Eddy segera menyadari ada yang berubah dari raut wajah Elisa sampai ia segera meralat ucapannya. "Astaga, Sayang, mengapa ekspresimu seperti ini? Maksudku itu adalah aku bahagia sekali karena akan menjadi Papa sekaligus kita mendapatkan warisan itu. Kita akan membesarkan anak ini bersama, Sayang! Aku senang sekali!" Eddy kembali memeluk Elisa, tapi Elisa sudah tidak bisa tersenyum lagi. Tidak lama kemudian, Darmawan masuk bersama Arman. "Nah, ini dia Elisa! Kau akan punya cucu, Arman!" seru Darmawan sumringah. "Akhirnya aku akan punya anak, Ayah! Aku senang sekali!" seru Eddy juga. Namun, ekspresi Arman lebih datar. Baginya, punya cucu atau tidak, tidak ada bedanya. Ia tidak terlalu antusias. "Selamat untuk kalian! Dengan begini, kau harus bekerja lebih baik lagi dan jangan terus menerus melakukan kesalahan, Eddy!" seru Arman tajam sampai membuat senyuman Eddy sedikit memudar. Eddy menggeram. Bahkan sampai seperti ini, Arman juga masih tetap menyindirnya. Namun, demi warisan, i
더 보기