Mag-log in“โอ๊ย! แทงเบาๆ สิวะ” ฉันหยุดขาไว้เพื่อที่จะเงี่ยหูฟังบทสนทนา “ไอ้ห่า! แทงทีละนิดมันจะไปเสร็จอะไร เนี่ยแบบนี้แหละดีแล้ว แทงครั้งเดียวมิดเลย เจ็บ แสบดีมั้ยล่ะ ฮ่าๆ” ทั้งสองเสียงที่คุยกันดันเป็นเสียง... ผู้ชาย ทั้งสถานการณ์และสถานที่เกิดเหตุมันชวนให้ฉันเข้าใจผิดคิดว่าทั้งคู่เป็นมนุษย์สายเหลืองที่กินกันเอง จนมาวันนี้ ผู้ชายคนนั้นกลับมาปรากฏตัวต่อหน้าฉันในอีกครั้งในอีกสถานะ “ขอโทษครับ ช้าไปหน่อยพอดีคนรอคิวเยอะ” เสียงทุ้มฟังแล้วคุ้นหูดังขึ้น ทำให้พวกเราห้าคนที่นั่งอยู่ที่โต๊ะหันกลับไปมอง เฮ้ย! นั่นมัน... ตาฉันเบิกกว้างอัตโนมัติ เมื่อเห็นหน้าเจ้าของเสียงเมื่อกี้เต็มๆ สองตา “นี่มัน... ไอ้สายเหลืองนี่” ฉันเรียกคู่กรณีครั้งก่อนเสียงลั่น “เมื่อกี้หนูเพลย์เรียกพี่เขาว่าอะไร...” เสียงผู้หญิงที่มากับลุงพงษ์ถามฉันขึ้น แต่ยังไม่ทันที่ท่านจะพูดจบใครบางคนที่ไร้มารยาทก็พูดแทรกขึ้นมาซะก่อน “อย่าบอกนะ... จะให้ผมแต่งกับยัยขี้มโนนี่” เรื่องราววุ่นวายจึงได้เริ่มต้นขึ้น ณ ตอนนั้น จากคู่ปรับ กลายเป็นว่าที่คู่หมั้น ฉันจะสามารถเปลี่ยนเกย์ให้แมนได้หรือไม่
view moreRevana menemukan pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang dan darahnya seakan membeku.
Ayahnya, Rony, berlutut di depan seorang pria tampan dengan perawakan tinggi dan tegap, sosok yang begitu mendominasi seolah menguasai seluruh ruang dengan keanggunannya.
“Ayah, apa yang sedang Ayah lakukan di sini? Kenapa berlutut seperti itu?” tanyanya dengan suara bergetar, seakan angin malam yang menerpa dedaunan di hutan yang sunyi.
Rony tidak segera menjawab. Wajahnya memancarkan campuran rasa malu dan ketakutan, dua emosi yang bersarang di matanya yang kini tak berani menatap Revana.
Ia hanya memandang lurus ke depan, ke arah pria yang berdiri dengan sikap angkuh dan tak tertembus.
Revana mengikuti arah pandangan ayahnya, dan hatinya semakin mencelos saat ia mengenali siapa pria di depannya.
Sanders Valerio Tristan, seorang CEO perusahaan tempat Revana bekerja, berdiri dengan angkuh, menatapnya dengan pandangan datar yang menembus relung jiwanya.
“Pak Tristan? Apa yang Anda lakukan di sini? Kenapa ayah saya berlutut di kaki Anda?” tanya Revana, mencoba menenangkan gejolak emosinya yang berputar bak badai di tengah samudra.
Tristan, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dikenal sebagai sosok yang dingin dan penuh perhitungan, melipat tangan di depan dada, seakan sikapnya adalah benteng kokoh yang tak bisa ditembus oleh apa pun.
“Rony memiliki utang padaku selama bertahun-tahun, dan kini saatnya aku untuk menagihnya,” katanya dengan suara tenang namun tajam, seperti pisau yang menusuk tanpa ampun.
Mulut Revana menganga mendengar ucapan dari bosnya itu. Seumur hidup, ia tidak pernah tahu bahwa ayahnya memiliki utang sebesar itu, apalagi kepada Tristan. Seakan seluruh dunia yang ia kenal runtuh di hadapannya.
“Ayah, berdirilah. Jangan merendahkan diri seperti ini di depan Pak Tristan,” kata Revana, suaranya penuh desakan dan rasa iba yang menyayat hati.
Rony menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, namun tidak beranjak dari posisinya. “Aku tidak punya pilihan lain, Nak,” katanya pelan, hampir berbisik, seakan setiap kata adalah beban yang menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit.
Revana mengalihkan pandangannya kembali ke Tristan, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa.
“Saya akan membayar utang ayah saya,” katanya tegas, meski hatinya gemetar seakan akan runtuh.
Tristan tertawa kecil, tawa yang dingin dan tidak menyenangkan, menggemakan kekosongan yang tak terbendung.
“Kau? Membayar utang ayahmu? Ayahmu saja tidak mampu melunasinya, apalagi kamu. Hanya seorang bawahan di kantorku,” katanya dengan nada mengejek, menambah luka di hati Revana.
Revana menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang, setiap tetesnya seakan adalah simbol dari rasa sakit yang tak terhingga.
“Saya serius. Berapa pun jumlahnya, saya akan membayarnya,” ucapnya dengan tegas, suara yang terbungkus dalam keberanian yang rapuh.
Tristan menatapnya lama, seakan menilai ketulusan dan keberanian di balik kata-katanya. “Kau tahu berapa besar utang ayahmu?” tanyanya akhirnya, seakan setiap kata adalah tantangan yang harus dihadapi.
Revana menggeleng, kepalanya tertunduk seakan berat oleh beban yang tak terlihat. Ia benar-benar tidak tahu, dan fakta ini membuatnya merasa semakin kecil di depan Tristan, semakin tak berdaya.
“Lima miliar. Itu jumlah utang yang harus ayahmu bayar, Revana!” ucapnya memberi tahu.
Wanita itu membolakan matanya, terkejut bukan main kala mendengar jumlah utang yang dimiliki ayahnya itu.
Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. “Saya butuh waktu,” katanya, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan, mencoba menggapai harapan di tengah kegelapan.
“Waktu tidak ada di pihakmu, Revana. Jika utang ini tidak dilunasi segera, aku harus mengambil tindakan yang mungkin tidak akan kau senangi,” kata Tristan dengan nada mengancam, seakan bayangan ancaman itu melingkari mereka dengan keganasan yang tersembunyi.
Revana terdiam beberapa saat, berusaha mencerna kenyataan pahit yang ada di depan matanya.
Ayahnya, pria yang selalu ia pandang sebagai sosok kuat dan tak terkalahkan, kini berlutut dengan penuh kehinaan di hadapan pria lain.
Seketika itu juga, dunia Revana seakan runtuh, seperti istana pasir yang diterjang ombak tanpa ampun.
"Lima miliar? Bagaimana mungkin?" pikirnya dalam hati, terkejut dan putus asa bersamaan. Ia menatap ayahnya, mencari penjelasan di mata yang kini tidak berani menatapnya.
"Ayah, untuk apa Ayah memiliki utang sebanyak itu?" tanyanya dengan nada memohon, mencari harapan di tengah keputusasaan.
Rony, dengan suara yang terdengar lebih kecil dari biasanya, berbohong, "Untuk bisnis, Nak. Ayah butuh modal untuk mengembangkan usaha."
Namun, Tristan tertawa mendengar jawaban itu, tawa yang dingin dan penuh kemenangan, seakan ia tahu kebenaran yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
Beberapa detik kemudian, tawa Tristan berhenti, dan ia menatap Rony dengan pandangan tajam sebelum beralih pada Revana. "Bagaimana kalau aku beri penawaran?" ucap Tristan, senyum penuh arti terukir di bibirnya, seakan ia telah merencanakan semua ini sejak awal.
Rony segera menolak, "Tidak! Aku tahu siapa kamu, Tristan. Kamu bukan hanya CEO perusahaan besar, tapi juga punya bisnis ilegal dan menguasai wilayah ini. Aku tidak akan membiarkan anakku terperangkap olehmu."
Tristan mengangkat alisnya, sedikit terkejut namun tidak sepenuhnya. Ia sudah menduga reaksi Rony. Dengan sikap tenang, Tristan mendekatkan dirinya pada Revana, mengabaikan keberatan Rony.
"Ikutlah denganku, Rony. Kamu tahu ini tidak ada pilihan lain," katanya tegas, suara yang menggemakan kepastian yang tak terbantahkan.
Revana, dengan cepat mencegah Tristan menarik ayahnya, "Tunggu! Aku ingin mendengar tawaran yang akan kamu berikan," katanya, suaranya bergetar namun tegas, mencoba mempertahankan keberanian yang tersisa.
Tristan tersenyum penuh kemenangan, seakan ia telah memenangkan permainan ini sejak awal.
"Baiklah," katanya dengan nada halus. "Aku akan menghapus seluruh utang ayahmu, dengan satu syarat," lanjutnya, seakan ia memegang kendali penuh atas takdir mereka.
Revana menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. "Apa syaratnya?" tanyanya, suara yang penuh dengan ketidakpastian dan harapan yang rapuh.
"Menikahlah denganku dan berikan seorang anak untukku," jawab Tristan tanpa ragu, kata-katanya yang seakan adalah penentu nasib mereka.
“แต่งเลย / แต่งเลย”ฉันยังไม่ทันได้ตอบอะไร เสียงตะโกนจากด้านล่างก็ดังขึ้น ทุกคนยืนขึ้นพร้อมกับตะโกนให้ฉันตอบรับซาดีนส์ ไม่เว้นแม้แต่พ่อแม่ของพวกเรา“ฉะ ฉัน” มันตื้นตันจนตอบออกมาเป็นคำพูดไม่ได้“ว่าไงครับ เพลย์น้อยของซีนส์ วันนี้จะยอมเป็นเจ้าสาวของเจ้าชายคนนี้หรือเปล่า” รอยยิ้มที่มาพร้อมกับประโยคร้องขอทำให้ฉันฝืนน้ำตาเอาไว้ไม่อยู่อีกต่อไป“ฮึก อึก”“เด็กขี้แย ถ้าไม่ตอบ...” ซาดีนส์เงียบเสียงลง ก่อนจะเอ่ยต่อด้วยคำพูดที่ไม่มีเสียง ‘ฉันจะจับเธอกินทั้งคืน’ ฉันถึงกับกัดปากแน่น แบบนี้เรียกมัดมือชกไหมนะ“อื้อ” ฉันพยักหน้า อยากตอบเขาเป็นคำพูดแต่ตอนนี้มันดีใจสุดๆ มันตื้นตันจนไม่มีเสียงที่จะเปล่งออกมาแล้ว“ไม่เอาสิ อยากได้ยินคำพูดหวานๆ พูดให้ซีนส์ดีใจสักคำสิครับ” เสียงออดอ้อนพร้อมกับแววตาเว้าวอนและโหยหาของซาดีนส์ทำเอาฉันกลืนน้ำลายลงคออึกๆ“ก็บอกว่าอื้อไง” ฉันกัดปากอีกครั้ง เบือนหน้าไปทางอื่นตอนนี้มันทั้งอายและก็ดีใจไปในเวลาเดียวกัน อายเพื่อนๆ และพ่อแม่ดีใจ ที่คำสัญญาในวัยเด็กเป็นจริงสักที“ดื้ออีกแล้ว คนเขาอุตส่าห์บอกความในใจหมดแล้วนะ”ทำเป็นน้อยใจ ชิ! ‘ฝากไว้ก่อนเถอะ’ฉันพูดแบบไม่มีเสียงให้เขา
“สวัสดีค่ะ / ครับ” ทั้งตาหวาน ตาโตรวมถึงยีนส์ยกมือไหว้ป๊ากับแม่เล็กหลังจากได้ยินท่านถามประโยคนั้น “ตามสบายนะเด็กๆ วันนี้เป็นวันพิเศษของพิเศษ” ฉันมองหน้าป๊าแบบงงๆ นิดหน่อยวันพิเศษของพิเศษ คือมันแสนจะพิเศษใช่ไหมนะ?“เด็กๆ เข้าบ้านกันเถอะจ๊ะ เดี๋ยวเลยฤกษ์ดีกันพอดี”ฤกษ์ดี? ฉันกำลังจะเอ่ยถามแม่เล็กแต่ไม่ทันเสียแล้ว เมื่อท่านเดินนำเข้าไปยังตัวบ้านที่ประดับประดาหรูหราไม่แพ้ด้านนอกเลยสักนิดเดียว“สวัสดีค่ะคุณป้า” เมื่อเข้ามาในตัวบ้านเรียบร้อยฉันมองเห็นแม่ซาดีนส์นั่งรออยู่ที่โต๊ะข้างเวทีทรงเตี้ยที่มีป้ายอะไรสักอย่างถูกปิดด้วยผ้าสีขาวผืนบางอีกที “นั่งก่อนสิจ๊ะหนูเพลย์”ป้าแพรวกวักมือเรียกให้ฉันไปนั่งข้างๆ ท่าน“คุณพิณนี่ตาถึงนะคะ เลือกชุดให้หนูเพลย์เข้ากับงานวันนี้จริงๆ” เสียงป้าแพรวแซวแม่เล็กขำๆ ฉันว่าชุดที่แม่เล็กส่งมาให้มันดูหรูมากเกินไปด้วยซ้ำในตอนแรกเดรสลูกไม้แบบรัดรูปสีชมพูอ่อน เปิดโชว์ช่วงเนินอก กระโปรงยาวคลุมเข่าปลายระบายกว้างนิดๆ เหมือนจะไปงานการ่าดินเนอร์เสียด้วยซ้ำ“เอ่อ คุณป้าคะ” ฉันเสียมารยาทพูดแทรกผู้ใหญ่ทั้งสองที่กำลังนั่งเม้าท์กันตามประสาคนไม่ค่อยได้เจอหน้ากัน “ว่าไงจ๊ะลูก”
“หึ” ฉันมองเห็นรอยยิ้มที่มุมปากเฮียการ์เซียผ่านกระจกมองหลังด้วยแหละ แต่คนถูกถามกลับไม่ตอบคำถามฉัน ทำไมแลดูมีลับลมคมนัยจังนะ“ขอบคุณนะคะที่มาส่ง” เมื่อรถจอดหน้าคอนโดเรียบร้อย ยีนส์ลงไปจากรถเป็นคนแรกโดยที่ไม่ได้ล่ำลาหรือกล่าวขอบคุณเฮียการ์เซีย เลยทำให้ฉันที่ยังไม่ลงจากรถรีบเอ่ยขอบคุณเขาด้วยสีหน้าเจื่อนๆ กับความเสียมารยาทของเพื่อนรัก“อย่าคิดมากเลย เดี๋ยวมันกลับมาเธอจะยิ่ง... หลงมัน”“คะ? เมื่อกี้เฮียว่าอะไรนะคะ” เพราะคำพูดท้ายๆ เฮียการ์เซียเบาเสียงลงฉันเลยไม่ได้ยินว่าเขาพูดว่าอะไร “รีบลงไปเถอะ เพื่อนเธอจะกินหัวฉันอยู่แล้ว”เขาไม่ตอบอีกแล้ว ฉันมองตามออกไปนอกรถตามคำบอกเล่าเฮียการ์เซีย เห็นยีนส์กำลังยืนทำท่าทางเบื่อหน่ายและเซ็งๆ จ้องมองมาทางพวกเราที่อยู่ในรถเลยต้องรีบปลีกตัวลงไป@สามวันต่อมาฉันอยากเอาหัวโขลกกำแพงให้มันตายรู้แล้วรู้รอดรู้อะไรไหม? ตั้งแต่ที่ซาดีนส์บอกไปธุระต่างประเทศนี่ก็ผ่านมาสามวันแล้วนะ ไหนเขาบอกจะไปแค่สองวัน วันแรกที่เขาไปคือวันที่เฮียการ์เซียมาส่งฉันกับยีนส์ และหลังจากวันนั้นก็ผ่านมาอีกแล้วสองวัน ซึ่งซาดีนส์ควรจะกลับมาตั้งแต่เมื่อวานแต่นี่ฉันยังไม่เห็นแม้แต่เงาหัวของ
“นั่นสิเพลย์ เฮียซาดีนส์เขาอาจจะติดธุระจริงๆ จนรอเพลย์ตื่นไม่ไหวมั้ง”ฉันกำลังจะอ้าปากเถียงตาหวาน แต่ยีนส์ก็ดันพูดแทรกมาก่อน“ว่าแต่…” ยีนส์เงียบ เหล่ตามองคล้ายกับจับผิดอะไรฉัน“อะไรของแก” ฉันหลบสายตาคาดคั้นของเพื่อนรัก“ปกติแกไม่น่าจะนอนขี้เซาขนาดนั้นนะ แกบอกว่าตื่นมาเกือบแปดโมง นั่นมันเลยเวลาปกติที่แกจะต้องตื่นมาเตรียมตัวเรียนเช้าแล้วไม่ใช่เหรอ”ไม่ได้มาแค่คำถามนะ แต่สายตาอยากรู้อยากเห็นพร้อมกับจ้องจับผิดของยีนส์ที่ส่งมาทำเอาฉันเสียวสันหลังวาบ“กะ... ก็เมื่อวานไปทำธุระมา เมื่อยไปหน่อยเลยเผลอหลับยาว” นิ้วกลางไขว่นิ้วชี้ไว้เพลย์เยอร์ แค่โกหกเพื่อนเองไม่บาปหรอกเนอะ“เหรอ~” เสียงลากยาวแบบไม่เชื่อสุดๆ ของเพื่อนรักทำเอาฉันหน้าแดงฉ่าแค่มองตายีนส์ฉันก็รู้แล้วว่าเธอไม่เชื่อที่ฉันพูด แถมฉันยังคิดว่าเธอต้องคิดไปถึงเรื่อง... เอ่อ ช่างมันเถอะ อย่าไปคิดแทนคนอื่นเลยเนอะ!“เฮ้อ! หิวข้าวจัง” แกล้งยกมือลูบท้องเปลี่ยนเรื่อง“เปลี่ยนเรื่องแบบนี้...” ยังไม่เลิกล้อฉันอีกนะ ยัยยีนส์บ้า!“ยีนส์เลิกแกล้งเพลย์เถอะ ดูสิ จะร้องไห้อยู่แล้ว” น่ารักมากตาหวานที่ช่วยพูด“รักหวานที่สุดเลย งั้นเราไปกินข้าวกัน ปล่อยใ
ไม่รู้ว่าตอนนี้กี่โมงแล้ว รู้แค่ว่าพอรู้สึกตัวมาเหมือนร่างกายผ่านสงครามรบที่ไหนมาไม่รู้ เรี่ยวแรงที่ควรจะมีหลังจากได้หลับพักผ่อนมันน่าจะกลับมาแล้ว แต่เปล่าเลย ตอนนี้ฉันยังรู้สึกปวดเมื่อยไปทุกส่วนของร่างกาย โดยเฉพาะตรงนั้น!“ไอ้บ้าซาดีนส์” ฉันพึมพำกับตัวเองหลังจากตื่นเต็มตาแล้วคิดแล้วก็น่าโมโห! เมื
ผมนั่งมองคนตัวเล็กนอนต่อไปราวๆ ห้านาที เสียงข้อความมือถือเธอก็ดังขึ้นเรียกให้ผมสนใจมันมากกว่าคนที่หลับอยู่ตอนที่อยู่บนรถผมไม่ได้เปิดเข้าไปอ่านข้อความของเธอ เห็นแค่หน้าจอโชว์ว่าใครแชทไลน์มาเท่านั้น เพราะตอนนั้นมันเป็นแค่สติ๊กเกอร์ถามว่าทำไรอยู่? ผมเลยไม่สนใจ แต่ตอนนี้ไม่สนใจคงไม่ได้ เพราะไม่รู้ว่าก
“รู้สึกเสียวสันหลังแปลกๆ มั้ย?” ตอนที่กำลังเล่นน้ำกับตาหวานและยีนส์กันสามคนแถวๆ โขดหินที่ห่างจากจุดที่พวกผู้ชายเล่นกันมาประมาณห้าสิบเมตร ตาหวานก็โผล่งคำถามที่ฉันเองก็รู้สึกมาได้สักพักขึ้น“คิดมากเปล่า” ยีนส์ตอบ ฉันได้แต่มองไปรอบๆ ชายหาดที่เป็นหาดส่วนตัวของเพื่อนรักแต่ก็ไม่พบสายตาแปลกๆ ของใครจ้องมอง
“งั้นก็เว้นห้องนั้นไว้ แล้วสรุปมีห้องใช้ได้กี่ห้องคะป้า ยกเว้นห้องข้างล่าง” ประโยคแรกฉันพูดกับยีนส์ แต่ประโยคถัดมาฉันถือวิสาสะหันไปถามป้าท่านเดิม“ถ้าไม่รวมห้องนั้น ด้านบนมีห้องที่ใช้ได้สองห้องค่ะ” หลังจากฟังที่ป้าท่านพูดจบฉันก็พยักหน้าเข้าใจ“เห็นมั้ยเหลือตั้งสองห้อง ห้องหนึ่งเราก็นอนเฉพาะผู้หญิง





