LOGINAlin terjatuh tepat di atas dada bidang Rizan.Suasana kamar seketika hening total. Kedua tangan Alin bertumpu refleks di dada kaus hitam Rizan, sementara lengan tegap Rizan secara alami melingkari pinggang Alin agar gadis itu tidak terguling.Jarak mereka kini tiada. Wajah Alin terangkat hanya beberapa senti di atas wajah Rizan. Hembusan napas hangat Rizan terasa menembus kulit pipi Alin yang mendadak membara seperti dibakar api. Di balik telapak tangannya, Alin bisa merasakan detak jantung Rizan berpacu sama gilanya dengan detak jantungnya sendiri.Rizan menatap lurus ke dalam manik mata Alin yang membelalak bulat, mengunci pandangan istrinya tanpa niat melepaskannya sedikit pun. Alin berusaha menggerakkan siku dan lututnya untuk bangkit, merasa sangat canggung dengan posisi yang terlampau dekat ini. Namun, sebelum ia sempat mengangkat tubuhnya, lengan tegap Rizan makin mengencang di pinggangnya, menahan pergerakan Alin secara mutlak."Mas..." panggil Alin gugup, suaranya hampi
Pukul 13.00 WIB, Ruang Rapat Utama Atmajaya Group menjadi medan eksekusi politik bisnis paling berdarah tahun ini.Bukti rekaman CCTV, pengakuan resmi Raisa, serta jejak aliran dana ilegal yang dipaparkan tim hukum Rizan membuat Dewan Komisaris meradang. Hasil pemungutan suara mutlak: Faruq dan Rayyan resmi dicopot secara tidak hormat dari seluruh jabatan direksi, serta seluruh hak akses operasional mereka dibekukan. Faruq keluar dengan wajah sekelam malam, terpaksa mundur ke balik bayangan sambil menahan dendam yang makin membakar.Malam harinya, di lorong lantai dua mansion Rizan...Alin baru saja selesai merapikan buku pelajarannya saat ketukan teratur terdengar dari luar. Begitu pintu dibuka, berdiri Rizan membawa secangkir teh chamomile hangat."Bik Sumi bilang kamu belum minum yang hangat setelah dari Akademi," ujar Rizan datar, menyerahkan cangkir itu.Alin menerima cangkir tersebut, lalu mendongak dengan binar mata jahil. "Bik Sumi kan sudah tidur dari jam sembilan, Mas.
Ruang kelas seketika mencengkeram dalam keheningan total. Kehadiran Rizan yang berdiri tegap merangkul Alin membawa tekanan atmosfer yang begitu berat, menundukkan keberanian siapa pun di ruangan itu.Pak Herman yang tadinya bersikap sangat tajam kini membungkuk hormat secara refleks. "P-Pak Rizan... Kami hanya menjalankan prosedur audit atas laporan anonim—""Dan prosedur audit yang buta tanpa memeriksa CCTV lebih dulu adalah bentuk ketidakprofesionalan," potong Rizan dingin, suaranya pelan namun sanggup menyayat keberanian Pak Herman hingga terkoyak.Rizan menoleh pada Anton yang berdiri siap di belakangnya. "Anton, tampilkan rekaman CCTV selasar lantai dua sepuluh menit yang lalu ke layar proyektor kelas ini."Raisa mendadak tersentak. Mata indahnya membelalak penuh horor. "R-Rizan, jangan—"BZZT!Layar proyektor raksasa di depan kelas menyala otomatis setelah Anton menekan satu tombol di tabletnya. Video resolusi tinggi memperlihatkan dengan sangat jelas detik-detik Raisa me
Di barisan depan, Raisa melipat tangannya rapat-rapat. Senyum tipis yang penuh kemenangan tertahan di bibirnya, meski hatinya gelisah luar biasa.Petugas audit bergerak cepat menyisir deretan meja. Hingga akhirnya, Pak Herman sendiri melangkah pelan namun pasti, berhenti tepat di samping meja Alin."Saudari Alin," panggil Pak Herman dingin dan mengintimidasi. "Bisa tolong serahkan tas punggung milik Anda sekarang?"Seluruh mata di dalam kelas tertuju pada Alin. Beberapa orang mulai berbisik sinis, menantikan kejatuhan sang "cewek kampung" yang beruntung disunting CEO mereka.Namun, di luar dugaan semua orang, Alin sama sekali tidak menunjukkan raut panik, takut, apalagi menangis. Gadis itu menatap lurus mata Pak Herman dengan ekspresi tenang dan wajah tegak.Alin merapikan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya santai. "Sebelum saya serahkan tas saya, Pak Herman... boleh saya tahu dasar spesifik penggeledahan ini? Dan apakah ada rekaman CCTV koridor yang sudah Bapak periksa s
"Wah, wah... lihat siapa yang baru sampai," sapa Raisa dengan nada sinis sambil melipat tangannya di bawah dada. "Anak baru yang masuk lewat 'pintu belakang' akhirnya datang juga."Alin menghentikan langkahnya. Mengingat Raisa adalah senior di Akademi ini, Alin berusaha tetap tenang dan sopan."Selamat pagi, Kak Raisa," sapa Alin seadanya, tanpa raut takut sedikit pun.Raisa mendengkus tajam. Senyum miring yang terukir di bibirnya, menutupi jemarinya yang sebenarnya masih dingin akibat desakan keluarga Faruq."Nggak usah sok ramah sama aku, Alin. Kamu pikir dengan modal belas kasihan Rizan, kamu bisa bertahan di Akademi ini?" sergah Raisa dengan tatapan judes. "Di sini itu tempatnya orang-orang berpendidikan, bukan cewek desa yang cuma tahu numpang hidup!"Alin menghela napas pelan, menatap lurus mata Raisa. "Maaf, Aku di sini buat belajar, Kak. Bukan buat cari musuh.""Cih, sok polos," cetus Raisa ketus. Perempuan itu sengaja berjalan mendekat, secara kasar mengibaskan ujung k
"Rizan pikir dia sudah menang hanya karena berhasil membersihkan nama cewek itu di depan media," sahut Faruq rendah. "Tapi dia tidak tahu... kalau reputasi cewek itu hancur karena kasus pembocoran rahasia perusahaan, dewan komisaris sendiri yang akan memaksa Rizan menyingkirkannya."Rayyan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, menyunggingkan cengiran licik. "Maksud Papa... kita pakai Raisa buat menjebak Alin di Akademi?""Tepat," angguk Faruq mantap. "Raisa punya akses penuh di Akademi Atmajaya. Kita manfaatkan posisinya untuk menyusupkan salinan berkas rahasia proyek tender besar Atmajaya ke dalam modul belajar Alin. Begitu dokumen itu bocor ke kompetitor dan sidik jari Alin ada di sana, Rizan tidak akan punya alasan lagi untuk membelanya di hadapan dewan komisaris."Valerian menghela napas panjang, merapikan gaun mahalnya. "Tapi Mas... apa Raisa mau menurut? Anak itu kan gampang bingung dan penakut kalau sudah berhadapan sama Rizan.""Dia tidak punya pilihan, Mama," se
Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene
"Di jidatmu!!! Ya jelas lah di situ! Kamu sekolah kan? Bisa baca kan? Di situ sudah jelas, letak dimana kamu tanda tangan!" ucap Rizan lagi.Alin segera mengusap air matanya dengan kasar, lalu segera membubuhkan tanda tangan di atas materai itu."Bagus. Kalau gitu kita akan menikah besok!""Hah? Be
"Buk... Ibuk... Assalamu'alaikum!!!" Gadis cantik berambut lurus tergerai itu berlari dengan girang mendekati ibunya yang tengah memasak. Ia baru pulang sekolah, meski jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi."Loh, kok sudah pulang, Al? Baru jam sepuluh kan?" tanya Bu Hanum sembari mengulurkan tan
"A a ampun Tuan... Jangan, jangan sentuh Alin, Alin mohon..." Wanita berpakaian mini berwarna purple itu berjalan mundur seirama dengan pria berbadan kekar yang melangkah di depannya dengan tatapan penuh nafsu. Pria itu sama sekali tidak menggubris Alin yang tampak ketakutan. Ia terus mendekat, ba







