Share

Bab 7

Author: SEVEN
Hatinya seolah dihantam keras, dan sorot matanya ikut bergetar.

Claire menyadari ada seseorang di belakangnya. Ia buru-buru melepaskan Nora. Begitu menoleh, pandangannya langsung bertabrakan dengan mata Edmund yang dalam dan sulit ditebak.

Deg... kepalanya seketika kosong.

Ia berbalik hendak lari.

Edmund dengan cepat meraih lengan Claire, menariknya ke bawah payungnya, menatap wajahnya yang pucat.

Seluruh tubuh Claire kuyup oleh hujan, kulitnya terasa dingin. Di bagian lutut celananya tampak samar bercak darah dan keseluruhan penampilannya tampak sangat lusuh dan malang.

"Kenapa lari? Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" Alisnya berkerut.

Jantung Claire nyaris meloncat keluar. Pikirannya kacau, tak sanggup merangkai alasan yang masuk akal.

Apa dia melihatku memeluk Nora?

Apa dia akan curiga?

"Papa, Papa juga datang! Tadi aku hampir ditabrak sepeda listrik. Kucing yang menyelamatkanku!"

Nora tepat waktu memecah kebekuan. Edmund pun melepaskan Claire, lalu menggendong bocah yang basah kuyup itu.

"Maaf, Papa terlambat."

Guru muda itu akhirnya menghela napas lega, mengira Claire dan Edmund hanya sedang bertengkar. Ia tersenyum sambil mencubit pipi Nora.

"Lihat, Bu Guru nggak salah bilang, kan? Papa dan Mama kan datang menjemputmu."

Hati Claire seperti tertusuk. Sakitnya membuat napasnya tersengal. Ia menggenggam jemari, mencengkeram telapak tangan sendiri untuk mengalihkan rasa perih.

Ia lalu memungut payung tuanya yang sudah rusak dari tanah, bersiap berbalik dan pergi.

"Naik mobil."

Pria itu melangkah maju, menghalangi jalannya.

Claire menunduk, menatap genangan air kecil di tanah yang memantulkan wajah Edmund yang dingin dan tegas.

"Nggak perlu."

Menghindarinya telah menjadi naluri.

"Kucing, hujannya deras sekali, ikut kami saja."

Dengan mata penuh harap, Nora memohon. "Papaku orangnya baik banget, dia pasti akan mengantarmu pulang."

Claire menahan diri untuk tidak menatap Nora. Ia takut tatapannya yang terlalu sarat kerinduan akan menimbulkan kecurigaan Edmund.

"Aku bisa pulang sendiri."

Edmund menyerahkan payung ke tangan Nora, lalu meraih pergelangan tangan Claire. Mata hitamnya dingin.

"Kamu naik sendiri ke mobil, atau aku yang menggendongmu naik?"

Claire menatapnya dengan panik. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu di depan anak?

Ia masih sama seperti enam tahun lalu, dominan dan memaksa.

Tak berdaya, ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya ditarik masuk ke mobil.

Edmund mengemudi. Ia dan Nora duduk di kursi belakang.

Nora menempel erat padanya. Mata yang mirip Edmund itu dipenuhi keceriaan, kedua kakinya berayun-ayun.

Edmund melemparkan sebuah kantong pelindung pakaian ke pangkuan Claire.

"Gantiin baju Nora."

Saat kantong itu dibuka, di dalamnya ada sebuah kaus polo hitam bergambar kucing oranye yang disulam, serta celana olahraga abu-abu. Labelnya masih terpasang, sepertinya dibeli di perjalanan kemari.

Ia khawatir Nora akan kehujanan, perhatiannya begitu teliti.

Saat berganti pakaian, Nora sangat kooperatif. Kepala bulatnya menyembul dari kerah baju.

"Kucing, kamu harum sekali… baunya seperti Mama."

Tangan Edmund mencengkeram setir dengan lebih erat. Dari sudut matanya, ia melirik ke kursi belakang, dua wajah, satu besar satu kecil.

Sulit dikatakan bagian mana yang mirip, tapi entah kenapa, suasananya terasa jauh lebih selaras dan hangat dibanding saat Yvonne bersama Nora.

Nora berdiri, mencondongkan kepala ke arah kursi pengemudi.

"Papa, aku lapar. Papa bawa aku dan Kucing makan, ya?"

Sudut bibir Edmund terangkat.

"Baik. Nora mau makan apa?"

Nora menoleh ke Claire.

"Kucing, kamu mau makan apa?"

Hati Claire berdebar tak menentu. Ia menggeleng.

"Aku nggak lapar. Turunkan aku saja, aku mau pulang."

Sikap menghindar yang nyaris dingin itu membuat Edmund agak kesal.

"Kamu harus merusak suasana hati anak?"

Claire terdiam.

Saat mobil berhenti, barulah ia tersadar, restoran yang dipilih Edmund adalah rumah makan privat yang pernah mereka datangi semasa kuliah dulu.

Restoran khas kelas atas, beraliran masakan pedas, kurang cocok untuk anak-anak.

Ia masih ingat pertama kali datang ke sini. Edmund memesan ruang VIP dengan santai. Empat atau lima pelayan perempuan berkebaya mondar-mandir melayani mereka. Saat itu, dirinya yang miskin dan serba kekurangan merasa sangat tidak terbiasa.

Interiornya yang mewah dan elegan membuatnya silau. Tanpa sadar ia bertanya, "Kalau kerja jadi pelayan di sini, gajinya pasti lumayan, ya?"

Raut Edmund langsung menggelap. Ia mencubit dagu Claire, nadanya tak senang.

"Kamu itu wanitaku, mana mungkin jadi pelayan?"

Latar keluarga yang unggul dan sifat angkuh membuat Edmund mengucapkan kalimat itu tanpa berpikir.

Claire pun merasa malu, menunduk menatap sepatu kanvasnya yang hampir terkelupas.

Kenangan berat menekan dadanya hingga sulit bernapas.

Manajer restoran bersepatu hak tinggi berlari kecil menyambut Edmund, membuka pintu mobil dengan tangannya sendiri. Saat melihat Claire, ia jelas tertegun.

Edmund memesan sebuah ruang VIP yang dilengkapi kamar mandi.

Manajer itu pun sangat peka, menyerahkan menu kepada Claire.

"Silakan, Nona Claire."

Tak punya pilihan, Claire menerima. Di antara deretan hidangan pedas dan berbumbu berat, ia memilih, telur kukus daging cincang, talas blueberry, tumis daging saus kecap, dan siomay telur asin.

Edmund menambahkan tahu pedas daging sapi dan hati tumis.

Padahal dia tidak suka daging sapi maupun jeroan.

Ruang VIP itu luas, meja bundarnya cukup untuk dua belas orang. Edmund memilih duduk dekat jendela. Claire memilih tempat yang jaraknya paling jauh darinya.

Seolah dipisahkan oleh meja perundingan, mereka saling berhadapan dalam diam. Suasananya ganjil.

Nora menarik tangan Claire.

"Kucing, kenapa kamu tidak duduk di sebelah Papa? Kamu takut sama dia, ya?"

Claire tak mampu menjawab, hanya tersenyum tipis dengan terpaksa.

Nyonya Selena pernah mengejeknya, bahwa sejak bersama dirinya, Edmund ikut ternodai oleh bau kemiskinan.

Edmund memang tak pernah mengatakannya secara langsung, tetapi setiap kali ia menunda janji temu karena pekerjaan sambilan, ketidakpuasan di mata Edmund menyampaikan makna yang tak jauh berbeda dengan ibunya

Kini, enam tahun berlalu, Edmund tampak semakin tak terjangkau. Lalu untuk apa ia merendahkan diri dan mempermalukan dirinya sendiri?

Tatapan Edmund tak pernah lepas dari wajahnya, sarat dengan penyelidikan yang tajam. Sorot mata hitamnya kian dalam dan dingin.

Melihat Claire tetap tak bergerak, kepala kecil Nora berputar-putar menimbang. Setelah pertimbangan berat, ia memilih duduk di samping Claire.

Pelayan datang menghidangkan makanan. Melihat susunan tempat duduk yang aneh di ruang VIP itu, ia tertegun, bingung harus meletakkan hidangan di depan siapa.

"Nora, bawa Kucing-mu duduk ke sini. Jangan mempersulit orang yang mengantar makanan," kata Edmund.

Nora mendengus.

"Papa, kenapa sih kamu galak begitu? Kalau Kucing tidak mau duduk sama Papa, kenapa Papa tidak datang sendiri ke sini?"

Yang berani berbicara seperti itu pada Edmund, hanya anak kandungnya.

Di depan Nora, Edmund tak sanggup meluapkan amarah. Tubuhnya yang tinggi tegap terdiam sejenak, lalu ia berdiri.

Lampu kaca di langit-langit berkilau. Bayangan hitam melintas di depan mata Claire. Aroma segar pria itu mendekat, membuatnya sedikit pusing.

Edmund menarik kursi di samping Claire dan duduk. Pandangannya melintas pada luka berdarah di sela ibu jari dan telunjuknya.

Claire pun menyeka darah di sela ibu jarinya dengan tisu. Rambutnya masih meneteskan air, dan sejak tadi ia terus menghindari tatapan Edmund.

Edmund menunduk, sorot matanya dingin. Ia membuka ponsel dan mengirim beberapa pesan.

Hidangan diantar satu per satu. Manajer restoran ikut masuk, menyerahkan sebuah kantong kertas kepada Edmund.

"Tuan Edmund, ini yang Anda minta."

Ia sangat tahu batas. Tak sepatah kata pun berlebihan. Namun saat pergi, pandangannya sempat berulang kali beralih antara wajah Claire dan Nora dengan ekspresi yang penuh makna.

Edmund menyelipkan barang itu ke dalam pelukan Claire.

"Pergi ganti di kamar mandi."

Claire terperangah.

Di dalamnya ada satu set pakaian, sebotol betadine, dan salep pereda bengkak.

Pakaian basah menempel di kulit, dingin, kaku, sangat tidak nyaman.

Masih banyak pekerjaan menunggunya. Ia tak boleh jatuh sakit.

Menggigit bibir, ia memeluk kantong itu dan masuk ke kamar mandi.

Gaun yang dibelikan Edmund untuknya adalah terusan lengan panjang sebatas lutut berwarna merah muda pucat, modelnya sederhana namun elegan.

Di hari hujan yang dingin, kainnya terasa hangat. Pasti telah dikeringkan terlebih dulu sebelum dikemas.

Ia lebih kurus daripada enam tahun lalu, namun ukuran yang dipilih Edmund ternyata pas.

Saat melihat label, jarinya menegang.

40 juta.

Harga gaun itu setara gaji sebulan shift malamnya di Starry Bar.

Namun saat ini, tak ada pilihan lain.

Luka di sela jari dan lututnya perih. Ia duduk di atas kloset, hendak membuka betadine...

Tapi pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

Edmund berdiri di sana, pandangannya jatuh pada lututnya yang belum sempat ia tutupi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 36

    Itu adalah Profesor Grant.Di satu tangannya ia menggandeng cucu perempuannya, sementara di bahunya tersampir ransel kelinci bertelinga panjang berwarna pink.Melihat putra Edmund memanggil Claire "Mama", ia tampak sangat terkejut.Bertemu kembali dengan Profesor Grant, Claire menundukkan kepalanya,

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 35

    "Tidak," jawab Claire tegas.Sorot mata Luna seketika menggelap, lalu cepat kembali tenang. Ia mengangguk, menyembunyikan senyum penuh makna di sudut matanya."Kalau memang tidak, bagus. Jangan mengusiknya, dan jangan pula sampai kamu diusik olehnya. Suamiku pernah bilang, di hati Tuan Edmund tersim

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 34

    Di telinga Claire seolah meledak suara petir. Dengan takut dan panik, ia menatap Edmund, menggigit bibirnya erat-erat, membiarkan rasa amis darah menyebar di tenggorokannya.Telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin. Jantungnya terasa seperti akan meloncat keluar detik berikutnya, lalu peca

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 33

    Pria itu mengulurkan lengannya yang panjang, merangkul pinggang ramping Claire, telapak tangannya menyusuri lekuk bulat pinggulnya.Seolah-olah dia telah melakukannya ribuan kali sebelumnya, begitu akrab sehingga dia bahkan mengendalikan tekanannya dengan sempurna.Claire bertubuh tinggi semampai, n

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 32

    Edmund melirik wajah Claire yang pucat dengan dingin, lalu dengan tenang mengalihkan pandangan.Fotografer berjalan mendekat, langsung terpesona oleh kecantikan Claire pada pandangan pertama.Postur tubuh, aura, penampilan, di segala aspek yang jauh melebihi ekspektasinya.Ia pun sudah tidak sabar u

  • Diam-diam Melahirkan Anak, Tuan Edmund Berlutut Memohon Rujuk   Bab 31

    Claire bersembunyi di belakang pos satpam di gerbang kompleks hingga melihat bayangan hitam yang berjalan tergesa-gesa itu meninggalkan area perumahan. Barulah ia sedikit menghela napas lega.Edmund adalah orang yang sombong. Ia menempatkan identitas dan harga dirinya di atas segalanya.Termasuk per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status