"Teja, kenapa kamu harus sampai seperti ini?""Aku nggak ingin kehilangan Ayah selamanya, dan aku juga nggak ingin Ayah mati di negeri orang. Ayah, mengaku kalah saja!"Hah ...."Baiklah, Ayah akan mendengarkanmu." Danta menghela napas panjang, lalu menatap Ewan dengan susah payah dan berkata, "Aku mengaku kalah."Ewan tersenyum dan berkata, "Pak Danta, aku cukup mengenalmu. Ini jelas bukan isi hatimu yang sebenarnya. Menurutku kita sebaiknya lanjutkan pertandingan saja. Aku adalah orang yang selalu menaklukkan dengan kebajikan."Masih mau lanjut bertanding? Bisa terbunuh kalau diteruskan lagi."Ewan, ayahku sudah mengaku kalah ...," kata Teja.Belum sempat Teja menyelesaikan ucapannya, Ewan sudah memotong, "Pak Danta, apakah kamu berani melanjutkan pertandingan denganku? Kalau nggak berani, segera berlutut di sini, mengaku kalah, dan meminta maaf kepada pengobatan tradisional Negara Madonia."Berlutut di sini dan meminta maaf? Mimpi.Begitu mendengar kata-kata Ewan, darah Danta terasa
อ่านเพิ่มเติม