เข้าสู่ระบบDi barisan depan, Raisa melipat tangannya rapat-rapat. Senyum tipis yang penuh kemenangan tertahan di bibirnya, meski hatinya gelisah luar biasa.Petugas audit bergerak cepat menyisir deretan meja. Hingga akhirnya, Pak Herman sendiri melangkah pelan namun pasti, berhenti tepat di samping meja Alin."Saudari Alin," panggil Pak Herman dingin dan mengintimidasi. "Bisa tolong serahkan tas punggung milik Anda sekarang?"Seluruh mata di dalam kelas tertuju pada Alin. Beberapa orang mulai berbisik sinis, menantikan kejatuhan sang "cewek kampung" yang beruntung disunting CEO mereka.Namun, di luar dugaan semua orang, Alin sama sekali tidak menunjukkan raut panik, takut, apalagi menangis. Gadis itu menatap lurus mata Pak Herman dengan ekspresi tenang dan wajah tegak.Alin merapikan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya santai. "Sebelum saya serahkan tas saya, Pak Herman... boleh saya tahu dasar spesifik penggeledahan ini? Dan apakah ada rekaman CCTV koridor yang sudah Bapak periksa s
"Wah, wah... lihat siapa yang baru sampai," sapa Raisa dengan nada sinis sambil melipat tangannya di bawah dada. "Anak baru yang masuk lewat 'pintu belakang' akhirnya datang juga."Alin menghentikan langkahnya. Mengingat Raisa adalah senior di Akademi ini, Alin berusaha tetap tenang dan sopan."Selamat pagi, Kak Raisa," sapa Alin seadanya, tanpa raut takut sedikit pun.Raisa mendengkus tajam. Senyum miring yang terukir di bibirnya, menutupi jemarinya yang sebenarnya masih dingin akibat desakan keluarga Faruq."Nggak usah sok ramah sama aku, Alin. Kamu pikir dengan modal belas kasihan Rizan, kamu bisa bertahan di Akademi ini?" sergah Raisa dengan tatapan judes. "Di sini itu tempatnya orang-orang berpendidikan, bukan cewek desa yang cuma tahu numpang hidup!"Alin menghela napas pelan, menatap lurus mata Raisa. "Maaf, Aku di sini buat belajar, Kak. Bukan buat cari musuh.""Cih, sok polos," cetus Raisa ketus. Perempuan itu sengaja berjalan mendekat, secara kasar mengibaskan ujung k
"Rizan pikir dia sudah menang hanya karena berhasil membersihkan nama cewek itu di depan media," sahut Faruq rendah. "Tapi dia tidak tahu... kalau reputasi cewek itu hancur karena kasus pembocoran rahasia perusahaan, dewan komisaris sendiri yang akan memaksa Rizan menyingkirkannya."Rayyan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, menyunggingkan cengiran licik. "Maksud Papa... kita pakai Raisa buat menjebak Alin di Akademi?""Tepat," angguk Faruq mantap. "Raisa punya akses penuh di Akademi Atmajaya. Kita manfaatkan posisinya untuk menyusupkan salinan berkas rahasia proyek tender besar Atmajaya ke dalam modul belajar Alin. Begitu dokumen itu bocor ke kompetitor dan sidik jari Alin ada di sana, Rizan tidak akan punya alasan lagi untuk membelanya di hadapan dewan komisaris."Valerian menghela napas panjang, merapikan gaun mahalnya. "Tapi Mas... apa Raisa mau menurut? Anak itu kan gampang bingung dan penakut kalau sudah berhadapan sama Rizan.""Dia tidak punya pilihan, Mama," se
Gema tepuk tangan para tamu undangan dan deretan komisaris senior seketika memecah keheningan ballroom. Kilatan kamera wartawan kini beralih sepenuhnya mengabadikan momen ketegasan sang CEO muda PT Maple Syrup Atmajaya.Di sudut balkon lantai dua, suasana terasa mencekam. Valerian meremas gaun mahalnya dengan napas memburu, wajah cantiknya memerah padam menahan malu saat beberapa awak media di bawah mulai mengarahkan lensa kamera ke arah mereka."Mas... bagaimana ini?!" bisik Valerian panik, suaranya gemetaran. "Rizan tahu! Dia bahkan sudah memegang data dari komputer Felix!"Faruq tidak menjawab. Pria paruh baya itu berdiri kaku dengan rahang mengeras rapat. Tatapannya menancap tajam pada sosok Rizan yang masih berdiri tenang merangkul Alin di panggung utama."Mundur," desis Faruq dingin, memutar tubuhnya dengan cepat. "Rayyan, tutup semua akses ke akun Felix. Jangan sampai polisi menemukan benang merah yang mengarah pada kita malam ini!"Rayyan mengepalkan tangannya hingga buku
"Anak kurang ajar! Kamu tega menelantarkan bapak yang membesarkanmu, demi jadi simpanan pria kaya ini?!"Suara Pak Rustam memecah keheningan ballroom. Hesti yang berdiri di sampingnya berpura-pura mengusap air mata dramatis, memompa emosi wartawan yang kini bergerombol maju, menyorotkan puluhan kamera tepat ke arah panggung utama."Pak Rizan! Apakah Anda memanfaatkan gadis desa ini untuk manipulasi keuangan perusahaan?""Apakah ini alasan sebenarnya pernikahan rahasia Anda disembunyikan?"Di sudut balcony lantai dua, Rayyan mengusap dagunya dengan cengiran puas. Faruq dan Valerian berdiri menatap ke bawah, menantikan kehancuran Rizan di depan para komisaris utama.Namun, di tengah hiruk-piruk dan sorotan flash yang membabi buta, Rizan sama sekali tidak panik. Rahagnya mengeras kaku, tetapi sepasang matanya tetap tenang penuh dominasi. Rizan melangkah setengah badan ke depan, menyembunyikan Alin di belakang tubuh tegapnya."Jangan menunduk, Alin. Tatap mereka," bisik Rizan rendah,
Grand Ballroom hotel bintang lima malam itu disulap menjadi samudra kemewahan. Lampu-lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul pada deretan hidangan mahal, gelas-gelas kristal, dan deretan busana bermerek milik para tamu undangan VIP. Ratusan pejabat, mitra bisnis papan atas, serta puluhan awak media nasional sudah memenuhi ruangan.Mobil sedan hitam berpelat istimewa berhenti tepat di depan karpet merah. Pengawal bersafari hitam dengan sigap membukakan pintu.Rizan melangkah keluar lebih dulu. Pria itu tampak sangat gagah dan dominan dalam balutan tuxedo hitam buatan penjahit Italia. Garis rahangnya yang tegas dan aura dinginnya seketika mencuri perhatian kamera wartawan.Namun, bukannya langsung berjalan masuk, Rizan berbalik. Ia mengulurkan tangan tegapnya ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat lembut.Jemari mungil Alin menyambut uluran tangan itu. Dengan gaun sutra biru navy bertabur kristal kecil yang anggun, Alin melangkah keluar. Rambut hit
Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene
Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.
"Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?""Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik. Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluark
***Jam menunjukkan pukul 14.30. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, menyorot debu-debu yang melayang di udara kantor PT Maple Atmajaya. Suasana kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin ketik dan obrolan ringan, kini terasa lebih tenang. Sebagian besar







