Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta maaf.”Sevi tercekat.Arlan menoleh sekilas ke belakang. “Untuk apa?”“Untuk semuanya,” jawab Miko lirih. “Aku salah. Aku sadar aku salah.”Lorong itu hening. Beberapa karyawan melambatkan langkah, berpura-pura sibuk, tetapi jelas mendengar.Sevi mengepalkan tangannya. Suaranya keluar datar. “Permintaan maafmu datang terlambat.”Miko mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku harus bilang.”“Tidak di sini,” potong Arlan tegas. “Dan tidak sekarang.”Miko mengangkat wajahnya, menatap Arlan, lalu Sevi. “Aku cuma mau kamu tahu… aku nggak pernah berniat nyakitin kamu.”Sevi menatapnya lama. Lalu berkata pelan, penuh kelelahan, “Tapi semakin kamu kayak gini, semakin nyakitin aku, Mik.”Kalimat itu sederhana,
Last Updated : 2026-01-27 Read more