LOGIN"Hasil pemeriksaan laboratorium dan CT scan terbaru menunjukkan perkembangan yang sangat positif, Pak Rizan," terang Dokter Aris dengan raut lega. "Kondisi fisik dan tanda-tanda vital Ibu Nareswati sekarang sudah benar-benar stabil. Tekanan darah, detak jantung, serta aktivitas gelombang otaknya berada dalam grafik yang sangat baik."Rizan menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa syukur. Beban berat di dadanya seolah terangkat sebagian. "Berarti... Mama sudah melewati masa kritisnya, Dok?""Secara medis, beliau sudah sangat stabil dan jauh dari kata kritis," jawab Dokter Aris mantap.Namun, Dokter Aris tidak langsung melanjutkan kalimatnya. Pria paruh baya berjas putih itu merapikan papan catatannya, lalu menatap Rizan dan Alin dengan pandangan yang mendadak berubah agak ragu dan dalam—membuat atmosfer hangat di ruangan itu seketika menggantung.Rizan mengernyit. Genggaman tangannya pada jemari sang ibu mendadak mengencang. "Kenapa, Dok? Ada hal lain terkait kondisi Mama?
"T-Ternyata Tuan... ada di... kamar Nyonya."Alin yang baru sadar sepenuhnya seketika memproses situasi tersebut. Pipinya mendadak membara merah padam! Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik lengan Rizan karena malu setengah mati.Rizan sendiri berdehem pelan, mengusap tengkuknya dengan raut wajah datar—meski daun telinganya perlahan merona merah kaku."AC kamar saya mati," potong Rizan singkat dengan alasan konyolnya, mempertahankan wibawanya yang sudah runtuh di depan bawahannya. "Ada laporan penting apa sampai kamu menggedor pintu seperti orang kesetanan?"Anton meringis kaku, berusaha keras tidak tersenyum melihat kebohongan bosnya. Namun, raut wajah Anton mendadak berubah serius dalam hitungan detik."Maaf, Tuan... Ini darurat," bisik Anton, menurunkan volume suaranya. "Direktur Rumah Sakit Internasional baru saja menelepon. Dokter spesialis mencatat ada pergerakan refleks dan peningkatan grafik otak yang sangat signifikan pada Ibu Nareswati pagi ini. Ibu... menunjukk
Alin terjatuh tepat di atas dada bidang Rizan. Suasana kamar seketika hening total. Kedua tangan Alin bertumpu refleks di dada kaus hitam Rizan, sementara lengan tegap Rizan secara alami melingkari pinggang Alin agar gadis itu tidak terguling. Jarak mereka kini tiada. Wajah Alin terangkat hanya beberapa senti di atas wajah Rizan. Hembusan napas hangat Rizan terasa menembus kulit pipi Alin yang mendadak membara seperti dibakar api. Di balik telapak tangannya, Alin bisa merasakan detak jantung Rizan berpacu sama gilanya dengan detak jantungnya sendiri. Rizan menatap lurus ke dalam manik mata Alin yang membelalak bulat, mengunci pandangan istrinya tanpa niat melepaskannya sedikit pun. Alin berusaha menggerakkan siku dan lututnya untuk bangkit, merasa sangat canggung dengan posisi yang terlampau dekat ini. Namun, sebelum ia sempat mengangkat tubuhnya, lengan tegap Rizan makin mengencang di pinggangnya, menahan pergerakan Alin secara mutlak. "Mas..." panggil Alin gugup, suara
Pukul 13.00 WIB, Ruang Rapat Utama Atmajaya Group menjadi medan eksekusi politik bisnis paling berdarah tahun ini.Bukti rekaman CCTV, pengakuan resmi Raisa, serta jejak aliran dana ilegal yang dipaparkan tim hukum Rizan membuat Dewan Komisaris meradang. Hasil pemungutan suara mutlak: Faruq dan Rayyan resmi dicopot secara tidak hormat dari seluruh jabatan direksi, serta seluruh hak akses operasional mereka dibekukan. Faruq keluar dengan wajah sekelam malam, terpaksa mundur ke balik bayangan sambil menahan dendam yang makin membakar.Malam harinya, di lorong lantai dua mansion Rizan...Alin baru saja selesai merapikan buku pelajarannya saat ketukan teratur terdengar dari luar. Begitu pintu dibuka, berdiri Rizan membawa secangkir teh chamomile hangat."Bik Sumi bilang kamu belum minum yang hangat setelah dari Akademi," ujar Rizan datar, menyerahkan cangkir itu.Alin menerima cangkir tersebut, lalu mendongak dengan binar mata jahil. "Bik Sumi kan sudah tidur dari jam sembilan, Mas.
Ruang kelas seketika mencengkeram dalam keheningan total. Kehadiran Rizan yang berdiri tegap merangkul Alin membawa tekanan atmosfer yang begitu berat, menundukkan keberanian siapa pun di ruangan itu.Pak Herman yang tadinya bersikap sangat tajam kini membungkuk hormat secara refleks. "P-Pak Rizan... Kami hanya menjalankan prosedur audit atas laporan anonim—""Dan prosedur audit yang buta tanpa memeriksa CCTV lebih dulu adalah bentuk ketidakprofesionalan," potong Rizan dingin, suaranya pelan namun sanggup menyayat keberanian Pak Herman hingga terkoyak.Rizan menoleh pada Anton yang berdiri siap di belakangnya. "Anton, tampilkan rekaman CCTV selasar lantai dua sepuluh menit yang lalu ke layar proyektor kelas ini."Raisa mendadak tersentak. Mata indahnya membelalak penuh horor. "R-Rizan, jangan—"BZZT!Layar proyektor raksasa di depan kelas menyala otomatis setelah Anton menekan satu tombol di tabletnya. Video resolusi tinggi memperlihatkan dengan sangat jelas detik-detik Raisa me
Di barisan depan, Raisa melipat tangannya rapat-rapat. Senyum tipis yang penuh kemenangan tertahan di bibirnya, meski hatinya gelisah luar biasa.Petugas audit bergerak cepat menyisir deretan meja. Hingga akhirnya, Pak Herman sendiri melangkah pelan namun pasti, berhenti tepat di samping meja Alin."Saudari Alin," panggil Pak Herman dingin dan mengintimidasi. "Bisa tolong serahkan tas punggung milik Anda sekarang?"Seluruh mata di dalam kelas tertuju pada Alin. Beberapa orang mulai berbisik sinis, menantikan kejatuhan sang "cewek kampung" yang beruntung disunting CEO mereka.Namun, di luar dugaan semua orang, Alin sama sekali tidak menunjukkan raut panik, takut, apalagi menangis. Gadis itu menatap lurus mata Pak Herman dengan ekspresi tenang dan wajah tegak.Alin merapikan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya santai. "Sebelum saya serahkan tas saya, Pak Herman... boleh saya tahu dasar spesifik penggeledahan ini? Dan apakah ada rekaman CCTV koridor yang sudah Bapak periksa s
Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene
"Di jidatmu!!! Ya jelas lah di situ! Kamu sekolah kan? Bisa baca kan? Di situ sudah jelas, letak dimana kamu tanda tangan!" ucap Rizan lagi.Alin segera mengusap air matanya dengan kasar, lalu segera membubuhkan tanda tangan di atas materai itu."Bagus. Kalau gitu kita akan menikah besok!""Hah? Be
"Buk... Ibuk... Assalamu'alaikum!!!" Gadis cantik berambut lurus tergerai itu berlari dengan girang mendekati ibunya yang tengah memasak. Ia baru pulang sekolah, meski jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi."Loh, kok sudah pulang, Al? Baru jam sepuluh kan?" tanya Bu Hanum sembari mengulurkan tan
"A a ampun Tuan... Jangan, jangan sentuh Alin, Alin mohon..." Wanita berpakaian mini berwarna purple itu berjalan mundur seirama dengan pria berbadan kekar yang melangkah di depannya dengan tatapan penuh nafsu. Pria itu sama sekali tidak menggubris Alin yang tampak ketakutan. Ia terus mendekat, ba







