Se connecter小さな頃から大好きだったお隣さんの【瀬見 奏斗(せみ かなと)】 彼は、幼い頃から可愛らしく、成長するにつれて精悍な顔つきに変わり、格好よくなった。 そんな奏斗が芸能界に見出され、アイドルとしてデビューする。 私が、奏斗に何度好きだと告白しても、笑って本気にしてくれない。 だけど、奏斗を嫌いにもなれない。 他の人を好きになろう、とした事もあるけど、やっぱり奏斗の事が大好きで、私は諦める事を諦めた。 私──【四ノ宮 香月(しのみや かつき)】は、奏斗、いえ、アイドルのKanatoの1番のファンであり続け、一生応援する! 芸能界は、様々な誘惑があって、奏斗が様々なスキャンダルに巻き込まれたとしても。 誰かと熱愛報道が流れたとしても。 私は、奏斗のファンでい続けるんだ。
Voir plusHujan malam itu menambah dinginnya kota Napoli, membuat sebagian penduduknya tengah bergelung dibawah selimut, mencari kehangatan dan terlelap dalam mimpi. Menunggu matahari terbit yang jika sesuai jadwal akan berlangsung tiga jam kemudian.
Perempuan penghuni rumah bercat abu-abu di jalan Via del Sole seri Mettere nomor 97 tak terkecuali. Dia mengetatkan selimutnya hingga ke atas dadanya. Bedanya, dia tidak mencoba kembali melanjutkan tidurnya dan memilih terjaga lebih awal dari jadwal bangunnya yang biasa. Dia menghidupkan lampu tidurnya, menghasilkan cahaya remang-remang yang membuatnya bisa melihat suasana kamarnya dalam pendar keemasan yang dihasilkan dari bohlam lampu.
Kamarnya terlihat berantakan. Pakaiannya tersebar di lantai, teronggok bersama pakaian pria. Selimutnya kusut akibat dari kegiatan panas yang ia lakukan tadi malam. Dia menoleh kesamping dan menatap pria yang terbaring miring menghadapnya, tangannya terulur keatas tubuhnya.
Perempuan itu menyibakkan selimutnya dan terduduk dipinggir ranjang. Dia mengambil ponsel di nakasnya, membuka galerinya dan meneliti setiap foto yang dia ambil. Tidak menghiraukan bahwa dia dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.
Terdengar suara gerakan dari belakang dan dia menoleh untuk melihat pasangannya malam ini tengah mengubah posisi tidur. Dia kembali menatap layar ponselnya. Tidak lama kemudian, dia meletakkannya kembali dan berdiri. Memunguti pakaiannya, dan berjalan keluar dari kamarnya yang sejak awal tidak terkunci, masih dalam keadaan telanjang.
Dari sinar bulan yang menyoroti rumahnya lewat jendela yang ia biarkan terbuka, dia bisa melihat ruang tamunya kacau dengan berbagai bungkusan kemasan makanan dan kaleng bir murah yang ia beli di minimarket terdekat.
Karpet merahnya telah digeser ke sudut ruangan. Dimana terdapat dua orang berbeda jenis yang saling bergelung satu sama lain. Sekali lihat sudah tahu bahwa tadi malam adalah malam yang panas untuk dua orang tersebut yang tidak memiliki pakaian menempel di tubuh masing-masing.
Dia menghiraukan keberadaan dua orang di lantai sudut rumahnya. Memilih melanjutkan perjalanannya, menyusuri koridor rumahnya dalam rangka menuju mesin cuci yang berada didepan kamar mandi.
Dia memasukkan pakaian kotornya ke mesin cuci, menutupnya, dan akan berjalan ke dapur untuk mengambil minum tetapi berhenti ketika kakinya tersandung kaki orang lain. Itu membangunkan pemilik kaki yang merupakan seorang pria yang tertidur di ceruk ruang kosong disamping mesin cuci. Pria itu mengerang.
"Jam berapa ini?" Tanyanya, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. Matanya mengerjap berkali-kali sebelum menatap orang yang dia ajak bicara.
"Jam lima."
"Anna?" Ia memastikan. Mengerang sekali lagi saat mengetahui ini terlalu pagi untuk bangun.
Perempuan itu tertawa geli menatapnya. "Selama ini kau tidur disini?" Ejeknya. "Dimana Eleanor?" Tanyanya.
"Pulang."
Pria itu akhirnya bisa berdiri tegak setelah berjuang dari efek pusing alkohol. Menepuk nepuk dan meluruskan celana boxernya. Dia satu-satunya yang masih memakai pakaian ditubuh. Dia mencium Anna tepat dibibir dengan singkat. Kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Anna, nama perempuan itu sekaligus pemilik rumah ini melanjutkan diri ke dapur. Tidak terpengaruh atas ciuman Leo Connor terhadapnya.
Dia meletakkan segelas air minum di atas meja belajarnya. Duduk di kursinya, dan menghidupkan komputernya. Dia telah mengenakan pakaian kali ini, meski hanya sebatas sweater ungu dan hotpants hitam yang tidak cocok untuk dinginnya dini hari.
Dia mencolokkan ponselnya ke komputer untuk menyalin foto-foto terbarunya. Melihat lihat hasil potretnya di tampilan layar yang lebih lebar.
"Bukan yang ini." Ia bergumam. Netra hijaunya menatap serius ke dalam gambar. Dia meng-klik lagi untuk beralih ke foto yang lain.
"Gotcha."
Dia menatap foto didepannya. Foto yang mungkin akan membuat sebagian orang merasa malu melihatnya. Foto ini memperlihatkan dua orang yang tengah beradegan intim dengan gaya doggystyle yang terkenal. Pelakunya adalah kedua orang yang sedang bergelung di atas karpet rumahnya. Isabella Wyatt dan Julian Carter.
Anna menyimpannya. Dia akan mengubah foto ini menjadi potret lukisan seri erotisnya. Ya, dia seorang seniman. Lebih tepatnya mahasiswi seni rupa yang memiliki hobi yang akan membuat publik menjudgenya jika mengetahui sisinya yang ini. Dia suka, bukan, dia sangat suka melukis dua insan yang tengah bercinta, melukis ekspresi mereka ketika sedang berada di puncak kenikmatan. Anna menyebutnya sebagai seni paling murni.
Dia menyembunyikan hobinya ini dari kehidupan sehari-harinya. Dikeseharian, dia lebih dikenal sebagai Annatasia Aleksi, mahasiswi seni rupa tahun kedua yang sangat berbakat dalam melukis sehingga salah satu lukisannya akan dipamerkan dalam pameran yang diadakan di galeri lukis paling terkenal di kota Napoli. Hari ini merupakan jadwal pamerannya.
Anna sadar jika hobinya terlihat aneh bagi sebagian orang sehingga dia lebih memilih untuk menutupnya rapat. Mereka yang tahu hanyalah teman-teman lingkaran dalamnya. Karena keterpisahan itu, dia membuat Annatasia dan Anna menjadi dua seniman yang berbeda. Annatasia adalah artist yang akan membuatmu terlena dengan lukisan indahnya, sedangkan Anna adalah sisi lain dari dirinya yang memakai objek manusia langsung sebagai model lukisan nuditynya.
"Posisi yang bagus."
Anna menoleh ke belakang dan mendapati Leo tengah berdiri dibelakangnya, menatap layar komputer dengan binar apresiasi tinggi.
Leo menoleh menatapnya. "Kita bisa melakukan gaya itu kapan-kapan."
Pria itu langsung meloncat kearah kasur bekas sisinya tidur. Membuat decit kecil dan gumaman dari pria disebelahnya. Leo mengacuhkan keberadaan pria yang tidur di kasur Anna. Dia membuka ponselnya dan asyik dengan konten didalamnya.
Anna kembali fokus ke arah foto-foto yang lain. Dia menyimpan setiap filenya menurut tanggal. Ketika dia bilang hanya melukis dari objek langsung yang dia potret, itu berarti tidak hanya Julia dan Isabella yang ia punyai foto dewasanya. Leo Connor, temannya yang juga mahasiswa seni tahun kedua sepertinya, telah menjadi modelnya dengan foto terbanyak. Termasuk adegan seksnya dengannya. Ya, Anna sering berhubungan dengan model-model prianya. Dengan Leo, dia tidak menawarkan hubungan pacaran atau sebagainya. Faktanya, dia tidak pernah menawarkan hubungan pacaran dengan pria-pria yang dia tiduri. Sebagai gantinya, Leo bebas berhubungan dengan perempuan lain. Itu adalah situasi hubungan terbuka yang merupakan peraturan dasar dalam kelompok pertemanannya yang terdiri dari dia sendiri, Leo, dan Isabella yang juga merupakan mahasiswa seni seangkatannya, kemudian Evan, pria yang ia tiduri tadi malam merupakan kakak kelasnya, lalu Julian, dosen muda yang mengajar mata kuliah sejarah seni rupa di universitas tempat mereka berkuliah.
Anna meregangkan tangannya ke atas dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Mengambil gelas air minumnya dan meminumnya dalam sekali teguk. Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah dua jam dia menatap layar komputernya, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Matanya melirik jam digital di layar dekstopnya. Ada pameran yang harus ia hadiri pagi ini. Kali ini dia tidak datang sebagai pengunjung, melainkan sebagai seniman. Karyanya akan ditampilkan bersama puluhan karya lain dari para pelukis ternama. Dia satu-satunya artist yang berstatus masih mahasiswa tahun ke dua dalam pameran karya kali ini.
Dia menghela nafas dan menoleh kearah ranjangnya. Leo telah tertidur kembali, Evan seperti biasa tampak mati dalam tidurnya, dan ia yakin Isabel dan Julian juga masih berada di alam mimpi.
Ia melirik speaker stereonya. Senyumnya tidak pernah meninggalkan wajahnya saat ia dengan sengaja menyetel musik berisik dalam volume tinggi.
"Fuck! Anna!"
Ia tertawa mendengar teriakan sumpah serapan Isabel di ruang depan.
「香月、俺は違う部屋に行くけど近くに居るから。それに香月の傍にはご両親が居る。大丈夫だからな」 「うん、奏斗。……奏斗も嫌な事を思い出すでしょう?無理しないでね」 「俺は大丈夫。また後でな、香月」 奏斗は私に軽く手を振り、私の両親に向かって軽く頭を下げると男性刑事と一緒に部屋を出て行った。 部屋に残った私たちに、女性刑事さんが話しかける。 「では、移動しましょう。こちらへどうぞ」 「分かりました」 お父さんが女性刑事さんに返事をし、前を歩いてくれる。 私の隣はお母さんが居てくれて。 私を気遣いながら一緒に別室に移動した。 ある部屋の前で止まった女性刑事さんは、私たちに振り返ると説明してくれた。 「この部屋の中に入ると、犯人がガラスの向こうに居ます。机に座り、背中を向けているのは別の刑事です。正面を向いていて、こちら側に顔が見えているのが犯人です。見覚えがありましたら教えてください」 「分かりました」 女性刑事さんの説明に、私が頷くと扉を開けて部屋の中が見えた。 説明通り、部屋の奥にはガラスの壁があって。 向こう側には3人が居た。 向こう側からはマジックミラーになっていて私たちが見えていないのは本当のよう。 私たちが部屋に入ってきても、正面を向いている犯人の様子に、変わった所は無かった。 反応も、何もない。 痩せこけた、貧相な男性──。 犯人の第一印象は、それだった。 前に居たお父さんも私と同じような感想を持ったのかもしれない。 「あんなやつが」と呟いているのが分かる。 「四ノ宮さん、お辛いとは思いますが……犯人に見覚えはありますか?」 女性刑事さんに言われて、私は犯人の顔をじっと見つめる。 無精髭が生えて、髪の毛は艶がなくてボサボサ。 目も窪んでいて──。 失礼な話だけど、もし外でこんな外見の男性を見ていたら、悪い意味で印象に残るはず。 だけど、やっぱりどれだけ考えても私の頭の中にはこの男性に見覚えはなかった。 だから、私は女性刑事さんに顔を向けて首を横に振る。 「ごめんなさい、やっぱり面識のない人です。こんな人とどこかで出会っていたら、覚えていると思います……」 私の言いたい事を察してくれたのだろう。 女性刑事さんは苦笑いを浮かべつつ「そうですよね……」と言葉を濁した。 「ご協力ありがとうござい
「あの……別件ではあるんですが。私は先日被害届を提出しています。恐らく、今回の事件と関連性があるんじゃないかって思っています。……私が提出した被害届を確認いただけますか?」 「──え?」 「名前は瀬見 奏斗です。身分証が必要でしたら、提出します」 奏斗の言葉に驚いた女性刑事さんは、慌てて立ち上がると「ちょっとお待ちください!」と言い、バタバタと部屋を出て行った。 部屋に残された私たち、お父さんとお母さんはぎょっとした顔で奏斗に目を向ける。 「奏斗くん、君も何か危ない目に遭っていたのか!?」 「どうして早く言ってくれなかったの!?被害届って……実際被害を受けたんでしょう!?」 私の両親が心配そうに奏斗に言う。 私のお父さんとお母さんは、奏斗のご両親に奏斗を頼まれているのだ。 私たちはもう既に成人している。 だけど、警察沙汰になっているなら教えて欲しかった──。 両親の心配そうな顔を見て、奏斗は申し訳なさそうに頭を下げた。 「事後報告になってすみません。今、事務所と話し合いをしていて……。加害者も芸能人なので、すぐにご報告するのが難しかったんです」 そこで一旦言葉を切った奏斗は、悔しそうに俯いた。 「だけど、俺のせいで香月が巻き込まれた可能性が高いです……。こんな事になる前に、ご両親に報告していれば良かったです。香月を守れず、本当に申し訳ございません」 深々と頭を下げる奏斗に、お父さんもお母さんも目を白黒させている。 確かに、急にこんな風に謝罪されて混乱するだろう。 「奏斗が謝る必要は無いよ。奏斗は1人で出歩いちゃ駄目ってあれだけ言ってくれていたのに……。油断した私が勝手に外に出たんだもの……。お父さんもお母さんも奏斗を責めないで……」 「ちょ、ちょっと待ってくれ……一体、何がなに
犯人が目を覚ました──。 その言葉に、私の体はびくりと震えてしまった。 その瞬間、隣に座っていた奏斗がすかさず私の手を力強く握ってくれる。 「香月、大丈夫か……?」 「う、うん──」 震える私を気遣うように女性刑事が私に近付いて来て、膝を床に着き、目線を合わせてくれると優しく話しかけてくれた。 「四ノ宮さん。犯人は現行犯逮捕されているので、面通しの必要はあまりないのですが……。もう1度落ち着いた状態で犯人の顔を確認していただきたいのです。どうして四ノ宮さんを狙ったのか……動悸を知りたいんです」 「動、悸……ですか?」 「ええ。誰でもいいから女性を狙った犯人なのか……。それとも、四ノ宮さんに何かしらの目的があって……四ノ宮さんを襲ったのか……捜査する上で、その確認が必要なんです」 申し訳なさそうに説明してくれる女性刑事さん。 その言葉に、お父さんが苦々しい顔をした。 「娘に……自分を襲ったやつの顔をまた確認させなきゃならないんですか……」 「お父様の仰る事は、尤もです。……もしお辛いようでしたら、必ずではないので……」 お父さんの言葉に、女性刑事さんが両手を胸の前に掲げ、そう言ってくれる。 だけど、私は犯人が口走っていた事が気になっていて。 「──いえ、大丈夫です。顔、見ます……。何故か犯人は、私の就活の事を口にしてたんです……」 「え、就活、ですか?」 私の言葉に、女性刑事さんは驚いたように目を見開いた。 「と、言う事はもしかしたら犯人は四ノ宮さんの事を一方的にストーカーしていたかもしれませんね。犯人は勤め人なので、四ノ宮さんの大学に在学している人物ではありません」 「そう、なんですか……?その……何か襲って来る時に私の就活なんてどうとでも出来る、って……。それに、その……」 私はちらり、と奏斗を見る。 犯人が口走っていたのは私の就活の事だけではない。 RikOの事も、口走っていたのだ。 その事を私は奏斗に伝えていた。 そして、奏斗からは話しても良い、と言われていたのだ。 私が奏斗を見ると、奏斗も私を真っ直ぐ見返してくれて。 頷いた。 話しても良い、大丈夫、と言う合図だ。 私は女性刑事さんを見て、口を開いた。 「──犯人は、芸能人のRikOの名前を口にしていました。……それに、私を捕まえてどこかに連れて行
◇ 「香月!」 「無事か……!?」 あれから、時間が経った。 奏斗は私のお父さんとお母さんに連絡をしてくれて。 電話連絡を受けたお父さんとお母さんは慌てて私の所に駆け付けてくれた。 「奏斗が駆け付けてくれたお陰で、私は大丈夫だよ」 「だが、まだ顔色が悪い」 「警察とは話が済んだの?」 お父さんとお母さんが私の顔を見て、苦しそうに表情を歪めた。 私の隣には奏斗が一緒に着いてくれていて。 震える私の手を、ずっと奏斗が握ってくれていた。 お父さんとお母さんの質問に、奏斗が答える。 「おじさん、おばさん。犯人はまだ気絶したままで……。詳しい事情はまだ……。俺や香月の調書は終わっています」 淀みなくしっかりと答えてくれる奏斗。 奏斗に向き直ったお父さんは、奏斗の目の前に移動して両手で奏斗の肩を掴んだ。 「ありがとう、奏斗くん。君が香月を助けてくれなかったら……香月は……。本当に感謝している」 「ありがとうね、奏斗くん。いつも香月を心配してくれて、気を配ってくれているから香月もこうやって無事だったわ」 お父さんとお母さんにお礼を言われた奏斗は、気まずそうに。悔しそうに唇を噛み締めた。 「いえ、俺は感謝されるような事なんて──。香月に怖い思いをさせた事は確かです。本当にすみませんでした」 奏斗は、私の両親に向かって頭を下げる。 そんな奏斗を見て、私は慌てて口を開いた。 「奏斗が謝る必要なんて無いよ!奏斗は私にちゃんと忠告してくれてたじゃない……!それなのに、私が甘かったの。すぐ近くのコンビニだからって油断して……」 「だが、俺が常に香月の傍についていればこんな事にはならなかった。そもそも、俺がRikOに騙されなければこんな事に香月を巻き込まないで済んだんだ。俺の対応の甘さが、香月を危険に晒した──」 奏斗の悔やむような言葉。 その言葉を聞いたお父さんとお母さんが、眉を寄せて怪訝そうに顔を見合わせた。 「──RikOって……。奏斗くんが少し前に記事にされていた?」 「確か、同じ事務所のアイドルの子なのよね……?」 こんな風に、大事になってしまった以上。 お父さんとお母さんにも事情を説明しないといけないかもしれない。 いくら私や奏斗が成人しているとは言え、私はまだ実家に暮らしている。 親の庇護下である事には変わりないの
遠藤くんに手を掴まれ、私はびっくりしてしまう。 だけど、私の手を掴んだ遠藤くんの方がとても驚いているように見えて。 「ごっ、ごめん急に……っ!」 遠藤くんは慌てて私から手を離すと、何もしないよと言うのを表すように両手を胸の前に上げた。 私はびっくりしたまま、遠藤くんに首を振って答える。 「う、ううん……大丈夫」 「その……、多分香月ちゃんも気付いていると思うんだけど……」 ちらり、と遠藤くんの視線が私に向けられる。 その瞳には僅かに熱が籠っているのが分かって。 ここはまだ大学内。 それに、お昼の時間だからか、周囲には学生達が沢山いる。 大学の正門近くで立ち止まり、気ま
「お、俺は別に……っ香月ちゃんに付き纏ってなんて──!」 遠藤くんが堪らずに言い返すけど、奏斗は鼻で笑い、言葉を返す。 「さっき見てたけど、お前は帰ろうとしてる香月の後をずっと追ってたじゃないか。それに、香月が大学を出ようとしているのに腕を掴んで引き止めていた。これを付き纏っていると言わないで、何を付き纏ってるって言うんだよ?」 「──そっ、それ、は」 遠藤くんは自分自身の行動を、冷静に告げられて言葉に詰まる。 「だけどっ、俺は香月ちゃんに話したい事があって──」 「あれ?香月と遠藤くんじゃーん!こんな所でどうしたの?」 遠藤くんが言い返そうとした時。 突
私は、一限を理由に美緒の話を途中で退席して急いで教室に向かう。 確か、一限は講義を聞くだけだった。 後ろの方の席に座って、奏斗に連絡を入れておこう。 私は部屋に入ると、後方に座りすぐにスマホを取り出した。 そして、私は奏斗にメッセージを送る。 【奏斗!時間があったら、SNS見て!この間、遠出した時の私たちの写真が撮られてた!】 続けて、送る。 【今かなりネットでは大騒ぎになってるみたい!奏斗がRikOと付き合ってるのはカモフラージュとか、本命は他に居る、とか凄い考察されてるから、特定班とかも動くかも……!今日、大学へのお迎えはいいよ!タクシーでちゃんと帰るから、奏斗は家に居て
◇ それから、週末が過ぎて。 大学に行く日になった。 奏斗の長期休暇はまだ続いていて。 私が大学に行くのを、奏斗が送ってくれる事になった。 お父さんもお母さんも仕事に出て行ったあと、私が家で支度をしていると、インターホンが鳴った。 迎えに来てくれるって言ってたから、多分奏斗だろう。 私は玄関に向かい、扉を開ける。 「おはよう、奏斗」 「香月、おはよう」 奏斗は笑顔で私に挨拶をすると、ぽん、と軽く頭を撫でてくれる。 「ちゃんと俺だって事、確認した?」 「うん、もちろん。ちゃんとドアスコープから奏斗の姿を確認してから鍵を開けたよ」 「良かった。これからもそうしてくれ」