"Wah, wah... lihat siapa yang baru sampai," sapa Raisa dengan nada sinis sambil melipat tangannya di bawah dada. "Anak baru yang masuk lewat 'pintu belakang' akhirnya datang juga."Alin menghentikan langkahnya. Mengingat Raisa adalah senior di Akademi ini, Alin berusaha tetap tenang dan sopan."Selamat pagi, Kak Raisa," sapa Alin seadanya, tanpa raut takut sedikit pun.Raisa mendengkus tajam. Senyum miring yang terukir di bibirnya, menutupi jemarinya yang sebenarnya masih dingin akibat desakan keluarga Faruq."Nggak usah sok ramah sama aku, Alin. Kamu pikir dengan modal belas kasihan Rizan, kamu bisa bertahan di Akademi ini?" sergah Raisa dengan tatapan judes. "Di sini itu tempatnya orang-orang berpendidikan, bukan cewek desa yang cuma tahu numpang hidup!"Alin menghela napas pelan, menatap lurus mata Raisa. "Maaf, Aku di sini buat belajar, Kak. Bukan buat cari musuh.""Cih, sok polos," cetus Raisa ketus. Perempuan itu sengaja berjalan mendekat, secara kasar mengibaskan ujung k
Leer más