"Iya, aku tau."Satria tersenyum tipis. Ia sengaja membiarkan Andini tetap dalam posisi itu. Memegang kedua bayinya, meski dengan napas yang masih berat.Beberapa detik tidak ada satupun yang berbicara."Satu hal yang pasti. Kamu nggak sendiri, An. Ada aku," lanjut Satria akhirnya. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Andini tidak menjawab. Tapi jemarinya yang semula kaku, perlahan menggenggam kain baju Arka dan Rosa lebih erat."Ada kami," ucap Siska, menimpali. Hari-hari setelah itu, berjalan tapi seolah tidak benar-benar terasa berjalan. Pagi, siang, malam, datang silih berganti. Tapi bagi Andini, semuanya seperti satu garis panjang yang datar dan sunyi. Rumah yang dulu terasa hangat, kini lebih sering dipenuhi suara kecil bayi dan langkah kaki seperlunya. Tidak ada lagi suara tawa lepas dari dapur. Tidak ada lagi obrolan ringan yang mengalir begitu saja.Andini duduk di teras sambil menggendong Rosa. Tatapannya lurus ke depan, kosong. Siska keluar dari dalam rumah, membawa se
Baca selengkapnya