Share

Momen manis

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2026-09-15 21:05:59

Pukul 13.00 WIB, Ruang Rapat Utama Atmajaya Group menjadi medan eksekusi politik bisnis paling berdarah tahun ini.

​Bukti rekaman CCTV, pengakuan resmi Raisa, serta jejak aliran dana ilegal yang dipaparkan tim hukum Rizan membuat Dewan Komisaris meradang. Hasil pemungutan suara mutlak: Faruq dan Rayyan resmi dicopot secara tidak hormat dari seluruh jabatan direksi, serta seluruh hak akses operasional mereka dibekukan. Faruq keluar dengan wajah sekelam malam, terpaksa mundur ke balik bayangan sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Gadis Malam   Momen manis

    Pukul 13.00 WIB, Ruang Rapat Utama Atmajaya Group menjadi medan eksekusi politik bisnis paling berdarah tahun ini.​Bukti rekaman CCTV, pengakuan resmi Raisa, serta jejak aliran dana ilegal yang dipaparkan tim hukum Rizan membuat Dewan Komisaris meradang. Hasil pemungutan suara mutlak: Faruq dan Rayyan resmi dicopot secara tidak hormat dari seluruh jabatan direksi, serta seluruh hak akses operasional mereka dibekukan. Faruq keluar dengan wajah sekelam malam, terpaksa mundur ke balik bayangan sambil menahan dendam yang makin membakar.​Malam harinya, di lorong lantai dua mansion Rizan...​Alin baru saja selesai merapikan buku pelajarannya saat ketukan teratur terdengar dari luar. Begitu pintu dibuka, berdiri Rizan membawa secangkir teh chamomile hangat.​"Bik Sumi bilang kamu belum minum yang hangat setelah dari Akademi," ujar Rizan datar, menyerahkan cangkir itu.​Alin menerima cangkir tersebut, lalu mendongak dengan binar mata jahil. "Bik Sumi kan sudah tidur dari jam sembilan, Mas.

  • Menikahi Gadis Malam   Ternyata dalangnya...

    Ruang kelas seketika mencengkeram dalam keheningan total. Kehadiran Rizan yang berdiri tegap merangkul Alin membawa tekanan atmosfer yang begitu berat, menundukkan keberanian siapa pun di ruangan itu.​Pak Herman yang tadinya bersikap sangat tajam kini membungkuk hormat secara refleks. "P-Pak Rizan... Kami hanya menjalankan prosedur audit atas laporan anonim—"​"Dan prosedur audit yang buta tanpa memeriksa CCTV lebih dulu adalah bentuk ketidakprofesionalan," potong Rizan dingin, suaranya pelan namun sanggup menyayat keberanian Pak Herman hingga terkoyak.​Rizan menoleh pada Anton yang berdiri siap di belakangnya. "Anton, tampilkan rekaman CCTV selasar lantai dua sepuluh menit yang lalu ke layar proyektor kelas ini."​Raisa mendadak tersentak. Mata indahnya membelalak penuh horor. "R-Rizan, jangan—"​BZZT!​Layar proyektor raksasa di depan kelas menyala otomatis setelah Anton menekan satu tombol di tabletnya. Video resolusi tinggi memperlihatkan dengan sangat jelas detik-detik Raisa me

  • Menikahi Gadis Malam   Jebakan

    ​Di barisan depan, Raisa melipat tangannya rapat-rapat. Senyum tipis yang penuh kemenangan tertahan di bibirnya, meski hatinya gelisah luar biasa.​Petugas audit bergerak cepat menyisir deretan meja. Hingga akhirnya, Pak Herman sendiri melangkah pelan namun pasti, berhenti tepat di samping meja Alin.​"Saudari Alin," panggil Pak Herman dingin dan mengintimidasi. "Bisa tolong serahkan tas punggung milik Anda sekarang?"​Seluruh mata di dalam kelas tertuju pada Alin. Beberapa orang mulai berbisik sinis, menantikan kejatuhan sang "cewek kampung" yang beruntung disunting CEO mereka.​Namun, di luar dugaan semua orang, Alin sama sekali tidak menunjukkan raut panik, takut, apalagi menangis. Gadis itu menatap lurus mata Pak Herman dengan ekspresi tenang dan wajah tegak.​Alin merapikan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya santai. "Sebelum saya serahkan tas saya, Pak Herman... boleh saya tahu dasar spesifik penggeledahan ini? Dan apakah ada rekaman CCTV koridor yang sudah Bapak periksa s

  • Menikahi Gadis Malam   Rencana licik mulai di jalankan

    ​"Wah, wah... lihat siapa yang baru sampai," sapa Raisa dengan nada sinis sambil melipat tangannya di bawah dada. "Anak baru yang masuk lewat 'pintu belakang' akhirnya datang juga."​Alin menghentikan langkahnya. Mengingat Raisa adalah senior di Akademi ini, Alin berusaha tetap tenang dan sopan.​"Selamat pagi, Kak Raisa," sapa Alin seadanya, tanpa raut takut sedikit pun.​Raisa mendengkus tajam. Senyum miring yang terukir di bibirnya, menutupi jemarinya yang sebenarnya masih dingin akibat desakan keluarga Faruq.​"Nggak usah sok ramah sama aku, Alin. Kamu pikir dengan modal belas kasihan Rizan, kamu bisa bertahan di Akademi ini?" sergah Raisa dengan tatapan judes. "Di sini itu tempatnya orang-orang berpendidikan, bukan cewek desa yang cuma tahu numpang hidup!"​Alin menghela napas pelan, menatap lurus mata Raisa. "Maaf, Aku di sini buat belajar, Kak. Bukan buat cari musuh."​"Cih, sok polos," cetus Raisa ketus. Perempuan itu sengaja berjalan mendekat, secara kasar mengibaskan ujung k

  • Menikahi Gadis Malam   Akademi Atmajaya

    ​"Rizan pikir dia sudah menang hanya karena berhasil membersihkan nama cewek itu di depan media," sahut Faruq rendah. "Tapi dia tidak tahu... kalau reputasi cewek itu hancur karena kasus pembocoran rahasia perusahaan, dewan komisaris sendiri yang akan memaksa Rizan menyingkirkannya."​Rayyan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, menyunggingkan cengiran licik. "Maksud Papa... kita pakai Raisa buat menjebak Alin di Akademi?"​"Tepat," angguk Faruq mantap. "Raisa punya akses penuh di Akademi Atmajaya. Kita manfaatkan posisinya untuk menyusupkan salinan berkas rahasia proyek tender besar Atmajaya ke dalam modul belajar Alin. Begitu dokumen itu bocor ke kompetitor dan sidik jari Alin ada di sana, Rizan tidak akan punya alasan lagi untuk membelanya di hadapan dewan komisaris."​Valerian menghela napas panjang, merapikan gaun mahalnya. "Tapi Mas... apa Raisa mau menurut? Anak itu kan gampang bingung dan penakut kalau sudah berhadapan sama Rizan."​"Dia tidak punya pilihan, Mama," se

  • Menikahi Gadis Malam   Rencana Gagal. Susun lagi

    Gema tepuk tangan para tamu undangan dan deretan komisaris senior seketika memecah keheningan ballroom. Kilatan kamera wartawan kini beralih sepenuhnya mengabadikan momen ketegasan sang CEO muda PT Maple Syrup Atmajaya.​Di sudut balkon lantai dua, suasana terasa mencekam. Valerian meremas gaun mahalnya dengan napas memburu, wajah cantiknya memerah padam menahan malu saat beberapa awak media di bawah mulai mengarahkan lensa kamera ke arah mereka.​"Mas... bagaimana ini?!" bisik Valerian panik, suaranya gemetaran. "Rizan tahu! Dia bahkan sudah memegang data dari komputer Felix!"​Faruq tidak menjawab. Pria paruh baya itu berdiri kaku dengan rahang mengeras rapat. Tatapannya menancap tajam pada sosok Rizan yang masih berdiri tenang merangkul Alin di panggung utama.​"Mundur," desis Faruq dingin, memutar tubuhnya dengan cepat. "Rayyan, tutup semua akses ke akun Felix. Jangan sampai polisi menemukan benang merah yang mengarah pada kita malam ini!"​Rayyan mengepalkan tangannya hingga buku

  • Menikahi Gadis Malam   Kilas Balik Alin

    "Buk... Ibuk... Assalamu'alaikum!!!" Gadis cantik berambut lurus tergerai itu berlari dengan girang mendekati ibunya yang tengah memasak. Ia baru pulang sekolah, meski jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi."Loh, kok sudah pulang, Al? Baru jam sepuluh kan?" tanya Bu Hanum sembari mengulurkan tan

  • Menikahi Gadis Malam   Pertemuan Malam itu

    "A a ampun Tuan... Jangan, jangan sentuh Alin, Alin mohon..." Wanita berpakaian mini berwarna purple itu berjalan mundur seirama dengan pria berbadan kekar yang melangkah di depannya dengan tatapan penuh nafsu. Pria itu sama sekali tidak menggubris Alin yang tampak ketakutan. Ia terus mendekat, ba

  • Menikahi Gadis Malam   Makan malam pertama

    Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene

  • Menikahi Gadis Malam   Siapa Dia...

    Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status