LOGINหลังจากฉันตายไปห้าปี อันอัน ลูกสาวของฉันก็โทรไปที่เบอร์ของกู้ซีเหนียน เธอลองถามอีกฝ่ายว่า “คุณชอบแม่ของหนูไหมคะ?” เธอถามตามประโยคหนึ่งที่ฉันเขียนไว้ในไดอารี่ตอนที่ยังมีชีวิตอยู่ว่า ‘กู้ซีเหนียน คุณชอบฉันไหม’ คาดไม่ถึงว่าปลายสายกลับตอบเหน็บแนมว่า “แม่เธอสั่งให้ทำแบบนี้เหรอ? แม้แต่ลูกสาวก็ยังเอามาใช้เป็นเครื่องมือได้สินะ? เป็นผู้หญิงที่มักมากจริง ๆ อยู่กับพ่อเธอแล้ว ยังคิดจะมารื้อฟื้นความสัมพันธ์เก่า ๆ กับฉันอีกเหรอ?”
View MoreSuara pekikan kecil terdengar diikuti oleh suara dentingan piring yang jatuh, membuat suasana pesta menjadi hening.
Ryan Pendragon menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 10 tahun, berdiri kaku dengan wajah pucat.
Di depannya, seorang pria tinggi besar dengan mata tajam berdiri menjulang, jasnya yang mahal kini bernoda makanan yang tumpah.
"Ma-maafkan saya, Tuan," gadis kecil itu terbata-bata, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan dingin yang menusuk. Tangannya terkepal erat, dan Ryan bisa melihat urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah.
Melihat situasi yang semakin tegang, Ayah Ryan–William Pendragon bergegas menghampiri mereka. Ia berlutut di samping gadis kecil itu, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya kecelakaan," ujar William lembut sambil mencoba membersihkan noda di sepatu gadis itu. Kemudian ia berdiri dan menghadap pria yang terlihat marah itu. "Master Lucas, saya William Pendragon. Mohon maaf atas insiden ini. Biarkan saya membantu membersihkan jas Anda."
Namun, kebaikan William rupanya tidak diapresiasi. Master Lucas menatap William dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya pada William. "Kau pikir sapu tanganmu yang murahan itu bisa membersihkan jas mahalku?!"
William tersentak, "Maaf, saya hanya bermaksud membantu. Mungkin kita bisa—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. William terhuyung, pipinya memerah akibat pukulan pria itu.
Ryan membeku. Matanya melebar menyaksikan adegan di depannya. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak pria itu lagi. "Berani-beraninya kau menyentuhku dengan sapu tangan kotormu!"
William mencoba menjelaskan, "Tuan, saya hanya bermaksud membantu. Ini hanya kecelakaan kecil dan—"
"DIAM!" Pria itu semakin murka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah William. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam sekejap!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak untuk membantu William.
Ryan akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berlari mendekati kerumunan, berusaha menembus para tamu yang menonton kejadian itu dengan wajah pucat.
"Ayah!" teriaknya.
Namun sebelum Ryan bisa mencapai ayahnya, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Master Lucas, dengan gerakan yang sangat cepat, menebas leher William Pendragon dengan tangan kosongnya. Seketika itu, kepala William menggelinding, diikuti robohnya tubuh William ke lantai.
"TIDAK!" Ryan berteriak histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia melihat ayahnya roboh ke lantai, darah mengalir deras dari lehernya.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa wanita pingsan menyaksikan kejadian berdarah itu.
Namun tak seorang pun berani mendekati William yang telah tewas, ataupun menghentikan pria yang baru saja membunuhnya.
Ryan berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar memeluk potongan kepala William. "Ayah ... Ayah!"
Ryan meraung, matanya liar mencari-cari bantuan. Ia melihat wajah-wajah familiar di antara kerumunan.
Orang-orang yang dulu selalu memuji keluarga Pendragon, teman-teman lama ayahnya, bahkan pamannya sendiri.
Tapi tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri diam, wajah mereka campuran antara ketakutan dan ... penghinaan? Seakan akhir seperti ini sudah sepantasnya diterima oleh keluarga Ryan!
Amarah membakar dada Ryan. Dengan gerakan cepat, ia meraih pisau makan dari meja terdekat dan menyerbu ke arah pembunuh ayahnya.
"KUBUNUH KAU!" teriaknya, mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
Namun pria itu terlalu kuat. Dengan satu tangan, ia menangkap pergelangan tangan Ryan, menghentikan serangannya dengan mudah.
Ryan menatap mata pria itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah membunuh seseorang di depan umum adalah hal biasa baginya.
"Keluarga Pendragon dari Golden River, ya?" Pria itu berkata, suaranya sedingin es. "Kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau adalah keluarga yang berada di posisi paling atas, aku tetap bisa membunuhmu dengan menjentikkan jariku!"
Ia melempar Ryan ke lantai dengan kasar. "Dan kau, dasar sampah tak berarti, kudengar kau terkenal di daerah ini karena tidak berguna. Haha, dan kau ingin membunuhku? Bahkan jika aku memberimu seratus tahun, kau tetap tidak berguna!"
Ryan tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar karena shock dan amarah. Ia ingin bangkit, ingin membalas, tapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dengan kuat. Ryan menoleh, melihat ibunya, Eleanor, dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
"Ibu?" bisiknya bingung.
Tanpa berkata apa-apa, Eleanor mendorong Ryan sekuat tenaga ke arah jendela besar yang mengarah ke Sungai Emas di belakang Paviliun Riverside.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah, dan Ryan merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya tercebur ke dalam air sungai yang dingin.
Sebelum kesadarannya menghilang, Ryan melihat ibunya berlari ke arah pria pembunuh itu, wajahnya penuh tekad ... dan keputusasaan.
Air sungai yang deras menarik tubuh Ryan, menghanyutkannya entah kemana. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa tidak ada yang membantu? Mengapa ibunya mendorongnya?
Dan yang paling penting ... apa yang akan terjadi padanya sekarang?
Entah sudah berapa lama Ryan hanyut, ia tidak dapat menghitungnya. Ketika kesadarannya mulai berangsur menghilang, Ryan merasakan sebuah tangan kuat menariknya ke permukaan. Samar-samar, ia melihat wajah seorang pria tua sebelum semuanya menjadi gelap.
*Lima tahun kemudian*
Angin dingin berhembus kencang di puncak Gunung Langit Biru. Di sebuah gua yang tersembunyi, seorang pemuda berdiri tegak, matanya terpejam dengan konsentrasi mendalam.
"Fokus, Ryan!" Suara serak seorang pria tua terdengar. "Rasakan aliran energi di sekitarmu. Biarkan Teknik Matahari Surgawi mengalir dalam meridianmu!"
Ryan Pendragon membuka matanya. Cahaya keemasan berpendar dari tubuhnya, menerangi seluruh gua.
Dengan satu gerakan tangan, batu-batu besar di sekitarnya terangkat ke udara, melayang seolah tak memiliki bobot.
Pria tua itu tersenyum puas. "Bagus. Kau sudah siap."
Ryan menurunkan batu-batu itu kembali ke tempatnya. Ia berbalik, menatap pria yang telah menjadi gurunya selama lima tahun terakhir.
"Guru," katanya dengan suara dalam. "Apakah ini saatnya?"
Sang guru mengangguk pelan. "Ya, muridku. Kau telah menguasai Teknik Matahari Surgawi dan rahasia alkimia tingkat tinggi. Kini saatnya kau kembali dan menghadapi takdirmu."
Ryan mengepalkan tangannya. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Ayahnya yang terbunuh, ibunya yang mengorbankan diri, dan pria itu ... pria yang telah menghancurkan segalanya.
"Akhirnya," ucap Ryan, matanya berkilat penuh tekad, "dendam ini bisa kubalaskan."
Sang guru meletakkan tangannya di bahu Ryan. "Ingat apa yang telah kuajarkan padamu, Ryan. Kekuatan sejati bukan hanya tentang membalas dendam. Tapi tentang keadilan dan melindungi yang lemah."
Ryan mengangguk. Ia telah berubah. Bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa menangis saat melihat ayahnya dibunuh. Kini ia adalah seorang kultivator, sekaligus alkemis yang kuat, menguasai teknik yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Saat fajar menyingsing, Ryan Pendragon melangkah keluar dari gua, meninggalkan kehidupannya selama lima tahun terakhir. Matanya menatap jauh ke cakrawala, ke arah kota Golden River yang tersembunyi di balik awan.
"Golden River," bisiknya. "Aku sudah kembali."
กู้ซีเหนียนฝังอันอันไว้กับฉันเขามาเยี่ยมพวกเราที่หลุมศพของพวกเราอยู่บ่อย ๆแต่สภาพดูไม่ค่อยสู้ดีนัก ถึงขั้นที่เรียกได้ว่าซูบผอมด้วยซ้ำทุกครั้งที่อันอันเห็นเขา ก็จะหันมามองท่าทีของฉันเสมอฉันโทษเขาฉันโทษว่าทำไมตอนที่ฉันยังมีชีวิตอยู่ถึงไม่ยอมบอกเรื่องที่เขาสัญญากับพ่อของเฉินเจี๋ยเซิงให้ชัดเจน จนทำให้ฉันต้องทุกข์ระทม และสุดท้ายก็ต้องมาแยกจากกันไปชั่วชีวิตฉันยังโทษเขาด้วยว่าทำไมถึงเลือกมารับอันอันให้ไปดูบ้านเขาวันนั้น จนทำให้อันอันต้องมาจากโลกนี้ไปโดยที่ยังไม่ทันได้เติบโตออกไปดูโลกกว้างฉันโทษเขา แต่กลับทนไม่ได้ที่ต้องเห็นเขาในสภาพนั้นดังนั้นฉันจึงไม่อยากให้เขามาเจอพวกเราอีกถ้าไม่เห็นก็ไม่กวนใจบางทีพระเจ้าอาจจะได้ยินความปรารถนาของฉัน กู้ซีเหนียนจึงไม่ได้มาครึ่งเดือนแล้วฉันกลับมาสู่ความสงบอีกครั้ง แต่อันอันกลับผิดหวังมากฉันรู้ว่าเด็กคนนี้ปรารถนาความรักของพ่อมาโดยตลอดในที่สุดกู้ซีเหนียนก็กลับมาอีกครั้งครั้งนี้เขาคุกเข่าลงฉันลุกขึ้นอย่างรวดเร็วแม้ฉันจะตายไปแล้ว แต่ก็ไม่อาจรับความเคารพอย่างสูงแบบนี้ได้เขาพูดต่อหน้าหลุมศพของพวกเราอยู่นาน“เยียนเยียน ฉันฝันว่าเธอ
ดูเหมือนการที่ฉันมาเข้าฝันเขานอกจากจะได้รู้เรื่องหลายปีนั้นมากขึ้น และรู้สึกเศร้ากว่าเดิมเล็กน้อย ก็ไม่มีประโยชน์อะไรอีกเลยกู้ซีเหนียนจอมหัวแข็งมาดักรออันอันที่โรงเรียนอนุบาลทุกวัน ทั้งยังเปลี่ยนอุบายเพื่อเอาใจอันอันเสมอด้วยเดี๋ยวก็ถือถังหูลู่มา เดี๋ยวก็ถือขนมปังรูปทรงน่ารักมา เดี๋ยวก็ถือตุ๊กตาบาร์บี้มา...ยังดีที่ลูกสาวของฉันเป็นคนแน่วแน่ ทุกครั้งล้วนยืนกรานที่จะรอหยางรุ่ยเฉินมารับเธอ และจูงมือหยางรุ่ยเฉินไปโดยที่ไม่เงยหน้าขึ้นมาเลยช่วงนี้หลังจากอันอันหลับไป ฉันจะมาอยู่ข้างหยางรุ่ยเฉินและดูวิดีโอสั้นซึ่งเป็นข่าวเกี่ยวกับกู้ซีเหนียนและเฉินเจี๋ยเซิงหลังจากพ่อของเฉินเจี๋ยเซิงตาย กู้ซีเหนียนก็จัดงานแถลงข่าว โดยบอกกับสื่อว่าให้เคารพผู้ตาย และอย่าเผยแพร่ข่าวลือเท็จเกี่ยวกับความสัมพันธ์ของเขากับเฉินเจี๋ยเซิงอีกในที่สุดก็ชี้แจงแล้วเพียงแต่ไม่ใช่ในตอนที่ฉันอยากให้เขาชี้แจงมากที่สุดหลังจากผ่านไปหลายวันก็ไม่มีผลลัพธ์ใด กู้ซีเหนียนซึ่งมีเลือดของทุนนิยมไหลเวียนอยู่ทั้งร่างสุดท้ายก็เปลี่ยนวิธีครั้งนี้เขาไม่ได้นำอะไรมาเลยเขามาก่อนเวลาสิบห้านาที และขอให้ครูเรียกอันอันออกมาจากห้องเร
ไม่มีทางเลือกอื่น ฉันทำได้เพียงเข้าไปในความฝันของเขาเขาซึ่งที่ผ่านมาใส่ใจภาพลักษณ์อยู่เสมอกลับเริ่มมีหนวดเครา เมื่อเห็นแล้วฉันก็รู้สึกไม่สบายใจอยู่บ้าง“เยียนเยียน หลายปีมานี้เธอไม่เคยมาเข้าฝันฉันเลย ทำไมถึงใจร้ายขนาดนี้?”นั่นไม่ใช่เพราะคุณไม่เคยมาหาฉันตลอดหลายปีมานี้เหรอ? แม้ฉันจะตายไปแล้วก็ยังไม่รู้ด้วยซ้ำหยุด พอเถอะ ครั้งนี้ฉันมาเพื่อโน้มน้าวให้เขายอมแพ้ที่จะพาอันอันไป“คุณจะพาอันอันไปจากหยางรุ่ยเฉินไม่ได้นะ”กู้ซีเหนียนถามฉันอย่างเจ็บปวด “ทำไม? เธอไม่บอกฉันว่าท้อง และคลอดลูกของฉันโดยที่ไม่บอกฉัน ตอนนี้ยังอยากห้ามไม่ให้ฉันกลับมาอยู่กับลูกอีกเหรอ?”“อันอันไม่เหมาะจะใช้ชีวิตอยู่กับคุณ ถ้าถึงตอนที่คุณกับเฉินเจี๋ยเซิงแต่งงานกันและมีลูกของพวกคุณล่ะ ตอนนี้มีนโยบายให้มีลูกสามคนได้แล้ว อย่างน้อยพวกคุณก็น่าจะมีลูกกันสามคนไม่ใช่เหรอ?”กู้ซีเหนียนหัวเราะเย้ยหยันตัวเอง “เยียนเยียน เธอพูดอะไรกัน? เธออยากให้ฉันมีลูกกับคนอื่นเหรอ?”คนอื่นอะไรกัน คนคนนั้นก็คือคนรักในวัยเด็กเฉินเจี๋ยเซิงของคุณต่างหากดูสิ ผู้ชายก็แบบนี้ ชอบใช้กลยุทธ์หลอกล่อคนอื่นแล้วลอบโจมตีแถมยังเบื่อง่ายอีก“ไม่ใช่ว่
วิญญาณของฉันกลับถูกลากให้ตามมาด้วย และตามติดกู้ซีเหนียนไปทุกฝีก้าวแม้แต่ตัวฉันเองก็ไม่รู้ว่าทำไม ทั้งยังไม่อาจแก้ไขได้ด้วยเหมือนตอนนั้นที่ตกหลุมรักกู้ซีเหนียนตอนนั้นก็ไม่มีวิธีแก้ไขเช่นกันกู้ซีเหนียนขับรถไปที่โรงพยาบาลอย่างกระวนกระวายใจบนรถเขายังห้อยจี้รูปแมวที่ฉันให้เขาไว้ ผ่านมาหลายปีมันจึงซีดจางแล้วความจริงในตอนนั้น พวกเราเคยคุยกับว่าหลังจากพวกเรามีลูกแล้วจะเลี้ยงแมวสักตัวขณะที่ความคิดของฉันล่องลอยไป กู้ซีเหนียนก็มาถึงโรงพยาบาลทันทีที่กู้ซีเหนียนเดินเข้ามาในโรงพยาบาล เฉินเจี๋ยเซิงก็เข้ามาจับแขนของเขากู้ซีเหนียนผละออกโดยไม่ได้พูดอะไร และก้าวเดินเร็วขึ้นทั้งสองคนเดินตามกันไปมองดูแล้วเป็นคู่ที่เหมาะสมกันทีเดียวดูแล้วเหมาะสมกันมากกว่าฉันกับกู้ซีเหนียนเสียอีกหลังจากเข้ามาในห้องผู้ป่วย พ่อของเฉินเจี๋ยเซิงที่นอนอยู่บนเตียงก็จับมือของกู้ซีเหนียน “ซีเหนียน ลุงเห็นนายมาตั้งแต่เด็กจนโต ลุงสนับสนุนให้นายไล่ตามความฝันในการเล่นสนุกเกอร์มาตลอด นายก็รู้ใช่ไหม ลุงอยากให้นายสัญญากับลุงว่าหลังจากลุงตายไปแล้วนายช่วยดูแลเจี๋ยเซิงแทนลุงทีนะ”กู้ซีเหนียนพยักหน้าและสัญญา “คุณลุงว