공유

Bab 26

작가: Vhiena Vhie
last update 게시일: 2026-02-18 23:59:35
Hari berikutnya datang seperti hembusan angin yang pelan tapi tak terelakkan, membawa perubahan yang tak terlihat tapi terasa di setiap hembusan napas.

Siang itu, Harsya sudah berada di depan gerbang Panti Jompo Harmoni sebelum jam makan siang. Mobil hitamnya yang mengilap terparkir di dekat pintu masuk.

Dia turun dari mobil dengan langkah yang berat, kemeja birunya sedikit kusut di bagian lengan, dasinya tampak longgar seolah dia lupa cara mengikatnya dengan benar.

Ketika dia melangkah ma
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Raisa Kalyna
Udah berapa hari mas Althan gak ketemu sama Kanina ya ... berarti beneran ya kalo pas ketemu itu kebetulan bukan disengaja ya ...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 106

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke jalanan basah yang berkilau seperti permukaan kaca. Sekitar pukul tujuh malam, Harsya tiba di Hotel Grand Aston. Setelah menghubungi Adijaya tadi pagi, dia berhasil mendapatkan akses untuk hadir di jamuan makan malam yang diadakan di tempat itu.Acara tersebut memang bukan jamuan biasa. Yang hadir sebagian besar adalah tokoh penting dunia bisnis, investor besar, direktur perusahaan ternama, serta orang-orang yang memiliki posisi cukup tinggi di kota ini. Tidak semua orang bisa datang begitu saja tanpa undangan resmi. Tetapi untungnya, hubungan Harsya dengan Adijaya selama ini cukup baik.Mereka pernah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, sehingga permintaan seperti ini masih bisa dipenuhi.Begitu memasuki lobi hotel, hawa hangat dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang masih membawa sisa udara dingin malam di luar.Harsya berjalan menuju aula utama

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 105

    Langit masih diselimuti mendung ketika mobil Harsya memasuki area parkir kantor pusat perusahaannya. Gedung tinggi berlapis kaca itu berdiri di tengah kawasan bisnis kota, tampak sibuk seperti biasa meski cuaca sedang muram. Karyawan berlalu-lalang membawa map dan laptop, sementara suara langkah kaki serta percakapan formal memenuhi lobi utama. Sejak turun dari mobil hingga memasuki lift khusus eksekutif, ekspresi Harsya tetap terlihat suram. Pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang Kanina dan laki-laki asing yang dia lihat di depan toko tadi terus muncul di kepalanya tanpa bisa dia kendalikan. Sikap Kanina saat dia bertanya dan menuntut penjelasan semakin membuatnya yakin bahwa tuduhannya tidak meleset. “Laki-laki itu pasti bukan pelanggan biasa, dia pasti orang yang diceritakan Ibu semalam. Dan Kanina pasti sudah lama berhubungan dengannya.” Pikiran itu terus memenuhi kepalanya. Se

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 104

    Suara kunci yang diputar terdengar pelan di tengah derai hujan yang hampir reda. Kanina berdiri beberapa langkah dari pintu kaca toko dengan deru napas yang tidak stabil.Di luar sana, Harsya masih belum pergi. Namun Kanina tidak ingin melihatnya lebih lama lagi. Dia memalingkan wajah cepat-cepat, lalu berdiri diam di tempatnya.Entah kenapa, setelah semua ucapan Harsya tadi, rasa sesak di dadanya terasa semakin sulit ditahan. Kalimat tajam pria itu terus terngiang di kepalanya tanpa ampun.“Apa kamu masih nggak sadar juga? Kamu itu bukan perempuan sempurna. Kamu nggak bisa hamil. Kamu pikir, masih ada laki-laki yang mau menerima kamu dengan tulus?”Benar, dia memang bukan perempuan sempurna. Mungkin juga benar, dia tidak bisa hamil lagi. Tapi, apakah benar tidak akan ada laki-laki yang bisa menerimanya dengan tulus?Kanina menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya tiba-tiba terasa panas. Dia buru-buru mendongak sambil berkedip beberapa kali, berusaha menahan air mata yang hampir j

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 103

    Kanina masih berdiri di bawah kanopi, memperhatikan Bentley hitam itu menghilang di balik tirai hujan.Baru ketika mobil tersebut benar-benar lenyap dari pandangan, dia menarik langkah, berniat masuk kembali ke dalam toko.Namun, belum sempat mencapai pintu yang setengah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.Tarikan itu cukup kuat. Kanina tersentak. Tubuhnya refleks berbalik, dan detik berikutnya dia langsung berhadapan dengan Harsya.Pria itu berdiri tegak, hampir basah kuyup oleh hujan. Wajahnya muram dan tatapannya menghunus seperti bilah pisau yang tajam.Kanina membelalakkan mata. Sejenak dia tertegun, sebelum akhirnya melangkah mundur sambil berusaha menarik lengannya.“Lepas!” katanya tegas.Suaranya cukup keras di antara rinai hujan yang kian deras. Namun, Harsya seperti tidak mendengarnya sama sekali. Cengkeraman di lengannya justru terasa semakin kuat.“Siapa laki-laki itu?” Satu pertanyaan terlontar dengan suara rendah yang terasa lebih dingi

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 102

    Pagi itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, menutupi cahaya matahari dan membawa hawa dingin yang menusuk kulit.Sejak dini hari, hujan turun perlahan tanpa henti—rintik-rintik kecil memercik lembut di permukaan kaca jendela toko bunga yang masih tertutup rapat.Butiran air saling menyatu lalu meluncur turun perlahan, meninggalkan jejak-jejak bening yang tampak samar di balik pantulan lampu jalan yang belum padam sepenuhnya.Suasana pagi terasa sunyi dan lembap. Sesekali suara kendaraan melintas memecah keheningan, meninggalkan cipratan air di aspal yang basah.Sebuah taksi biru akhirnya berhenti pelan di depan toko. Pintu penumpang terbuka, Kanina turun lebih dulu sambil membuka payung hitam di tangannya. Rintik hujan segera mengenai ujung lengan bajunya sebelum dia sedikit memiringkan payung itu ke samping, melindungi Artanti yang menyusul turun di sampingnya.“Hujan...” Artanti bergumam pelan. Kanina tersenyum sambil menggenggam jemari sang

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 101

    “Ibu jangan ke sana, ya?” Ralia berkata dengan lirih, nyaris seperti memohon. Sartika menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan tidak puas. Namun, setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan duduk kembali di sofa.Kemarahannya memang belum reda sama sekali, rasa kesal masih membara di hatinya, wajahnya bahkan masih muram, tetapi sekarang pikirannya mulai dipenuhi pertimbangan lain.Ralia perlahan ikut duduk di samping Sartika. Dengan penuh kelembutan, dia berkata, “Ibu nggak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja.”Sartika melihat penampilannya yang masih berantakan dan semakin merasa tidak puas di dalam hati. “Tapi, Ibu masih nggak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.”Ralia mengulas senyuman lembut, tapi matanya yang merah dan berkaca-kaca justru membuat senyuman itu tampak menyedihkan.“Nggak apa-apa, Bu,” ucapnya. “Aku justru nggak bisa tenang kalau Ibu pergi ke sana. Pria itu sepertinya bukan orang biasa. Aku takut dia akan m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status