Ucapan Anya itu terdengar jernih dan lantang, membuat ketiga orang dewasa di sana langsung tertegun.Di sampingnya, Vivian bertanya dengan rasa ingin tahu, "Anya, kenapa kamu bertanya begitu?"Anya mengedipkan mata, lalu berkata dengan suara keras, "Itu kata Bibi Raline. Katanya Paman Lambert akan jadi suaminya."Wajah Meira langsung terasa panas. Dia segera berjongkok di hadapan Anya dan berujar, "Anya, bibimu asal bicara. Jangan dianggap sungguhan ya."Brielle segera bereaksi. Dengan suara lembut, dia berkata kepada putrinya, "Anya, hal seperti itu jangan diucapkan lagi ya?"Anya mengangguk, tetapi matanya yang besar penuh kebingungan. "Tapi Bibi Raline bilang ....""Bibimu salah," sela Meira buru-buru, lalu melirik Lambert dengan canggung. "Lambert, anak kecil belum ngerti apa-apa, jangan dimasukkan ke hati."Lambert tersenyum tipis. Ekspresinya tetap tenang. "Nggak apa-apa.""Anya, ucapkan selamat tinggal pada Paman Lambert," kata Brielle kepada putrinya.Anya melambaikan tangan pa
Read more