LOGIN午前3時、隣に住むご近所さんから私にLINEが届いた。 「ちょっと静かにしてよ!この扉、防音なんてまるでないから、彼氏とイチャつくのを全部聞こえてくるのよ!」 だけど、その頃の私は、遠く離れた出張先にいた。 「4万をあげるから、録音して証拠を残してもらえない?クズ男を懲らしめるわ!」
View MoreBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
「ちょっと、これって今日婚約するって言ってたあの男じゃないの?めっちゃヤバいんだけど?」スタッフが急いで画面を消して平謝りする中、私は自分の腕をつねりながら涙を浮かべて周囲を見回した。「浩……まさか浩が……」浩の両親は慌てて弁解し始めた。「違う、絶対に何かの誤解だ!」しかし、英は私が持つカードをじっと見つめながら言った。「お姉さん、とにかくそのお金を兄さんに渡してよ!」浩は申し訳なさそうに顔を俯け、私と目を合わせようとしなかった。私は振り向くとその場を走り去った。浩が追いかけてきたが、私は全速力で逃げたため、彼はその場で私の名前を叫ぶだけだった。私が外に出た理由は、一瞬でも遅れたら笑いをこらえきれなくなりそうだったからだ。実はあの動画は、スタッフに念入りに頼んで再生してもらったものだった。本当はプランBも用意していたが、一回で成功したのは予想外だった。スマホには着信が絶え間なく表示されていたが、私はすぐに「おやすみモード」に切り替え、静寂を手に入れた。浩一家からは謝罪のメッセージが次々と届いたが、私はすべて無視。ただ、浩にだけ「別れよう」と四文字送った。その夜、浩は顔を腫らして家の前で土下座を始めた。私は恥をかきたくなかったので、彼を家に入れてやった。浩は頭を下げ続けながら謝罪した。私はその姿を利用することにした。彼の罪悪感を刺激して、一気にケリをつけるためだった。私はすすり泣きながら言った。「私たちが付き合ってからもう何年かしら……もう私を解放してくれない?いい形で別れようよ!」そう言うと、私は彼に山ほどの荷物を渡した。しかし、浩は執拗に食い下がった。「俺が悪かった!ずっと一緒にいたんだから、こんな簡単に終わらせる関係じゃないだろ!」その演技がバカバカしくて、私は一気に態度を変えた。彼を思い切り突き飛ばして家の外に出し、いくらドアを叩かれても無視した。浩が帰ったあと、私はすぐに部屋を片付け、物をすべて処分し、家を売り払う手続きをした。翌日、浩がやって来たとき、私はちょうど引っ越し作業の真っ最中だった。彼は目を見開いて私を見つめた。「引っ越すのか?」私は彼に向かって中指を立てた。「そうよ。ここに残って、あんたのくだらない演技を眺めるわけ?」「何を言って
私は何気ない様子で浩に話を振った。「ねえ、前のあの秘書、どうやら彼氏ができたみたいよ」浩の顔色が一気に青ざめた。「本当?どうしてわかったんだ?」私はさりげなくサブアカウントのインスタを見せた。「ほら、彼女が投稿してるのを見たのよ」浩は拳を固く握りしめ、何も言わずに黙り込んだ。翌日、私は浩を尾行した。彼は朝早くからレストランの前に現れ、水咲を待ち構えていた。水咲が姿を現すと、彼はすぐさま駆け寄り、彼女の腕を掴んで怒鳴りつけた。「これのどこが『時間がない』んだ!浮気してたな?ぶっ殺してやるよ!」幸い、周囲の人が二人を引き離してくれたが、水咲は明らかに怒り心頭だった。彼女は浩を指差しながら罵った。「あんた、頭おかしいんじゃない?そもそも私たち、付き合ってるわけじゃないんだから、何の権利があって私に文句言ってんのよ?今後近づかないでくれる?」浩は悔しそうに喚いた。「俺が落ちぶれたからって、偉そうにしてんじゃねえよ!」水咲はさらに言葉を重ねた。「お金もない、見た目も冴えない、そんなあんたと付き合う理由なんてどこにあるっていうのよ!」浩は拳を振り上げたが、彼女が一言でも多く口を開けば彼の怒りは爆発しそうだった。「もう一言でも言ってみろ。ぶっ殺すぞ!」目の前で繰り広げられる醜態を私は楽しみながら見ていた。いいぞ、もっとやれ!私はサブアカウントを開き、二人の写真を撮影して水咲に送信した。そして送信後、彼女を即座にブロックして証拠を残さないようにした。そのメッセージを見た水咲はさらにヒートアップし、浩を罵り続けた。「あんたみたいなクズ、金食い虫以外の何者でもないでしょ?しかも、肝心な場面で萎えちゃうし。お金のためだけに我慢してたのに、もうやってらんないわ!」周囲の視線を集めながら、二人の騒動は最高潮に達していたが、最後に警察が現れて二人とも連行され、一連の騒ぎはようやく終わった。その夜、浩が家に帰ってきたとき、声がすっかり枯れていた。「その声、どうしたの?」「……カラオケで歌いすぎて、喉がやられたんだ」彼は突然、目が覚めたように私にべったりとくっつくようになり、何をするにも私に従うようになった。――そろそろ、とどめを刺す時だ。私は浩の母親に電話をかけた。「おばさ
浩の浮気のこと、実は家族全員がとっくに知っていたなんて!結局、私一人を騙して、私のお金を当てにしてたってわけね。いいわ、やってくれるじゃない!その時、友人からメッセージが届いた。「英がどの会社に投資すればいいかって聞いてきたけど、どう答えればいい?」私は彼女にファイルを送った。「これ、私が新しく登録した会社だから、彼女にこれに投資させて」英は最初、慎重になって数千から数万円の小額だけ投資してきた。でもギャンブル好きの彼女は、一度味を占めるとどんどん大胆になっていった。最後には、手元にある1千万円全てを投じてしまい、結局、元本ごと吹き飛ばした。私は満足げに頷いた。これで、私が立て替えた分の返済が完了したわけだ。利子は取らないけど、そろそろネットを引き締める時ね。友人に、すぐに英をブロックするよう指示した。英は泣きながら私の元へ駆け込んできた。「お姉さん、少しお金を貸してくれない?」「どうしたの?最近ずっと稼いでるって言ってたじゃない」「お姉さん……正直に言うね。他の人に投資したら、全部パーだよ……もし両親に知られたら殺されるよ!お願い、助けて!」私は困ったふりをしてみせた。「ええ……でも私も最近、結婚の準備でお金が必要なのよ」「お姉さん、お願い……」英は泣き崩れ、その場で跪こうとした。私は慌てて彼女を止めた。「一つ方法があるけど……あなたがリスクを負えるかどうかね」英は溺れる者が藁をも掴むように、「どんな方法?何をすればいいの?」と食いついてきた。私は彼女の耳元で囁くように言った。「お兄さん、お金持ちじゃない?大きな会社を持ってるんだし。会社の公金をちょっと借りるだけよ。そのお金で投資して稼いで、元通りに返せば誰にもバレないわ」英は呆然とした表情で頷き、「そうね……絶対に稼げる……」とうわ言のように繰り返しながら、ふらふらと部屋を出て行った。私はすぐに会社の経理部に連絡を入れ、資金の動きを厳重に監視するよう指示した。浩が妹をどれだけ大事にしているか、見せてもらいましょう。数日後、経理から連絡が入った。英が公金を着服し、その金額は1億円に達していたという。1億円——そんな大金、返済したところで罪には違いない。法律を犯したことには変わらないのだ。英は
ここ数日、私はずっと英とやり取りを続けていた。彼女は私が金儲けの方法を教えてくれると信じ込んでいた。私はわざと加工した収益のスクリーンショットを何枚か送った。すると彼女は我慢できずに尋ねてきた。「お姉さん、一体どうやって稼いでいるの?教えてよ」「こういうことよ。私の友達が投資プラットフォームでアドバイザーをしていて、最近その子に教わりながら投資して、結構稼げたの。信じてくれるなら、その子のLINEの連絡先を教えるわ。彼女の指示に従えば、間違いなく大儲けできるわよ」私はサブアカウントのLINEアカウントを英に渡した。彼女はすぐに私を追加したものの、どうやらまだ私を完全には信じていないようで、その後連絡はなかった。だが私は全く焦らなかった。毎日友人リストに向けて、財産自慢の投稿を繰り返していた。すると、ついに英が試しに聞いてきた。「どうすればいいんですか?」私は唇を引き上げ、微笑んだ。魚がかかった。私は彼女に投資契約書を送った。もちろん彼女がそれを読めないことは知っている。案の定、彼女は聞いてきた。「これって、どういう意味ですか?」「要するに、私と一緒に投資をするってこと。私がどこに投資するか指示するから、その通りに動いて。絶対に勝手に判断して投資しちゃダメよ!」彼女は納得してその契約書にサインした。彼女は知らないだろうけど、その契約書には「損益は自己責任」とはっきり明記されていた。最初のうちは確かに、彼女も私に従って数十万円を稼げた。しかしその金額では徐々に満足できなくなってきた。そこで私は友人に別の会社に投資して倍の利益を得たスクリーンショットをグループに投稿させた。さらに信憑性を高めるために、すぐにその友人をグループから追い出し、「必ず私の指示に従って投資すること」を念押しした。案の定、英は欲を出して、その友人を個別に追加した。私は友人にまだ動かないよう指示し、毎日利益のスクリーンショットだけ投稿させた。その頃、彩子からメッセージが届いた。「ありがとうね。あなたがいなかったら、あのクズ男にずっと騙されてたわ」私は返信した。「ってことは…」「はぁ、別れたわよ!考えれば考えるほど、こんな奴と付き合ってた自分が恥ずかしい!感謝の気持ちを込めて、今度食事でもおごるわ」彩