Pintu bilik darurat itu tertutup rapat, menyisakan Wulung dan Wulan dalam isolasi, diselimuti dinginnya malam Menoreh yang menusuk dan bayangan ancaman Racun Merak Merah yang masih menghantui. Wulung, tanpa membuang waktu, segera membaringkan tubuh Wulan yang menggigil di atas tikar anyaman yang dingin. Di matanya, kilatan kecurigaan atau bekas pengkhianatan yang pernah ia rasakan, telah sepenuhnya sirna. Yang tersisa hanyalah tekad baja untuk menyelesaikan tugas suci yang diberikan Kumbhayoni dan, di sudut terdalam hatinya, sebuah gema rasa sakit yang nyaris memilukan.“Wulan,” bisik Wulung, suaranya parau menahan emosi, “Aku tahu kamu dengar aku. Kuatkan dirimu, ya.”Dia berjongkok, dengan gerakan hati-hati namun sigap, mulai melepas kain basah yang menutupi tubuh Wulan. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena urgency situasi dan kerentanannya yang tiba-tiba melihat Wulan begitu tak berdaya. Wulan, dengan kulit seputih pualam, terbaring lemah, matanya tertut
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-02 อ่านเพิ่มเติม