Share

Bab 30

Author: Vhiena Vhie
last update Last Updated: 2026-02-23 23:14:36

Sejak kedatangan Harsya malam itu, kewaspadaan Kanina meningkat seperti benteng kokoh yang dibangun dari batu-batu kecil namun kuat.

Dia memilih tidak keluar dari unit apartemennya, mengurung diri seperti burung yang memilih sangkarnya untuk melindungi sayap yang belum sembuh.

Hubungannya dengan dunia luar hanya melalui ponsel. Dia memesan apa saja yang dibutuhkan secara online, menghubungi siapapun yang dia perlukan lewat telepon.

Setiap kali bel pintu berbunyi, dia akan mengintip terlebih d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 33

    Dua minggu menjelang sidang kedua bukan hanya jeda hukum. Itu adalah ruang panjang tempat Kanina belajar untuk lebih mengendalikan hati dan pikirannya sendiri.Seusai sidang pertama dan kegagalan mediasi hari itu, Kanina pulang ke apartemennya dengan tubuh lelah dan kepala yang penuh dengan berbagai pemikiran.Dia memikirkan bagaimana menghadapi sidang selanjutnya nanti, seberapa besar kemungkinannya untuk bisa menang agar benar-benar terbebas dari pernikahan yang tidak sehat.Namun, yang paling membebani pikirannya di antara semua itu adalah tentang saksi yang perlu dia hadirkan di persidangan untuk menguatkan gugatannya.Renata bilang, saksi itu seharusnya adalah seseorang yang bisa meyakinkan hakim bahwa rumah tangganya memang sudah retak dan tidak dapat diperbaiki lagi.Dari pihaknya jelas tidak ada satu orang pun yang bisa dijadikan saksi. Karena itu, pikirannya langsung tertuju pada Sartika.Wanita itu membencinya hampir sepanjang pernikahannya dengan Harsya. Tidak pernah

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 32

    Waktu sudah bergeser cukup lama sejak Kanina masuk ruang sidang bersama Renata. Dia mengira Athan sudah pergi sedari tadi.Namun, pria itu ternyata masih di sana—di tempat parkir, berdiri tenang sambil bersandar di pintu mobil, seolah sengaja menunggu.Kanina benar-benar tidak menyangka. Orang seperti dia ternyata punya begitu banyak waktu luang, sampai mau menunggu cukup lama.Seharusnya, itu karena Renata—adiknya. Hubungan persaudaraan di antara mereka mungkin sangat dekat satu sama lain.Hal yang wajar jika dia dengan sukarela mengantar dan menunggu sampai adiknya menyelesaikan pekerjaan—begitu pikir Kanina.Dia tidak mau berpikir terlalu jauh. Langkahnya terus berayun, mengikuti Renata yang berjalan santai di sampingnya.Jarak di antara mereka perlahan memendek. Althan menegakkan badan ketika menyadari mereka sudah cukup dekat. Tatapannya sekilas menilai, bukan dengan rasa ingin tahu yang berlebihan, melainkan seperti memastikan sesuatu.“Sudah selesai?” tanyanya pada Renata. Nad

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 31

    Pertanyaan Renata menggantung di udara. Kanina tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke depan.Althan masih duduk dengan posisi yang sama—tenang, nyaris tak bergerak, seolah keberadaannya di sana adalah hal paling wajar.Kanina melirik sekilas ke arah kaca depan, tepat pada bayangan wajah Althan yang tertangkap samar di spion tengah. Ekspresi pria itu datar, nyaris tak menunjukkan apa pun, seolah kalimat Renata barusan bukanlah sesuatu yang perlu dikomentari atau dibenarkan.“Dia... lagi nggak ada kerjaan?” Kanina membatin. Tanpa sadar, keningnya berkerut dalam. Seorang Althan Swargantara yang disebut-sebut sebagai pengusaha muda, pemilik gedung Asteria Residence yang seharusnya memiliki properti lain di mana-mana.Seseorang yang selalu mengenakan setelan mahal yang tampak seperti seragam kekuasaan, dengan sikap tenang dan aura dominan yang tak terbantahkan.Seseorang seperti itu... bagaimana mungkin tidak punya pekerjaan atau kesibukan lain yang lebih penting daripa

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 30

    Sejak kedatangan Harsya malam itu, kewaspadaan Kanina meningkat seperti benteng kokoh yang dibangun dari batu-batu kecil namun kuat. Dia memilih tidak keluar dari unit apartemennya, mengurung diri seperti burung yang memilih sangkarnya untuk melindungi sayap yang belum sembuh.Hubungannya dengan dunia luar hanya melalui ponsel. Dia memesan apa saja yang dibutuhkan secara online, menghubungi siapapun yang dia perlukan lewat telepon.Setiap kali bel pintu berbunyi, dia akan mengintip terlebih dahulu dari lubang kecil, memastikan siapa yang datang sebelum benar-benar membuka pintu.Selama beberapa hari ini, dia merasa cukup beruntung karena Harsya tidak pernah datang lagi. Tapi, kewaspadaannya tidak menurun, dia masih sangat berhati-hati.Mengingat betapa kerasnya Harsya menolak keputusannya untuk bercerai, Kanina tidak percaya pria itu tidak datang karena memilih menyerah.Entah apa yang sedang direncanakan oleh Harsya. Kanina hanya bisa terus berhati-hati tanpa sedikitpun menurunkan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 29

    Siang itu, langit berwarna biru cerah, matahari bersinar terik, menyinari rumah besar berlantai dua yang kini terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.Sebuah mobil mewah melaju pelan, memasuki halaman depan dan berhenti tidak jauh dari teras. Pintu penumpang terbuka, Sartika melangkah turun dengan anggun.Ujung gaun batiknya menyentuh lantai, tas brandednya tergantung di lengan, sepatu hak tingginya menimbulkan bunyi teratur seiring langkah yang berayun.Sartika berhenti di depan pintu, tangannya yang lentik menekan tombol password di daun pintu—kombinasi angka yang tidak pernah diganti sejak awal.“Hmph, masih tanggal ulang tahun perempuan itu,” gumam Sartika sambil mendengus dingin.Dia mendorong pintu, lalu melangkah masuk. Suasana sunyi menyambutnya. Dia tidak peduli. Langkahnya membawanya ke kamar utama.Begitu pintu terbuka, tatapan Sartika langsung tertuju pada foto pernikahan di dinding. Dia tersenyum sinis, lalu berjalan mendekat.“Foto ini harus segera diganti dengan foto

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 28

    Malam belum terlalu larut. Suasana di salah satu rumah sakit swasta di pusat kota itu masih cukup ramai.Lampu-lampu neonnya menyala terang tapi dingin, seperti mata yang tak pernah benar-benar tidur. Lorong-lorong panjang berbau desinfektan, suara sepatu yang bergesekan dengan lantai vinyl, dan sesekali dering telepon dari ruang jaga malam.Semuanya menciptakan simfoni yang monoton, simfoni yang tak pernah benar-benar berhenti bahkan ketika dunia di luar sudah terlelap. Harsya yang baru saja tiba, berjalan memasuki lobi dengan langkah cepat. Dia segera naik lift ke lantai empat, menuju ruang VIP yang disebutkan Sartika dalam pesan singkat.Pintu kamar 412 terbuka pelan, dan aroma obat-obatan menyapa lebih kuat. Di dalam, Ralia terbaring di ranjang dengan selimut tipis menutupi tubuhnya.Dia tampak tertidur dengan wajah pucat, tapi napasnya teratur. Ratna duduk di samping ranjang sambil memegang tangannya dengan lembut.Sartika berdiri di dekat jendela, tangannya disilangkan di dada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status