามสบายนะเด็กๆ วันนี้เป็นวันพิเศษของพิเศษ” ฉันมองหน้าป๊าแบบงงๆ นิดหน่อยวันพิเศษของพิเศษ คือมันแสนจะพิเศษใช่ไหมนะ?“เด็กๆ เข้าบ้านกันเถอะจ๊ะ เดี๋ยวเลยฤกษ์ดีกันพอดี”ฤกษ์ดี? ฉันกำลังจะเอ่ยถามแม่เล็กแต่ไม่ทันเสียแล้ว เมื่อท่านเดินนำเข้าไปยังตัวบ้านที่ประดับประดาหรูหราไม่แพ้ด้านนอกเลยสักนิดเดียว“สวัสดีค่ะคุณป้า” เมื่อเข้ามาในตัวบ้านเรียบร้อยฉันมองเห็นแม่ซาดีนส์นั่งรออยู่ที่โต๊ะข้างเวทีทรงเตี้ยที่มีป้ายอะไรสักอย่างถูกปิดด้วยผ้าสีขาวผืนบางอีกที “นั่งก่อนสิจ๊ะหนูเพลย์”ป้าแพรวกวักมือเรียกให้ฉันไปนั่งข้างๆ ท่าน“คุณพิณนี่ตาถึงนะคะ เลือกชุดให้หนูเพลย์เข้ากับงานวันนี้จริงๆ” เสียงป้าแพรวแซวแม่เล็กขำๆ ฉันว่าชุดที่แม่เล็กส่งมาให้มันดูหรูมากเกินไปด้วยซ้ำในตอนแรกเดรสลูกไม้แบบรัดรูปสีชมพูอ่อน เปิดโชว์ช่วงเนินอก กระโปรงยาวคลุมเข่าปลายระบายกว้างนิดๆ เหมือนจะไปงานการ่าดินเนอร์เสียด้วยซ้ำ“เอ่อ คุณป้าคะ” ฉันเสียมารยาทพูดแทรกผู้ใหญ่ทั้งสองที่กำลังนั่งเม้าท์กันตามประสาคนไม่ค่อยได้เจอหน้ากัน “ว่าไงจ๊ะลูก”
“หึ” ฉันมองเห็นรอยยิ้มที่มุมปากเฮียการ์เซียผ่านกระจกมองหลังด้วยแหละ แต่คนถูกถามกลับไม่ตอบคำถามฉัน ทำไมแลดูมีลับลมคมนัยจังนะ“ขอบคุณนะคะที่มาส่ง” เมื่อรถจอดหน้าคอนโดเรียบร้อย ยีนส์ลงไปจากรถเป็นคนแรกโดยที่ไม่ได้ล่ำลาหรือกล่าวขอบคุณเฮียการ์เซีย เลยทำให้ฉันที่ยังไม่ลงจากรถรีบเอ่ยขอบคุณเขาด้วยสีหน้าเจื่อนๆ กับความเสียมารยาทของเพื่อนรัก“อย่าคิดมากเลย เดี๋ยวมันกลับมาเธอจะยิ่ง... หลงมัน”“คะ? เมื่อกี้เฮียว่าอะไรนะคะ” เพราะคำพูดท้ายๆ เฮียการ์เซียเบาเสียงลงฉันเลยไม่ได้ยินว่าเขาพูดว่าอะไร “รีบลงไปเถอะ เพื่อนเธอจะกินหัวฉันอยู่แล้ว”เขาไม่ตอบอีกแล้ว ฉันมองตามออกไปนอกรถตามคำบอกเล่าเฮียการ์เซีย เห็นยีนส์กำลังยืนทำท่าทางเบื่อหน่ายและเซ็งๆ จ้องมองมาทางพวกเราที่อยู่ในรถเลยต้องรีบปลีกตัวลงไป@สามวันต่อมาฉันอยากเอาหัวโขลกกำแพงให้มันตายรู้แล้วรู้รอดรู้อะไรไหม? ตั้งแต่ที่ซาดีนส์บอกไปธุระต่างประเทศนี่ก็ผ่านมาสามวันแล้วนะ ไหนเขาบอกจะไปแค่สองวัน วันแรกที่เขาไปคือวันที่เฮียการ์เซียมาส่งฉันกับยีนส์ และหลังจากวันนั้นก็ผ่านมาอีกแล้วสองวัน ซึ่งซาดีนส์ควรจะกลับมาตั้งแต่เมื่อวานแต่นี่ฉันยังไม่เห็นแม้แต่เงาหัวของ
“นั่นสิเพลย์ เฮียซาดีนส์เขาอาจจะติดธุระจริงๆ จนรอเพลย์ตื่นไม่ไหวมั้ง”ฉันกำลังจะอ้าปากเถียงตาหวาน แต่ยีนส์ก็ดันพูดแทรกมาก่อน“ว่าแต่…” ยีนส์เงียบ เหล่ตามองคล้ายกับจับผิดอะไรฉัน“อะไรของแก” ฉันหลบสายตาคาดคั้นของเพื่อนรัก“ปกติแกไม่น่าจะนอนขี้เซาขนาดนั้นนะ แกบอกว่าตื่นมาเกือบแปดโมง นั่นมันเลยเวลาปกติที่แกจะต้องตื่นมาเตรียมตัวเรียนเช้าแล้วไม่ใช่เหรอ”ไม่ได้มาแค่คำถามนะ แต่สายตาอยากรู้อยากเห็นพร้อมกับจ้องจับผิดของยีนส์ที่ส่งมาทำเอาฉันเสียวสันหลังวาบ“กะ... ก็เมื่อวานไปทำธุระมา เมื่อยไปหน่อยเลยเผลอหลับยาว” นิ้วกลางไขว่นิ้วชี้ไว้เพลย์เยอร์ แค่โกหกเพื่อนเองไม่บาปหรอกเนอะ“เหรอ~” เสียงลากยาวแบบไม่เชื่อสุดๆ ของเพื่อนรักทำเอาฉันหน้าแดงฉ่าแค่มองตายีนส์ฉันก็รู้แล้วว่าเธอไม่เชื่อที่ฉันพูด แถมฉันยังคิดว่าเธอต้องคิดไปถึงเรื่อง... เอ่อ ช่างมันเถอะ อย่าไปคิดแทนคนอื่นเลยเนอะ!“เฮ้อ! หิวข้าวจัง” แกล้งยกมือลูบท้องเปลี่ยนเรื่อง“เปลี่ยนเรื่องแบบนี้...” ยังไม่เลิกล้อฉันอีกนะ ยัยยีนส์บ้า!“ยีนส์เลิกแกล้งเพลย์เถอะ ดูสิ จะร้องไห้อยู่แล้ว” น่ารักมากตาหวานที่ช่วยพูด“รักหวานที่สุดเลย งั้นเราไปกินข้าวกัน ปล่อยใ
ไม่รู้ว่าตอนนี้กี่โมงแล้ว รู้แค่ว่าพอรู้สึกตัวมาเหมือนร่างกายผ่านสงครามรบที่ไหนมาไม่รู้ เรี่ยวแรงที่ควรจะมีหลังจากได้หลับพักผ่อนมันน่าจะกลับมาแล้ว แต่เปล่าเลย ตอนนี้ฉันยังรู้สึกปวดเมื่อยไปทุกส่วนของร่างกาย โดยเฉพาะตรงนั้น!“ไอ้บ้าซาดีนส์” ฉันพึมพำกับตัวเองหลังจากตื่นเต็มตาแล้วคิดแล้วก็น่าโมโห! เมื
ผมนั่งมองคนตัวเล็กนอนต่อไปราวๆ ห้านาที เสียงข้อความมือถือเธอก็ดังขึ้นเรียกให้ผมสนใจมันมากกว่าคนที่หลับอยู่ตอนที่อยู่บนรถผมไม่ได้เปิดเข้าไปอ่านข้อความของเธอ เห็นแค่หน้าจอโชว์ว่าใครแชทไลน์มาเท่านั้น เพราะตอนนั้นมันเป็นแค่สติ๊กเกอร์ถามว่าทำไรอยู่? ผมเลยไม่สนใจ แต่ตอนนี้ไม่สนใจคงไม่ได้ เพราะไม่รู้ว่าก
“ลองมั้ย?” อ้าว! มีตอบเว้ย! “ได้เหรอ?” ผมถามกลับแทบจะทันทีแหมๆ ถ้าเสนอมาซีนส์ไม่ขัดศรัทธานะครับ บอกเลย~“ได้... กับผีสิ ไอ้บ้าซาดีนส์!”นั่นไงเธอสร่างเมาแล้ว อาจจะตั้งแต่ผมเช็ดเนื้อเช็ดตัวให้นั่นแหละ“ผีทะเลอะ รู้จักป้ะ!” ผมก็ยังหน้ามึน ต่อล้อต่อเถียงกับเธอไม่เลิกไม่รู้สิ เวลาได้ต่อปากต่อคำกับเพล
“รู้สึกเสียวสันหลังแปลกๆ มั้ย?” ตอนที่กำลังเล่นน้ำกับตาหวานและยีนส์กันสามคนแถวๆ โขดหินที่ห่างจากจุดที่พวกผู้ชายเล่นกันมาประมาณห้าสิบเมตร ตาหวานก็โผล่งคำถามที่ฉันเองก็รู้สึกมาได้สักพักขึ้น“คิดมากเปล่า” ยีนส์ตอบ ฉันได้แต่มองไปรอบๆ ชายหาดที่เป็นหาดส่วนตัวของเพื่อนรักแต่ก็ไม่พบสายตาแปลกๆ ของใครจ้องมอง