Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bahkan di lift, dan setiap kali itu pula Mila memilih berpaling, pura-pura sibuk, atau menjawab singkat tanpa menatap.“Mil,” panggil Sevi suatu siang, langkahnya menyusul di lorong. “Bisa ngobrol sebentar, nggak?”Mila menghentikan langkah, tapi tidak menoleh.“Kalau soal kerjaan, kirim email aja.”“Bukan soal kerjaan,” jawab Sevi pelan. “Aku cuma...”“Sevi,” potong Mila, akhirnya menoleh. Wajahnya datar. “Aku lagi nggak pengen ngobrol.”Sevi tertegun.“Kamu kenapa deh, jadi aneh gini?”“Aneh gimana?” Mila mengangkat bahu. “Aku cuma capek.”Sevi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.“Kalau aku ada salah...”“Bukan kamu,” Mila menyela cepat. “Aku aja yang gini.”Mila berlalu, meninggalkan Sevi y
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya