Mag-log in蘇我家の令嬢は、名家の男としか結婚しないとされていた。 しかし、今世代ただ一人の娘である蘇我優月(そが ゆづき)は、人生を賭けて田舎出身の男にすべてを託した。 橘承司(たちばな しょうじ)のために、彼女は祠堂の前に跪き、99回の杖打ちの刑に処された。 一打ごとに血がにじみ、裂けた皮膚の奥から赤い肉がむき出しになっていく。 川となるほどの血が青い石畳の隙間を流れていたが、彼女は歯を食いしばり、一言ずつを絞り出すように言った。 「10年が欲しい」 優月の父は怒鳴った。 「10年で何も成し遂げられなければ、お前の足を折ってでも連れ戻す!」 彼女は血の光を湛えた目で見上げ、きっぱりと笑いながら答えた。 「それでいいわ」 優月は、自分の人生を10年という歳月に賭けた。 二人が愛し合ったその10年の間に、優月は承司に98回プロポーズした。 だが彼は毎回、彼女にもう少し待ってほしいと言うだけだった。 最初のプロポーズの時、彼は眉をひそめて言った。 「仕事がまだ安定していない。もう少し待ってくれ」 それを聞くと、彼女は迷うことなく、貯めていた全ての私財を彼の会社につぎ込み、胃潰瘍になるほど酒を飲み続けた。ついに、初の2億円大口契約を締結した。 ……
view more“Jangan menatapnya terlalu lama. Kau bisa lupa siapa dirimu.”
Ana mengangkat wajahnya dari cermin kecil di ruang rias. Suara itu datang dari pelayan tua di belakangnya—yang hari ini ditugaskan mendandani Putri Clarissa.
Ana hanya menunduk dalam. Tangannya gemetar saat menyentuh bros emas yang tersemat di dada gaunnya. Gaun itu bukan miliknya. Nama ini pun bukan miliknya. Namun malam ini, ia akan melangkah ke tengah aula sebagai Putri Clarissa—dalam acara pertunangan politik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semuanya demi sang Ratu. Ia merasa terjebak di sana. Padahal ia hanyalah seorang koki yang ditugasi untuk membuat kue tart ulang tahun untuk sang putri. Tak dinyana, tiba-tiba ia diseret masuk ke dalam ruang rias sang putri.
Sebuah veil tipis menutupi wajahnya, menyamarkan identitas yang ia pinjam. Beberapa kali ia menghela nafas sesak. Ia tidak bisa melarikan diri seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Takdir sedang mempermainkannya.
“Yang Mulia menunggu di aula. Ingat, Ana Merwin, kau bukan siapa-siapa.” Wanita bersanggul Valmere Knot itu berkata dengan nada sinis.
Ana mengangguk perlahan lalu menegakkan punggungnya. Jantungnya berdentum keras di balik tulang rusuknya. Setiap langkah terasa berat seperti sedang berkelana di hutan belantara. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia bisa pulang atau justru malah tersesat.
Aula megah disulap begitu indah. Mata Ana menyipit tatkala disambut oleh cahaya berasal dari chandelier lilin yang berkilauan. Beberapa detik ia merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya. Semua netra langsung terpacak padanya. Bisik-bisik para tamu undangan pun mulai menggema ke udara.
“Putri Clarissa menjadi tumbal sang Ratu,” ujar salah satu duchess di balik kipas bermotif heraldik yang menutupi setengah wajahnya.
“Ratu Seraphina sangat mencintai Putri Clarissa sampai pernikahannya pun diatur,” jawab yang lain dengan nada satir.
“Kalian tahu, pangeran dari keluarga Ravensel itu monster. Tak ada satu wanita pun yang tertarik padanya. Dia hanya pangeran yang terbuang, keji dan pembunuh berdarah dingin,” imbuh yang lain ikut memprovokasi. Seketika gosip itu langsung memanas di telinga Ana.
Pantas, Putri Clarissa tidak bersedia dijodohkan dengan pria semacam itu. Sepengetahuan dirinya, gadis itu menyukai pria yang tampan.
“Aku dengar, dia bahkan membunuh ibu kandungnya sendiri,” kata yang lain sembari saling lirik penuh arti saat Ana melewati mereka.
Perasaan Ana makin tak karuan setelah mendengar gunjingan mereka. Ia merasa seperti sedang berada di tiang gantung. Seburuk itu kah calon suami Putri Clarissa?
“Kau tau, dia memakai topeng phantom karena wajahnya terluka saat perang. Ia cacat dan buruk rupa. Lengkap sudah, siapa juga yang mau menikah dengannya kalau karena bukan kepentingan politik,” lanjut wanita lain yang ikut bergabung bersama mereka.
Sebelum Ana sempat mundur, gadis bangsawan lain sudah menarik tangannya. Ia adalah sepupu Putri Clarissa dari sang raja, Lady Amber yang terkenal dengan kecerdasannya dalam ilmu hitung.
“Selamat ya! Aku harap kau bisa bersenang-senang dengan pangeran itu. Tak apalah dia berwajah jelek, tapi kau bisa mendapatkan kompensasi, kan? Kekuasaan, kekayaan… yah, apa pun yang diimpikan gadis-gadis istana.”
Amber tertawa pelan, manja, tanpa menyadari kekakuan Ana. Ia benar-benar tidak menyadari siapa gadis yang diajak bicara olehnya.
“Ayahku bilang kau sangat beruntung dijodohkan dengannya. Katanya, hanya karena dia cacat dan temperamental, kau bisa mendapatkan hak veto dalam istana kelak! Bukankah itu menguntungkan?” Amber terkikik. Ia memang gadis yang ekspresif.
Ana hanya menghela nafas pelan mendengar celotehan gadis berambut pirang itu.
Amber berjalan mendekatinya, berbisik pelan. “Asal kau kuat menahan baunya saja. Mulutnya bau seperti telur busuk dan bawang putih mentah. Dia jarang mandi dan lebih sering bermandikan darah,”
Ana semakin bergidik ngeri mendengar ucapan Lady Amber meskipun dengan nada setengah bercanda. Bukan tanpa alasan, para putri bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama tentang pangeran itu.
Tubuh Ana membatu, bukan hanya karena rasa takut, tapi karena perasaan getir dan amarah yang menyesakkan dada. Ia hanyalah pelayan istana yang dipaksa mematuhi perintah sang ratu. Ia tidak bisa memilih.
“Lady Amber...” Ana akhirnya membuka suara, datar. “Apa kau selalu mengukur cinta dan pernikahan dengan fisik dan jabatan?”
Tunggu, Lady Amber merasa asing mendengar suara Putri Clarissa yang terdengar lain. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan Ana, ia langsung ditarik oleh ibunya, Lady Leoni.
“Aku pinjam dulu, Amber, Clarissa,” kata Lady Leoni tersenyum canggung pada Ana. Lalu ia menarik pergelangan tangan putrinya. “Kau harus berkenalan dengan putra bangsawan dari timur. Ayo!”
Ana hanya mendesah pelan tatkala melihat kepergian mereka. Ia hampir terpancing dan membongkar identitasnya sebagai Putri Clarissa yang palsu.
Semua orang membungkuk menghormatinya. Mereka menatap Ana dengan tatapan yang rumit. Di balik Veil, Ana justru menatap mereka dengan tatapan tajam. Ia menekuri setiap orang yang berada di sana. Dalam hati, ia bertanya, apakah di antara mereka adakah yang masih berhubungan darah dengannya?
Tak berselang lama, para tamu undangan yang berasal dari para bangsawan tinggi itu menoleh dengan keheranan ke arah yang lain, saat Pangeran Leonhart Ravensel muncul dari balik lengkungan gerbang istana yang menjulang pongah dan diselimuti aura kelam yang membuat bulu kuduk meremang.
Para putri bangsawan yang hadir menahan nafas saat pria itu melangkah melewati mereka. Seakan pangeran yang dijuluki the Black Phantom itu adalah jelmaan dewa iblis yang bisa menghabisi siapapun yang tidak disukainya.
Topeng besi menutupi separuh wajahnya. Terlihat misterius. Sorot matanya tajam, tak bisa dibaca. Semua orang membisu—bukan karena terpana, tapi takut.
Menurut rumor yang beranak pinak, wajahnya cacat karena luka perang sehingga mengenakan topeng phantom. Ia juga pernah menghabisi seorang penjaga hanya karena melihat wajahnya tanpa izin. Ia bukan pangeran yang di elu-elukan oleh para wanita. Ia adalah pangeran yang terbuang.
Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti… tepat di hadapannya.
Tubuh Ana bergetar hebat. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa?
「私は違う……」承司の声にはわずかな悲しみと無力感が混ざっていた。彼は説明しようとしたが、優月に遮られた。「もういいわ。私の生活にもう関わらないで。今は幸せなの」優月の声には疲れと決意が混じっている。彼女の瞳にはかつての優しさや期待はなく、ただ確固たる冷たさだけが残っていた。彼女はもう承司の説明も気遣いも必要としなかった。ただ、彼に自分の人生から去ってほしかった。彼女は今の幸せを、何の邪魔もなく静かに味わいたい。承司は優月の背中を見つめ、絶望でいっぱいの眼差しを向けた。彼の声は嗚咽を含んでいたが、誰にも届かなかった。「優月、ごめん……」彼の声は風にかき消され、誰も聞かなかった。彼は苦しみの中で、自分が蒔いた種の報いに直面するしかなかった。彼の涙は音もなくこぼれ、苦く冷たかった。この人生で唯一失ってはならないものは優月だけだと、彼はようやく気づいた。彼は残りの人生をかけて罪を償うつもりだ。承司は去った。優月と和墨の幸せな生活を邪魔し続けることはなかった。彼は疲れ果てた体を引きずり、かつて一緒に住んだ家へ戻った。その空っぽの家には、過去の思い出が空気に満ちていた。彼はドアを押し開けると、まるで優月がどこかの隅でまだ彼を待っているかのように、馴染み深い香りが彼を包み込んだ。彼はゆっくりとリビングに入り、かつて写真で溢れていた額縁に目を落とした。写真の中の彼女は、輝く笑顔で未来への期待に満ちていた。承司は手を伸ばし、額縁をそっと撫でた。指先が冷たいガラスに触れたが、まるで彼女の温かい肌に触れたかのようだった。彼はキッチンに入り、冷蔵庫を開けた。中は空っぽで、隅に少しだけ期限切れの食材が残っていた。かつて、優月がここで何度も朝食を作ってくれた。どの料理も優月の心が込められていた。今はただ静寂だけがそこにあった。彼は寝室に向かい、ベッドシーツにはまだ彼女の匂いが残っていた。ほのかな香りが彼を息苦しくさせた。彼はそのベッドに横になり、目を閉じると、まるで彼女の体温がまだ感じられるようだった。「優月、どこにいる?」彼の声には嗚咽が混じっていたが、返事はなかった。承司はバルコニーへ行き、外の懐かしい景色を眺めた。かつて二人でここから日の出と日没を見て、夢を語り合った場所だっ
しかし今回は、優月は振り返りもせず、そのまま立ち去った。承司はもがこうとしたが、全く力が入らず、心は絶望と自責で満ちていた。意識を失う直前の一瞬、彼はふと思い出した。あの時、優月が彼を引き止めたとき、承司はためらわずに結愛の元へ行き、優月を一人置き去りにした。その時の優月も今の自分のように絶望していたのだろうか?胸に激しい痛みが湧き上がり、彼は最後の力を振り絞って小さくつぶやいた。「優月、ごめん……」和墨が再び目を覚ました時、自分が病院のベッドに横たわっていることに気づき、体にはまだ火災現場の熱さが残っていた。彼は意識を失う前の最後の状況を必死に思い出そうとした。彼は入口までたどり着いたが、ドアはすでに炎に包まれ、重く彼の体に倒れかかっていた。あの激しい痛みは、今もなお神経の端々で脈打つように残っている気がした。彼は周囲を見回すと、隣に座っていたのは夢にまで見た優月ではなく、承司だった。「目が覚めたか?」承司は無意識に和墨の様子がおかしいと感じた。「どういう意味だ?」和墨は微笑みながら言った。「お前が飲んだあの水には、俺の仕業だ」承司は驚きのあまり彼を見つめ、怒りの色を帯びた声で言った。「お前がやったのか?じゃあ、なぜ自分自身も巻き込んだんだ?」和墨は答えず、ベッド横の棚から箱を取り出して承司に手渡した。承司は箱を開け、中にはアルバムや日記、優月に関するさまざまな品物が詰まっていた。写真一枚一枚、日記のページのすべてに優月のささやかな日常が記録されており、空白の隅には和墨の字で彼女への思いと気遣いが綴られていた。承司の手はわずかに震えた。彼はそれらの日記やアルバムをめくりながら複雑な感情に襲われ、声を詰まらせて言った。「優月が好きなのか?」和墨は優しい微笑みを浮かべ、目には温かさが宿っていた。「そうだ。16歳の頃からもう12年になる」彼は間を置き、続けた。「あの時、優月は俺を救ってくれた。彼女が18歳の時、俺は告白しようと思っていたが、彼女はA市の大学に行ってしまって、お前が先に取ったんだ」和墨は再び微笑んだ。「お前が優月の良さを見抜けなかったおかげで、俺にチャンスが回ってきたんだ」承司の顔は一瞬で青ざめた。「お前たちは単なる政略結婚だろ?
承司は全身に傷を負い、出てきたときにはほとんど命を落としそうだった。2週間休み、意識がやっと戻ったが、体はまだ完全には回復していないまま、病院から這い出した。彼はまるでゾンビのように、疲れ切った体を引きずりながら、病院の正門をゆっくりと出て行った。一歩一歩が綿の上を踏んでいるようで、ふわふわとして力が入らなかった。彼は大金を使い、あらゆる手を尽くして、ついに草薙家の邸宅に入り、そこでは警備員の一人となった。毎日、承司は優月と和墨の仲睦まじい様子を見て、心が裂ける思いだった。優月が何気なく町の北側のケーキが食べたいと言った。30分後、そのケーキ屋のシェフが全ての道具を持って直接邸宅に来て、その場で作り始めた。キッチンには甘い香りが漂い、優月の顔には幸福な笑みが溢れていた。承司は遠くから彼女の満足そうな表情を見つめ、胸の奥が締めつけられるような切なさに包まれていた。彼は覚えている。彼女もかつてある有名店のケーキが食べたいと言ったが、彼はいつも仕事が忙しいと言い訳をして断っていた。今では、彼女が欲しいケーキは、和墨がすぐに用意してくれた。優月が昼寝をしているとき、寝返りを打って眉をひそめた。和墨はすぐに邸宅のカーペットをすべて防音素材に取り替え、彼女が眠っている間に誰にも邪魔されないようにした。優月が目を覚ますと、部屋が非常に静かになっていることに驚き、感動の色を浮かべた。承司は隅に立ち、これらすべてを見ると、心に深い痛みを感じていた。彼は覚えている。彼女も昼寝の騒音が原因でよく眠れないと不満を言っていたが、彼はいつも気に留めなかった。彼女が欲しかった静けさは、和墨なら簡単に与えられた。優月がテレビを見ているとき、チューリップが綺麗だと呟いた。その日の午後、オランダから空輸され、まだ露のついたチューリップが彼女の鉢に届けられた。優月はその美しい花を見て、目に喜びの色を浮かべた。承司は遠くから彼女の幸福そうな様子を見て、心の中は絶望でいっぱいだった。彼女もかつてチューリップが好きだと言っていたが、彼はいつも忘れていた。彼女が求める美しさは、和墨ならすぐに与えられた。ましてや、何気ない日々の願いにすら、和墨は一つ残らず応えてみせた。彼女が寒いと言えば、和墨はすぐに邸宅全体の暖房
和墨の声は低く冷たく、一言一言が歯の隙間から絞り出されるようで、果てしない恨みを帯びていた。「京市の蘇我家の令嬢は、ただ名家に嫁ぐものだ。しかし優月はお前のために、蘇我家令嬢の身分を捨てた。お前と共にゼロから企業を立ち上げ、苦楽を共にしてきた。子どもの頃から彼女が味わった最大の苦労はせいぜいアイスアメリカーノの苦さくらいだった。でも、お前のためにどれほど多くの苦しみを耐えてきたと思っているんだ」承司は顔を上げ、目には恐怖と絶望が満ちていた。震える声で言い訳を試みた。「俺が悪いのは分かっている……」和墨は彼を遮り、冷たい声で言った。「分かってるって?優月がどれだけお前のために犠牲を払ったか知ってるのか?この10年間、彼女がお前のためにどれだけ我慢してきたか知ってるのか?あるいは彼女が何を捨ててきたか知ってるのか?」彼の声は次第に高まり、憤怒と恨みが込み上げていた。「彼女はお前のために蘇我家令嬢の身分を捨て、ゼロから今に至るまで付き合ってきた。なのに、お前は何度も彼女を裏切り、傷つけてきた。『ごめん』一言で償えると思っているのか?」承司の体は微かに震え、目には絶望が溢れていた。彼は小さな声で言った。「俺は……知らなかった……」和墨は嘲笑し、目には軽蔑の色が満ちていた。「知らなかった?最初から全部知っていたくせに。ただ自分の利益だけを考え、優月の気持ちは一度も考えなかった。何度も裏切り傷つけたくせに、まだ彼女が許してくれると思っているのか。お前はあまりにも愚かだ、橘承司!」和墨の声は突然冷酷で無情なものになった。「誰か!奴に999回の杖打ちをしろ!優月の痛みを倍にして味わわせろ!」二人のボディーガードは合図と共に動き、承司を素早く押さえつけた。承司は抵抗し、目には恐怖と絶望が満ちていた。「や……やめて……」彼の声は嗚咽を含んでいたが、誰も耳を貸さなかった。和墨は傍らに立ち、氷のように冷たい目でボディーガードが杖を高く振り上げるのを見つめた。「1回目は、優月が蘇我家令嬢の身分を捨てたことの償い」「2回目は、優月がお前と一緒にゼロから始めたことへの償い」「3回目は、優月が受けた数々の苦しみに対しての償い」……「999回目は、優月の10年の青春に対しての償い」毎回