Asap tipis dari cangkir espresso hitam milik Rizan membubung pelan di ruang kerja utama mansion Atmajaya. Ruangan bernuansa kayu mahoni gelap dan kaca tebal itu terasa dingin, sepadan dengan aura pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Rizan menatap dokumen di tangan dengan sorot mata sehitam jelaga. Tidak ada riak emosi di wajahnya yang tegas, hanya ada ketenangan yang justru sangat berbahaya. Di depannya, Anton berdiri tegap dengan sikap sempurna. Sementara Alin duduk di kursi kulit di hadapan Rizan, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Brak. Rizan melempar map cokelat itu ke tengah meja. Suaranya tidak keras, tapi sanggup membuat Alin tersentak kaget. "Bisa jelaskan ini, Anton?" suara Rizan mengalun rendah, berat, dan tanpa ampun. "Delapan Belas tahun tahun lalu, kasus penculikan bayi di rumah sakit swasta kota. Pelakunya buronan," Anton melaporkan dengan nada presisi tanpa cela. "Rustam membeli bayi itu seharga beberapa ratus ribu dari sang p
อ่านเพิ่มเติม