Nando tidak langsung menanggapi. Ia menatap Bagas lama, cukup lama untuk membedakan apakah pernyataan itu sekadar rasa bersalah atau sebuah obsesi yang dibungkus penebusan.“Pak,” akhirnya ia membuka suara, pelan tapi jernih, “yang Bapak inginkan itu terdengar seperti permintaan maaf, tapi juga seperti hukuman.”Bagas membuka mata, menoleh sedikit. “Bukan itu maksud saya.”“Tapi itulah yang terdengar,” respon Nando dengan hati-hati, “seolah Bapak ingin Nona Biya melihat bahwa Bapak adalah orang yang menghancurkannya. Bapak ingin Nona Biya mengingat luka itu secara jelas sebelum menerima Bapak.”Tatapan Bagas mengeras samar, bukan marah, melainkan defensif, tanpa sadar.“Bukankah itu jujur?” Bagas membalas lirih.“Kejujuran, iya. Tapi apakah itu sehat untuk Bapak dan untuk Nona Biya? Itu adalah hal yang berbeda,” jawab Nando.Bagas menunduk, kedua jarinya saling menekan, seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang ingin pecah dari dadanya. Nando melanjutkan, lebih tajam namun tetap me
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-10 อ่านเพิ่มเติม