Malam itu terasa berjalan lambat bagi Arlan, seolah jarum jam kehilangan niat untuk bergerak. Kamar kontrakan Sevi sunyi, hanya diisi dengkuran halus napas perempuan yang kini terlelap di dalam pelukannya. Tubuh Sevi menghadap ke arahnya, kepala bersandar nyaman di dada Arlan, satu tangan Sevi menggenggam kausnya tanpa sadar, seakan takut terlepas.Arlan tidak tidur.Matanya masih terbuka, menatap langit-langit kamar yang polos, lalu turun menelusuri wajah Sevi. Dalam cahaya temaram lampu tidur, wajah itu tampak begitu damai. Alisnya rileks, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur.Arlan menggeser tangannya perlahan, menyibak rambut Sevi yang jatuh ke pipi. Ia menunduk, melayangkan kecupan singkat, sangat singkat, di dahi, di pelipis, di ujung hidung, lalu di pipi.Sevi hanya bergumam kecil, bergeser sedikit, lalu kembali diam.Arlan tersenyum tipis, namun senyum itu cepat menghilang. Dadanya terasa sesak oleh pikiran yang sejak tadi berputar-putar tanpa arah. Ia menghela napas pan
Last Updated : 2025-12-29 Read more