Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjanya sudah rapi, tas sudah tersampir di kursi, hanya satu hal yang membuatnya menggerutu sejak lima menit lalu.“Arlan,” katanya sambil menghela napas, “dasi kamu masih miring.”Arlan yang sedang mengancingkan jasnya di depan lemari hanya melirik sekilas ke arah Sevi, lalu pura-pura sibuk lagi.“Nanti juga bener sendiri,” jawabnya santai.Sevi memutar bola mata. “Nggak usah nanti-nanti, langsung benerin, Lan. Kita bentar lagi berangkat.”“Masih ada waktu,” Arlan tersenyum kecil, jelas menikmati situasi itu.“Astaga,” gumam Sevi pelan. “Kamu tuh, ya…”Ia melangkah mendekat, hendak meraih ujung dasi Arlan, tetapi pria itu justru melangkah satu langkah ke depan, berdiri tepat di hadapannya, senga
Last Updated : 2026-02-09 Read more