ANMELDENGema tepuk tangan para tamu undangan dan deretan komisaris senior seketika memecah keheningan ballroom. Kilatan kamera wartawan kini beralih sepenuhnya mengabadikan momen ketegasan sang CEO muda PT Maple Syrup Atmajaya.Di sudut balkon lantai dua, suasana terasa mencekam. Valerian meremas gaun mahalnya dengan napas memburu, wajah cantiknya memerah padam menahan malu saat beberapa awak media di bawah mulai mengarahkan lensa kamera ke arah mereka."Mas... bagaimana ini?!" bisik Valerian panik, suaranya gemetaran. "Rizan tahu! Dia bahkan sudah memegang data dari komputer Felix!"Faruq tidak menjawab. Pria paruh baya itu berdiri kaku dengan rahang mengeras rapat. Tatapannya menancap tajam pada sosok Rizan yang masih berdiri tenang merangkul Alin di panggung utama."Mundur," desis Faruq dingin, memutar tubuhnya dengan cepat. "Rayyan, tutup semua akses ke akun Felix. Jangan sampai polisi menemukan benang merah yang mengarah pada kita malam ini!"Rayyan mengepalkan tangannya hingga buku
"Anak kurang ajar! Kamu tega menelantarkan bapak yang membesarkanmu, demi jadi simpanan pria kaya ini?!"Suara Pak Rustam memecah keheningan ballroom. Hesti yang berdiri di sampingnya berpura-pura mengusap air mata dramatis, memompa emosi wartawan yang kini bergerombol maju, menyorotkan puluhan kamera tepat ke arah panggung utama."Pak Rizan! Apakah Anda memanfaatkan gadis desa ini untuk manipulasi keuangan perusahaan?""Apakah ini alasan sebenarnya pernikahan rahasia Anda disembunyikan?"Di sudut balcony lantai dua, Rayyan mengusap dagunya dengan cengiran puas. Faruq dan Valerian berdiri menatap ke bawah, menantikan kehancuran Rizan di depan para komisaris utama.Namun, di tengah hiruk-piruk dan sorotan flash yang membabi buta, Rizan sama sekali tidak panik. Rahagnya mengeras kaku, tetapi sepasang matanya tetap tenang penuh dominasi. Rizan melangkah setengah badan ke depan, menyembunyikan Alin di belakang tubuh tegapnya."Jangan menunduk, Alin. Tatap mereka," bisik Rizan rendah,
Grand Ballroom hotel bintang lima malam itu disulap menjadi samudra kemewahan. Lampu-lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul pada deretan hidangan mahal, gelas-gelas kristal, dan deretan busana bermerek milik para tamu undangan VIP. Ratusan pejabat, mitra bisnis papan atas, serta puluhan awak media nasional sudah memenuhi ruangan.Mobil sedan hitam berpelat istimewa berhenti tepat di depan karpet merah. Pengawal bersafari hitam dengan sigap membukakan pintu.Rizan melangkah keluar lebih dulu. Pria itu tampak sangat gagah dan dominan dalam balutan tuxedo hitam buatan penjahit Italia. Garis rahangnya yang tegas dan aura dinginnya seketika mencuri perhatian kamera wartawan.Namun, bukannya langsung berjalan masuk, Rizan berbalik. Ia mengulurkan tangan tegapnya ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat lembut.Jemari mungil Alin menyambut uluran tangan itu. Dengan gaun sutra biru navy bertabur kristal kecil yang anggun, Alin melangkah keluar. Rambut hit
Di ruangan lounge VIP itu, Faruq menyesap cerutunya dalam-dalam, menghembuskan asap tebal yang membumbung ke langit-langit. Sorot matanya yang dingin menatap Pak Rustam dari atas ke bawah."Pak Rustam," panggil Faruq dengan suara berat berwibawa. "Bapak tidak perlu khawatir. Setelah acara lusa selesai dan Rizan jatuh, saya sendiri yang akan memastikan hidup Bapak di kampung dijamin penuh kemewahan. Tidak akan ada lagi yang berani meremehkan Bapak."Pak Rustam menggenggam erat seikat uang di tangannya, matanya berbinar serakah. "Terima kasih, Pak Faruq! Bapak tenang saja, saya bakal ngomong sesuai skenario. Anak kurang ajar seperti Alin memang harus diberi pelajaran!""Ingat," sela Valerian dengan nada tajam dan dingin. "Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Tatap kamera wartawan, pasang wajah paling teraniaya. Buat semua orang percaya kalau Rizan adalah pria arogan yang membeli anakmu dan memanfaatkan kepolosannya untuk kejahatan bisnis.""Siap, Bu! Serahkan sama saya!" jawab P
Tiga hari menjelang malam puncak Hari Ulang Tahun PT Maple Syrup Atmajaya, kesibukan di mansion Rizan makin terasa. Beberapa perancang busana ternama dan penata gaya profesional sudah memenuhi ruang tengah sejak pagi, membawakan belasan gaun malam kelas atas atas perintah langsung dari Rizan.Alin berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam berwarna biru navy berbahan sutra halus dengan potongan busana yang sangat anggun. Bintang-bintang kristal kecil menghiasi bagian dada dan lengannya, membuat Alin terlihat bak putri kerajaan."Luar biasa, Ibu Alin..." puji sang desainer wanita sambil merapikan bagian bawah gaun. "Gaun ini sangat cocok dengan warna kulit Ibu. Pak Rizan benar-benar tidak salah memilih warna."Alin menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memegang dadanya yang berdesir pelan. Dulu, ia bahkan tidak pernah bermimpi bisa menyentuh kain semewah ini.Klak.Pintu ruang tengah terbuka. Rizan melangkah masuk dengan kemeja kasual yang rapi. Pria itu menghentikan la
Restoran privat bernuansa fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu begitu tenang. Alunan piano klasik membelah keheningan di ruangan khusus yang sengaja dipesan Rizan. Di atas meja, hidangan steak wagyu hangat sudah tersaji rapi.Rizan duduk tegap di seberang Alin. Pria itu sudah melepaskan jas hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku. Jemari panjangnya terlihat mahir memotong daging di piringnya sendiri.Alin memperhatikan gerakan suaminya itu. "Mas Rizan masih kesal ya, gara-gara aku panggil 'suamiku' tadi di lorong?"Rizan tidak langsung menjawab. Ia menukar piring steak miliknya yang sudah dipotong rapi menjadi dadu-dadu kecil dengan piring milik Alin yang belum tersentuh."Makan," ucap Rizan datar, mengabaikan pertanyaan Alin sambil meraih piring yang belum dipotong. "Jangan banyak bicara kalau sedang di depan makanan."Alin tertegun menatap piring di hadapannya. Daging steak itu sudah terpotong sangat rapi, memudahkan
Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.
"Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?""Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik. Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluark
***Jam menunjukkan pukul 14.30. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, menyorot debu-debu yang melayang di udara kantor PT Maple Atmajaya. Suasana kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin ketik dan obrolan ringan, kini terasa lebih tenang. Sebagian besar
"Di jidatmu!!! Ya jelas lah di situ! Kamu sekolah kan? Bisa baca kan? Di situ sudah jelas, letak dimana kamu tanda tangan!" ucap Rizan lagi.Alin segera mengusap air matanya dengan kasar, lalu segera membubuhkan tanda tangan di atas materai itu."Bagus. Kalau gitu kita akan menikah besok!""Hah? Be







