Masukโซอี้ เบนเน็ตต์เพียงต้องการเอาคืนแฟนเก่าเท่านั้น หลังจากได้รับความอัปยศและถูกทิ้งที่แท่นพิธีงานแต่ง สิ่งเดียวที่เธอปรารถนา คือเดินเข้าไปในงานเลี้ยงหรูหราอย่างผู้หญิงที่มีเสน่ห์เกินต้านทาน พร้อมกับคู่ควงที่สมบูรณ์แบบ แต่หนุ่มขายบริการที่เธอจ้างมา กลับกลายเป็นมหาเศรษฐีไปได้อย่างไรกัน? ชายที่ยืนอยู่เบื้องหน้าเธอคือ คริสเตียน เคนซิงตันผู้หยิ่งยโสจนน่าโมโหแต่ก็หล่อเหลาจนทำเอาใจแทบละลาย ซีอีโอแห่งโรงบ่มไวน์เคนซิงตัน หนึ่งในคนที่ร่ำรวยที่สุดในประเทศ ชั่วขณะนั้น โซอี้รู้สึกราวกับพื้นใต้ฝ่าเท้าของเธอหายวับไป ไม่มีปัญหาเหรอ? โธ่ มันมีปัญหาแน่ เพราะตอนนี้ทั้งโลกออนไลน์พากันเชื่อว่า เธอกับเขาเป็นคู่รักกันจริง ๆ น่ะสิ แล้วอะไรคือปัญหาที่ใหญ่ที่สุดน่ะเหรอ? ก็การที่คุณปู่ของคริสเตียนเองก็เชื่อด้วยเหมือนกันอย่างไรล่ะ ตอนนี้ครีสเตียนเลยจำเป็นต้องเล่นละครฉากนี้ต่อไป ถ้าหากว่าเขายังอยากสืบทอดธุรกิจของตระกูล ส่วนโซอี้ก็แค่อยากหลุดพ้นจากเรื่องวุ่น ๆ นี้โดยไม่ถูกฟ้องก็เท่านั้น ทว่าเมื่อเส้นแบ่งระหว่างคำลวงและความจริงเริ่มเลือนราง โซอี้ก็รู้ตัวแล้วว่า เธออาจจะกำลังตกอยู่ในกับดักที่อันตรายที่สุด นั่นคือการตกหลุมรักอีกครั้ง “ฉันเคยถูกทิ้งมาก่อนนะ คริสเตียน ฉันจะไม่ทำพลาดแบบนั้นอีกแน่” “แล้วใครบอกว่าคราวนี้คุณจะเป็นฝ่ายเสียอยู่ฝ่ายเดียวกันล่ะ?” นี่คือเรื่องราวโรแมนติกคอมเมดี้ที่เต็มไปด้วยการหักมุม ความลับที่ซ่อนอยู่ และความปรารถนาที่ยากจะต้านทาน โซอี้จะกล้าพอที่จะเปิดใจตัวเองอีกครั้งหรือไม่นะ?
Lihat lebih banyak“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …รถปอร์เช่ของคริสเตียนชะลอจนหยุดสนิทตรงหน้าบ้านของฉัน เมื่อเครื่องยนต์ดับลงก็เหลือเพียงความเงียบระหว่างเราที่หนักอึ้งจนเหมือนมีคนที่สามอยู่ในรถด้วย เมื่อมองผ่านหน้าต่าง ฉันเห็นบ้านของตัวเองเหมือนเดิมกับหลายวันก่อน มันเรียบง่าย คุ้นเคย เป็นโลกที่แยกจากไร่องุ่นและคฤหาสน์ที่เราเพิ่งจากมาอย่างสิ้นเชิงตลอดทางขับกลับมาเกือบจะเงียบสนิท ความพยายามพูดคุยกันเล็กน้อยหายไปอย่างรวดเร็ว ราวกับเราทั้งคู่รู้ว่าคำพูดใด ๆ อาจทำลายความสงบอันเปราะบางที่เราสร้างขึ้น คริสเตียนถามอย่างสุภาพว่าฉันสบายดีไหม ต้องการให้จอดที่ไหน ฉันก็สุภาพไม่แพ้กัน ตอบเป็นคำสั้น ๆ เราแสร้งทำเป็นว่าไม่มีอะไรเกิดขึ้น ว่าเราไม่ได้นอนในห้องเดียวกัน ไม่ได้แบ่งปันเรื่องราวส่วนตัว ไม่ได้เต้นรำด้วยกัน และไม่ได้จูบกันเราทั้งคู่แสร้งทำเหมือนไม่มีความปรารถนาใด ๆ“ถึงแล้วครับ” คริสเตียนพูด มือยังวางอยู่บนพวงมาลัยทั้งที่รถจอดสนิท “ขอบคุณสำหรับทุกอย่าง โซอี้ เบนเน็ตต์”ความเป็นทางการในน้ำเสียงที่เรียกชื่อเต็มของฉันเจ็บกว่าที่ควรจะเป็น“ขอบคุณค่ะ” ฉันตอบ น้ำเสียงนิ่งจนน่าประหลาดใจ “สำหรับการเคลียร์หนี้ของพ่อฉัน สำหรับการทำตามข้อตกลง”คร
ฉันวิ่ง โดยไร้ทิศทาง ปราศจากจุดหมาย แค่อยากหนีไปให้ไกล แค่หนีจากภาพนั้น หนีจากเขาภาพของคริสเตียนกับฟรานเชสก้าที่อยู่ใกล้กันจนเกือบจะจูบกันเผาไหม้อยู่ในใจฉันเหมือนรอยตราประทับร้อน ๆ “ไม่ต้องห่วง มันจบแล้ว” เขาพูดก่อนจะเดินออกไป ตอนนี้ฉันเข้าใจแล้วว่าคำพูดนั้นหมายถึงอะไรฉันไม่ควรจะรู้สึกอะไร นี่เป็นแค่ข้อตกลง ไม่มีอะไรมากไปกว่านั้น คริสเตียน เคนซิงตันไม่ได้มีภาระผูกพันเรื่องความซื่อสัตย์หรือความจงรักภักดีกับฉัน นอกเหนือจากอะไรก็ตามที่ตกลงกันไว้ แล้วทำไมใจฉันถึงเจ็บเหมือนโดนต่อย ทำไมภาพตรงหน้าถึงพร่ามัวไปด้วยน้ำตาที่ไม่ยอมหยุดไหลเท้าของฉันพาฉันผ่านสวน แล้วเข้าสู่ไร่องุ่น แสงจันทร์ส่องทางระหว่างแถวองุ่น ชุดสีน้ำเงินที่ดูสมบูรณ์แบบเมื่อไม่กี่ชั่วโมงก่อน ตอนนี้พันขาฉันไว้ทำให้วิ่งได้ช้าลง แต่มันก็ไม่สำคัญหรอกว่าฉันจะไปไหน ฉันไม่มีทางหนีจากตัวเองได้ จากความรู้สึกทรยศที่กำลังฉีกหัวใจฉันในที่สุดฉันก็หยุดวิ่ง ฉันหายใจหอบอยู่ที่จุดชมวิวเล็ก ๆ บนยอดเขา จากตรงนั้นฉันเห็นคฤหาสน์ที่สว่างไสว งานอีเวนต์ของอินฟลูเอนเซอร์ยังคงคึกคักอยู่เบื้องล่าง ร่างเล็ก ๆ เคลื่อนไหวเหมือนมดหลากสี ทำไมบางสิ่งถึง
มุมมองของคริสเตียน“ไม่ คริสเตียน นี่มันเกินไปแล้ว!”ผมรู้สึกว่านิ้วของโซอี้หลุดออกจากมือผมไปแล้ว และก่อนที่ผมจะทันได้ตั้งตัว เธอก็ผละออกไป แล้วหายลับไปในฝูงชนอย่างรวดเร็วชั่วขณะนั้นผมได้แต่ยืนนิ่ง มองชุดสีน้ำเงินของเธอค่อย ๆ กลืนหายไปท่ามกลางสายตาสงสัยนับสิบคู่ที่มองสลับระหว่างผมกับร่างของเธอที่กำลังเดินหนีไปคุณปู่ของผมยังคงอยู่บนเวที สีหน้าเปี่ยมความภาคภูมิของท่านเริ่มเปลี่ยนเป็นความสับสนเสียงของท่านดังผ่านไมโครโฟน กลายเป็นเหมือนคำสั่งมากกว่าเสียงเรียก“คริสเตียน? โซอี้?”ผมไม่มีเวลาให้คิด ประสบการณ์จากการเจรจายาก ๆ หลายปีสอนให้ผมรู้จักแก้สถานการณ์เฉพาะหน้าได้ดีผมฝืนยิ้มให้ดูน่าเชื่อที่สุด แล้วก้าวขึ้นไปบนเวทีคนเดียว พลางโอบไหล่คุณปู่อย่างแนบเนียน“ขอโทษแทนคู่หมั้นของผมด้วยครับ” ผมพูดใส่ไมโครโฟน พยายามรักษาน้ำเสียงให้มั่นคง “โซอี้แค่กลัวเวทีนิดหน่อย โดยเฉพาะตอนที่ทุกสายตาจับจ้องอยู่ที่เธอ”เสียงพึมพำอย่างเข้าใจดังแว่วในกลุ่มคนดูผมแทบจะมองเห็นเหล่าอินฟลูเอนเซอร์กำลังคิดแคปชั่นกันอยู่ในหัวแล้ว “เจ้าสาวขี้อายแสนน่ารัก!”“เธอแค่รู้สึกซาบซึ้งกับการประกาศจนต้องขอเวลาตั้งตั
ฉันมองตัวเองในกระจกในขณะที่กำลังทาลิปสติกเสร็จ ชุดที่ฉันเลือกสำหรับงานนี้เป็นสีน้ำเงินเข้ม ตัดเย็บราวกับว่าถูกวัดมาพอดีตัวฉัน ผ้าไหมที่พลิ้วไหวขยับเคลื่อนอย่างนุ่มนวลทุกย่างก้าว สร้างภาพลักษณ์ประณีตซึ่งตัดกับความเรียบง่ายของการออกแบบ เช่นเดียวกับของขวัญอื่น ๆ ของคริสเตียน มันสง่างามแต่ไม่ฉูดฉาด ดูดีมีรสนิยมแต่ไม่เกินเลยคริสเตียนลงไปตรวจความเรียบร้อยขั้นสุดท้ายก่อนแล้ว ทิ้งให้ฉันอยู่กับความคิดที่ว้าวุ่นของตัวเอง ฉันอยู่กับความคิดฟุ้งซ่าน การสนทนาจากคืนก่อนยังคงก้องอยู่ในหัว เขายอมรับว่ายังรู้สึกบางอย่างกับฟรานเชสก้า ฉันเปิดเผยความฝันที่ฝังลึกมานานเรื่องการทำงานด้านการประชาสัมพันธ์ คนสองคนที่แตกสลายแสร้งทำเป็นคู่รักที่สมบูรณ์แบบ ความย้อนแย้งนี้ยังติดแน่นอยู่กับตัวฉันไม่หายไปไหนเมื่อฉันเดินลงไปถึงไร่องุ่นสถานที่จัดงาน ฉันก็แทบจำสถานที่ไม่ได้ ความสง่างามแบบชนบทของโรงบ่มไวน์ถูกเปลี่ยนให้กลายเป็นปรากฏการณ์ที่มีสีสัน ดูเหมือนถูกดึงออกมาจากงานแสดงของตกแต่งในโซเชียลมีเดียเลยทีเดียว ไหนจะซุ้มลูกโป่งโทนสีพาสเทล หมอนอิงขนาดใหญ่วางกระจัดกระจายอย่างมีแบบแผน ไฟระยิบระยับห้อยลงมาจากโครงโลหะ มีแม้แ