Bagas tak memberi kesempatan bagi Biya untuk mengeluh lebih jauh. Bibirnya langsung menyerang, menempel ganas pada bibir Biya yang masih terbuka karena kejutan. Ciuman itu seperti badai yang sudah mengintai sejak tadi di perjalanan- menggebu, lapar, dan tak kenal ampun. Tangan Bagas merenggut pinggang Biya, menariknya lebih dekat hingga tak ada celah di antara tubuh mereka, sementara lidahnya menyusup masuk, menjelajah dengan rakus, mencuri napas yang tersisa."Mas, hmphh," desah Biya.Biya tak kalah. Tangannya meraih leher Bagas, jari-jarinya mencengkeram rambut di tengkuknya, menariknya lebih dalam."Mas," gumamnya di sela-sela ciuman, suaranya pecah oleh desahan yang tak bisa ditahan.Tubuhnya yang tadi terbentur dinding kini membalas, mendorong Bagas mundur selangkah, lalu dua langkah, sambil bibir mereka tetap bertautan. Mereka bergerak seperti satu kesatuan, bergoyang, tersandung, tapi tak pernah lepas. Bagas menendang sepatunya sendiri ke samping, meninggalkan jejak kacau di la
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-11-30 อ่านเพิ่มเติม