Short
共白髪なき雪の余生

共白髪なき雪の余生

By:  載酒慕默ddKumpleto
Language: Japanese
goodnovel4goodnovel
22Mga Kabanata
11.9Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

蘇我家の令嬢は、名家の男としか結婚しないとされていた。 しかし、今世代ただ一人の娘である蘇我優月(そが ゆづき)は、人生を賭けて田舎出身の男にすべてを託した。 橘承司(たちばな しょうじ)のために、彼女は祠堂の前に跪き、99回の杖打ちの刑に処された。 一打ごとに血がにじみ、裂けた皮膚の奥から赤い肉がむき出しになっていく。 川となるほどの血が青い石畳の隙間を流れていたが、彼女は歯を食いしばり、一言ずつを絞り出すように言った。 「10年が欲しい」 優月の父は怒鳴った。 「10年で何も成し遂げられなければ、お前の足を折ってでも連れ戻す!」 彼女は血の光を湛えた目で見上げ、きっぱりと笑いながら答えた。 「それでいいわ」 優月は、自分の人生を10年という歳月に賭けた。 二人が愛し合ったその10年の間に、優月は承司に98回プロポーズした。 だが彼は毎回、彼女にもう少し待ってほしいと言うだけだった。 最初のプロポーズの時、彼は眉をひそめて言った。 「仕事がまだ安定していない。もう少し待ってくれ」 それを聞くと、彼女は迷うことなく、貯めていた全ての私財を彼の会社につぎ込み、胃潰瘍になるほど酒を飲み続けた。ついに、初の2億円大口契約を締結した。 ……

view more

Kabanata 1

第1話

“Jangan menatapnya terlalu lama. Kau bisa lupa siapa dirimu.”

Ana mengangkat wajahnya dari cermin kecil di ruang rias. Suara itu datang dari pelayan tua di belakangnya—yang hari ini ditugaskan mendandani Putri Clarissa.

Ana hanya menunduk dalam. Tangannya gemetar saat menyentuh bros emas yang tersemat di dada gaunnya. Gaun itu bukan miliknya. Nama ini pun bukan miliknya. Namun malam ini, ia akan melangkah ke tengah aula sebagai Putri Clarissa—dalam acara pertunangan politik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Semuanya demi sang Ratu. Ia merasa terjebak di sana. Padahal ia hanyalah seorang koki yang ditugasi untuk membuat kue tart ulang tahun untuk sang putri. Tak dinyana, tiba-tiba ia diseret masuk ke dalam ruang rias sang putri.

Sebuah veil tipis menutupi wajahnya, menyamarkan identitas yang ia pinjam. Beberapa kali ia menghela nafas sesak. Ia tidak bisa melarikan diri seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Takdir sedang mempermainkannya.

“Yang Mulia menunggu di aula. Ingat, Ana Merwin, kau bukan siapa-siapa.” Wanita bersanggul Valmere Knot itu berkata dengan nada sinis. 

Ana mengangguk perlahan lalu menegakkan punggungnya. Jantungnya berdentum keras di balik tulang rusuknya. Setiap langkah terasa berat seperti sedang berkelana di hutan belantara. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia bisa pulang atau justru malah tersesat.

Aula megah disulap begitu indah. Mata Ana menyipit tatkala disambut oleh cahaya berasal dari chandelier lilin yang berkilauan. Beberapa detik ia merasa seperti seorang putri yang sesungguhnya. Semua netra langsung terpacak padanya. Bisik-bisik para tamu undangan pun mulai menggema ke udara.

“Putri Clarissa menjadi tumbal sang Ratu,” ujar salah satu duchess di balik kipas bermotif heraldik yang menutupi setengah wajahnya.

“Ratu Seraphina sangat mencintai Putri Clarissa sampai pernikahannya pun diatur,” jawab yang lain dengan nada satir.

“Kalian tahu, pangeran dari keluarga Ravensel itu monster. Tak ada satu wanita pun yang tertarik padanya. Dia hanya pangeran yang terbuang, keji dan pembunuh berdarah dingin,” imbuh yang lain ikut memprovokasi. Seketika gosip itu langsung memanas di telinga Ana.

Pantas, Putri Clarissa tidak bersedia dijodohkan dengan pria semacam itu. Sepengetahuan dirinya, gadis itu menyukai pria yang tampan.

“Aku dengar, dia bahkan membunuh ibu kandungnya sendiri,” kata yang lain sembari saling lirik penuh arti saat Ana melewati mereka.

Perasaan Ana makin tak karuan setelah mendengar gunjingan mereka. Ia merasa seperti sedang berada di tiang gantung. Seburuk itu kah calon suami Putri Clarissa?

“Kau tau, dia memakai topeng phantom karena wajahnya terluka saat perang. Ia cacat dan buruk rupa. Lengkap sudah, siapa juga yang mau menikah dengannya kalau karena bukan kepentingan politik,” lanjut wanita lain yang ikut bergabung bersama mereka.

Sebelum Ana sempat mundur, gadis bangsawan lain sudah menarik tangannya. Ia adalah sepupu Putri Clarissa dari sang raja, Lady Amber yang terkenal dengan kecerdasannya dalam ilmu hitung.

“Selamat ya! Aku harap kau bisa bersenang-senang dengan pangeran itu. Tak apalah dia berwajah jelek, tapi kau bisa mendapatkan kompensasi, kan? Kekuasaan, kekayaan… yah, apa pun yang diimpikan gadis-gadis istana.”

Amber tertawa pelan, manja, tanpa menyadari kekakuan Ana. Ia benar-benar tidak menyadari siapa gadis yang diajak bicara olehnya. 

“Ayahku bilang kau sangat beruntung dijodohkan dengannya. Katanya, hanya karena dia cacat dan temperamental, kau bisa mendapatkan hak veto dalam istana kelak! Bukankah itu menguntungkan?” Amber terkikik. Ia memang gadis yang ekspresif. 

Ana hanya menghela nafas pelan mendengar celotehan gadis berambut pirang itu.

Amber berjalan mendekatinya, berbisik pelan. “Asal kau kuat menahan baunya saja. Mulutnya bau seperti telur busuk dan bawang putih mentah. Dia jarang mandi dan lebih sering bermandikan darah,”

Ana semakin bergidik ngeri mendengar ucapan Lady Amber meskipun dengan nada setengah bercanda. Bukan tanpa alasan, para putri bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama tentang pangeran itu. 

Tubuh Ana membatu, bukan hanya karena rasa takut, tapi karena perasaan getir dan amarah yang menyesakkan dada. Ia hanyalah pelayan istana yang dipaksa mematuhi perintah sang ratu. Ia tidak bisa memilih.

“Lady Amber...” Ana akhirnya membuka suara, datar. “Apa kau selalu mengukur cinta dan pernikahan dengan fisik dan jabatan?”

Tunggu, Lady Amber merasa asing mendengar suara Putri Clarissa yang terdengar lain. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan Ana, ia langsung ditarik oleh ibunya, Lady Leoni. 

“Aku pinjam dulu, Amber, Clarissa,” kata Lady Leoni tersenyum canggung pada Ana. Lalu ia menarik pergelangan tangan putrinya. “Kau harus berkenalan dengan putra bangsawan dari timur. Ayo!”

Ana hanya mendesah pelan tatkala melihat kepergian mereka. Ia hampir terpancing dan membongkar identitasnya sebagai Putri Clarissa yang palsu. 

Semua orang membungkuk menghormatinya. Mereka menatap Ana dengan tatapan yang rumit. Di balik Veil, Ana justru menatap mereka dengan tatapan tajam. Ia menekuri setiap orang yang berada di sana. Dalam hati, ia bertanya, apakah di antara mereka adakah yang masih berhubungan darah dengannya? 

Tak berselang lama, para tamu undangan yang berasal dari para bangsawan tinggi itu menoleh dengan keheranan ke arah yang lain, saat Pangeran Leonhart Ravensel muncul dari balik lengkungan gerbang istana yang menjulang pongah dan diselimuti aura kelam yang membuat bulu kuduk meremang.

Para putri bangsawan yang hadir menahan nafas saat pria itu melangkah melewati mereka. Seakan pangeran yang dijuluki the Black Phantom itu adalah jelmaan dewa iblis yang bisa menghabisi siapapun yang tidak disukainya.

Topeng besi menutupi separuh wajahnya. Terlihat misterius. Sorot matanya tajam, tak bisa dibaca. Semua orang membisu—bukan karena terpana, tapi takut.

Menurut rumor yang beranak pinak, wajahnya cacat karena luka perang sehingga mengenakan topeng phantom. Ia juga pernah menghabisi seorang penjaga hanya karena melihat wajahnya tanpa izin. Ia bukan pangeran yang di elu-elukan oleh para wanita. Ia adalah pangeran yang terbuang.

Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti… tepat di hadapannya. 

Tubuh Ana bergetar hebat. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa?

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Walang Komento
22 Kabanata
第1話
蘇我家の令嬢は、名家の男としか結婚しないとされていた。しかし、今世代ただ一人の娘である蘇我優月(そが ゆづき)は、人生を賭けて田舎出身の男にすべてを託した。橘承司(たちばな しょうじ)のために、彼女は祠堂の前に跪き、99回の杖打ちの刑に処された。一打ごとに血がにじみ、裂けた皮膚の奥から赤い肉がむき出しになっていく。川となるほどの血が青い石畳の隙間を流れていたが、彼女は歯を食いしばり、一言ずつを絞り出すように言った。「10年が欲しい」優月の父は怒鳴った。「10年で何も成し遂げられなければ、お前の足を折ってでも連れ戻す!」彼女は血の光を湛えた目で見上げ、きっぱりと笑いながら答えた。「それでいいわ」優月は、自分の人生を10年という歳月に賭けた。二人が愛し合ったその10年の間に、優月は承司に98回プロポーズした。だが彼は毎回、彼女にもう少し待ってほしいと言うだけだった。最初のプロポーズの時、彼は眉をひそめて言った。「仕事がまだ安定していない。もう少し待ってくれ」それを聞くと、彼女は迷うことなく、貯めていた全ての私財を彼の会社につぎ込み、胃潰瘍になるほど酒を飲み続けた。ついに、初の2億円大口契約を締結した。二度目のプロポーズの時、彼はため息をついて言った。「会社が立ち上がったばかりだ。もう少し待って」彼女は徹夜で企画を練り、40度の高熱を出した。そのため商談会の場で倒れたが、目を覚まして最初にこう話した。「契約、決まった?」……彼女は98回プロポーズし、99回も彼を待った。その間、優月は承司と共に、貧乏から這い上がり、ついには上場企業の鐘を鳴らすまでの道を歩んできた。18歳の少女だった彼女は、28歳になるまで耐え続けた。だが昨夜、一通の匿名メールが届いた。高画質の映像の中、承司は神原結愛(かんばら ゆあ)を抱きしめ、役所で優しく笑っていた。「結愛、結婚しよう」日付は5年前だ。結婚相手は、承司の幼なじみである結愛だ。その瞬間、優月は掃き出し窓の前に立ち、指先を掌に強く押し込んだ。掌から滲み出した血が、まるで咲き誇るバラのようにガラスに滴り落ちた。彼女はかすかに呟いた。「10年も待ってたなんて、私ってバカだったね」優月は全身鏡の前に立ち、鏡には彼女の白皙
Magbasa pa
第2話
優月の胸の中に残った最後のぬくもりが抜け落ちたその瞬間、ドアノブが静かに回り、聞き慣れた足音が鈍い刃物のように、少しずつ彼女の神経を切り裂いていった。彼女は慌てて涙をぬぐい、パソコンを閉じた。その動作はまるで死体を隠すように素早かった。「優月、好きなチョコレートケーキを買ってきたよ」承司の声はいつも通り優しかった。彼はドアを押し開けて、彼女の大好きなスイーツボックスを持って現れた。その笑顔は、もはや息苦しいほどだった。ふだんなら、優月はとっくに彼の胸に飛び込んで甘えていただろう。だが今、彼女はその顔をじっと見つめながら、心臓が見えない手で締めつけられているような苦しさに、言葉を失っていた。「会社で何があったの?」承司は一瞬はっとし、目にかすかな動揺がよぎったが、すぐに落ち着きを取り戻した。「ちょっとした問題だよ。心配しないで」彼は口ごもりながら答えたが、彼女の目を見ようとしなかった。優月は、爪を掌に深く食い込ませた。鋭い痛みが、これが夢ではなく現実だと突きつけてきた。「顔色が悪いな。体調、良くない?」彼が額に触れようと手を伸ばすと、彼女は反射的にその手をかわした。「大丈夫。ただ生理が来たみたいよ。家に鎮痛剤がないから、買ってきてくれる?」承司は眉をひそめ、目に浮かぶ心配の色を隠しきれず、彼女の額に手を伸ばそうとした。「じゃあ、横になってて。すぐ戻るから」その優しさは変わらず耳に心地よく響くはずだったが、今の彼女には、ただただ不快でしかなかった。彼女は思わずその手を避けた。彼が出ていこうとしたとき、何かを思い出したように、ポケットからC社の口紅を取り出した。ライトに照らされたピンク色が目に刺さるように鮮やかだった。「最近この色が流行ってるって聞いて、買ってきたんだ」優月はその口紅を見つめ、指先がかすかに震えた。「YA」の文字が、まるで烙印のように底面に刻まれている。「こんな色、私は使わない。好きじゃないから、ほかの人にあげて」承司の表情が凍りつき、ぎこちなく笑ってから、足早に部屋を後にした。ドアが閉まった瞬間、彼女はスマホを開いた。結愛の最新の投稿が目に飛び込んできた。【限定口紅をくれて、ありがとう、承司。愛してるよ!】写真の中には、あのピンクの口紅が結愛の手のひらに収
Magbasa pa
第3話
承司は一晩中帰らなかった。夜が明け始めたころ、彼はドアを押し開け、タバコと酒、そして安っぽい香水が混ざった匂いをまとい、ふらふらと寝室に入ってきた。彼のシャツの襟は歪み、鎖骨のあたりには真紅の口紅の跡が新しい傷のように残っていた。それは朝の光の中で、目に痛いほど鮮烈で、息が詰まるようだった。優月は窓辺に立ち、指先でカーテンをぎゅっと握りしめていた。指節は血の気を失い、白くなっていた。振り返ることなく、彼女はガラス越しの映り込みで、その赤い痕をはっきりと見た。「優月……」承司の声はかすれており、隠しきれない疲れと動揺がにじんでいた。彼が言い訳をしようとしたその瞬間、優月が振り向いて視線を向けたことで、彼の喉はまるで何かに締めつけられたように詰まった。彼女の瞳は深く黒く輝き、その奥には抑えきれない怒りが燃えていた。「昨夜、どこに行ってたの?」承司は喉を鳴らしながら、目を逸らして言った。「接待で、飲みすぎただけ……」優月は突然笑いながら、彼に一歩近づき、指先で優しく彼の襟元を撫でた。その仕草はかえって恐ろしく優しかった。だが次の瞬間、彼女の爪がその口紅の跡を鋭く掴んだ。皮膚を引き裂かんばかりの力だった。「接待?」承司の顔色は一気に蒼白になり、唇が震えたが、一言も返せなかった。彼女が手を離すと、掌には彼の冷たい汗がべったりと付いていた。彼女は背を向け、その声は恐ろしいほど静かだった。「シャワー浴びてきて。臭いがひどすぎるわ」その後、承司は彼女のご機嫌を取るために、彼女をオークション会場へ連れて行った。会場で彼は償うように狂ったようにパドルを上げていた。優月の目が2秒以上留まったものは、すべて落札した。会場の人々はその様子に感嘆し、ざわめいた。「橘社長、彼女にすごく優しいよね。あんなに高価なアクセサリー、欲しいと言ったらすぐ買ってあげるなんて」「聞いたところによると、彼らはもう10年も一緒にいるらしいよ。彼女は、橘社長が一から事業を始めるのをずっと支えてきたの。そろそろ結婚かもね」優月は貴賓席に静かに座り、指先でワイングラスをなぞっていた。賞賛の声に耳を傾けながら、彼女は一瞬、意識が宙に浮いたような感覚に襲われた。彼女もかつては、自分と承司の絆は決して壊れないものだと信じて
Magbasa pa
第4話
会場は騒然となった。承司はその場に固まり、顔は真っ青になり、唇を震わせながらも、一言も発せなかった。優月は手を引き、掌に残る熱さに顔をしかめた。だがその痛みは、胸の痛みの万分の一にも及ばなかった。承司の声はかすかだったが、その目には隠しきれない怒気が宿っていた。「優月、ごめん……」彼は、結愛を平手打ちしたことに対して、優月に殺意すら抱いていた。優月は自分で顔の最後の涙を拭き取った。そして、顔を上げ、かすれた声で言った。「大丈夫よ」だが誰も気づかない場所で、彼女のもう一方の手の爪は、すでに掌に深く食い込んでいた。オークションは続いた。ライトが照らす中、ダイヤモンドで埋め尽くされた王冠が静かにステージへ運ばれ、その輝きは目を焼くほどだった。周囲は驚嘆の声で満ちていたが、優月の目は虚ろで、まるで魂が抜けたようにその王冠を見つめていた。それはまるで、10年間の彼女の愛のようだった。華やかで、価値があるように見えたが、内側はボロボロだった。「10億!」承司の声が突然響き渡った。それは揺るぎなく力強く、まるで全世界に向けて自分の愛を宣言するかのようだった。一瞬で会場は静まり返った。人々は皆、彼に憧れと羨望の眼差しを注いだ。優月は一瞬ぽかんとし、無意識のうちに指先でスカートの裾をぎゅっと握りしめた。かつてなら、彼女が少しでも興味を示せば、彼は迷わず買ってくれた。だが今、その「迷いのなさ」が、逆に鋭い刃のように彼女の心を貫いた。「12億」甘ったるい女の声がすぐに続いた。結愛がパドルを高く掲げ、明るく挑発的に笑った。「承司、私の旦那様がね、この王冠を私に贈るって言ってくれたの」「旦那様」という言葉は、毒針のように優月の胸に突き刺さり、息を呑むほどの衝撃をもたらした。承司の顔が一気に真っ青になり、目に一瞬の動揺が走ったが、それでも歯を食いしばって再びパドルを上げた。「20億!」結愛は余裕の笑みを浮かべ、さらにパドルを掲げた。「24億」空気が凍りついた。そのとき、承司のスマホが震えた。彼はそれに目を落とし、表情をわずかに変えてから、優月に顔を向けて低くささやいた。「優月、この王冠は値段ほどの価値ないって友達が言ってる。次回イギリスに行ったら、もっと良いのを買ってあげ
Magbasa pa
第5話
その二文字は、毒を塗られた短剣のように優月の耳を鋭く突き刺し、鼓膜に耳鳴りが響き渡った。彼女の全身の血が一瞬で凍りつき、指先は抑えきれず震えた。結局、彼女が10年の青春と99回のプロポーズ、そして99回の杖打ちを受けた結果、手にしたものは、たった二文字だったのだ。怒りと絶望が彼女の胸の奥で爆発し、理性を焼き尽くそうとしていた。優月は突然手を振り上げ、結愛の顔に向かって強く平手打ちしようとした。しかし、平手打ちが振り下ろされるより先に、結愛はよろめきながら倒れ込むと、顔を押さえて、鋭く悲痛な悲鳴を上げた。「ああ!」その鋭い声に、一瞬で周囲の視線が集中した。彼女が顔を上げると、怒りと困惑を浮かべた承司の顔が目に入った。次の瞬間、背後から強烈な力が襲いかかり、優月は地面に激しく投げ倒された。彼女の顔は硬い床に打ちつけられ、頬骨から後頭部まで鋭い痛みが走った。そして、熱い血がこめかみを伝って視界を赤く染めた。彼女は苦しそうに顔を上げ、承司の歪んだ表情を見た。怒りと混乱、信じられないという表情はあったが、そこに優しさはどこにも見当たらなかった。「優月、正気か?」彼の声はまるで氷の錐のように鋭く、彼女の鼓膜を突き刺すような痛みを与えた。「結愛は妊娠してるんだぞ!わかってるのか!」妊娠?その二文字は、まるで鈍い雷鳴のように彼女の脳内で轟音を立てた。彼女は口を開けたが、声が出ず、ただ目を見開いたまま承司が結愛を抱き上げるのを見ていた。まるで、唯一無二の宝物を抱くかのように、彼の動作は驚くほど優しかった。結愛は彼の腕にすがりつき、涙で顔を濡らしながら震えていた。「承司……怖いよ……」承司は一度も振り返らず、一切の迷いもない背中で結愛を抱き、会場を後にした。優月には、一瞥すらくれなかった。優月は呼びかけようとしたが、喉は何かに締めつけられたようで、かすれた息しか出なかった。「承司……」彼女に返ってきたのは、慌ただしく遠ざかる彼の足音と、床に広がる血の水たまりだけだった。彼女の体が震え、ついに涙がこぼれ落ちた。優月は立ち上がろうと必死に身体を動かしたが、激しいめまいに視界は真っ暗になった。後頭部の血は止まることなく流れ、地面にポタポタと落ちる音がカウントダウンのように響いた。意
Magbasa pa
第6話
優月は通りがかった人によって病院へ運ばれた。鼻を突く消毒液の匂いと、錆びた鉄のような血の臭いが優月の鼻腔に広がり、一気に襲いかかった。白熱灯がまぶしく照らす中、医師の手にある針と糸が彼女の額を縫っていくが、彼女は一言も発さず、まるでその体がすでに自分のものではないかのようだった。包帯を巻き終え、優月は壁に手をついて立ち上がろうとしたが、目まいで今にも倒れそうだった。診察室を出たところで、手首を突然強い力でつかまれた。「優月!」廊下の端から怒鳴り声が響いた。承司の高く大きな姿が、まるで冷たい壁のように彼女の前に立ちはだかった。彼の声は低く押さえられていたが、骨の髄まで焼きつく怒気をはらんでいた。「結愛は流産しかけたんだぞ!お前、病院まで追ってくるなんて、オークション会場で暴れ足りなかったのか?」優月は顔を上げ、かつては優しかったのに今は冷たさしか残っていないその目を見つめた。承司は眉間に深い皺を寄せ、顎をきりりと引き締めた。その瞳の奥に渦巻く冷たい光はまるで刃のように、彼女の肌を一寸ずつ切り裂いていった。「病院に来たのは……」彼女の声は風のようにか細く、病院のざわめきにかき消されそうだった。「彼女に会うためじゃない」彼女はゆっくりと手を上げると、額の血がにじむ包帯と、まだ血が滲んでいる掌、そしてぐらつく身体を指し示した。「私もケガしたの」承司は一瞬顔色を曇らせ、ようやく彼女の青ざめた顔と額の鮮やかな血痕に視線を落とした。怒りは冷水を浴びせられたように一気に消え、代わりにわずかな動揺と戸惑いが現れた。「どうしたんだ?」彼の声は低く、本人も気づかぬほど震えていた。優月の青ざめた顔色を見ると、承司の怒りはすぐに収まり、彼女を強く抱きしめた。「優月、ごめん。あのとき、結愛が倒れてるのを見て、つい焦って……」優月は彼の胸に寄りかかり、彼の早い心音を聞きながら、ふと笑った。「そんなに焦って……まるであなたが子どもの父親みたい」承司は身体が固まり、彼女を抱きしめる手に無意識のうちに力が込められた。「違う!優月、誤解しないでくれ。俺と結愛はただの幼馴染だ。ちょうどあいつの旦那もそばにいなかったから、少し面倒を見てるだけで……」「それはやるべきことよ」優月は、恐ろしいほど冷静な声
Magbasa pa
第7話
優月は家に戻り、この小さな家を見渡した。1平方メートルごとに、彼女と承司の共に過ごした思い出が詰まっている。離れると決めたからには、彼女が残したすべての痕跡を完全に消し去り、思い出さえも彼に残さないつもりだ。視線はテーブルの上の瓶にふと止まった。その瓶は星の折り紙で半分ほど満たされていた。二人が付き合って一周年を迎えた日に、千個の星を折ったら結婚しようと約束した。瓶の中には最後の7個の星が残っていて、まるで7つの未完成の誓いのように、静かにガラス瓶の底でかすかな光を放っている。優月は手を伸ばし、指先で写真立てに入ったポラロイド写真をそっとなぞった。二人の初デートは観覧車の頂上で、彼が彼女の額にキスをした瞬間、フラッシュが「カシャッ」と光り、その一瞬が撮られていた。写真の縁はわずかに黄ばんでおり、長い時の流れが刻んだ痕跡のように感じられた。彼女は力いっぱいそれを引き抜き、写真立ては「パキッ」と音を立てて床に落ちた。割れたガラスの音は、まるで心が砕けるように鋭く響いた。書斎の一面の壁には、チケットの半券や映画のチケット、コンサートの入場券がびっしりと貼られていて、まるで時の回廊のようだ。優月は一枚ずつ、指節が白くなるほど力を込めて引き裂いた。その結果、手のひらから血がにじみ出た。そのすべてのチケットの裏には「愛してる」という言葉が隠れていたが、今やそれは最も鋭い刃物となり、喉を切り裂いた。寝室のクローゼットには、承司が初めて贈った白いワンピースが一番目立つところにかかっていた。裾には小さなデイジーが刺繍されており、彼は言った。「白が一番似合うよ。雪の中に咲く花みたいだ」彼女はワンピースを取り、震える指先で一つ一つのデイジーをなぞった後、思い切り引き裂いた。最後に、彼女はリビングの真ん中にしゃがみ込み、散らかった部屋を見つめながら、突然笑い出した。彼女は肩が震えるほど笑った。最後には涙が砕けたガラスの上に落ち、小さな血の花を散らした。思い出が突然蘇った……優月が承司に初めて会ったのは、会社の飲み会で遅くまで飲んでいた時だった。彼女はほろ酔いで、足元もふらついていて、路地の出口で酔っ払いに絡まれていた。男の手が彼女の肩に触れようとしたその時、一つの黒い影が激しく男を押しのけた。承司だった
Magbasa pa
第8話
優月は家のドアを押し開けると、玄関の灯りが眩しく輝いていた。承司はリビングの中央に立ち、手に満開の赤いバラの花束を抱えていた。彼の笑顔は10年前の少年のように輝いている。「優月、誕生日おめでとう!」彼女は呆然とした。今日が自分の誕生日だったとは気づいていなかった。だが、ここ数日間で、彼女の心はボロボロに傷つき、呼吸すら血の臭いがした。誕生日を祝う余裕などなかった。突然、音楽が流れ始めた。それは彼らがかつて最も愛した曲『Perfect』だった。承司は片膝をつき、黒いベルベットの箱を差し出した。ライトの下で輝くDR社のダイヤの指輪は、丁寧に磨かれた約束のように煌めいていた。彼は、DRの婚約指輪が一生に一人にしか贈れないと言った。彼は彼女に贈りたい。「優月、もう10年だ。俺とゼロから一緒に頑張ってくれて、ありがとう」承司の声は優しく、目には期待の光があった。「結婚したい気持ちはわかってる。あと1年だけ、最後の1年だ。必ず堂々とお前を妻にする」1年?優月は指輪を見つめ、喉が詰まって声が出なかった。1年あれば、結愛の子どもが生まれるには十分だ。その1年で彼は完全に他の誰かの夫となり、彼女の人生は粉々に砕かれてしまうだろう。「でも……」優月が言いかけると、承司のスマホが鋭く鳴った。彼は急いで電話に出て、顔色が一変した。彼女が「もう待たない」と言い終わる前に、承司はドアに向かって走り出した。彼は優月の残した言葉を聞かなかった。だが、ドアを出ようとしたその瞬間、彼は急に引き返し、骨が砕けそうなほどの力で彼女の手首を掴んだ。「お前はRHマイナスだろ?」彼の目には、ほとんど狂気に近いような懇願の光が宿っていた。「結愛が大出血して、RH陰性型が必要なんだ。お願いだ、彼女を助けてくれ!」優月はそんな彼を見て、突然笑った。「承司、私が貧血だって忘れたの?」彼女の声はため息のようにかすかだったが、その言葉一つひとつが、心を抉る痛みを帯びていた。「昔、生理痛で起き上がれない時は、一晩中寝ずにお茶を作ってくれた。なのに今は、こんなボロボロの身体を引きずって、あなたの幼なじみを助けろっていうの?」「優月、今回だけだ!」承司の声は掠れ、目の奥は血走っていた。「欲しいものは何でもや
Magbasa pa
第9話
優月はそっと目を閉じ、熱い涙を必死にこらえた。どれくらい時間が経ったかわからないが、一杯の冷たい水が彼女の頭に浴びせられた。彼女ははっと目を覚ました。目の前には、偽善の仮面をかぶった結愛の顔があった。「わあ、ごめんね、手が滑っちゃった」結愛は作り笑いで謝り、わざと彼女のびしょ濡れの襟をティッシュで拭いた。優月の視線は、結愛の不自然に突き出された親指に落ちた。あの指輪は、彼女が承司のために自らはめてあげたもので、10年間ずっと彼の側から離れなかった。しかし今は、別の女性の指に嵌っていた。結愛は彼女の視線を捉え、得意げに指を揺らした。「承司は私が好きなら自由にしていいって言ってたよ」彼女は身をかがめ、耳元で甘くも毒のような声で囁いた。「だから……身の程を分をわきまえて、消えなさい!」優月は後退ろうとしたが、両足がふらつき、体がコントロールできず、前に倒れそうになった。次の瞬間、強い力が彼女の肩に激しくぶつかった。「優月!また結愛を傷つけるつもりか?!」承司の怒鳴り声が耳元で轟いた。彼は冷たく硬い氷の壁のように立ちはだかり、結愛をしっかりと守った。彼の目にはもう一片の優しさもなく、鋭い敵意と嫌悪だけが残っていた。優月は顔を上げ、血が涙のようにこめかみを伝って流れ落ちた。「橘承司」彼女はささやくように、壊れた羽のようにか細く言った。「その借り、10年だけじゃ償えない」彼女は手を上げると、最後の力を振り絞って、彼の拘束を激しく振り払った。よろめきながら後退し、指節が白くなったが、背筋はまっすぐだった。優月は一歩一歩、まるで刃の上を踏むような痛みに体を震わせながらも、決して振り返らなかった。雨の中、彼女の背中は細く儚げだったが、その決意は揺るぎなかった。承司はその場に硬直し、喉が鉗子で締め付けられたように呼吸も困難だった。彼は優月が消えていく方向を見つめ、心が空っぽになるのを感じながらも、自分に固執して言い聞かせた。「もう10年も付き合ってきたんだ。彼女は本当に去ったりしない」しかしその言葉は鈍い刃のようで、繰り返す度に自己欺瞞の層を切り裂いた。彼は深く息を吸い、振り返って結愛を見た。声を低く抑えたが、焦燥は隠せなかった。「結愛、当分は優月の前に出ないでくれ。彼女
Magbasa pa
第10話
VIP病室には甘く濃い百合の香りが漂っていたが、骨の髄まで染み込むような消毒液の冷たさには勝てなかった。承司はベッドのそばに座り、手にしたスープの器からは白い湯気が立ち上った。陶器のスプーンが碗の縁に触れて「チン」と清らかな音を立てた。一回、二回、三回……その音はすべて針のように彼のこめかみに刺さり、すでにボロボロになった神経を貫いた。結愛の青ざめた顔には病的な紅潮がさし、まつげをかすかに震わせながら、わざとらしい怯えた声で言った。「承司、あなたがここにいてくれるなら、優月さんは……怒らないの?」「彼女は気にしないよ」承司は彼女の言葉を遮り、自分に言い聞かせるように断言した。「彼女が一番分別があるから」しかし言い終わると同時に、陶器のスプーンがガラスのテーブルに再び当たった。「チン!」その音はまるで雷鳴のように彼の心の奥で腐りかけていた傷口を炸裂させた。もう3日が経った。まるまる3日だ。優月からの連絡は全くない。彼はスマホのロック画面を見つめた。その優月が眠っている写真は彼がこっそり撮ったもので、何度も深夜に密かに見つめていたものだ。この数日、彼は十数通のメッセージを送り、十数回電話をかけたが、返ってきたのは冷たく機械的な女性の声だけだった。「申し訳ありません、おかけになった電話は現在つながりません」最初、承司は彼女が怒っているだけだと思い、過去の何度もあったように、なだめれば済むと思った。しかし今、3日が経ち、彼は初めて恐怖が波のように胸を押し寄せてきた。彼は急に立ち上がり、椅子が床で耳障りな音を立てた。結愛は驚いて体を震わせ、涙が一気に目にあふれた。「承司……」承司は深く息を吸い、無理やり冷静さを保とうとした。彼は身をかがめ、声を極限まで低く抑えたが、震えは隠せなかった。「子どもが生まれたら、離婚しよう」結愛の瞳が縮み、涙がこぼれ落ちた。「あなた……何て言ったの?」「5年前、お前が俺の身分証を勝手に使って結婚した。お前の両親がお前をあのじいさんに売ろうとしたから、そのことを認めた」彼の声は氷のように冷たかった。「5年だ。借りはもう返したと思う」結愛の顔は青ざめ、指でシーツを強く握りしめながら、声を詰まらせた。「じゃあ……結婚式をして
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status