Nadira terpaku. Kata-kata Devan menggantung di udara, menekan dadanya begitu keras hingga ia sulit bernapas.Wajahnya memanas, bukan hanya karena marah tapi karena ketakutan, kebenaran, dan kegelisahan yang selama ini ia pendam.Sikap Devan kali ini ia nilai begitu kekanak-kanakan. Pria itu tak ubahnya seperti ABG labil yang terbakar api cemburu hingga tak lagi berpikir jernih. Nirwan menatap Nadira, bukan menuntut, tapi … menunggu. Ada sesuatu yang lembut tetapi juga tegas di matanya—seolah apa pun jawaban Nadira, ia siap berdiri di sana untuknya.Devan, di sisi lain, tampak seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang. Satu kalimat saja bisa membuatnya runtuh, membuat Nadira dalam dilema yang berat."Bisa kamu pulang sekarang! Aku capek," ujar Nadira berbalik pada Nirwan. Ia tak ingin terjadi perdebatan panjang apalagi keributan besar di antara kedua lelaki itu di rumahnya. "Tapi—""Please, kita bicarakan lagi masalah ini di lain waktu," potong Nadira cepat seraya meminta penger
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-31 อ่านเพิ่มเติม