“Apa maksudmu, Kirana? Berubah gimana?”“Menurutku Nico sudah benar-benar lupakan aku, Pasha.”Dengar itu, alis Pasha langsung berkerut rapat. Pikirannya nggak bisa berhenti pikirkan adik perempuannya, bertanya-tanya apa keadaan memang benar-benar telah berubah.“Kamu nggak marah ke aku, kan, Pasha?”“Kalau kamu nggak marah ke aku, aku juga nggak marah ke kamu.”“Oke. Berarti kita impas. Aku juga sudah stres selama beberapa hari ini.”“Makasih sudah ngerti aku, Kirana.”“Yah, aku cuma merasa kasihan ke Puput. Aku nggak tahu gimana semuanya akan berakhir antara dia dan Nico.”“Kita lihat saja nanti. Dari yang aku lihat, Nico juga bertingkah aneh akhir-akhir ini. Dia sering jemput dan antar Puput pulang, juga kasih tahu Ibu dan Ayah kalau dia pacarnya.”“Benar juga. Kalau Nico masih simpan dendam, rasanya dia nggak akan repot-repot temui orang tuamu seperti itu. Memang aneh.”“Biarkan aku yang urus Puput. Kamu nggak perlu khawatir, Kirana. Santai saja. Hari pernikahan kita sudah hampir t
Read more